Dikira Babu Ternyata Ratu

Dikira Babu Ternyata Ratu
Chapter 45


__ADS_3

Prang...


Prang...


Prang...


Dhea dan kawan-kawannya pun melemparkan banyak sekali batu dan juga botol yang ada di tangan mereka ke arah kediaman milik keluarga Ferdian, mereka sengaja ingin membuat keributan sebelum akhirnya berhadapan dengan anggota keluarga itu.


Keenan yang baru saja kembali dari sebuah pertemuan besar, terlihat sangat kaget melihat puluhan mobil berwarna hitam berjajar di depan rumahnya dan menghalangi mobil yang dia tumpangi untuk bisa memasuki kediaman.


Sang sopir pun dengan sangat cepat segera menekan klakson mobil hingga berkali-kali dan membuat ke-27 orang wanita itu pun akhirnya turun dari dalam mobilnya dan mulai menunjukkan taring mereka.


"Hei apa yang kalian lakukan?" tanya si sopir itu, terlihat wajahnya menghitam, dia benar-benar tak tahu apa yang telah dimakan oleh ke-27 orang wanita itu, sehingga dengan sangat brutalnya mereka menyerang kediaman keluarga Ferdian.


Sedangkan Keenan saat ini masih berada di dalam mobil, dia belum menunjukkan dirinya karena masih ingin mengetahui lebih lanjut tentang identitas dari ke-27 orang wanita yang tiba-tiba saja melakukan penyerangan pada kediamannya.


Sopir itu pun segera keluar dari dalam mobil, kemudian berhadapan dengan 27 orang wanita yang saat ini terlihat menetap tajam ke arahnya.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membuat keributan di rumah orang lain? Lebih baik segera tinggalkan tempat ini dan Kembali menuju rumah kalian masing-masing. Ini masih malam bukan, waktunya untuk mencari masalah!" ucap sopir itu dengan panjang lebar, tanpa merasa takut sedikitpun.


Dhea langsung maju dan menjawab ucapan sopir itu dengan entengnya. "Lalu apa urusannya denganmu? Bukankah kau hanya seorang sopir di rumah ini? Kenapa juga kau harus mencari masalah dengan kami? Apa kau tidak memiliki istri di rumah yang menunggu kepulanganmu? hingga dengan santainya memunculkan wajah burukmu itu di hadapan kami! Apa kau tahu? aku bisa saja membuatmu menjadi seorang pria yang tidak beruntung." jawab Dhea.


Dia mengucapkan kata-kata yang begitu panjang hanya dengan satu kali tarikan nafas, bahkan si sopir itu pun langsung saja terbengong melihat seorang wanita yang bisa berbicara dengan sebegitu lancarnya, bahkan tanpa mengambil jeda untuk mengambil nafas sedikit pun.


Dhea segera menunjukkan jari telunjuknya, dia pun menggerakkan jari itu yang tadinya berdiri ke atas hingga akhirnya dia tekuk kebawah. Melihat hal itu sopir keluarga Ferdian pun sedikit bergidik, seraya memegang tubuh bagian depannya. Ternyata ke-27 orang wanita ini bukanlah orang yang berniat baik.

__ADS_1


"Sudahlah! Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini dan jangan lagi membuat keributan! Apa kalian tahu? Aku bisa saja melaporkan kalian kepada pihak yang berwajib karena mengganggu ketenangan dan juga ketentraman hidup orang lain." ucap si sopir memberikan ancaman.


"Astaga! Apa kau buta? Sebelum kau bisa menelpon polisi, mungkin aku sudah membuatmu tak bisa bicara." ucap Dhea seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana jeans yang dipakainya, kemudian mengeluarkan sebuah pisau lipat yang terlihat sangat berkilat, karena terkena cahaya rembulan dan juga lampu penerangan.


Gluk...


Gluk...


Sopir itu menelan salivanya dengan kasar, dia tak tahu harus melakukan apa agar ke-27 orang wanita itu bersedia pergi dari kediaman majikannya.


"Lagi pula untuk apa kau datang ke rumah ini malam-malam? Bukankah seharusnya di jam seperti ini kalau sudah beristirahat di rumahmu? Apa kau merampok?" tanya Dhea kembali.


