
Kami semua pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing, aku dan kedua kakak ku sampai dirumah sangat larut dan pintu pun di kunci. Malang sekali nasib ku memang, sudah badan lelah, lengket perut pun bunyi sedari tadi sekarang? pintu pun di tutup, mungkin ibu lupa fikir ku.
"Kak..." rengek ku.
"Hmm..." saut mereka berdua.
"Kak...." rengek ku lagi sedikit berteriak.
"Iya apa dek..." saut mereka terpancing. Jangan sampai semua tetangga bangun karena ulah adiknya itu karena suara nya yang jauh dari kata pelan bahkan lebih mirip toa masjid. Dalam keadaan Zidan yang menelfon polsel sang ayah berharap mereka ada didalam dan segera membukakan pintu karena adiknya sudah merengek sejak tadi, kalau bukan karena adiknya mungkin dapat dipastikan Zidan akan menslotip mulutnya agar diam.
"Kak... ibu mana lama banget Fisa laper ahh..." ucap ku merengek dengan menendang angin.
Mereka berdua menepuk jidat masing-masing beginilah adiknya jikalau sudah lapar maka akan merepotkan banyak orang.
"Iya dek sabar kakak lagi telfon ayah biar pintu dibuka." seru Zidan.
"Tapi lama banget ihh, lagian kalian kenapa ngga minta kunci cadangannya sih tadi!" ucap ku dengan wajah masam. Sudah lelah dengan drama menjijikkan tadi sekarang harus menunggu pintu dibuka untuk makan, ingin rasanya aku menendang tong sampah dan membuat semua isinya tumpah sebagai pelampiasan nya.
Telfon pun diangkat dan sayang seribu sayang, ayah dan ibu nya tengah pergi kerumah bibi mereka karena akan ada acara pernikahan disana. Dan ibu lupa memberitahu mereka karena ibu nya tau ketiga anaknya sibuk mengurus kasus toko putrinya.
Zidan dan Refan pun saling pandang satu sama lain dan menggaruk tengkuk mereka sendiri. Bingung? jelas! apa yang akan mereka sampai kan kepada my little princess kesayangan mereka bahwa ayah dan ibu mereka tengah pergi kerumah bibi membantu bibi menyiapkan pernikahan anaknya. Big no! yang ada nanti princess kesayangan mereka akan berubah menjadi monster dan akan mengacak-acak seisi rumah karena sudah menunggu cukup lama didepan pintu dengan keadaan perut yang sudah brontak minta untuk diisi dan sekarang? ayah dan ibu tengah pergi dan lupa menitipkan kunci kepada tetangga.
"Hm...dek, itu... anu..." seru Refan ambigu.
"Ck, anu-anu apa sih kak ngomong yang jelas bisa ngga sih! otak Fisa lagi macet males mikir lah!" ucap ku kesal.
Zidan menghelah nafas, mau tidak mau harus jujur lah walaupun akan kena semprot adiknya. Ya kali mereka tetap tidak bicara sampai kapan mereka akan diam disini bukan? "Ibu sama ayah lagi pergi dek kerumah bibi sarah, lagi bantu bibi buat acara pernikahan anaknya!" seru Zidan dengan menutup telinga bersiap mendengarkan rengekan sang adik lagi.
"APA?! huwaaa terus ngapain kita nunggu disini kak!" ucap ku berteriak dengan air mata yang hampir tumpah. Refan pun membekap mulut adiknya larut malam seperti ini teriak-teriak yang ada mereka di sangka maling!
"Sssttt, dek jangan teriak-teriak dong nanti tetangga pada bangun ntar disangka kenapa-kenapa lagi!" seru Refan sudah sangat frustasi menghadapi adiknya.
"Bodoamat!! Fisa laper kak... kalian tega banget lah ihh adek sendiri baru keluar dari mulut maut sekarang malah dibiarin dengan perut kosong capek tau! Huwaaaa ibu ayah kak Zidan sama kak Refan jahat...Fisa ngga dikasih makan!" ucap ku sudah melelehkan air mata lelah, lapar, kesal semua rasa itu sudah menjadi satu!
