
Rayyan pun sampai di rumah sakit kota tempat dimana Nafisa tengah dirawat diapun berlari menuju administrasi disana sudah ada dua orang staf yang tengah berjaga, Rayyan berinisiatif menanyakan keberadaan kamar Nafisa dimana namun bukan jawaban yang dia dapat melainkan tatapan mata semua orang yang menuju kepadanya seperti akan mencekiknya.
"Permisi sus, apakah ada pasien yang bernama Nafisa Az-Zahra disini?!" tanya Rayyan dengan nafas tersengal-sengal bahkan dia rela meninggalkan jam kuliahnya demi melihat keadaan sang belahan jiwa.
"Iya mas tunggu seben-tar...Masyaallah sejak kapan ada pangeran nyasar disini?!" seru suster itu dengan mata yang tidak berkedip dan menatap lekat pada Rayyan yang tengah cemas setengah mampus.
"Sus?!" panggil Rayyan bingung karena tidak kunjung mendapat jawaban dan malah ditatap dengan tatap yang sulit dimengerti.
"Astagfirullahalazim maaf sus saya butuh data itu sekarang juga!" ucap Rayyan kembali.
"Maaf ya mas, tadi mas nya perlu apa ya?" tanya suster yang lain.
"Saya perlu data pasien yang bernama Nafisa Az-Zahra sus apakah dia benar ada dirumah sakit ini dan berapa nomer kamar inap nya?!" seru Rayyan kembali dengan mencoba tenang.
"Oh baik, sebentar ya mas." ucap suster tersebut dengan mencari data Nafisa di laptop.
"Ah ada mas, pasien bernama Nafisa Az-Zahra ada di ruangan mawar nomer 3 lantai atas,dari sini mas cukup naik lift ke lantai 2 dan belok kanan disana ruangan mawar mas bisa cari nomernya disana." jelas suster itu.
"Baik terimakasih sus." ucap Rayyan.
Dia pun berlari menuju lift untuk bisa segera menemui Nafisa perempuan yang Allah takdirkan untuk menjadi pelengkap dalam hidupnya dan bersama-sama meraih jannah nya Allah SWT, Rayyan pun sampai diruangan mawar hati nya berdetak dengan kencang dimana perasaan itu tidak pernah ada walau dia dekat dengan perempuan manapun baru dengan Nafisa lah dia bisa merasakan arti sebuah cinta yang didasari oleh ridho Allah.
Deg...Deg...Deg...
Semakin Rayyan dekat dengan ruang rawat Nafisa semakin kencang suara degupan itu.
*RUANG MAWAR 03 *
Di lihatnya dari balik jendela kecil ruangan tersebut sudah banyak orang disana, ada kedua kakak ipar Nafisa yang setia menemaninya di sofa tunggu pasien sedang kedua orang tua Nafisa juga menunggu putrinya membuka mata kembali dikursi tunggu dekat ranjang Nafisa di elus nya tangan Nafisa dengan kasih sayang sambil menangis.Yups setelah kejadian penyekapan itu Nafisa pingsan dan tidak sadarkan diri sampai sekarang tubuh nya mengalami demam tinggi dokter khawatir akan keadaan yang semakin hari bukan membaik melainkan memburuk karena kejadian penyekapan itu Nafisa mengalami trauma berat.
Rayyan mengintip keadaan Nafisa lewat jendela kecil tersebut ditatap nya lekat tubuh kaku itu tanpa dia sadari air matanya jatuh seketika melihat keadaan orang yang dicintainya secara diam-diam harus berakhir seperti ini. Rayyan tidak bisa melihat wajah Nafisa dengan jelas karena tertutup oleh badan Farida dan kyai Khalid, Rayyan hanya melihat tubuh Nafisa yang terbaring kaku diatas ranjang rumah sakit tanpa ada tanda-tanda dia akan siuman.
"Gimana kata dokter mbak?!" tanya Farida dia ikut perihatin melihat keadaan Nafisa seperti ini karena ulah seseorang.
"Aku juga ngga tau Ida dokter bilang Nafisa mengalami traumatis yang sangat karena kejadian kemarin dia tidak mau bangun-bangun dan tubuhnya sangat panas." ucap Adiba dengan mata yang sudah sembab karena terlalu lama menangis.
"Yang sabar ya mbak kita bakalan ada selalu buat mbak, yang penting mbak jaga kesehatan biar bisa selalu jagain Nafisa." seru Farida dengan mengelus punggung ibu dari 3 anak itu hatinya ikut teriris mana kala dia mendapat kabar Nafisa seperti ini.
Ditengah rasa sakit yang Rayyan rasakan dia dikejutkan oleh seseorang yang menepuk punggung nya dengan tiba-tiba.
"Astagfirullahalazim..." ucap Rayyan memegang dadanya.
"Rayyan?!" seru seseorang menebak orang didepannya itu benar adanya adalah Rayyan.
