
Tepat di siang ini mereka ber enam buru-buru masuk kedalam mobil dan menuju ke kediaman Nafisa, berniat akan menjenguknya sekaligus numpang makan. Mereka pun akhirnya sampai dikediaman Nafisa rumah tidak terlalu luas seperti layaknya dongeng-dongeng dibuku cerita yang menceritakan tentang seorang putri cantik yang tinggal di sebuah istana megah yang punyai 100 pembantu. Nafisa hanya anak dari keluarga sederhana ayahnya hanya seorang karyawan swasta yang gajinya tidak seberapa besar tapi cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga nya dengan bantuan kedua kakak Nafisa akhirnya hidup Nafisa terjamin kan walaupun begitu dia tetap ingin membantu kedua orang tuanya dan tidak hanya mengandalkan Zidan dan Refan saja.
Mereka semua pun mengetuk pintu rumah Nafisa dan mengucapkan salam, tidak berselang lama pintu pun terbuka dan menampakkan wanita paruh baya yang sudah tidak muda lagi namun tetap cantik.
"Waalaikumsalam, eh kalian kesini mau jenguk Nafisa ya nak?!" ucap Adiba tersenyum dan mempersilahkan mereka semua untuk masuk dan duduk lesehan di lantai, walaupun mereka anak dari orang kaya tapi mereka tetap tidak malu berteman dengan Nafisa. Malah setiap mereka bermain kerumah Nafisa maka dapat dipastikan rumahnya akan heboh layaknya pasar senin yang padat-padat nya oleh pengunjung.
"Tunggu sebentar ya nak, ibu panggilkan Nafisa dulu." seru Adiba lantas berlalu meninggalkan teman-teman Nafisa dan memanggil putri nya.
"Ck, ngga tau kenapa setiap gue kerumah ini rasanya pengen lama-lama buat main disini." ucap Rendi dengan mencomot pisang goreng yang telah disajikan oleh ibu Nafisa.
"Lu betah sama rumahnya apa betah sama yang punya rumah!" ketus Cika.
Rendi pun terkekeh mendengar ucapan Cika, sebenarnya selain karena rumahnya nyaman tentunya karena sang pemilik rumah cantik.
"Lu tau aja apa maksud gue Ka." desis Rendi.
"Ya gue taulah, apa isi otak kotor lu itu!"
Sedang yang lain hanya menyimak pertengkaran keduanya dengan berteman kan pisang goreng dan brownies, lumayan kan bisa liat orang cakar-cakaran sambil ngemil.
Tidak berselang lama Nafisa pun turun dengan digandeng oleh Adiba, Nafisa tersenyum bisa melihat kembali teman-temannya setelah beberapa hari tidak pernah bertemu. Nafisa pun duduk bersama yang lain belum Nafisa mengatakan sesuatu Cika dan Nanda sudah berebutan ingin memeluk sahabat kesayangannya itu.
"Hiks, gue kangen tau sama lo." ucap Cika sesegukan ntah sejak kapan perempuan itu menangis pikir Nafisa.
"Iya kita kangen banget sama kamu Fisa." timpal Nanda.
"Lo kapan balik lagi ke kampus, ujian juga sebentar lagi. Apa mungkin lo mau keluar dari kampus dan tidak melanjutkan pendidikan lo?" tanya Cika nyerocos layaknya kereta api tidak membiarkan Nafisa menjawab dan malah menuduh nya yang tidak-tidak.
Adiba tersenyum melihat interaksi anaknya dan teman-temannya dia bersyukur putrinya mendapatkan teman yang sangat menyanyangi nya layaknya seorang kakak menyanyangi adiknya. Adiba pun pergi meninggalkan mereka membiarkan putrinya untuk melepas rindu bersama teman-temannya.
"Ck, ngga jugalah gue kuliah udah sampai ditengah jalan gini masak gue harus mundur karena mereka?!" ucap Nafisa menepis semua keraguan teman-temannya tentang dirinya yang akan keluar dari kampus.
