Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Penyergapan


__ADS_3

Wajah Ryan terlihat kesal karena ucapan Nafisa, dia hendak memukul Nafisa tapi tangannya terhenti di udara mana kala suara peringatan dari polisi yang sudah mengepung toko Nafisa dari segala arah.


"Angkat tangan...Saudara Ryan dan saudari Syifa harap kalian segera keluar. Toko sudah kami kepung jangan coba-coba untuk kabur atau melawan." seru kapten Danu.


Mereka berdua panik dan menatap tajam ke arah ku, disaat keadaan bingung ingin melarikan diri Ryan menatap ku dengan sorot mata penuh dendam, belum sempat ku berlari Ryan menarik lengan ku secara kasar dan memelintir nya kebelakang serta mengambil pisau dari saku belakang celana nya dan mengarahkan nya tepat di leher ku.


Citra berteriak histeris melihat ku dalam genggaman Ryan dengan pisau yang berada tepat di leher ku.


"Lo yang udah buat gue dalam situasi ini bukan, kalau gue ngga bisa keluar dari sini hidup-hidup maka lo juga harus ikut gue ke neraka!" seru Ryan tertawa jahat.


"Fisa...." teriak Citra menangis. Melihat keadaan ku yang tidak berdaya dalam genggaman tangan kekar Ryan, ia bingung harus menolong sahabatnya dengan cara apa.


Syifa maju dan menatap ku dengan tatapan mengejek dia berkata "Kalau memang sudah bodoh ngga usah berlagak sok kuat dan pemberani, kalau sudah begini tau kan akibatnya!" seru nya dengan angkuh.


"Ha ha ha...Kalian salah! gue ngga pernah takut sama kalian, gue cuman takut sama yang Allah SWT bukan kepada makhluk murahan seperti kalian!!" ucap ku tersenyum devil.


"Saudara Ryan dan saudari Syifa saya peringatkan sekali lagi, keluarlah kalian dan serahkan diri kalian secara baik-baik kepada pihak berwajib atau kami akan masuk dan akan membawa kalian dengan paksa!" seru kapten Danu lagi. Citra dan Fatima semakin histeris dan gemetar melihat sahabatnya sendiri harus tersiksa seperti itu.


"Kita keluar yank dengan tetap membawa gadis manis ini,kita bisa jadikan dia alasan untuk kita kabur nantinya." bisik Ryan pada Syifa dan Syifa pun mengangguk. Aku yang mendengar mereka akan kabur tidak bisa berdiam diri saja seperti ini, bagaimana pun mereka tetap harus mendapatkan ganjarannya.


"Lo berdua juga ikut gue keluar cepatttt!" sentak Ryan kepada Citra dan Fatima yang dari tadi tidak bisa berhenti menangis. Aku mengangguk dan memberi mereka isyarat bahwa turuti perintah Ryan, dan menyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja.


Citra dan Fatima pun keluar dengan di dorong Syifa dengan kasar, Ryan pun ikut keluar dengan tetap membawa ku dalam keadaan tangan yang di pelintir kebelakang serta pisau yang masih menempel pada leher ku. Sontak semua orang yang berada di luar terkejut dibuat nya melihat keadaan ku dalam genggaman Ryan dengan pisau berada tepat di leher ku, Refan yang melihat adiknya dalam keadaan seperti ini sudah tidak tahan lagi ingin menghajar kedua pelaku. Ia tau konsekuensi nya akan seperti ini jikalau adiknya nya yang menjadi umpan, Zidan menahan amarah yang sudah memuncak dalam diri Refan ia sangat mengenal adik keduanya itu jikalau sudah menyangkut Nafisa dalam bahaya maka sifat berandalan nya yang akan keluar dan bisa dibilang jauh dari kata kalem.


"Diam semua jangan ada yang bergerak atau maju sedikitpun,kalau ngga mau leher cantik yang seputih susu ini akan berwarna kan darah." seru Ryan tertawa jahat.


"Saudara Ryan jangan coba-coba untuk bertindak konyol atau menyakiti saudari Nafisa, serahkan diri kalian atau resikonya akan lebih buruk nantinya." seru kapten Danu.


"DIAM!!" teriak Ryan.


"Kalian menginginkan gadis manis ini bukan! maka turun senjata kalian atau...gue tebas leher gadis manis ini sekarang juga!" seru nya dengan lebih mendekatkan pisau tersebut tepat di urat leher ku.


Zidan meminta para polisi untuk menurunkan senjata mereka demi keselamatan adiknya. Refan ingin maju tapi ditahan oleh Zidan, dia tidak ingin karena tindakan Refan yang gegabah akan membahayakan nyawa adiknya. Ia sudah berjanji kepada ibu nya untuk membawa adiknya pulang dalam keadaan sehat walafiat tidak kurang sedikitpun.


