Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Dari manis turun ke hati


__ADS_3

Setelah bertempur berjam-jam didapur akhirnya semua pesanan pun selesai, aku pun membuatkan beberapa kue lagi untuk umi Farida dan juga sahabatnya. Dikarenakan aku sudah tidak sanggup untuk mengantarkan kerumah nya aku meminta ojol untuk mengantarkan makanan itu kepada umi Farida.


"Ini pak, diantar sesuai alamat ya pak. Ini juga buat bapak jangan lupa makan ya pak." ucap ku memberikan tiga bingkisan kepada ojol tersebut, yang dua untuk umi Farida dan yang satu untuk bapak ojol itu.


"Wah makasih banyak ya neng! semoga toko neng lancar dan selalu rame!" ucap bapak tersebut.


"Aamiin...sama-sama pak jangan lupa makan ya!" ucap ku tersenyum bapak tersebut pun pergi meninggalkan ku.


Aku pun masuk kedalam dan duduk di ruang kerja ku mengambil handphone dan mencoba menghubungi umi. Setelah lama tersambung umi belum juga mengangkat nya mungkin dia sedang sibuk, akhirnya aku pun mencoba menelfon telpon rumah abi, siapa tau bibi mengangkatnya fikir ku. Telfon pun tersambung tapi yang mengangkat nya bukanlah umi, abi ataupun bibi melainkan suara laki-laki yang aku tidak kenal, aku pun tersedak air minum ketika mendengar suara orang lain yang mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum umi..." salam ku.


"Waalaikumsalam..." jawab nya.


"Uhukk... uhukk..." aku pun tersedak air ketika mendengar suara orang lain lah yang mengangkatnya laki-laki pula!


"Halo?!" seru nya dari sebrang.


"Ya Allah kenapa tiba-tiba gue kena serangan jantung dah, perasaan gue ngga pernah punya riwayat sakit jantung!" batin ku dengan masih memegang dada ku yang berdetak kencang dikala mendengar suara orang yang berada di ujung telfon.


Karena tidak kunjung ada jawaban Rayyan pun mematikan telfon tersebut, salah sambung mungkin fikirnya.


"Abang...ikut umi sebentar!" panggil umi Khodijah.


"Na'am umi..." jawab nya.


Fatima yang melihat teman nya melamun dengan masih memegang dada nya itu pun mengernyit bingung, Fatima pun menghampiri Nafisa dan memanggilnya.


"Fisa? lu kenapa?!" tanya nya.


Aku pun tersadar dari lamunan tersebut dan memastikan bahwa tadi dia salah dengar mungkin.


"Ah, gue ngga papa kok Fat aman kok." ucap ku dengan masih kebingungan.


Akhirnya dia mencoba beristirahat sebentar mungkin efek dia yang terlalu capek tadi didapur sehingga membuat telinganya salah mendengar suara tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain tepatnya dirumah umi Farida, kue yang Nafisa buat tadi sudah sampai di rumah umi. Umi Farida pun senang anak kesayangannya itu sangatlah perhatian dan mengerti apa yang diinginkan umi nya itu.


"Masya Allah Farida, bau wangi apa ini?" tanya umi Khodijah menghampiri umi Farida dengan Rayyan dan abi Akmal mengekori dibelakangnya.


"Ah Khodijah mari duduk, ini kue dari Zahra dia sendiri yang buat." ucap umi Farida tersenyum senang.


"Coba kalian icip, setelah ini pasti kalian ketagihan. Tapi sayang anaknya ngga bisa kesini karena masih ada banyak pesanan di toko nya jadi dia sibuk, tapi tadi aku sudah meminta nya untuk menelfon tapi kenapa dia tidak ada menelfon ya." seru umi Farida.


"Oh, tadi ada yang menelfon umi melalui telfon rumah. Suaranya sih perempuan menanyakan umi, tapi setelah ana panggil-panggil telfonnya mati." jelas Rayyan.

