
Setelah kepergian Rayyan bertepatan dengan itu keluarga Sarah datang berkunjung kerumah umi Khodijah sekedar ingin bermain dan bersilaturahmi, niat hati kerumah umi Khodijah agar bisa bertemu Rayyan tapi yang dicari malah menghilang ntah kemana.
"Permisi umi..." ucap Sarah.
"Iya kenapa nak?" jawab umi.
"Apakah Rayyan tidak dirumah umi? sedari tadi Sarah tidak melihatnya." tanya Sarah celingukan mencari teman masa kecilnya itu.
"Oh, iya abang sedang pergi karena ada urusan yang harus diselesaikan." jawab Khodijah.
"Ah, jadi gitu ya..." seru Sarah kecewa, niat hati dia memaksa ayah nya untuk bermain kesini demi bisa bertemu dengan pujaan hati nya sejak kecil, eh yang dicari malah pergi.
"Kira-kira Rayyan pulang kapan ya umi?" tanya Sarah kembali.
"Dia izin pulang larut malam nak, memangnya kenapa? kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan nantinya biar umi sampaikan nanti sama abang." jawab Khodijah tersenyum.
"Ah tidak umi, tidak usah nanti saja." seru Sarah.
"Mari di cicipin nak, ini kue khusus dibuat dari calon menantu umi." seru Khodijah senang.
"Uhukk....uhukk....uhukk"
Sarah pun tersedak air yang barusan ia minum belum sempat masuk tenggorokan harus keluar kembali demi mendengar apa yang Khodijah katakan barusan, apakah dia tidak salah mendengar? siapa yang akan menikah? bukannya Reihan dan juga Zaky masih berada di luar negri untuk kuliah, apakah mungkin??
"Maaf umi, memangnya siapa yang akan menikah?!" tanya Sarah jujur saja hati nya sakit demi mendengar jawaban yang Khodijah katakan.
"Sebentar lagi Rayyan akan bertunangan nak, insah allah sesudah Rayyan lulus kuliah 2 bulan lagi. Kami akan menjodohkan Rayyan dengan anak teman umi." jelas Khodijah. Bagai disambar petir di pagi-pagi buta, Sarah harus menerima kenyataan pahit bahwa orang yang ia kagumi dari dulu hingga sekarang akan bertunangan dengan wanita lain nantinya. Padahal Sarah sangat berharap bahwa orang yang akan dinikahi Rayyan nantinya adalah ia, tapi...itu hanya khayalan semata ternyata ada orang yang lebih Rayyan sayang dari pada dirinya yang lebih lama mengenal Rayyan jauh dari siapapun itu.
Sarah dan keluarga nya pun pamit, karena memang orang di cari nya tidak ada lebih baik dia pulang saja dari pada harus lama-lama disini dengan perasaan yang sudah hancur lebur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beda hal nya dengan Nafisa walaupun sebentar lagi akan di persunting oleh seseorang tetap saja tidak akan bisa merubah sifatnya yang selalu rusuh dan rusuh! pagi ini telah membuat seisi rumah kesal akan diri nya, terang saja barang-barang milik ayah kakak dan juga ibu nya hilang secara bersamaan kalau bukan dia siapa lagi kan?
"Dekkk....mana kunci motor kakak...." teriak Refan kesal bukan main.
"Ngga mau! suruh siapa coklat Fisa diabisin!" saut nya dari kamar.
"Bu kunci motor ayah mana?!" tanya Refan. Ibu pun menggelengkan kepala dan menunjuk kamar Nafisa, semua kunci kendaraan mendadak di sita oleh tuan putri kesayangan mereka.
"Ck, astagfirullah..." ucap Refan frustasi dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Dia pun naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Nafisa dengan lembut demi bisa mendapatkan kunci motor kesayangannya.