Zidan menitipkan Refan kepada Satria, akhirnya dia pun maju dan berhadapan langsung dengan Ryan sambil berkata "To the point saja, mau lo apa dan apa maksud lo menyandra adek gue seperti itu." seru Zidan dingin.


"Ha Ha Ha, lo emang kakak yang bijaksana dan pengertian kepada adiknya. Keinginan gue ngga banyak, lepasin gue dan juga pacar gue hari ini juga! dan lo akan mendapatkan adik kesayangan lo ini." saut nya memberikan penawaran kepada Zidan. Aku pun menggeleng kuat tanda bahwa aku tidak setuju, Kak Zidan melihat ku dengan tatapan sedih dia tidak bisa mengikuti ego nya hanya demi menyelesaikan misi ini ia harus mengorbankan adik kesayangan nya itu. Belum Zidan mengucapkan kata Nafisa sudah memotongnya.


"Jangan kak...itu cuman gertakan dari dia saja, pleasee kak jangan bebas kan penjahat kejam seperti nya." ucap ku melarang kak Zidan mengiyakan permintaan Ryan dengan bermandikan peluh aku berusaha untuk melepaskan diri tapi tenaga Ryan lebih kuat dari apa yang aku duga. Satu-satunya jalan untuk bisa membebaskan diri ku sendiri adalah mengelabui Ryan dan menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.


"Diam manis...apa lo ngga pengen kembali kepelukan kedua kakak lo hmm...atau lebih memilih ikut gue ke neraka?!" sentak nya mengeratkan tangan nya di leher ku.


Zidan melihat nya sudah kalang kabut satu sisi ia harus menyelamatkan adiknya tapi di sisi lain ia juga harus membersihkan nama baik adiknya dari semua tuduhan kotor itu. Nafisa menatap Zidan dengan tatapan isyarat bahwa dia baik-baik saja ia ingin kakak nya mengajak bicara Ryan. Dengan begitu konsentrasi Ryan akan lebih tertuju pada kakak nya itu dan dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk membebaskan diri.

__ADS_1


"Buat dia sibuk kak, berikan dia beberapa pertanyaan dan aku akan mencoba membebaskan diri dari genggaman nya." bisik Nafisa dengan bibir digerakkan agar kakak nya paham apa yang ia katakan. Bagaikan mendapat hadiah Zidan paham apa yang dimaksud Nafisa ia menganggukkan kepala tanda dia setuju.


"Gue minta sama lo jangan apa-apa kan adek gua, gua bakalan turutin semua permintaan lo asalkan lo jangan sakitin adek gua!" seru Zidan


"Gua ngga akan nyakitin adek lo, kalau lo lepasin gue dan suruh semua polisi itu untuk mundur atau...adek kesayangan lo bakalan ikut gua ke alam baka!" saut Ryan. Karena perdebatan yang di buat Zidan akhirnya pisau yang berada tepat di leher Nafisa tadi nya agak mengendor dan jaraknya tidak begitu dekat lagi, dalam keadaan seperti ini dia berfikir keras bagaimana cara untuk dia bisa lepas dalam genggaman kejam Ryan. Setelah cukup lama ia membuat otak nya berfikir keras dia pun menemukan jalan untuk bisa membuat Ryan melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Nafisa. Nafisa menginjak kaki Ryan dengan kuat dan membuat Ryan terkejut pisau itu pun jatuh dan genggaman tangan Ryan pun terlepas dari tangan Nafisa, tanpa menyia-nyiakan waktu Nafisa berbalik dan memelintir balik pergelangan tangan Ryan yang kekar dan menendang kedua kaki nya dan menginjak nya dengan kaki nya sendiri Ryan pun terduduk tak berdaya di jalan dengan keadaan pergelangan tangannya di pelintir Nafisa dan kaki yang sengaja diinjak oleh Nafisa agar ia tidak bisa kabur atau melarikan diri lagi.


SKAK MAT!!


Syifa yang melihat keadaan pacarnya sudah tidak berdaya lagi lantas ingin melarikan diri tapi naas nya kaki nya di tendang oleh kaki kiri Nafisa dan membuat nya jatuh tersungkur di aspal. Satria yang melihat kejadian itu pun tercengang gadis manis seperti Nafisa akan sangat membahayakan pabila sudah melewati batasannya.


"Aww sakit,hah sialan lu Nafisa!" seru nya kembali bangkit dan ingin menampar Nafisa tangannya terhenti di udara mana kala Citra menahan tangan Syifa dan malah memelintir tangan nya kebelakang dan tangan satunya menahan leher Syifa.