"Kalau emang ngga, kenapa lo lama banget ambil cuti?!" seru Cika kembali memarahi Nafisa.
"Huff.... sebenarnya kakak gue ngga ngizinin gue buat kuliah dulu, karena mereka berdua masih di hantui rasa khawatir. Takut kalau sampai Bobby atau Bella nekat lagi buat mencelakai gue." jelas Nafisa menghela nafas panjang.
Nafisa juga sangat merindukan teman-temannya dan juga rindu tempat kuliah nya, tapi bagaimana lagi kedua kakaknya tetap bersikeras untuk tidak membiarkan Nafisa untuk masuk kuliah kembali. Padahal ujian sebentar lagi, Nafisa juga mendengar informasi dari para dosen kalau dirinya akan di kirim untuk melakukan magang di salah satu rumah sakit nantinya.
Cika pun menyeka sisa air matanya dengan kasar dan menatap Nafisa lekat seolah mencari kebenaran atas kejujuran Nafisa "Lo seriusan Fisa?!" tanya Cika, Nafisa pun mengangguk.
Cika kembali memeluk Nafisa dirinya sangat merindukan bisa bermain dan bergurau kembali dengan Nafisa seperti biasanya.
Ditengah obrolan yang mengharukan itu, Zidan dan Refan pun datang dan melihat kegigihan dari teman-teman Nafisa mencoba membujuk Nafisa untuk kembali berkuliah. Zidan dan Refan tersenyum teman-teman Nafisa sangat menyanyangi adiknya itu, tapi... kekhawatiran selalu menghantui Zidan dan Refan dia tidak ingin jikalau adiknya kembali di celakai oleh orang gila seperti Bobby atau Bella.
Zidan pun menarik nafas panjang dan menghelanya bagaimana pun dirinya juga kasihan melihat adiknya itu selalu termenung di dalam kamar sendiri.
__ADS_1
sebelum Zidan kesini dirinya mendapatkan telfon dari Rayyan, Rayyan meminta Zidan untuk membiarkan Nafisa kembali kuliah dengan jaminan Rayyan lah yang akan menjaga Nafisa. Yups Rayyan mengetahui hal itu bukan lain dari Lisa, Lisa mengirim pesan kepada Rayyan bahwa Nafisa tidak di perbolehkan untuk kuliah karena kedua kakaknya melarang nya karena alasan khawatir kejadian itu terulang lagi. Oleh sebab itu Rayyan menelfon Zidan dan membicarakan hal itu dengannya, namun Zidan tampak ragu dengan ucapan Rayyan bagaimana pun Zidan tahu betul jikalau Rayyan juga tengah sibuk dengan kuliah nya yang sebentar lagi akan selesai maka tidak mungkin Rayyan bisa menjaga adiknya jikalau dirinya sendiri disibukkan dengan kuliah juga. Tapi setelah mendengar penjelasan Rayyan akhirnya Zidan memutuskan untuk membiarkan Nafisa kembali berkuliah dengan pengawasan ketat dari Rayyan dan kedua kakaknya.
Zidan menoleh menatap Refan berusaha menyakinkan keputusannya dan Refan pun membalasnya dengan anggukkan tanda bahwa Refan sangat percaya terhadap Rayyan.
Mereka semua pun masuk dan membuat semua yang berada di dalam tampak terkejut dan menunduk takut tidak berani menatap kakak Nafisa, karena kejadian waktu itu mereka pun juga terkena imbasnya Zidan marah besar terhadap mereka karena tidak memberitahukan soal kejadian-kejadian dimana Nafisa selalu di tindas di kampus padahal mereka sangat kenal dekat dengan kedua kakak Nafisa tapi malah tidak memberitahu nya.
"Assalamu'alaikum..." salam Zidan dan Refan bersamaan masuk kedalam rumah.