__ADS_1


"Iyakah? sebentar umi liat dulu, astagfirullahalazim hp umi kena silent. Ya Allah dia telfon banyak banget." seru umi Farida melihat beberapa panggilan dari Nafisa dan beberapa pesan dari nya.


"Coba kamu telfon anaknya Farida, aku ingin tau seperti apa dia." ucap umi Khodijah penasaran dengan Nafisa.


"Baiklah sebentar." ucap umi Farida dengan mencoba melakukan panggilan video dengan Nafisa, tapi panggilan tersebut malah di tolak oleh Nafisa karena bentukan wajah nya yang tidak karuan.


"Assalamu'alaikum umi..." salam ku dengan melakukan panggilan telfon biasa.


"Waalaikumsalam, kenapa telfon umi dimatikan sayang?!" tanya umi Farida sedih, dengan menyambung lowspeaker.


"Aduhh maaf banget umi, jangan video call dulu Zahra lagi cemong-cemong umi. Malu atuh umi, masak anak gadis bentukannya mirip macan tutul." ucap konyol Nafisa, dia tidak tahu kalau banyak orang yang mendengar ocehan konyolnya terlebih Rayyan yang sudah tertawa pelan mendengar penuturan Nafisa.


"Ngga papa atuh sayang, neng Zahra nya umi mah seperti apa aja meuni tetep geulis." jawab umi menimpali candaan Nafisa.


"Umi ihh, jangan atuh kesian bibi nanti jantungan liat muka Zahra." ucap nya.


Perdebatan yang unfaedah tapi berhasil menciptakan suasana tawa untuk semua orang dan membuat mereka semua yang ada disana geleng-geleng kepala akibat ulah keduanya.


"Oh iya, ada teman umi sayang mau kenalan sama kamu." ucap umi Farida memberikan telfon itu kepada umi Khodijah.


"Assalamu'alaikum Zahra..." salam Khodijah.


"Waalaikumsalam umi...ehmm..." jawab ku pasalnya aku tidak tau namanya siapa.


"Panggil saja umi Khodijah sayang." seru Khodijah


"Kamu pinter buat kue ya sayang?" tanya Khodijah, pasalnya Khodijah sangat menyukai kue buatan Nafisa. Jangankan Khodijah Rayyan saja sudah menghabiskan beberapa potong kue buatannya.


"Hm, ngga juga umi. Zahra lagi coba-coba bisnis kue aja." jawab ku.


"Awal-awal Coba-coba akhirnya dari uang itu bisa kuliah kan kamu!" timpal Farida menggoda Nafisa.


"Hehe, umi ihh jangan buka kartu." jawab ku sudah terlanjur malu.


"Wah, udah pinter berarti ya. Bisalah umi jadikan menantu buat anak umi." jawab Khodijah dengan menatap menggoda Rayyan.


"Uhukk...uhukk...uhukk"


Rayyan pun tersedak akibat candaan umi nya, terang saja umi nya langsung meminta anak orang untuk dijadikan menantunya karena pandai dalam hal memasak. Tawa pun pecah di antara mereka semua melihat kedua anak kesayangannya sama-sama diam seribu bahasa akibat ulah dari kedua ibu itu. Disisi lain Rayyan malu sekaligus pasrah selalu dan selalu digoda oleh umi nya, lain hal nya dengan Nafisa yang sama sekali tidak bergeming setelah di goda akan di persunting oleh anak sahabat umi nya itu.


Lama keduanya tidak ada bicara bahkan Nafisa saja yang biasanya suka bawel dan nyablak hari ini dia langsung mati kutu akibat candaan tadi.


"Zahra?!" panggil umi Farida.


"Hah? iya umi" ucap ku.


"Kenapa diem sayang?" tanya Farida dengan masih menyisakan tawa nya.

__ADS_1


"Ngga papa kok umi." jawab ku.


"Eh, iya sayang. Lain kali umi Khodijah bisa pesen kue gini ke kamu ngga? soalnya minggu depan umi ada mau bikin pengajian ibu-ibu, kira-kira Zahra bisa bikinkan sayang?!" tanya Khodijah


"In syaa allah, bisa kok umi." jawab ku.