__ADS_1
"Weh lu kemana aja bro!" ucapnya kembali alis Rayyan pun terangkat demi bisa mengingat siapa orang didepannya.
"Antum siapa?!" tanya Rayyan.
"Wah amnesia nih anak, gue Daffa temen lu dulu pas masih sma ingat ngga?!" tanya Daffa sungguh menyebalkan sekali temannya itu tidak mengingat nya kembali bahkan dulu mereka adalah teman baik yang jikalau jam istirahat sekolah pergi ke kantin bersama.
"Daffa? Daffa Adzriel bukan?!" tanya Rayyan.
"Astaga iye." seru Daffa diapun melihat apa yang tengah dilihat oleh temannya itu dan malah berujung menuduh Rayyan yang tidak-tidak.
"Hais lu ngapain ngintip anak orang weh!" seru Daffa heboh Rayyan pun menutup mulut Daffa dan menyeretnya agak jauh dari sana.
"Astagfirullahalazim, mulut antum bisa ngga jangan keras-keras kalau ngomong." ucap Rayyan kesal karena ulah Daffa Zidan sampai keluar demi melihat keributan apa yang ada di luar.
"Ha...Ha...Ha... sorry bred." seru Daffa diapun kembali mengintip pasien tersebut dan ternyata dia adalah pasien yang baru masuk kemaren karena mengalami trauma berat.
"Ah gue inget pasien itu, dia baru masuk semalem pas jam 9 kakaknya yang anter dia kesini. Kasian cantik-cantik tapi jadi bahan kekejaman teman-temannya." jelas Daffa menatap ruangan Nafisa. Alis Rayyan pun menukik tajam demi mendengar penuturan yang Daffa ucapkan barusan.
"Bahan kekejaman teman-temannya?!" gumam Rayyan.
"Antum tau dari mana pasien itu baru masuk semalam?!" tanya Rayyan mulai curiga.
"Gue tau lah orang dia pasien gue, makanya gue kesini tadinya mau periksa keadaannya malah ketemu sama lo." terang Daffa cukup menyebalkan.
"Astaga apalagi Ray?!" seru Daffa kesal.
"Tidak ada dokter lain kah selain antum?!" tanya Rayyan, alis Daffa pun terangkat demi mendengar ucapan aneh yang dilontarkan oleh temannya itu.
"Memangnya kenapa kalau gue??" batin Daffa.
"Emang nya kenapa kalau gue?" tanya Daffa.
"Tidak apa sih tapi..." belum Rayyan menyelesaikan ucapannya Daffa sudah memotongnya begitu saja.
"Ah, ribet lu Ray kasian anak orang perlu diperiksa!" seru Daffa seenaknya saja masuk keruangan Nafisa.
"Huff astaghfirullah..." seru Rayyan pasrah, tadinya dia ingin bilang jikalau lebih baik Nafisa diperiksa oleh dokter perempuan saja. Ntah kenapa setiap melihat Nafisa didekati laki-laki lain hatinya begitu panas melihat hal itu apalagi Daffa temannya sendiri yang menyentuh Nafisa rasanya tidak ikhlas saja Rayyan.
Selang beberapa waktu Daffa pun keluar dengan raut wajah yang membuat semua orang cemas apakah keadaannya sangat parah sampai Daffa seperti itu.
"Daf antum kenapa?!" tanya Rayyan setelah melihat muka Daffa sangat sulit untuk diartikan.
Daffa tak kuasa ingin tertawa melihat temannya sangat mengkhawatirkan perempuan yang ada di dalam apakah temannya sudah mulai bucin terhadap seorang wanita?.
__ADS_1
"Ha..Ha..Ha muka lu jelek amat Ray, santai kali bred tuh cewe ngga papa kok!" seru Daffa menertawakan Rayyan.
Rayyan pun memukul lengan Daffa keras disaat keadaan genting seperti ini dia malah bercanda membuat jantung Rayyan hampir copot saja.
"Hahaha... sorry Ray abis liat muka lu serius amat!" gelak Daffa.
"Ciee pasti ada sesuatu nih sama cewe yang ada didalem!" goda Daffa.
"Kalau memang iya ada masalah dengan antum?!" ucap Rayyan mulai kesal.
"Hahaha.... sans aja bro ya udah ke ruangan gue kalau lu emang mau tau keadaannya." seru Daffa mengajak Rayyan pergi ke ruangannya.
Disana Daffa memberitahu tentang keadaan Nafisa yang terdapat banyak luka memar yang sudah membiru di sekujur tubuh nya dan juga tentang trauma akut yang Nafisa idap semasa kecil membuat nya mengalami traumatis yang begitu parah.
"Gue ngga nyangka aja karena ulah seseorang gadis itu sampek dibuat babak belur kek gitu, apalagi pas liat orang tuanya histeris gitu anaknya ngga mau bangun-bangun ditambah dia demam sejak pertama dilarikan kesini." jelas Daffa. Tangan Rayyan mengepal kuat demi mendengar ucapan Daffa Rayyan mengira Nafisa mengalami ini semua karena memang kecelakaan tapi ternyata semua masalah yang Nafisa alami sampai sekarang karena campur tangan seseorang, keputusan Rayyan sudah bulat dia akan meminta restu terhadap kedua kakak Nafisa sekarang dan berniat ingin meminang Nafisa dalam waktu dekat.