Nafisa tersenyum melihat kakaknya datang, tapi hatinya kembali sedih bila mengingat perkataan Zidan yang tidak membolehkan nya untuk kuliah kembali.
"Hei, kok berenti perasaan tadi heboh mirip pasar malem?!" tanya Zidan mencoba mencairkan suasana.
Mereka pun tersenyum kikuk menanggapi ucapan Zidan, Zidan dan Refan ikut duduk melantai bersama yang lain dan mengeluarkan snack dan minuman dingin yang dibelinya tadi di supermarket.
"Nih, buat kalian. Tadi kakak mampir ke supermarket sekalian beli ini buat kalian." ucap Zidan tersenyum mencoba menghibur Nafisa yang tengah cemberut kepadanya.
Bukannya menerima pemberian Zidan teman-teman Nafisa malah diam membisu, antara percaya dan tidak percaya Zidan kembali welcome kepada mereka seperti awal mereka kenal dulu.
Alis Refan pun terangkat demi melihat ekpresi teman-teman Nafisa yang melongo bingung "Mingkem! kalau ngga mau cicak jatoh pas di mulut kalian!" seru Refan santai namun pedas. Mereka semua pun buru-buru menutup mulutnya yang terbuka tadinya.
"Kakak...ngga lagi kesambet kan?!" tanya Nafisa mewakili yang lain.
"Kamu do'ain kakak kesambet gitu?!" tanya Zidan dengan tatapan menusuk.
Nafisa pun terdiam mematung bingung ingin bicara seperti apa. Mendadak jiwa super bawelnya hilang dari dirinya, Nafisa pun mendadak menjadi anak manis yang penurut.
Alis Nafisa pun menukik tajam setajam silet, ternyata kedua kakaknya sudah mengerjai dirinya dan teman-temannya di cubitnya perut Zidan dan Refan dengan keras oleh Nafisa karena sudah berulah.
"Aduhhh...." ringis mereka bersamaan.
"Sakit dek!" ucap Zidan melihat penampilan Nafisa sudah seperti nenek sihir, dengan pipi yang mengembung menahan amarah yang meledak.
"Nih anak walaupun sakit tapi tenaganya masih kek badak!" gerutu Refan dikekehi oleh Zidan.
Mata Nafisa melotot sempurna karena dibilang mirip badak, tapi kemudian dirinya kembali murung dan tidak mau menanggapi kedua kakaknya yang miring menurutnya. Zidan melihat mimik wajah Nafisa yang kembali murung itu dirinya benar-benar tidak tega melihat adiknya begitu, diraihnya punggung Nafisa dan di peluknya sangat erat tubuh kecil nan mungil itu.
Zidan pun melepas pelukan nya dan menghapus air mata yang sempat keluar dari mata adik kesayangannya itu "Kakak izinin kamu buat kuliah lagi" ucap Zidan dengan mengelus kepala Nafisa dengan penuh kasih sayang.
"Huwaa....yes Fisa i'm comeback...." teriak Cika membuat seisi rumah menutup telinganya.
"BERISIKKK!!" ucap Rendi lantas menutup mulut Cika dengan tangannya.
"B4ngke tangan lu bau jengkol 4nj!" umpat Cika dengan menepis tangan Rendi secara kasar si pelaku dengan entengnya nyengir tanpa rasa bersalah.
"Abisnya lu teriak-teriak kek dihutan!" hardik Rendi kesal.
__ADS_1
"Suka-suka gue lah mulut-mulut gue!!" debat Cika tak mau kalah dengan menatap Rendi tajam.
"Ini rumah orang lu main teriak-teriak kek dihutan!" seru Rendi nyolot.
"Bodo suka-suka gue namanya juga orang lagi seneng!"
"Orang seneng ngga gitu juga kali peak!" umpat Rendi.
"Apa kata lo!"
"Peak! emang kenapa?!" ucap Rendi santai.
"Lu yang peak! udah mata jelalatan kemana otak isinya mesum mulu!" cerocos Cika dengan menantang Rendi.