"Baiklah kalau gitu umi pesen beberapa kue yang menurut kamu enak, oh iya sama umi mau pesen brownies coklat satu ya buat anak umi dia suka brownies kamu!" seru Khodijah kembali menggoda Rayyan. Rayyan pun akhirnya pamit dan memilih untuk pergi ke kamar dari pada harus jadi bulan-bulanan umi nya yang selalu menggoda nya.


"Na'am umi nanti Zahra buatkan spesial buat umi!" jawab ku.


"Alhamdulillah Ray tuh dengerin dibuatin spesial dari calon menantu umi khusus buat kamu!" goda Khodijah kembali.


"Astagfirullah gue salah ngomong lagi keknya ya allah!" batin Nafisa di sebrang sana. Rayyan yang digoda tapi malah Nafisa yang serba salah, akhirnya Nafisa pun pamit karena ada urusan lagi.


Sedang Rayyan sendiri sudah senyum-senyum sendiri macam orang kurang sajen akibat ulah dari Nafisa.


"Ya allah, kenapa ana mirip orang yang berada di rumah sakit jiwa?!" fikir nya diapun menggelengkan kepala menuju ranjang untuk mengambil laptop nya, kedua adiknya sudah menelfon nya sedari tadi.


"Assalamu'alaikum bang..." salam mereka berdua.


"Waalaikumsalam bagaimana kuliah kalian?!" tanya Rayyan kepada kedua adiknya.


"Alhamdulillah selalu dan selalu membosankan!" jawab mereka kompak sambil tertawa.


"Ck, dari dulu ngga pernah berubah emang kalian!" saut Rayyan menggelengkan kepala, melihat tingkah absurd kedua adiknya Rayyan kembali mengingat kejadian dimana Nafisa bertingkah konyol. Dan berhasil membuat Rayyan senyum-senyum sendiri kembali.


Reihan dan Zaky pun mengerutkan dahi beberapa lipatan, sejak kapan abang nya berubah menjadi tidak waras begini?


"Bang, antum sehat kan?!" tanya Reihan diangguki Zaky.


"Iya? kenapa aa..." tanya nya kembali.


"Yahh, Ki keknya abang kesambet dah. Orang nanya dia malah nanya balik!" ucap Reihan kembali, alhasil Rayyan menjadi bulan-bulanan adiknya. Kalau bukan umi nya maka adiknya lah yang selalu menggoda nya.


"Haduhh ya allah, oh iya bang antum dapet pancingan cewe ya? wah keknya bakalan ada yang mau gelar acara nih Ki!" goda Reihan kembali.


Rayyan pun mengerutkan dahi, siapa yang dimaksud adiknya tersebut?


"Siapa yang mau gelar acara?!" tanya Rayyan.


Bukannya menjawab kedua adiknya malah tertawa semakin kencang, abang nya itu memanglah begitu selalu tidak peka akan kode apapun. Gelar kuliah saja sarjana s2, penerus perusahaan Akmal jaya tapi kalau untuk masalah perempuan abangnya sangatlah nol.


"Aduhh bang, antum ni lucu ya. Ya yang mau bikin acara antum lah, kan antum yang sudah mengkhitbah ukhti!" jawab Zaky si bungsu


"Khitbah? siapa...? kata siapa...?!" tanya Rayyan semakin kebingungan.


"Lah, kata umi antum mau mengkhitbah seorang ukhti. Orang tuanya juga sudah setuju kata umi." jawab Reihan, apakah kakak nya itu belum tau mengenai masalah ini. Wah kalau benar adanya kakak nya belum tau maka habislah mereka berdua akan digantung oleh umi nya, karena memang benar adanya Khodijah berniat menjodohkan Rayyan dengan Nafisa tapi nanti setelah keduanya lulus kuliah dan Rayyan sudah menjadi pewaris perusahaan Akmal Jayawijaya nanti nya.

__ADS_1


Rayyan pun mematikan telfon tersebut dan berniat bertanya kepada umi nya itu.


__ADS_2