Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Pertandingan yang sangat memukau


__ADS_3

"Umi Ray pamit istirahat dulu, nanti sore ada matkul soalnya." pamit Rayyan.


"Oh iya nak, kamu istirahat aja dulu ngga apa." jawab umi Farida dan di angguki oleh umi Khodijah. Belum Rayyan pergi ke kamar nya umi Farida menyuruhnya duduk terlebih dahulu dikarenakan kamar nya tadi sudah di tiduri oleh anak gadisnya pasti itu kamar berantakan.


"Eh, sebentar nak biar bibi bereskan kamar mu dulu." ucap umi Farida meminta bi ina membereskan kamar Rayyan.


"Kenapa dibereskan umi? bukannya sebelum Rayyan pulang sudah Rayyan bereskan dulu pasti sekarang masih bersih, tidak usah bi ina biar Rayyan saja pasti bi ina lelah." jawab Rayyan menolak dibersihkan oleh bi ina.


"Memangnya siapa yang kesini Farida?" tanya umi khodijah.


"Oh itu, anak-anak dan adik menantu ku semalam menginap di sini khodijah dikarenakan melatih anak-anak santri untuk tanding hari ini." jawab umi Farida tapi tidak memberitahu Rayyan bahwa yang tidur dikamarnya adalah Nafisa karena Zidan sudah meminta umi untuk tidak memberitahu Rayyan dan keluarga nya pasal ini.


"Oh, sekarang mereka sedang berada di pertandingan Farida? sayang sekali padahal aku ingin bertemu Nafisa, putri yang kamu sayang itu." ucap umi Khodijah, Rayyan pun yang ingin pergi ke kamarnya pun menghentikan langkah nya demi mendengar nama cantik yang umi nya sebutkan itu.


"Sayang sekali khodijah, dia sudah pamit tadi dari sini untuk pergi menyusul kakaknya. Dan mungkin kamu bakalan lama untuk bertemu dengan nya lagi, dia tipe anak super sibuk aku saja jarang bermain bersama nya kembali seperti dulu lagi." jelas umi Farida.


"Benar, sayang sekali. Padahal aku kesini demi bertemu dengannya, siapa tau bisa ku jodohkan dengan Rayyan. Bagaimana Rayy kamu setuju?" ucap umi Khodijah menggoda putra pertamanya itu.


"Umi..." jawab Rayyan malu sekaligus tidak suka jikalau umi nya suka menggoda nya pasal perempuan. Khodijah pun tertawa karena sudah berhasil menggoda anak nya itu, pasal nya sudah beberapa perempuan dia pertemukan dengan Rayyan tapi tidak ada satu pun wanita yang anaknya pilih.

__ADS_1


"Habis nya kamu, sudah beberapa perempuan umi pilihkan buat mu tapi apa? tidak ada satu pun yang kamu pilih." seru umi khodijah.


"Rayyan bukan ngga mau milih mi, tapi Rayyan mau fokus sama kuliah dan pekerjaan Rayyan dulu." jawab nya


"Sampai kapan nak? gini-gini umi keburu tua tau, umi kan juga mau punya cucu seperti umi Farida." saut umi Khodijah kembali, Rayyan pun memijat kepala nya pening umi nya selalu memintanya untuk segera membawakan umi nya menantu.


"Sudah sudah, umi jangan goda anak mu selalu kasian dia. Biarkan dia mencari nya sendiri, Rayyan juga sudah besar umi." ucap abi Akmal menasehati istrinya dengan lembut. Rayyan pun menaiki tangga dan menuju kamar nya, tanpa ia duga yang awalnya kata umi kamarnya berantakan kenapa ini malah sangat rapi, sprei nya pun sudah diganti dan lantai nya wangi apakah sudah ada yang membersihkan. "Tapi bi Ina belum pergi ke kamar ini sekali" fikir Rayyan. Dia pun menggelengkan kepala, yang penting kamar nya sudah bersih dia pun akhirnya merebahkan tubuh nya pelan di kasur tapi... belum dia memejamkan mata dia menoleh kesamping dilihat nya di nakas ada sebuah buku yang berwarna biru langit, bertaburkan glitter dan bulu-bulu kecil dipinggir.


"Buku siapa ini?" ucap nya bertanya-tanya, pasal nya dia sendiri tidak mempunyai buku seperti ini.


Ingin membuka buku tersebut tapi... takut dia lancang sudah membuka privasi orang, tidak dibuka pun penasaran. Mau tidak mau Rayyan pun membuka isi buku tersebut, disana tertulis nama-nama resep kue roti milik Nafisa. Dan tertera jelas ada nama Nafisa disana Rayyan pun menggumamkan namanya berkali-kali ntah kenapa hati kecil nya sangat penasaran akan sosok seorang Nafisa Az-Zahra.


