Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Rahasia yang hampir bocor


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin malam Nafisa dan Refan pun mendadak diam seribu bahasa, karena tingkahnya kemaren membuat mereka berdua malu 7 turunan. Bagaimana tidak lihat lah kakak pertamanya yang sangat tidak berakhlak malah menceritakan kejadian semalam kepada istri dan juga anak-anak Refan terlebih lagi ada Satria disana yang tidak henti-hentinya menertawakan mereka berdua ralat hanya Refan saja.


"Hahaha.... njir sakit perut gue." seru Satria memegangi perutnya sendiri kerana ngilu.


"Seumur-umur gue kira lo ngga kenal takut akan apapun Fan, dulu aja waktu pertama masuk sekolah lo di bully abis-abisan tapi bukannya nangis atau diem lo malah ngehajar anak orang satu-satu sampek mereka kapok kerjain lu. Tapi sekarang bwahahah...." ucap Satria dengan tertawa keras meledek Refan yang sudah menekuk mukanya beberapa lipatan.


"Awas lu Sat, ketemu di luar lu gue gantung di pohon angker!" batin Refan menyumpahi Satria dengan beribu sumpah serapah nya.


"Kak..." panggil Nafisa kepada kedua kakaknya.


"Ya dek...?" saut Zidan dan Refan menoleh ke arah Nafisa yang tengah menekuk mukanya beberapa lipatan seperti Refan, ntah ada apa gerangan dengan adik kesayangannya itu.


"Eh, ini kenapa atuh." seru Nurul dengan memegang kening Nafisa yang terbentur kursi semalam.


"Abis di cium kursi kak." jelas Nafisa manyun.


Tawa pun pecah diantara mereka ada saja kelakuan Nafisa kalau tidak di cium kursi ya dikerja gukguk.


"Aduh dek, kamu ini ya ada-ada aja." ucap Aini dengan masih tertawa kecil selalu dan selalu adik ipar kesayangannya itu membuat ulah.


"Ih, ini bukan salah Nafisa lah kursinya aja yang naksir sama Nafisa." seru Nafisa tak terima karena disalahkan.


"Heh peak! ngadi-ngadi emang lu ya ada pula kursi naksir!" umpat Refan kepada Nafisa dengan menjitak kepala nya.


"Hahaha... aduh dek abang sakit perut ini." seru Satria memegang perutnya karena ngilu.


"Nih lagi atu, dia bukan adek lu peak! ngapain sok-sok an manggil adek." seru Refan kembali tidak terima.


"Inget ya Sat, langkahin dulu mayat gue! baru lo bisa manggil adek gue dengan sebutan kingkong sekalipun terserah kalau lu berhasil." ucap Refan memperingati Satria.


Karena tidak terima dipanggil kingkong Nafisa pun mengambil sendal nya dan memukul Refan dengan keras.


"Enak aja kingkong, cantik kek bidadari gini disamain sama kingkong yang berbulu!" dumel Nafisa kesal.


Mereka semua pun menghabiskan waktu mereka di rumah Refan dengan bercanda dan mengobrol akhirnya Zidan dan Nurul pun pamit pulang terlebih dahulu dikarenakan ada urusan mendadak.


"Sat ada yang mau gue omongin." seru Refan memanggil Satria yang tengah asik memandangi wajah Nafisa tanpa seizin bodyguard nya.

__ADS_1


Plakkk....


Refan pun memukul paha Satria dengan keras karena kesal tidak di respon oleh si empunya.


"B@ngkeee!!" umpat Satria kencang karena merasakan pahanya yang panas akibat pukulan keras Refan.


"Anjir lu Fan! sakit bego!" umpat Satria kembali dengan menantap tajam kearah Refan.


"Bodoamat! suruh siapa lu ngga dengerin gue, malah asik mandangin wajah adek gue lagi. Mau gue colok mata lo biar keluar sekalian!" hardik Refan dingin dan kejam Satria pun hanya nyengir kuda dirinya tidak akan sanggup untuk melawan seorang Refan sendirian bisa-bisa dia mati konyol nanti.


"Yaudah, lo mau ngomong apaan tadi?" seru Satria kembali fokus menatap Refan intens.


"Ngga usah natap kek gitu juga bego! gue masih sehat b@ngke kagak demen sama cowo modelan lu!" ucap Refan dengan menoyor kepala Satria dengan keras agar menjauhi wajahnya sedikit.


"Njirr amit-amit sumpah, gue masih doyan cewe sexy dari pada cowo kek lu!" debat Satria tak terima.


"Ah udahlah, gue mau ngomong anjir jangan lu potong-potong mulu!" seru Refan kesal lama-lama dibuatnya.


"Iye-iye lu mau ngomong apaan." ucap Satria serius.


"Gue mau minta tolong sama lo buat bantu gue cari keperluan tunangan, soalnya Nafisa bulan besok mau tunangan." jelas Refan kepada Satria tanpa diduga bukannya setuju Satria malah syok dan berteriak yang mana rahasia tersebut hampir terbongkar dikarenakan Nafisa yang berada tidak jauh dari mereka.


