Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Pencarian sang pelaku


__ADS_3

Sejak kejadian itu Nafisa sudah dibebaskan berkat jaminan yang diberikan kedua Kakak nya, tapi Nafisa tidak boleh keluar rumah tanpa pengawasan dari pihak berwajib karna kasus yang belum menemukan titik terang dan bukti-bukti yang jelas. Sudah beberapa hari Nafisa selalu melamun seperti orang yang kehilangan arah, memang ada saat seseorang akan terjatuh sejatuh-jatuhnya akibat rasa iri dan dengki seseorang malah berimbas kepada orang yang tidak bersalah. Kak Zidan dan Kak Refan tidak tega melihat adik perempuan Satu-satunya harus terpuruk seperti ini. Mereka rindu sosok Nafisa yang dulu ceria, usil, suka ngambekan, selalu berdebat dan jail kepada Kakak-Kakak nya.


Zidan menatap adik kesayangan dengan perasaan hancur"Dek..." panggil nya tersenyum menyalurkan rasa hangat seorang Kakak, namun tak ada respon lebih dari Nafisa dia hanya melirik sekilas kedua Kakak nya.


Refan menghelas nafas,dia maju dan duduk di tepi ranjang Nafisa mengelus rambut panjangnya berharap Nafisa bisa keluar dari keterpurukan nya itu. "Dek makan yok Kakak ada bawa martabak manis kesukaan kamu, ada es dawet juga mau ngga?" bujuk Refan kepada Nafisa tapi sayang bujuk rayu itu tidak mempan pada Nafisa nyatanya dia tidak bergeming sekali pun.


"Dek...makan ya kasian ibu dia selalu khawatir sama kamu, karna liat anak gadis nya murung kek gini terus."


Bukan jawaban yang keluar dari mulut Nafisa melainkan cairan bening yang meluncur bebas dari matanya sampai membasahi pipi chubby nya. Refan dan Zidan semakin hancur dibuat nya melihat adiknya terus saja menangis sehingga membuat matanya bengkak dan sembab. Kakak mana yang tak hancur melihat kondisi adik kesayangannya harus menerima cobaan yang begitu berat di usia yang belum genap 20 tahun itu.


Nafisa terus menangis dan tak mau berhenti Zidan sebagai Kakak tertua paham betul bagaimana kondisi sang adik dia merangkul Nafisa dan memeluknya dengan erat memberikan Nafisa ruang untuk bisa berbagi rasa sakit yang dia alami. Tanpa mereka sadari diluar pintu kamar Nafisa ada juga yang lebih merasakan sakit yang dialami Nafisa, kedua orang tuanya juga ikut terpukul oleh cobaan yang di timpa putrinya ia sangat mengenal putri nya tersebut, demi bisa membuktikan bahwa dia juga bisa membanggakan orang tua dan membuat mereka bahagia di masa menua nya nanti dia rela banting tulang dan menolak semua bantuan yang Kakak nya tawarkan, dia paham betul putri nya seperti apa dia mau berhasil dan sukses dengan hasil jerih payahnya sendiri tanpa menjadi beban orang lain ataupun keluarga.


Ibu turun dan masuk kedalam kamarnya menangis tersedu-sedu melihat keadaan putri nya yang bukan membaik malah semakin memburuk. Dua hari yang Nafisa demam tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit karna kekurangan nutrisi karna tidak mau makan dan jarang tidur karna selalu menangis.


Ditempat lain ada 3 orang tengah bersekongkol untuk menghancurkan dan menggasak habis uang penghasilan toko Nafisa.


"Ha ha ha...yank kerja kamu bagus udah buat toko nya hancur sehancur-hancurnya dan ngambil uang didalam kasir!" ucap seorang Laki-laki memakai sweater abu-abu.


"Bener banget yang lu bilang Yan, dengan gini tuh anak bisa kapok dan nyesel karna udah buat gue dikeluarkan dari sekolah dulu!" ucap seorang perempuan berambut pendek.


"Iya dong yank aku gitu loh! kamu tuh harus Banyak-banyak bersyukur punya pacar kayak aku yang pinter banget!" jumawa syifa.


Yups dalang dari semua kehancuran toko Nafisa adalah mereka bertiga karna ulah mereka Nafisa harus sampai di seret ke polsek atas tuduhan meracuni makanan pelanggan,cowo yang mendukung mereka berdua adalah Ryan kekasih syifa. Mereka bertiga bersekongkol untuk menghancurkan toko Nafisa karna dendam semasa SMA dulu. Ini semua rencana Anita untuk menghancurkan Nafisa karna alasan dendam pribadi, gara-gara Nafisa lah Anita di keluarkan pihak sekolah.Itupun karna kesalahan yang dilakukan oleh Anita sendiri yang menyebabkan dirinya lah yang di keluarkan oleh sekolah karna membahayakan nyawa Nafisa.


"Gue bakalan bales semua yang lo lakuin ke gue Nafisa!! gara-gara lo mami sama papi marah besar sama gue semua barang-barang gue di sita dan mau kirim gue ke rumah omah!! liat aja gue ngga akan buat lo hidup tenang dan bahagia semudah itu!!" gumam Anita tersenyum miring.

__ADS_1


"Syifa gue mau lo bikin hancur itu toko sehancur-hancurnya kalau bisa buat itu toko butut bangkrut sekalian biar dia tau jangan pernah bermain api sama Anita!! kalau untuk masalah duit di kasir gue bodoamat terserah kalian mau di apain yang penting gue cuman mau kalian ancurin itu toko butut!" lanjut Anita


"Siap Nit lo ngga usah khawatir kalau masalah itu semuanya bakalan beres, lo cukup diem aja dan saksikan penderitaan cewe itu!"


