
🌷FLASHBACK OFF🌷
Lamunan ku terhenti di kala mendengar teriakan Rara.Aku tersenyum di mana Rara memaksa ku untuk segera menemui Cia.
"Ayok Kakak kita masuk Cia udah kangen banget sama Kakak!" ucap Rara gadis berusia 10 tahun ini menarik-narik tangan ku untuk ikut dengan nya.
"Iya sayang pelan-pelan nanti jatuh!" kata ku.
Akhirnya aku berada di depan teras di dalam ada ibu panti yang tersenyum melihat ku.
"Assalamu'alaikum bu.." ucap bersalim takzim.
"Wa'alaikumussalam bagaimana kabar mu nak Fisa.." ucapnya dengan lembut.
"Alhamdulillah saya baik bu, oh iya ngomong-ngomong mana bidadari kecil Fisa?!" tanya ku celingukan mencari keberadaan orang yang ku rindukan sejak kemarin.
"KAKAK DOKTEL CANTIK!!" teriak seseorang dari dalam. Aku sangat mengenal suara itu, suara yang selalu memanggil nama ku dengan sebutan lain. Dia berlari dari dalam rumah keluar dengan merentangkan tangan dan aku pun bersiap untuk menyambut nya.
1
2
3
HAP!!
"Xixixi kakak doktel pintel nangkap.." ucap nya dengan suara cadel khas seorang bocah. Sambil tertawa dia mencium pipi ku. Dulu saja aku ingin mencium nya dia selalu menolak karna dulu aku pernah mengajarkan dia bahwa tidak boleh sembarang orang menciumnya apalagi seorang laki-laki, dia pun mengikuti apa yang aku ajarkan tapi lihat lah sekarang dia malah mencium ku tiada henti.
__ADS_1
"Hey, Kok di ciumin terus Kakak belum mandi loh!" ucap ku memberi alasan konyol. Aku harap dia ngambek atau apa ternyata dugaan ku salah.
"Ngga apa-apa Cia kangen Kakak doktel, Kakak doktel lama ngga kecini." ucapnya dengan sedih.
"Kakak dokter kan sibuk kuliah sayang nanti kalau ada waktu senggang Kakak kesini, nanti Cia Kakak ajak jalan-jalan lagi mau?!" jelas ku.
"Ndak mau Cia cuman mau Kakak doktel main baleng cama Cia..." lanjutnya merengut.
"Kakak dokter kan sibuk nak jadi Cia harus sabar ya kalau kakak udah ngga sibuk dia pasti kesini kok sayang.." ucap ibu panti. Aku pikir dia akan mengerti tapi dia mendongak dengan mata berkaca-kaca, jujur saja aku tak tega melihat nya seperti ini aku sudah dianggap teman dan sahabat nya bahkan waktu dulu kita sering bermain bersama dia pernah memanggil ku dengan sebutan bunda. Aku pun terkejut waktu dia memanggilku seperti itu tapi pas aku tanya apa alasan dia memanggilku dengan sebutan itu kenapa. Dia bilang bahwa aku cocok untuk dipanggil seorang bunda karna sifat ku yang selalu hangat pada semua anak-anak.
"Hey jangan nangis sayang Kakak ngga bakalan kemana-mana kok Kakak tetep milik Cia seutuhnya ngga ada yang bakalan bawa pergi Kakak dari Cia.." ucap ku membujuknya untuk tidak menangis dia memeluk ku begitu erat dengan tangan mungil nya.Ntah perasaan apa ini setiap kali aku dekat dengan Cia rasanya dia lah alasan aku tetap semangat dalam mengejar cita-cita dan mengembangkan toko roti milik ku. Jikalau ibu-ibu pada umumnya anak adalah alasan mereka semangat dalam bekerja keras maka aku bisa di kategorikan ke dalam nya walaupun aku dan Cia tidak memiliki hubungan darah tapi rasa sayang kita berdua sudah seperti Kakak adik pada umum nya.
"Sssttt jangan nangis ya sayang Cia kan anak baik lain kali Kakak bawa temen-temen Kakak kesini ya biar bisa main bareng Cia jadi temen Cia banyak nanti Kakak bawain es krim coklat kesukaan Cia sama buku menggambar Cia suka gambar kan sayang?!" jelas ku dengan membujuknya. Dia mengangguk tanda bahwa dia mau ku bujuk.
"Oh iya tadi Kakak ada bawa martabak manis loh Cia mau sayang?!" tawar ku.