Sopir itu terlihat memelototkan matanya, wanita di hadapannya ini benar-benar membuat kesabarannya habis.


"Hahaha.. Hanya sopir saja belagu! Apa kau tahu? kami datang kemari bukan untuk main-main, tapi untuk membuat perhitungan dengan keluarga Ferdian yang sudah berani menghancurkan hidup Bos kami." ucap Dhea kembali seraya menunjuk wajah Sopir itu.


Akhirnya Keenan pun segera turun dari dalam mobilnya, setelah beberapa saat yang lalu dia menghubungi beberapa orang anak buahnya untuk datang menuju kediaman Ferdian.


Dia memiliki firasat buruk jika saat ini kedatangan ke-27 orang wanita itu sepertinya ingin membuat sebuah pembalasan terhadap dirinya.


Jika kalian memiliki masalah, kalian bisa membicarakannya baik-baik tapi tidak tengah malam seperti ini! Kalian datang seperti seorang perampok. Apa kalian tahu?" tanya Keenan dengan suara yang begitu tajam.


Wajah pemuda itu terlihat datar bahkan kini matanya menyiratkan permusuhan.


"Hohoho.. Terrnyata tuan Keenan Ferdian telah berdiri di hadapan kita semua kawan-kawan!" ucap Dea Seraya menyeringai.

__ADS_1


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Keenan.


"Sebuah pembalasan!" bukan Dhea yang menjawab, kali ini Tara telah maju dan berdiri di samping gadis konyol itu.


Keenan mengerutkan dahi mendengar jawaban yang diucapkan oleh Tara. "Pembalasan? Pembalasan apa yang kalian maksud? apakah kita pernah bertentangan?" tanya Keenan.


"Bukan kita! Tapi kau telah menghancurkan hidup seorang gadis dan dia adalah Bos kami, hari ini kami datang untuk meminta kompensasi atas penderitaan dan juga sakit hati yang dialami olehnya." ucap Tara dengan suara kencang.


Karena keributan tak kunjung juga reda, akhirnya seluruh anggota keluarga Ferdian pun keluar dari dalam kediaman. Saat ini mereka melihat sendiri 27 orang wanita berpakaian hitam kini tengah berdiri berhadapan dengan Putra mereka yang baru saja kembali setelah melakukan sebuah kesepakatan bisnis dengan salah seorang miliarder yang baru saja datang dari kota E.


"Jadi kalian dikirim oleh keluarga badjingan Oktora untuk membuat keributan dengan kami?" tanya Keenan sambil menatap tajam ke arah Tara dan juga Dhea.


Saat ini yang ada di dalam fikiran pemuda itu hanyalah keluarga Oktora, karena tidak mungkin jika Aleena memiliki anggota seperti mereka, dia sangat yakin bahwa calon Nyonya mudanya itu adalah seorang wanita baik-baik, jadi tidak mungkin dia akan berhubungan dengan wanita-wanita kejam seperti yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.


"Keluarga Oktora? Apakah yang ada di dalam otakmu hanya ada keluarga Oktora, tuan Keenan Ferdian? Kau bahkan lupa bahwa beberapa tahun yang lalu kau telah menghancurkan kehidupan seorang gadis, hingga akhirnya dia hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Apa kau ingat? dan kami adalah orang-orangnya, saudaranya, keluarganya, temannya, Kami datang untuk menuntut pembalasan pada pria tak beradab dan tak bermoral sepertimu." ucap Tara meradang.


Sepertinya dia tak bisa lagi untuk berbicara baik-baik terhadap Keenan Ferdian, sehingga dengan secepat kilat Tara pun segera menerjang ke arah pemuda itu dan langsung menghantam wajahnya dengan beberapa kali pukulan hingga akhirnya Keenan Ferdian pun tersungkur di atas jalanan aspal, tepat di depan rumah nya sendiri bahkan di hadapan seluruh anggota keluarganya.


Bak! Buk!


Bak! Buk!


Bak! Buk!


Bruk...

__ADS_1


__ADS_2