Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Bakat Terpendam Nafisa


__ADS_3

Kami semua pun masuk kedalam rumah dan bertemu dengan ibu panti, tak lupa aku bersalim takzim kepadanya dan semua teman-teman ku mengikutinya.


"Tapi tunggu dulu, kemana pergi nya bidadari kesayangan ku itu." benak ku


"Maaf Bu kalau boleh tanya Cia kemana ya? kok Nafisa liat dari tadi ngga ada dia?" tanya ku celingukan sedari tadi mencarinya.


"Huff, dia menangis nak dari kemaren karena kamu sudah lama tidak kesini, dia marah dan menangis kepada ibu kalau dokter cantik kesayangan nya juga pergi meninggalkan nya seperti mama dan papa nya. Beberapa hari dia jarang makan secara teratur sebelum nak Fisa kesini dia ngga akan mau untuk makan sedikit pun." seru ibu panti sendu.


Hati ku terenyuh mendengar penuturan ibu panti tentang keluhan Cia, sebenarnya aku kesini sengaja tidak memberi kabar kepada ibu panti karena akan memberi. kejutan kepada Cia nantinya ditambah lagi aku membawa teman-teman ku juga kesini.


Tanpa ku sadari cairan bening lolos begitu saja dari pipi ku, aku pun mengusap nya dengan kasar dan menanyakan dimana Cia sekarang, ibu panti memberi tahu ku bahwa Cia ada di taman belakang rumah bersama beberapa anak lain nya. Aku segera berlari ke taman belakang rumah untuk segera menemuinya, karena kejutan yang akan ku berikan padanya malah berujung seperti ini.


"Cia...." panggil ku berteriak dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi. Cia pun menoleh dan melihat ke arah ku, dia pun berlari dan tidak memperdulikan teman-teman nya yang lain. Aku pun menangkapnya dan memeluknya dengan erat dalam dekapan ku bisa ku rasakan dia menangis histeris karena ku, air mata yang tidak ingin ku lihat akhirnya jatuh karena perbuatan ku sendiri, aku terlalu sibuk dan terlalu meratapi toko ku sehingga aku sampai melupakan orang yang menunggu kabar ku sekian lama.


"Hiks...hiks...hiks..." tangis nya dengan masih sesegukan.


"Heyy...kakak cantik disini kok sayang maafin kakak ya...bukan kakak mau ninggalin Cia, maafin kakak ya sayang..." ucap ku menghapus air matanya dan menciumi nya tanpa henti.


"Hiks...ka-kakak...do-doktel...jahat..." ucap nya terbata-bata. Dia memukul-mukul dada ku dengan terus menangis, hati ku benar-benar hancur melihat nya seperti trauma akibat kecelakaan itu sungguh sangat menyiksa batin nya yang masih kecil.


"Ka-kakak...do-doktel...jahat! ka-kakak...tinggalin Cia tayak papa mama!" ucap nya dengan masih memukul dada Nafisa secara brutal, tapi rasa sakit didada belum seberapa seperti apa yang Cia rasakan. Nafisa sangat tau bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayang apalagi saat usia kita masih sangatlah kecil untuk mengerti tentang hal itu.


Semua teman-teman Nafisa ikut merasakan apa di rasakan oleh Cia walaupun mereka belum berkenalan dekat tapi di lihat dari cara Nafisa beradaptasi dengan Rara tadi bisa mereka simpulkan bahwa Nafisa sangatlah berarti dan di sayang oleh anak-anak disini terutama bocah berusia 5 tahun itu, dilihat dari caranya menangis dan memukul Nafisa itu semua adalah bentuk rasa sayang Cia kepada Nafisa karena dia tidak ingin ditinggalkan oleh nya seperti mama dan papa Cia meninggalkan nya diwaktu usianya masih balita.


"Maafin kakak ya sayang...kakak minta maaf sama Cia..." ucap ku dengan air mata terus mengalir dan tidak mau berhenti. Akhirnya Cika dan Nanda pun maju dan mengambil Cia dari tangan Nafisa Nanda membawa Cia agak menjauh dari Nafisa, melerai mereka untuk sementara waktu, hati yang sama-sama panas dan penuh rasa bersalah tidak akan selesai jikalau seperti ini. Cika menenangkan Nafisa sementara Nanda menenangkan Cia untuk berhenti menangis dan membujuknya untuk menemui Nafisa dan memaafkan nya.


"Ini semua emang salah ku Ka!" ucap ku menumpahkan semua kesalahan kepada diri ku sendiri.

__ADS_1


"Sssttt...udah ini bukan salah siapa-siapa kok keadaan yang memaksa kalian untuk tidak bisa bertemu setiap hari lo kan kuliah ditambah sibuk cari biaya kuliah juga belum malemnya lo harus ngajar anak-anak juga. Gue tau kok berada di posisi lo itu gimana, nama nya juga anak kecil Cia juga punya trauma akan masa lalunya kan jadi di maklumin aja, lo kan dokter anak pasti tau mental anak kecil seperti apa kan apalagi dia mempunyai trauma sejak kecil, yang sabar ya semangat!" seru Cika menenangkan hati Nafisa dan memberinya semangat.