"Astaghfirullahalazim berikan hamba hati yang kuat ya Allah!" seru Refan dan Zidan mengelus dada mereka.
"Ya udah kalau gitu, sementara waktu nginep kerumah kak Zidan atau kakak?!" tawar Refan.
Aku pun menghapus jejak-jejak air mata ku, disaat seperti inilah aku mendapatkan kesempatan emas dan tidak akan ku sia-siakan.
"Pulang kerumah kak Zidan aja!" ucap ku masih menyisakan sesegukan. Refan pun bernafas lega adiknya lebih memilih menginap dirumah kakak pertamanya ketimbang dirumahnya yang ada dia tidak akan bisa tenang kalau ada adiknya dirumahnya dapat dipastikan Nafisa akan bertengkar lagi dengan Syarifah putri nya.
Baru saja Refan bernafas lega sekarang dia harus menerima kenyataan pahit dari adiknya. " Hari ini nginep dirum...rumah kak Zidan, tapi bes...besok nginep dirum...rumah kak Refan ya!" ucap ku terbata-bata. Refan yang mendengar penuturan adiknya pun lemas dibuat nya tandanya dia harus menyiapkan mentalnya untuk banyak-banyak istighfar dan mengelus dada ketika adiknya akan menginap dirumahnya nanti.
__ADS_1
"Pfff..." tawa Zidan terendam melihat muka masam adik keduanya bukan ia tidak tahu bagaimana kelakuan Nafisa ketika dirumah Refan, dia akan selalu menggoda Rifa dan bermain sepanjang hari dengan abi yang akan membuat Rifa putri pertama adiknya itu akan menangis dan mengadu kepada adiknya itu. Ia sangat bersyukur Maryam masih sangat balita jadi telinganya aman dari perdebatan anaknya dan adiknya itu.
Akhirnya Nafisa pun pulang bersama Zidan ke rumahnya dan menginap di sana 1 hari dan 1 harinya dirumah Refan nantinya.
...----------------...
Keesokan hari nya Nafisa dan kedua kakaknya serta ditemani beberapa polisi mendatangi kediaman Anita dan akan segera menangkap nya atas tuduhan yang berlapis-lapis saking banyaknya kesalahan yang dia perbuat waktu SMA dan sekarang.
Ku lihat dari arah gerbang rumah nya ada satpam yang tengah patroli menjaga rumah itu. Aku, kedua kakak ku dan beberapa polisi pun menghampiri rumah tersebut dan menanyakan apakah pemilik rumah sedang ada didalam, dan satpam itu pun mengangguk mereka semua tengah ada didalam termasuk Anita inilah kesempatan ku untuk segera membuat nya jera akan semua kesalahannya.
"Assalamu'alaikum permisi..." ucap kami semua dengan menekan bell. Sudah 3 kali kami memanggil dan salam tapi tidak melihat pemilik rumah membuka pintu, barusan kata satpam mereka ada didalam tapi sudah 3 kali kami memanggil mereka tidak juga ada jawaban. Aku pun menoleh dan meminta pendapat kak Zidan bagaimana selanjutnya, kak Zidan pun memanggil kembali satpam tersebut dan meminta tolong memanggil kan majikan nya untuk segera keluar karena kami memiliki urusan yang penting dan tidak lupa kak Zidan memberitahu satpam tersebut untuk tidak memberitahu majikannya bahwa mereka tengah bersama polisi, takut nantinya Anita mendengar dan malah ingin melarikan diri. Satpam itu pun mengangguk dan masuk kedalam memanggil majikannya agar segera keluar.
"Wa'alaikumussalam maaf ya saya sedang berada di dapur tadi jadi tidak mendengar pabila ada tamu." seru wanita paruh baya yang sudah menua tapi tidak mengurangi kecantikannya aku kenal dia, dia adalah ibunda dari Anita.
"Eh nak Nafisa, kenapa kesini nak?!" serunya
"Maaf sebelumnya tante apakah Anita nya ada didalam?!" ucap ku terus terang.
"Oh Anita, ada nak ada didalam ada keperluan apa ya?" tanya tante niken.