"Dek... adek kakak yang paling cantik... anak ibu yang paling manis... balikin ya kuncinya, kakak harus pergi jemput Syarifah di stasiun. Ya dek, pleaseee...." ucap Refan memohon, ibu pun tertawa demi melihat putra keduanya memohon-mohon kepada putri bungsu nya baru pertama kalinya anak laki-laki yang di kenal ditakuti oleh semua temannya dulu sewaktu sma karena memang mahir dalam hal bela diri, hari ini harus tunduk belah kasihan dari adiknya demi bisa menjemput anak dan istrinya di stasiun kereta. Karena masalah coklat yang dimakan habis oleh Refan malah berujung dia yang akan di gantung oleh istrinya karena tidak segera datang menjemput mereka.
"Hahaha....preman sekolah melas!" tawa Nafisa pun pecah dikala melihat kakak nya seperti itu.
Karena kesal Refan pun mengancam Nafisa kalau tidak mau membuka pintu maka pintu tersebut akan dia hancurkan dalam sekejap.
"Dek buka ngga! sebelum ini pintu kakak grogotin sampek abis bareng kamunya juga!" ucap Refan di buat seseram mungkin bukannya takut Nafisa semakin kencang tertawa.
"Ha...ha...ha... sejak kapan preman sekolah ganti profesi jadi kawanan tikus! suka gigitin kayu!" jawab nya dari dalam.
Sedang di luar ibu dan ayah melihat perdebatan yang diciptakan kedua anaknya bukannya membantu mereka malah ikut tertawa demi mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Nafisa.
"Bu...." ucap Refan memelas, jangan sampai karena ulah nya yang ingin berniat menjaili adiknya malah berujung dia yang akan disuruh tidur diluar oleh istrinya karena telat menjemput.
"Astagfirullahalazim....makanya nak lain kali liat-liat dulu siapa yang kamu jahili!" jawab ibu dengan masih tertawa melihat muka putra keduanya sangatlah lucu.
"Nafisa, berikan kuncinya nak kasian kakak kamu mau jemput kak Aini nanti kalau kesiangan kakak kamu marah." ucap ibu lembut dengan mengetuk pintu kamar Nafisa.
"Ngga mau bu, biarin kan yang dimarahin juga kak Refan palingan ntar sama kak Aini disuruh tidur di luar bareng nyamuk sama temennya tikus..." saut Nafisa kejam layaknya ibu-ibu tiri di film ikan terbang.
"Huff...." menghelah nafas kasar.
"Dek...." panggil Refan.
"Balikin kuncinya ya, nanti pulang dari stasiun kakak ganti coklatnya deh. Nanti kakak beliin 5 yah... balikin dulu kuncinya udah jam 8 dek, bentar lagi kakak kamu sampek!" bujuk Refan. Nafisa pun berfikir menimbang-nimbang tawaran dari Refan, tapi dia tidak sebodoh itu kakak nya tidak bisa di percaya begitu saja.
"Nanti kalau gue kasih nih kunci karena tawarannya barusan, yang ada dia ntar php sama janjinya ntar malah ngga dibeliin kan sue." fikir Nafisa.
__ADS_1
"Oke deh gue minta duit nya ajalah, timbang nyuruh kak Refan yang beli yang ada ntar dia beli kardus coklat nya doang!" batin ku.
"Fisa kembaliin kunci nya...." ucap ku menggantung ucapan ku di langit, membuat Refan bahagia bukan main rencana nya berhasil. Tapi baru dia bahagia Nafisa kembali bicara dan membuat nya bagai dilempar dari lantai 20
"Tapi...Nafisa minta duit kakak aja, ngga papa biar Nafisa ntar yang beli sendiri kan Nafisa udah gede ngapain harus nyuruh-nyuruh kakak kan!" ucap ku kembali.
Ibu dan ayah pun meledakkan tawa nya demi melihat muka masam anaknya yang niat mau membohongi adiknya malah berujung dia yang di palak.