Disisi lain Cia juga sudah tenang dan tidak brutal seperti tadi, Nafisa berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Cia dia elus nya pipi dan hidung yang sudah memerah itu seperti layaknya tomat. Cia mendongak dan melihat mata Nafisa yang sama-sama sembab akibat karena lama menangis, mata bulat nan indah itu menyimpan banyak rasa sakit didalam rasa sakit ditinggalkan oleh kedua orang tua, tidak mempunyai teman, ataupun saudara yang akan diajak bicara ketika merasa sepi ataupun bosan.


"Cia..." panggil ku dia pun mendongak dan melihat ku. Di tarik nya tangan ku dan tanpa ku sadari dia mencium telapak tangan ku dan meminta maaf karena sudah memukul ku tadi.


"Kakak cantik...Cia mau minta maap, udah pukul kakak cantik sampai nangis. Maapin Cia yaa..." ucap nya dengan rasa menyesal dia meminta maaf dan mencium telapak tangan ku layak nya anak meminta maaf kepada ibu nya. Aku pun menarik nya dan memeluknya dengan erat aku yang bersalah tapi dia yang meminta maaf setelah ini aku akan sering mengunjungi nya dan membawa nya jalan-jalan keluar walaupun jadwal matkul padat ataupun toko ku sibuk aku akan tetap menomor satu kan nya terlebih dahulu.


"Maafin kakak ya sayang, setelah ini kakak janji bakalan selalu jenguk Cia sama bawa Cia main kemana pun Cia mau." ucap ku dia pun mengangguk dan mengangkat jari kelingking nya untuk berjanji dan akan menepati hal itu.


"Janji ya kakak..." ucap nya menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking ku.


"Kakak janji sayang...Cup..." ucap ku memeluknya lagi. Dia pun mendongak dan mengerut kan dahi nya beberapa lipatan.


"Kakak doktel...mereka ciapa..." tanya nya.


"Hay cantik siapa namanya?" seru Miko


"Cia om." saut nya dengan centil. Aku pun terkekeh sejak kapan dia centil seperti itu benak ku.


"Oh Cia nama yang cantik kayak orangnya." seru Miko mencubit pipinya. "Kenalin nama om, om Miko." lanjut Miko mencium tangan mungil Cia.


"Alo om Miko." seru nya tersenyum manis.


"Yang ini om Alvin." ucap ku memperkenalkan satu persatu dari mereka.


"Halo manis siapa namanya?" tanya Alvin.

__ADS_1


"Cia om..." saut nya. Dia pun berbisik kepada ku bahwa om Alvin sangat tampan seperti pangeran dalam dongeng yang ku ceritakan kepadanya. Aku pun tertawa atas yang Cia katakan ternyata bukan hanya wanita remaja saja yang akan kelilipan matanya jikalau melihat cowo tampan dikit anak kecil pun tau mana yang tampan dan mana yang tidak.


"Kalau ini om Rendi, ini aunty Cika dan ini aunty Nanda."


"Alo om lendi aunty Cika alo aunty Nanda..."


"Halo sayang...nama om, om Rendi bukan lendi. R bukan L sayang." seru Rendi membenarkan namanya yang salah.


"Om lendi!" ucap Cia lagi susah payah mengucapkan huruf R tapi selalu berubah menjadi huruf L.


"Rendi! bukan lendi sayang!" seru Rendi lagi


"Lendi! om lendi!" ucap Cia dengan mulut berbelit karena susah mengucapkan nya. Belum Rendi ingin menjelaskan lagi pada Cia, Cika memotong ucapan dengan nada kesal.


"Ck sama aja kenapa Ren mau Rendi atau Lendi toh sama-sama dipanggil Ren yang penting ngga dipanggil lendir aja!" seru Cika melerai dan menarik Rendi.


"@nji...." sebelum Rendi mengucapkan kata-kata mutiara itu Miko sudah membekap mulut nya untuk tidak mengeluarkan kata-kata seperti itu di depan anak kecil seperti Cia.


Aku pun melotot dan memperingati Rendi untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Dia pun nyengir kuda dan menggaruk tengkuk nya lupa jikalau ditengah-tengah mereka banyak krucil-krucil yang akan sangat hafal menjiplak kata-kata atau omongan yang mereka bicarakan.


"Sorry-sorry gue lupa kalau ada krucil."


Aku pun menarik Cia untuk duduk dan mengambil gitar kesayangan ku meminta Cia bernyanyi dan aku yang memainkan gitar. Dari dulu memang aku sangat gemar memainkan gitar, tidak banyak orang yang tau aku bisa memainkan beberapa alat musik. Dulu aku secara sembunyi-sembunyi dari kak Zidan dan kak Refan demi bisa belajar bermain gitar dari Fatima, akhirnya aku bisa memainkan beberapa buah lagu dengan nada lagu indah.


Cia pun mulai bernyanyi dan aku memainkan gitar memetik senar gitar dengan mahirnya, dan sesekali aku bernyanyi dan bercanda bersama mereka.


Ditengah-tengah Keseruan dan keasikan Nafisa Cia dan yang lain nya bermain, bernyanyi dan bercanda bersama disisi lain ada seseorang yang terpesona dengan semua kelebihan Nafisa, ia tersenyum melihat interaksi yang dilakukan Nafisa Cia dan teman-temannya, tanpa dia sadari dia sudah jatuh hati kepada gadis sederhana dan ceria seperti Nafisa.

__ADS_1


__ADS_2