"Lo ngga akan bisa semudah itu buat nyetuh temen gua!"


Satria berdecak kagum sekaligus terkejut melihat aksi yang dilakukan Nafisa dan temannya, dibalik rupanya yang cantik dan imut bak bidadari yang jatuh dari langit tersimpan sifat keras sang kakak dalam diri nya. Membuat hati dalam diri Satria berdetak kencang melihat penampilan Nafisa yang sangat garang walaupun tertutup hijab.


"Ck Ck Ck, neng neng makin jatuh cinta abang lihat kamu cantik dan garang seperti ini, Ya Allah semoga dia ditakdirkan untuk hamba Aamiin..." benak Satria merangan-angan Nafisa menjadi miliknya.


"Katakan sebenarnya siapa boss yang lu maksud!" ucap ku tegas dan semakin mengencangkan tangan ku di pergelangan tangan Ryan membuat sih empu nya meringis kesakitan.


"Sampai kapan pun gua ngga akan bilang siapa yang udah nyuruh gua buat bunuh dan mengancurin lu!" saut nya tegas.


"Oh okay kalau itu yang lo mau, membusuk lah lo dalam penjara seumur hidup lo! sedangkan boss yang lo bangga-banggakan itu ngga akan bisa bantu lo! gue tebak dia lagi foya-foya diluar sana sedangkan lo sendiri disini dalam ambang kematian!" ucap ku tersulut emosi, sudah seperti ini pun dia tidak menyerah barang sedetikpun.


"Okay, gua ngga bakalan apa-apain pacar kesayangan lo ini. Tapi sebagai ganti nya lo kasih tau gue sekarang juga siapa otak dibalik semua ini!" ucap ku lagi.


"Kita berdua disuruh sama Anita, buat ngancurin toko butut lo ini dan sekaligus ngebunuh lo!" seru Syifa menunduk dia tidak berani menatap mata Ryan yang sudah memerah karena marah kenapa Syifa harus berkata jujur fikirnya.


"Anita?!" gumam ku mengingat-ingat siapa dia. ketika aku sudah mengingat nya fikiran ku sudah kacau emosi kembali tersulut dalam diri ku, perempuan itu! perempuan yang hampir membuat nyawa nya melayang dulu pas di bangku SMA Anita mendorong Nafisa dari balkon sekolah dan hampir membuat nyawa Nafisa melayang kalau saja Citra dan Fatima menolong nya dulu mungkin dirinya sudah tidak berada di dunia ini lagi.


Emosi ku memuncak mendengar nama yang sudah lama tidak ku dengar dan ku temui lagi semenjak pertemuan terakhir kami di Polsek. Karena emosi dalam diri Nafisa sudah menguasai fikiran nya tanpa di duga dia memukul tengkuk Ryan dan membuat sih empu nya tidak sadarkan diri.


"NAFISA!!" teriak Syifa melihat pacar kesayangan nya di buat tak berdaya oleh Nafisa dengan sekali pukulan.


Mereka semua tidak ada yang tau, dibalik rupa bak bidadari ini tersimpan darah sang ayah dan kedua kakak nya, Zidan sengaja mengajari adik nya ilmu bela diri dan taekwondo sekedar untuk jaga-jaga jikalau dalam keadaan seperti tadi. Banyak orang yang tidak tau watak asli dari Nafisa dia sudah seperti memiliki dua raga yang berbeda dengan sifat yang berbeda pula, kalau dengan keluarga atau sahabat-sahabatnya maka sifat jail dan absurd nya lah yang keluar tapi pabila menyangkut seperti kejadian tadi jangan harap sifat cantiknya yang keluar karena itu tidak akan mungkin, dan lebih baik jangan pernah bermain api dengan Nafisa dan kedua kakak nya kalau tidak ingin api tersebut membakar tubuh mereka sendiri.


"Hm, lo di bayar berapa sama cowo b3rengsek seperti nya hah?!" ucap ku tersenyum miring sungguh malang nasib menjadi seorang Syifa sudah di peralat oleh Anita dibohongi pula oleh Ryan. Bukan berarti dia tidak tau hubungan apa yang Ryan miliki dengan Anita.


"Apa lo tidak bisa membedakan yang mana cinta dan yang mana kebohongan? Asal lo tau Syifa, boss yang lo bangga-banggakan itu sudah terlebih dahulu memiliki hubungan dengan cowo b3rengsek seperti nya bahkan mereka berdua pernah melakukan hal gila waktu SMA!" ucap ku sudah muak dengan semua drama menjijikkan ini.


Syifa pun terkejut dibuat nya antara percaya dan tidak percaya dia sudah dibohongi dan diperalat dan membuat dirinya sendiri mendekam dalam penjara karena sudah mempercayai dia ular berbisa seperti mereka.