"Cia mau kakak tapi yang lasa coklat.." ucap nya aku tersenyum dan menghapus jejak-jejak air mata di pipi nya karna ku sangat gemas ku cium pipinya wangi harum dari bedak bayi dan baby oil mengguar di indra penciuman ku. Dari dulu aku ingin mengangkat Cia sebagai anggota keluarga ku tapi niat itu aku urungkan karna tidak mungkin aku membawa anak bayi pulang kerumah dan ku asuh bagaimana lagi status ku masih anak gadis belum mempunyai pendamping hidup tapi sudah bawa-bawa anak.
"Ini sayang Cia suka rasa coklat kan. Oh iya sama ini kakak ada bawa coklat sama permen Cia mau?!" kata ku dengan mengeluarkan begitu banyak permen dari tas yang sengaja ku beli waktu jam istirahat di kampus tadi.
Mata nya mengerjap lucu melihat begitu banyak coklat dan permen yang ku pegang, kalau saja dia adik ku sudah ku gigit dari tadi saking gemas nya.
"Makacih Kakak doktel Cia mau!" ucap nya dengan mengambil semua coklat dan permen untuk dibagikan ke pada teman-teman nya.
"Ayo capa yang mau pelmen cama coklat balis dulu jangan lebutan nanti ngga Cia kacih.." ucap nya memberikan perintah kepada anak-anak panti. Aku tertawa dengan tingkah lucu Cia dia memukul tangan anak yang mengambil permen dan coklat dengan porsi yang banyak dan memarahi nya.
"Jangan Banyak-banyak ndak boleh ihh..."
__ADS_1
"Cia sayang kasih aja sayang itu buat temen-temen Cia disini masih ada kok punya Cia sayang." ibu panti dan aku tersenyum melihat pertumbuhan pesat pada diri Cia. Aku senang bocah yang tahun lalu kehilangan kedua orang tua nya sekarang tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik selalu berbagi untuk sesama melarang mereka yang mengambil sesuatu dengan banyak karna kasihan pada yang lain takut tidak kebagian.
Akupun terus bermain dengan Cia sampai-sampai adzan magrib berkumandang aku sampai lupa untuk pulang sebelum magrib.
"Duh adzan mana ngga bawa mukena lagi." ucap ku.
"Nak kamu ngga sholat atau lagi datang bulan?!" tanya ibu panti.
"Ah ngga bu Fisa cuma lupa bawa mukena." ucap ku nyengir.
"Ya udah kalau gitu pakai mukena ibu sebentar ibu ambil kan dulu." kata ibu lantas pergi ke kamar untuk mengambil mukena lain nya.
"Ini nak kita sholat bareng-bareng yuk." disana aku sholat bersama dengan ditemani ibu panti yang menjadi imam sedangkan aku Cia dan anak-anak lainnya menjadi makmum. Selepas sholat selesai tanpa diduga Cia menarik tangan ku dan salim takzim serta mencium pipi ku.
Cup!
"Cia sayang Kakak Fisa Kakak jangan tinggalin Cia kayak mama sama papa ya." ucap nya dengan mata sayu nya. hati ku mencelos di kala Cia mengatakan jangan pernah tinggal kan dia seperti mama papa nya dulu. Air mata ku hampir jatuh karna perkataan Cia aku memeluk nya dan mencium serta membelai kepala nya.
"Kakak ngga akan tinggalin Cia kok sayang. Sampai kapan pun Cia tetap kesayangan Kakak." ucap ku menahan lelehan hangat itu.
"Kalau Kakak pulang Cia baik-baik disini ya sayang ngga boleh nakal ngga boleh berantem sama Kakak-kakak Cia yang disini nanti kakak balik lagi bawa temen-temen Kakak ya." ucap ku dengan membujuknya air mukanya agak sedikit sedih tapi dia paham aku kuliah dan harus selalu masuk untuk tidak di hukum bapak guru katanya.
"Iya Kakak Cia ndak akan nakal, Cia nanti sholat selalu do'ain kakak Fisa bial jadi doktel." ucapnya dengan tersenyum. Acara sholat pun selesai dan aku bersiap untuk pulang.
"Kakak pulang dulu ya sayang baik-baik Cia disini ya nanti kakak balik lagi bawa permen sama coklat banyak buat Cia sama Kakak-kakak Cia." jelas ku.
"Iya kakak Cia sayang kakak." ucap nya memeluk ku. Aku pun beranjak dan melambaikan tangan pada bidadari kecil ku memesan ojek dan pulang.
__ADS_1
Saat di perjalanan pulang jalan kami di hadang dengan kendaraan para polisi netral ku menangkap sosok yang ku kenal.
"Mereka kenapa bisa disini. Ada apa sebenar nya kenapa polisi membawa mereka ke dalam mobil?!" ucap ku dengan penuh pertanyaan.