"Bisa kami masuk bu? saya akan menjelaskan semua nya didalam sekaligus bertemu dengan saudari Anita!" seru polisi tersebut.
"Oh bisa-bisa pak, mari masuk kedalam." seru tante niken mempersilahkan kami masuk.
"Bibi bikinin minum ya kita ada tamu!" seru tante niken kepada ART dirumah nya.
Akhirnya pihak polisi lah yang menceritakan kronologi kejadian kemarin dan juga kejadian-kejadian yang menimpa dengan dibantu kedua kakak ku. Tante niken yang mendengar penjelasan polisi dan kakak ku pun terkejut ternyata anaknya masih menyimpan dendam itu sampai sekarang, ia tidak menyangka anaknya akan senekat ini.
"Bisa tolong panggilkan anak ibu untuk segera ikut kami ke kantor polisi yang memberikan keterangan tentang semua ini!" seru polisi itu.
"Baik Pak tunggu sebentar saya akan memanggilnya!" seru tante niken lantas pergi menaiki tangga menuju kamar Anita.
Sedangkan keadaan didalam kamar Anita, Anita tengah tertawa sendiri membayangkan semua dendamnya sudah terbalaskan toko Nafisa hancur dan sekarang? mungkin jasad Nafisa sudah di kuburkan oleh keluarga nya, dan dia sendiri akan menikmati semua keberhasilan nya ini. Bahagia diatas penderitaan teman sendiri sungguh sangat kejam memang Anita ini.
Tok. Tok. Tok....
bunyi ketukan pintu serta seseorang yang memanggilnya.
Anita lantas turun dari ranjangnya dan menyudahi pesta nya itu. Dia pun menarik handle pintu dan mendapati mama nya dengan keadaan seperti sudah menangis.
"Mama? mama ngapain kesini?!" tanya Anita.
"Loh mama kenapa nangis?!"
__ADS_1
"Mama diapain? sama siapa?!" tanya nya lagi.
Mama nya tidak menjawab semua pertanyaan Anita melainkan mengajak nya untuk turun kebawah.
"Ikut mama sekarang nak sebentar saja!" seru tante niken menarik tangan Anita untuk turun kebawah.
"Iya ma tapi mau kemana ma?!" tanya nya kembali. Tante niken tidak menjawab pertanyaan anaknya ia lebih memilih bungkam dari pada nanti anaknya akan melarikan diri, ia memang sangat menyanyangi Anita tapi anaknya sudah melakukan tindak kriminal bagaimana pun dia harus mempertanggung jawabkan semua kesalahan nya itu walaupun rasanya sakit dan masih belum menyangka bahwa anaknya melakukan hal keji dan menjijikkan seperti itu apalagi dia tau rencana Anita dibantu oleh pacarnya Ryan yang memang kedua orang tua nya tidak menyukainya karena sifat nya yang seperti berandalan!
Dibawah sana sudah terdapat tiga polisi yang menunggu Anita dan tunggu dulu. Salah satu dari mereka Anita sangat mengenal nya bahkan orang yang Anita tunggu kabar kematiannya kenapa sekarang dia ada disini? apakah dia tengah berhalusinasi karena kebanyakan minum semalam?
"Nafisa?!" gumamnya.
"Tunggu sebentar ma, ini... apa maksud dari semua ini?!" tanya Anita sudah tersulut emosi.
"Saudari Anita anda kami tahan atas tuduhan pencemaran nama baik dan pembunuh berencana surat penangkapan sudah mama saudari pegang dan mari ikut kami ke kantor polisi!" seru polisi laki-laki tersebut. Ketika polisi wanita akan melakukan tugas nya Anita pun mengelak dan tidak mau dibawa oleh mereka.
"Eng...engga engga!! Anita ngga mau dibawa mereka ma, Anita ngga mau!" teriak Anita histeris. Polisi wanita itupun maju dan ingin menenangkan Anita tapi naas Anita malah mengambil pot bunga yang terbuat dari kaca dan memecahkan nya, mengambil serpihan kaca itu dan menodongkan nya pada kami semua.
"Mundur!! mundur gue bilang!! kalau ngga gue lukain tangan gue sendiri! mundur!!" teriak nya lagi.