"Aduhh....udah ahh yah perut ibu sakit lama-lama liat anak ayah kek gitu ibu pergi aja mau masak!" ucap ibu dengan meninggalkan Refan sendiri.
"Ayah ikut bu...." ucap ayah mengekori ibu ke dapur.
"Ayo kak! mau ngga nih..." ucap Nafisa kembali.
"Ya allah.... sue punya adek emang, lama-lama gue cekek juga lu dek!" batin Refan menjerit.
"Tuh udah, uang nya kakak selipin di bawah pintu! " jawab Refan ketus.
Nafisa pun beranjak dari ranjang menghampiri pintu kamarnya dan mendapati uang berwarna merah 1 lembar.
"Kok cuman satu kak?!" ucap Nafisa tak terima. Definisi dikasih hati malah minta usus!
"Terus berapa?!" tanya Refan kesal waktu nya terbuang sia-sia karena perdebatan unfaedah ini.
"Tambahin 2 lembar lagi, kan biar genap jadi 300 ribu!" jawab Nafisa menawar.
"Kamu mau beli coklat apa mau beli pabriknya sih dek!" saut Refan kesal.
"Lah kan kata kakak tadi mau dibeliin coklat 5 uang 100 ribu kan kurang! cuman dapet 1!" jawab Nafisa lagi.
"Coklat apaan 100 ribu satu?!" tanya Refan pasalnya coklat seperti apa yang duit 100 ribu kurang!
"Idih itu coklat dari Italia tau! didalemnya ada lapisan emasnya!" jawab Nafisa absurd padahal itu coklat murah yang ngga sampai ngabisin duit 100 ribu.
Refan pun pasrah dia pun menyelipkan kembali 2 lembar uang berwarna merah.
"Yess, asik nih mayan buat beli cilok sama mamang-mamangnya!" jawab Nafisa senang ngga papa lah coklatnya habis karena kakak nya, tapi dia mendapatkan ganti yang lebih banyak dari coklat itu.
Nafisa pun membuka pintu kamarnya dan tersenyum manis madu saja kalah oleh senyuman nakal itu.
"Nih... hati-hati dijalan ya abang kuhh...." ucap Nafisa melengos meninggal Refan dengan wajah yang ditekuk layak nya cucian yang belum di setrika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari pun sudah petang Nafisa pun sudah bersiap untuk berangkat kuliah disepanjang perjalanan dia tertawa sendiri demi mengingat kejadian pagi tadi yang membawa berkah karena kejadian uang di tabungan pun bertambah. Hari-hari pun berjalan semestinya, Nafisa pun belajar dengan giat demi cita-cita yang diinginkan nya tercapai walaupun setiap hari ada saja ujian yang datang ntah itu Bella yang selalu membuat rusuh, yang ujung-ujungnya Nafisa juga yang kena marah oleh dosen lain tapi dia tetap semangat walaupun dalam meraih sebuah kesuksesan dia harus selalu terjatuh itu tidak masalah yang penting dia sudah sangat bersyukur bisa berada di titik ini dimana kesuksesan sedikit lagi akan tercapai dan bisa membanggakan dan membahagiakan keluarga serta kedua orang tua nya. Hari pun berganti malam Nafisa pun menghentikan motornya di sebuah masjid mengistirahatkan badannya sebentar tapi baru dia akan memejamkan mata sebentar dari arah luar terdengar suara bising orang yang berteriak copet.
"Copet??" gumam Nafisa, dia pun membuka mata nya dan keluar dari dalam masjid menuju luar demi melihat seorang ibu-ibu tengah membaringkan suaminya yang di pukul oleh copet tersebut.
"Astagfirullah... bu suami ibu kenapa?!" tanya ku.
"Suami saya barusan di pukul copet nak, tas dan kunci dan kunci mobil suami saya diambil oleh nya..." jawab ibu itu menangis, jiwa emak-emak Nafisa pun bergelora demi melihat ibu tadi menangis melihat suaminya pingsan akibat ulah pencopet dia pun berniat mengejar copet kurang asem tersebut.