Refan pun membungkam mulut Satria saat itu juga untungnya Satria adalah teman baik Refan dari dulu jikalau tidak dapat di pastikan saat itu juga Satria akan dibuat masuk rumah sakit nantinya guna untuk dibius agar bisa diam.


Belum Refan memarahi Satria Nafisa pun datang dengan perasaan kebingungan ada sangkut paut apa namanya dipanggil-panggil terlebih dirinya mendengar perkataan pernikahan.


"Hah? siapa yang mau nikah kak?!" tanya Nafisa yang tidak sengaja mendengar namanya dipanggil tadi.


"B@ngke emang punya temen, kalau bukan karena lu temen gue udah gue bunuh juga lu Sat!" batin Refan geram dengan tingkah Satria lama-lama hampir saja rahasia dirinya, Zidan dan Rayyan terbongkar saat itu juga.


"Ah engga kok dek si Satria katanya pengen nikah sama janda." seru Refan ngasal dan membuat Satria melotot dibuat nya.


"Yang benar saja dia mencintai Nafisa kenapa dia harus menikahi janda." fikir Satria


"Oh, kirain siapa yang mau nikah. Terus tadi manggil-manggil nama Nafisa ada apa?" tanya Nafisa kembali.


"Ah, engga kakak ngga manggil. Kamu keknya salah denger dek." ucap Refan berbohong dengan raut muka khawatir jikalau sang adik tidak percaya.

__ADS_1


Bagai mendapat lotre Nafisa percaya yang di ucapkan oleh Refan Nafisa pun berlalu meninggalkan keduanya.


"Huftt..." helaan napas lega keluar dari Refan, diapun melirik Satria yang nyengir kuda layaknya orang tanpa dosa.


"Lu mau gue kubur idup-idup!!" hardik Refan kesal dengan menatap tajam Satria.


"Hehehe, maap Fan elah. Lagian juga namanya orang kaget jadinya kelepasan." elak Satria tidak mau di salahkan.


"Nyenyenye, ligiin jigi niminyi iring kigit. Mata lo kaget!" umpat Refan kesal bukan main.


Niat hati ingin meminta tolong untuk mencarikan persiapan tunangan malah harus berujung rahasia mereka yang hampir terbongkar.


"Lagian juga siapa sih cowo yang berani-beraninya ngelamar bini gue, awas aja kalau sampek ketemu gue dijalan gue tandai mukanya!" ucap Satria mendumel.


Alis Refan pun mengkerut beberapa lipatan, apakah ia tidak salah dengar? nih orang siapa Nafisa kenapa ngatur-ngatur hidup adiknya itu?


"Heh Sueb! lu siapa adek gue ngatur-ngatur idupnya?! mau dia dilamar pejabat sekalipun apa urusannya sama lo?!" semprot Refan pedas.


"Yah-ya g-gue calon lakik nya lah." ungkap Satria terbata-bata karena tidak berani menatap mata Refan yang seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.


"Hah? apa kata lo? calon lakik? bangun woy bangun! gue ogah punya adek ipar kek lu!" ucap Refan dengan raut wajah ingin muntah.


"Gue juga ogah kali punya kakak ipar kek lu, andai aja Nafisa bukan adek lu udah gue culik dia terus gue bawa ke Amerika gue nikahin disana!" batin Satria menggerutu dengan memutar bola mata malas melihat sahabat karibnya.


"Idih, lu ngga akan bisa dapet calon lakik buat Nafisa setampan gue yah. Cuman gue seorang yang tampan dari temen-temen lo yang lain." seru Satria dengan bangga.


"Hahaha, gue mah bodoamat walaupun cuman lu seorang cowo di dunia ini gue tetep ogah nikahin lu sama Nafisa adek gue!" ucap Refan dengan tertawa keras dengan kepedean temannya yang satu itu.


"Kamvret emang punya temen!" umpat Satria dan Refan pun semakin keras tertawa karena melihat muka masam Satria.


...****************...


Sedang disisi lain ditengah gelapnya malam terdapat dua orang laki-laki yang tengah berlari-lari di koridor rumah sakit dengan nafas yang memburu, mereka pun sampai tepat di depan pintu ICU yang tengah tertutup rapat yang di dalam terdapat seorang wanita paruh baya dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan.


Sedang di sebelah mereka tepat nya di kursi ruang tunggu tengah terduduk seorang wanita paruh baya dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir. Salah seorang laki-laki tadi pun menghampiri wanita itu dan duduk bersimpuh di depannya menatap mata wanita itu dengan tatapan yang sangat khawatir.


"Bi, apa yang terjadi sama mama?" ucap laki-laki itu bertanya dengan mata yang sudah sendu menatap mata orang yang ada di depan dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Nyonya...."


__ADS_2