"Ya Allah nak... istighfar Anita buang kaca itu nak!" seru tante niken menangis. Melihat mental putrinya akhir-akhir ini memang sangat terganggu terkadang Anita tertawa sendiri dan terkadang dia menangis ditengah malam, kedua orang tua nya berinisiatif ingin membawa nya ke psikiater karena melihat mental anaknya seperti itu.
"Mama jahat! kenapa mama bawa mereka semua kesini hah!" sentak Anita kepada tante niken.
"Maafin mama nak, mama sayang sama kamu tapi bagaimana pun kamu harus mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang sudah kamu perbuat. Banyak orang yang menderita karena ulah mu, termasuk Nafisa dan keluarga nya!" seru tante niken sambil menangis.
"Ngga ma engga! Anita ngga mau! Anita ngga mau ikut mereka ma!" teriak Anita menjadi-jadi ART yang berada dirumah nya pun ikut takut oleh tindakan yang di lakukan Anita.
"Dan lo, pasti ini semua karena ulah lo kan!" sentak Anita kepada Nafisa.
"Yah, gue yang bawa mereka kesini buat nangkep lo! cukup selama ini gue diam Anita! kesalahan lo sekarang sudah sangat fatal dan gue ngga akan bisa ngelupain apa yang udah lo perbuat terhadap gue!" ucap ku tegas. Jujur saja aku prihatin melihat kondisi Anita seperti sekarang ku tebak semua ini karena ulah dari Ryan. Karena aku tau dulu Anita pernah melakukan aborsi dan mengugurkan anak yang tidak berdosa itu karena ulah gila dari kedua orang tua nya, mungkin mental Anita terganggu akibat Ryan yang sering selingkuh dan tidak mau bertanggung jawab.
"b3rengsek lo Nafisa!!" teriak Anita dan berlari menghampiri ku mencekik leher ku dan membuat ku terpojok, dia terus mencekik ku sampai-sampai rasanya aku ingin bernafas pun susah. Zidan dan Refan yang melihat hal gila yang dilakukan Anita segera mencoba melepaskan cengkraman kuat tangan Anita di leher adiknya Nafisa semakin kesulitan untuk bernafas karena sudah tidak tahan oleh sikap anaknya itu, tante niken lantas menarik Anita dan menampar nya dengan kuat. Tangan Anita pun terlepas dari leher Nafisa, tapi sayang Nafisa tidak sadarkan diri akibat ulah yang dilakukan oleh Anita membuat pasokan udara di paru-paru Nafisa pun menipis. Zidan dan Refan panik melihat adiknya tidak sadarkan diri, karena sudah muak dengan semua perlakuan yang dilakukan oleh Anita Refan pun memakinya dan lantas akan memukul nya kalau polisi tidak menahan Refan.
"Cukup Anita! cukup selama ini lo sakitin adek gua! kalau bukan karena mama lo gua udah seret lo langsung ke penjara!" sentak Refan kepada Anita wajahnya sudah memerah karena amarah yang sudah lama dia pendam.
"APA LU! gua ngga takut sama lu! adek lu lebih pantes mati! dia ngga berhak buat hidup disini!" sentak Anita tidak kalah keras.
"Tutup mulut lu b@ngsat!! bersyukur lu cewe kalau bukan karna lu cewe gua pastikan lu ngga akan bisa melihat fajar lagi esok hari!" sentak Refan dengan emosi yang memuncak.
"Tangkap perempuan gila itu pak! jeblos kan dia ke penjara segera!!" teriak Refan sudah muak dengan semua ini. Anita pun di seret dengan paksa untuk ikut dengan mereka, tante niken yang melihat putri semata wayang seperti itu menangis histeris, ia masih tidak menuanhka apa yang dilakukan oleh anaknya sendiri sudah sangat melewati batas.
Disisi lain Zidan menggendong Nafisa dan membawa nya kerumah sakit segera mungkin.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA GUYS SEE YOU DI PART BERIKUTNYA TERIMAKASIH ATAS SEMUA DUKUNGAN NYA🙋♀️🙇♀️