"Ibu tunggu di sini ya nanti saya kembali..." ucap ku menuruni tangga masjid, terlebih dengan pakaian yang tidak menyulitkan ku untuk meringkus copet tersebut.
"Bu... copet nya lari kemana tadi??" tanya ku celingukan
"Kesana nak... sudah nak tidak usah nanti kamu kenapa-kenapa!" ucap ibu tersebut mengkhawatirkan Nafisa.
"Aman bu, Fisa bisa jaga diri kok!" jawab ku tersenyum dan mulai berlari mengikuti warga yang mengejar copet tersebut.
Ibu tersebut pun mengerutkan dahi beberapa lipatan apakah dia tidak salah dengar perempuan tadi menyebut dirinya Fisa yang artinya?? dialah orang yang dia cari selama ini.
"Fisa?? apakah dia..... Nafisa Az-Zahra anak yang selama ini aku cari." gumam ibu itu.
Yups orang yang telah Nafisa tolong tidaklah lain adalah Khodijah sahabat karip dari Farida umi kesayangan Nafisa, Khodijah tidak menyangka akan dipertemukan dengan calon menantu seperti ini antara bahagia dan haru akhirnya dia bisa bertemu dengan nya hari ini.
...****************...
Dilain tempat warga tengah mengejar copet tersebut yang memang sangatlah gesit dalam melarikan diri, bedahal nya dengan Nafisa dia sudah sangat tau seluk beluk jalan itu karena memang setiap dia pulang selalu melewati jalan tersebut. Dia pun mengambil jalan pintas untuk segera meringkus copet tersebut, copet itu pun bersembunyi di balik mobil demi bisa menghindari amukan warga tapi ia tidak tau bahaya yang sesungguhnya ada di depan matanya.
"Hahaha... lu semua pikir bisa nangkep gue, ngga segampang itu!" ucap nya sombong dengan mengendap-endap ingin berlari lagi, tapi naas kaki nya tersandung sesuatu dan akhirnya dia pun terjatuh.
__ADS_1
"Hahaha... copet ternyata bisa jatuh juga ya!" tawa seseorang dari belakang.
"Siapa lo hah! berani-berani nya lo ngetawain gue. mau cari mati lo!!" ucap nya kesal sudah di tertawakan oleh bocil epep.
"Ck ck ck, udah jatoh masih aja sombong!" saut ku.
"Cewe sialan!" umpat copet tersebut.
"Udahlah bang, balikin itu tas dan gue bakalan ringanin hukuman lu!" ucap ku tanpa basa basi.
"Kalau gue ngga mau kasih lu mau apa!!" ucap nya ngegas.
"Oh kalau gitu lu lebih milih busuk di penjara berarti!" ucap ku.
"Gue ngga takut!" ucap nya dengan berapi-api.
"Yang bilang lu harus takut mohon-mohon siapa peak!" jawab ku absurd
"APA LU BILANG!!" ucap nya kesal, bagaimana ngga kesel orang jelas-jelas orang udah jawab malah di katain peak.
"PEAK! lu ngga tau kata peak bang?? oke gue ejain deh p...e...a...k peak!" jawab Nafisa, memancing amarah copet tersebut dia pun maju berniat memukul wajah Nafisa. Tapi sayang bukannya kena malah dia yang nyungsep karena Nafisa yang menghindar.
"Bwahahaha.....lu kenapa dah bang seneng amat jatoh!" ucap ku menertawakan copet tersebut.
"CEWE SIALAN!! MAMPUS LU DITEMPAT INI!!" ucap nya kesal dengan mengeluarkan pisau dari saku celana nya.
"Weh weh weh, santai bang gue canda kok!" ucap ku dengan masih terlihat tenang.