"Lu lah yang peak! jelas-jelas rumah orang lu teriak-teriak mulu kek dihutan lagian mereka semua kagak budeg!" hardik Rendi dengan tatapan sengit yang dilemparkan terus menerus kepada Cika.
"Stopppp...." sekarang giliran Refan lah yang berteriak. Pusing melihat tingkah teman-teman Nafisa yang terbilang sangat random ntah yang satu playboy yang satu lagi hobi banget bikin kuping orang-orang pada budeg karena teriak mulu.
"Lama-lama gendang telinga gue bisa pecah gara-gara lo berdua! bisa ngga sehari aja akur kek!" Omel Refan dengan tatapan tajam yang ditunjukan kepada Cika dan Rendi.
"Lama-lama gue kawinin juga kalian berdua!" ucap Refan kembali membuat kedua makhluk yang tadinya cakar-cakaran langsung diam seribu bahasa.
"Nah gini kek dari tadi anteng!" seru Refan dengan enteng mencomot pisang goreng yang berada di depannya. Jikalau Refan sudah berucap maka mustahil bagi mereka bisa berdebat kembali.
Sedang Zidan, Nafisa dan yang lain tertawa puas melihat kedua makhluk yang awalnya nyerocos tiada henti mendadak menjadi anak manis yang penurut.
Baru Zidan akan berbicara pasal kuliah Nafisa kembali datanglah dua makhluk astral yang sama-sama minus akhlak seperti adiknya.
"Assalamu'alaikum epribadeh...!" teriak Citra dengan nyelonong masuk begitu saja tanpa dosa.
"Haloo guyss, wih lagi ngumpul nih eh btw lagi ada acara apaan kenapa pada ngumpul rame gini?" tanya Citra dengan entengnya duduk disebelah Refan yang tengah pusing melihat tingkah teman-teman Nafisa, baru saja dirinya tenang dari perdebatan kedua teman Nafisa sekarang malah dateng lagi jin botol tanpa diundang main nyelonong masuk dan duduk seperti orang tanpa dosa.
"Dek kamu dapet temen modelan mereka dari mana sih pusing kakak liatnya." keluh Refan kepada Nafisa yang tengah asik tertawa melihat penderitaan sang kakak.
"Dapet mungut dari tong sampah gang depan kak!" ucap Nafisa ngasal.
"Pantes sama-sama ngga waras!!" umpat Refan dengan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Nafisa pun tertawa kencang melihat Refan yang sangat pusing melihat teman-teman Nafisa menurut nya cukup hanya adiknya saja yang sangat menyebalkan tapi dirinya salah teman-teman Nafisa jauh lebih menyebalkan dari adiknya.
Niat hati pergi kerumah ibu nya untuk istirahat sejenak dari kegiatan kerjanya yang sangat menguras otak itu dateng-dateng kesini bukannya tenang malah tambah stress melihat ulah teman-teman adiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
~Hai guys udah lama nih ngga bersua kangen kalian-kalian maaf ya moy lama ngga update jadinya ceritanya neng fisa nangkring gitu aja moy lagi hiatus kemari" karena mau kelulusan jadinya sibuk urus ini itu sama ujian ngga mau selesai" jadinya belum bisa update neng fisa sama babang" ganteng, oh iya btw kok moy jadi nya curhat nih😂berhubung moy udah comeback jadinya cuss kita ubek" lagi kisah cinta neng fisa sama abg rayyan yang malu" akan kah mereka bertemu nantinya? seperti apakah ekspresi Nafisa nantinya bahwasanya dia sudah dipinang jauh" hari tanpa sepengetahuan nya dulu akankah neng fisa mau menerima perjodohan ini atau sebaliknya? seperti apa alur kisah cinta mereka akan kah ada orang ketiga nantinya?😋
__ADS_1
yuk pantengin terus ceritanya btw makasih banyak yang masih setia sama neng fisa lope" sekebon toge buat kalian😘😘