"Syukron atas informasi nya Daffa ana pamit ada urusan yang perlu ana selesaikan." ucap Rayyan lantas menjemput umi dan abi nya untuk kesini sekedar membicarakan tentang hal ini.
"Okey gue udah save nomer lu lain kali kita nongki-nongki bareng kek dulu Ray." seru Daffa dan diangguki oleh Rayyan.
Singkat cerita Rayyan, Khodijah dan juga kyai Akmal sudah berada di resto dekat rumah sakit disana sudah ada kedua kakak ipar Nafisa dan juga kedua abang nya, tidak lupa juga sudah ada Farida, kyai Khalid dan kedua orang tua Nafisa. Rayyan meminta kyai Akmal untuk menyampaikan niatnya kepada keluarga Nafisa, memang ini bukan waktu yang tepat untuk meminta Nafisa ketika orangnya sedang sakit tapi tekat Rayyan sudah bulat dia ingin menjaga Nafisa dari jauh sampai waktu pertunangan mereka ditentukan nanti.
"Maaf sebelum nya untuk semuanya yang ada disini, kami sengaja mengumpulkan kalian semua disini untuk sekedar membicarakan tentang niatan kami yang ingin mengkhitbah putri bapak untuk menjadikannya pendamping putra saya. Mungkin waktu nya memang tidak tepat membicarakan hal ini tapi atas keputusan dari putra saya Rayyan dia ingin mengkhitbah sekaligus menjaga putri bapak yang bernama Nafisa sampai acara pertunangan mereka dilangsungkan." jelas kyai Akmal.
Rayyan pun memberanikan diri untuk bicara kepada kedua orang tua Nafisa dan para kakak-kakaknya.
"Maaf sebelumnya bang mungkin ini terkesan terburu-buru dikarenakan juga ukhti sedang sakit tapi... niat ana ingin mengkhitbah ukhti semata-mata karena Allah, ana ingin menjadikan dia istri sekaligus pendamping hidup ana untuk meraih jannah nya Allah SWT bersama-sama dan juga menjaganya." seru Rayyan mengutarakan niatnya.
Kedua orang tua Nafisa pun setuju tapi bedahal nya dengan kedua kakaknya mereka semua malah memandang Rayyan seolah-olah ingin melucutinya saja.
"Apa yang kamu lihat terhadap adik saya, bukankah kalian tidak pernah bertemu atau bertatapan muka secara langsung lantas apa yang membuat mu ingin meminang adik saya?!" tanya Refan dingin.
"Ana melihat ukhti bukan dari parasnya yang cantik bang melainkan cantiknya sebuah akhlak ukhti, maaf sebelumnya jikalau saya lancang meminta nama adik abang dalam istikharah ana. Ana meminang ukhti karena Allah Ta'ala bukan dari parasnya yang cantik atau kepandaiannya, ana mencintai ukhti karena Allah Ta'ala dan jawaban yang telah ana dapat dari Istikharah ana adalah ukhti izinkan ana mengenalnya dengan jalan ta'aruf bang." ucap Rayyan mantap, Refan dan Zidan pun menatap lekat ke arah Rayyan mereka tidak bisa melepaskan adiknya begitu saja apalagi dia masih dalam tahap belajar fikiran nya terkadang masih seperti anak kecil apakah mereka akan bisa melepas adiknya kepada laki-laki didepannya.
"Kamu yakin mencintai adik saya karena Allah bukan karena parasnya?!" tanya Zidan
Rayyan pun mengangguk yakin "Ana yakin ana mencintai ukhti semata-mata karena Allah, untuk bisa meraih jannah dan sunnahnya Allah SWT bukan karena parasnya yang cantik!" ucap Rayyan kembali, Zidan pun tersenyum mungkin ini adalah saatnya dia melepas adiknya kepada laki-laki yang benar-benar mencintai nya karena Allah bukan karena nafsu atau parasnya yang cantik.
"Saya izinkan kamu berta'aruf dengan adik saya, tapi ingat jaga dia dan sayangi dia melebihi nyawamu sendiri dia adalah mutiara berharga kami jangan pernah kamu sakiti dia atau memukulnya." nasehat Zidan, Zidan lantas berdiri dan merangkul Rayyan dengan erat dan berkata.
"Jaga dia Ray sebagaimana engkau menjaga ibu mu sendiri sayangi dia layaknya engkau menyanyangi ibu mu." bisik Zidan tepat ditelinga Rayyan dan Rayyan pun mengangguk.
Suasana di rumah sakit pun menjadi haru biru Rayyan berjanji dia akan melakukan semua hal demi pujaan hatinya.
__ADS_1