"Hah takut kan lu!" sombongnya
"Takut?? kata siapa gue takut sama lu bang, orang gue lebih takut uang jajan gue dipangkas sebulan dari pada takut sama lu!" jawab ku ngasal.
"SIALAN!!" ucap nya kembali maju dan menyerang Nafisa dengan pisau tersebut.
Nafisa pun menangkis setiap serangannya dan berhasil memberi pukulan telak di wajah copet tersebut.
"Ups....sorry bang, abisnya lu yang mulai duluan kan jadinya gue kebablasan!" ucap ku
"Bener-bener cewe sialan bukannya takut malah gue yang kena tonjok!" batin nya dengan mengusap ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat pukulan telak Nafisa.
Dia pun kembali menyerang Nafisa dan berhasil mengunci leher Nafisa dengan tangannya dan pisau yang berada tepat di leher Nafisa.
"Ha ha ha.... kena kan lu gadis manis, makanya jangan coba-coba berani main-main sama gue!" ucap nya mengunci leher Nafisa. Tidak kehabisan akal Nafisa pun menginjak kaki copet tersebut dan menendangnya dengan keras naas tendangan Nafisa tepat mengenai senjata pamungkas copet tersebut, copet itu pun tersungkur dan memegangi senjata nya yang terasa berdenyut antara ngilu dan sebagainya.
"Bwahahaha..... aduh bang sorry kelepasan!" ucap ku masih tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Abis nya abang sih, coba pegang-pegang peluk-peluk saya. jadinya saya kelepasan kan, sakit ngga bang??" ucap ku memeriksa copet itu yang masih memegang senjata nya tersebut.
"Lu cewe jadi-jadian keknya, gue minta maaf nih lu ambil aja barang nya ngga papa." ucap nya dengan memaksakan untuk berdiri. Tapi tidak semudah itu ya kali abis bikin orang pingsan ngga minta maaf kan sue!
"eh... tunggu bentar, lu udah bikin orang pingsan minta maaf dulu bang!" ucap ku memegang baju copet tersebut.
"Aduh neng, gue minta ampun dah lepasin gue ya..." jawab nya memohon kepada ku.
"Enak aja, ngga ada ngga ada minta maaf dulu baru gue lepasin!" ucap ku menariknya dengan paksa.
Aku pun sampai di tempat ibu tadi, alhamdulillah suami nya pun sudah sadar dari pingsannya warga pun melihat ku antara tidak percaya dan kagum seorang perempuan bisa meringkus copet dalam sekejap mata.
"Minta maaf dulu!" ucap mendorongnya meminta maaf pada suami ibu tadi yang sudah dia buat pingsan.
"S-saya minta maaf bu, sudah membuat suami ibu pingsan tadi." ucap nya dengan menoleh kepada Nafisa, padahal jelas-jelas Nafisa tidak melakukan apapun tapi ntah kenapa copet itu sangat ketakutan melihatnya.
"Iya pak tidak apa-apa lain kali jangan mencopet lagi ya." ucap ibu itu masih trauma akan kejadian tadi.
"Iya bu... saya mohon jauhkan saya dari perempuan itu ya..." jawabnya menunjuk Nafisa.
"Anak perempuan itu??" tanya ibu itu dan copet itu pun mengangguk takut.
"Ini bu barang-barang nya tadi, mohon diperiksa takut ada yang hilang." ucap salah satu warga menyerahkan tas dan kunci mobil kepada ibu itu.
Ibu itu pun mengecek semuanya dan alhamdulillah tidak ada yang hilang barang apapun.
__ADS_1
"Alhamdulillah lengkap pak, makasih ya pak." ucap nya.
"Sama-sama bu, kalau begitu kami pamit untuk membawanya ke kantor polisi." ucap warga pamit kepada kami semua dan membawa copet itu ke kantor polisi, aku pun melambaikan tangan kepada copet tersebut dan copet itu pun ketakutan melihat ku. Aneh saja wajah secantik ini di takutin orang bukan duplikat nya mba' kun.