Keesokan hari nya Citra dan Fatima pergi menemui teman sekaligus sahabat nya yang tengah di timpa ujian yang begitu berat disaat beginilah Nafisa sangat membutuhkan teman cerita dan yang bisa menghibur nya, menjadi seorang Nafisa yang seperti dulu lagi.


Citra dan Fatima pun sampai dan berdiri di depan pintu menatap pintu tersebut sambil menghelah nafas semoga dengan datangnya mereka berdua membuat Nafisa membaik"Assalamu'alaikum Bu boss sayang...." teriak mereka berdua sebisa mungkin tersenyum demi sahabatnya.


"Waalaikumsalam..."sayang bukan Nafisa lah yang membuka pintu melainkan Kakak Ipar nya Kak Nurul yang membuka pintu menyambut kedua teman absurd Nafisa.


"Eh Citra Fatima masuk masuk Dek." ucap Kak Nurul tersenyum manis.


"Iya Kak makasih. Nafisa mana Kak?" tanya mereka berdua celingukan.


"Oh, itu Nafisa ada di atas dek." ucap Kak Nurul sendu.


"Kalau kalian mau menemui nya ke atas aja ngga apa-apa kok di sana ada mas Zidan sama Refan."


"Ya udah kalau gitu kita ke atas ya Kak, permisi."


Didepan pintu kamar Nafisa mereka berdua belum berani untuk masuk, karna mereka tidak akan sanggup melihat keadaan sahabat nya yang hancur. Sebenarnya mereka berdua kesana karna diminta oleh Zidan untuk menemani Nafisa dan menghibur nya membujuk dia agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan sedangkan Zidan sedang berusaha mencari bukti-bukti yang asli dan menangkap pelaku sebenarnya.


"Huff bismillah." ucap Citra menarik nafas dan bertingkah seperti biasanya.Sedang didalam Nafisa tengah di suapi oleh Zidan dengan perjuangan dan bujuk rayu yang dilontarkan oleh kedua kakak absurd nya akhirnya Nafisa mau memakan nasi walaupun dengan dipaksa.


"Ekhem Ciee disuapin kek bocah!" ucap Citra meledek

__ADS_1


"Kalian kesini?" tanya Nafisa. Akhirnya setelah sekian lama adik kesayangan nya mau bicara juga walaupun irit tak apa yang penting dia mau bicara lagi.


"He he he, iya kita kesini mau jenguk Bu boss kita yang cantik ini." cengir Citra dan Fatima


"Oh ya btw gue bawain lo brownies nih sama buah-buahan jangan lupa diabisin kalau perlu sama kulit-kulit nya sekalian ngga apa-apa." ucap Citra menyerahkan makanan yang ia beli tadi.


"Lo pikir gue kambing apa?!" ucap Nafisa ia tau kedua sahabatnya datang kesini untuk menghibur nya, dia juga kasihan melihat kedua Kakak nya selalu menginap dirumah untuk sekedar membantu ibu untuk merawatnya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Kakak nya sampai kapan dia terus terpuruk seperti ini kalau dia memang tidak bersalah kenapa dia harus menyiksa diri nya sendiri.


"Pfff..." Zidan dan Refan hanya bisa mengulum bibir nya sendiri mendengar penuturan yang Nafisa ucapkan kepada temannya, dia senang adiknya kembali lagi seperti dulu setidaknya kedatangan kedua temannya bisa membuat nya membaik sedikit demi sedikit.


"Ha Ha Ha...gue ngga ada bilang ya boss lo sendiri yang ngomong ya!" lanjut Citra menggoda Nafisa.


"Kalian semua kesini kirimin gue brownies sama martabak manis banyak banget, kalian sebenarnya mau jenguk gue apa mau bikin gue kena diabetes sih?!" lanjut ku.


"Bwahahahaha...." meledak lah tawa mereka berempat dikamar Nafisa, adiknya memang absurd dan akan selalu begitu walaupun dalam keadaan sedih ataupun senang.


"Hahaha...dasar dudul, gue kesini udah baik bawain lo brownies sama buah loh. Lo malah nuduh gue engga-engga!"


"Yah abis lo kesini bawain brownies dua, Kak Refan kesini juga bawain gue martabak manis dua juga kalau gue abisin semua yang ada gue kena diabetes kamvret!"


"Ngga apa-apa dek kalau kamu nanti kena diabetes gampang tinggal bawa kerumah sakit beres." jawab enteng Refan.


Nafisa pun melempar guling tepat ke dada Kakak kedua nya itu, kalau ngomong suka ngga di saring dulu seenaknya aja.


"Kakak pikir kayak buat donat apa ya gampang-gampang dasar Kakak ngga ada akhlak adeknya sakit malah di gituin!" ucap ku tak terima.Yang bener aja gue kena diabetes mereka malah seenaknya yang ngomong sambil cengengesan kek orang ngga punya dosa.

__ADS_1


"Akhirnya setelah beberapa hari kakak bisa liat kamu ketawa lagi kek gini dek, selalu kek gini yah kakak ngga mau liat kamu terpuruk lagi kayak kemaren-kemaren, jujur hati kakak sakit liat kamu kek orang kehilangan arah dek karna tuduhan itu. Kakak janji sama kamu segera menemukan bukti yang asli dan bersihkan nama baik kamu dan toko kamu dari tuduhan kejam itu dan menjebloskan pelaku sebenarnya, janji sama kakak ya dek kamu akan selalu tersenyum dan ketawa kek gini walaupun dalam keadaan apapun kamu adalah adek kesayangan kakak yang baik dan jujur." lirih Zidan dan Refan tersenyum melihat adiknya membaik dengan kedatangan sahabatnya yang sudah menemaninya mulai dari SMA 1 sampai sekarang.


__ADS_2