"Lo pasti boong kan!" serunya berteriak.

__ADS_1


"Lo ngga percaya coba tanyakan saja pada pacar kesayangan lo!" ucap ku dengan meraih botol berisi air dan membuka tutupnya lantas menyiram Ryan dengan air itu agar sadar kembali. Kejam? memang lah kejam orang seperti mereka sangat pantas mendapat perlakuan seperti itu karena kesalahan yang di perbuat nya.


"Hah...Nafisa sialan!" seru Ryan kesal, cara Nafisa membangunkan nya sungguh tidak manusiawi.


"Hm, coba lo tanyakan langsung sama orangnya dia sudah sadar sekarang!" ucap ku


"Apa benar yang dibilang Nafisa yank bahwa kamu pacar Anita dan kalian sudah menjalin hubungan lama bahkan melakukan hal gila?!" sentak Syifa mendekati nya. Aku menyuruh Citra melepaskan dia, untuk bisa memberikan pelajaran kepada cowo b3rengsek seperti Ryan.


Belum Ryan menjawab pertanyaan Syifa, Syifa sudah menampar nya dengan sangat keras dan memaki nya.


"Cowo sialan! busuk lu di penjara!" sentak Syifa kesal dia terduduk menangis di jalan.


Akhirnya Syifa dan Ryan di bawa kapten Danu ke polsek dan memberi mereka hukuman yang setimpal. Aku pun berlari mendekati kak Zidan dan memeluk nya dengan erat menumpahkan semua rasa kesal, lelah dan sakit ku di dada nya. Zidan memeluk adik kesayangannya dan memberikan nya ruang untuk melampiaskan semua nya kepada dirinya, setelah ini misi mereka belum selesai mereka harus mencari dan menangkap Anita otak dari semua kejadian ini.


Cup...


Cium Zidan di kening adiknya yang sudah bermandikan peluh.


"Asem kamu dek!" seru nya terkekeh.


plak...


pukul Nafisa di dada sang kakak dalam keadaan seperti ini kakaknya masih saja menggoda nya. Refan dan Satria menghampiri adik dan kakak yang tengah bertengkar manja.


Nafisa pun melepaskan pelukan nya dari tubuh kekar Zidan dan menatap kakak keduanya, rasanya ia ingin tertawa melihat muka masam kakak nya hanya Zidan yang di peluk dan di beri ucapan terimakasih sedangkan dirinya dibiarkan begitu saja, cemburu? memang begitulah cara mereka memberikan rasa sayang kepada saudara nya masing-masing.


"Pffft..." tawa Nafisa. Tanpa aba-aba dia pun meloncat dan memeluk kakak keduanya dan menempel seperti layaknya koala. Refan pun menangkap tubuh adik kesayangannya rasanya baru kemarin dia menggendong sang adik yang masih bayi merah dan sekarang lihat lah pertumbuhan pesat dalam diri adik nya bahkan adiknya sudah bisa membanggakan ayah dan ibu nya lewat prestasi dan usahanya.


"Kamu berat dek! Jadi orang jangan gendut-gendut makanya kakak ngga kuat buat gendong kamu lagi!" seru Refan sekenanya.


Nafisa pun memukul keras lengan kakak keduanya kalau ngomong emang ngga pernah disaring dulu sama saringan kopi! fikirnya.


"Enak aja Fisa gendut, kurus gini di bilang gendut!" ucap ku kesal.


"Kamu gendut dek! ngga liat apa tuh pipi ampek tumpah-tumpah kek gitu isinya!" seru Refan lagi dan Zidan pun terkekeh atas penuturan adik keduanya memang benar adanya.


"Fan gantian dong, lu pasti capek biar gue aja yang gendong adek lu!" seru Satria asal.


"Gundulmu!" umpat Refan. Aku dan kak Zidan pun tertawa melihat nasib kak Satria yang bukan mengiyakan permintaannya malah di sumpahi oleh kak Refan.


HAI GUYS SAMPAI SINI DULU YA KITA LIAT SEPERTI APA KELANJUTAN KISAH MENARIK DARI SEORANG NAFISA๐Ÿ™‹โ€โ™€๏ธ๐Ÿ™‹โ€โ™€๏ธ


TERIMAKASIH ATAS SEMUA DUKUNGAN KALIAN PADA SAYA SAYANG KALIAN BANYAK-BANYAK๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


SAMPAI JUMPA DI LAIN WAKTU SEE YOU ALL๐Ÿ™‹โ€โ™€๏ธ๐Ÿ™‹โ€โ™€๐Ÿ™‹โ€โ™€๏ธ


__ADS_2