"Nama yang indah, apakah orangnya seindah namanya tuhan?" batin nya. Dia pun menaruh buku tersebut takut jikalau nanti pemilik nya akan mencari-cari buku tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat lain Nafisa tengah melihat pertandingan yang sangat memukau dari para santriwati yang dia ajarkan, begitu banyak pukulan, tendangan serta tangkisan yang membuat arena pertandingan menjadi panas.


"Masya Allah, mereka sangat bersemangat dan begitu memukau. Didikkan kamu sangat pintar dek, apa yang kamu ajarkan sampai-sampai para santri semangat seperti itu?!" tanya Nurul kakaknya. Nafisa pun cengengesan dia tidak banyak mengajari mereka banyak hal dia hanya memberi mereka motivasi agar semangat dalam bertanding dan untuk masalah kalah menang tidak masalah yang terpenting mereka sudah membawa nama pesantren baik di kalangan bela diri.

__ADS_1


"Ngga ada kok kak, Nafisa cuma kasih mereka motivasi aja sedikit untuk tetap optimis dalam menghadapi ujian seperti ini, ujian hidup dan ujian lainnya." jawab Nafisa tersenyum.


"Masya Allah, kakak salut sama kamu dek. Oh iya, kakak ada hadiah buat kamu oleh-oleh dari bandung, tapi oleh-oleh nya ada dirumah nanti pulang dari sini mampir kerumah umi dulu ya." ucap Nurul kembali.


"Aduhh kak, keknya Nafisa ngga bisa deh soalnya Nafisa ada tugas matkul. Lagi pun toko juga ada banyak pesenan kue kasian Citra sama Fatima ngga ada yang bantu, ditambah besok Cia ulang tahun Fisa udah janji juga sama dia." jelas ku, karena memang hari ini jadwal ku sangat lah padat ditambah lagi 3 bulan lagi aku dan teman-teman ku akan dikirim ke suatu daerah untuk pelatihan magang.


"Oh jadi gitu, ya sudah nanti kakak titipkan sama mas Zidan aja ya biar dikasih ke rumah ibu nanti." seru Nurul dan Nafisa pun mengangguk.


Pertandingan pun berlangsung dengan baik, para santriwati hanya 2 orang yang masuk grand final dan untuk santriwan hanya 3 orang yang masuk, disini lah ketegangan pun dimulai dimana para lawan sama-sama kuat dan dari perwakilan kami hanya tersisa 5 orang saja. Dengan bermodalkan bismillah dan optimis mereka pun kembali bertanding, dengan menghabiskan waktu cukup lama akhirnya perwakilan dari pesantren Al-Hikam lah yang menjadi juara pertama nya. Aku pun bersorak kencang dan bahagia, usaha ku mendidik mereka selama tiga hari tidaklah sia-sia perwakilan kami telah membawa penghargaan berubah piala, mendali dan juga uang tunai dengan nominal lumayan besar, Nurul dan Aini pun memeluk adik ipar kesayangan nya karena berkat nya dan usaha keras anak-anak santri akhirnya mereka membawa pulang segudang hadiah untuk dipersembahkan kepada abi Khalid dan umi Farida, orang tua mereka pasti bangga melihat anak-anak nya sukses dengan segudang prestasi, tidak sia-sia para orang tua mengirim mereka ke pesantren bukan.


"Alhamdulillah..." teriak para santri Al-Hikam menggema di arena tanding bahagia bercampur haru bisa memenangkan piala bergengsi antar pesantren.


"Baiklah karena kalian sudah berusaha keras dan memenangkan ini semua dengan semangat kalian maka kak Zahra akan traktir kalian makan sepuasnya..." ucap ku dengan senang, mereka semua pun berseru senang kapan lagi kan bisa makan gratis sepuasnya lagi!


Aku dan semuanya pun menuju salah satu restoran dan memesan meja panjang untuk para santri makan, mereka semua senang dan memesan banyak makanan yang mereka suka sepuasnya.


"Dek kamu yakin mau bayarin ini semua?!" tanya Refan, pasal nya adiknya itu hanya bekerja paruh waktu toko kue nya pun baru saja kembali bangkit dari kerugian besar.


"Insah Allah kak, ngga apa kok sekali-kali kan traktir bocah-bocah makan kasian kalau dikasih makan sayur mulu!" ucap tertawa, Zidan dan Refan pun menjitak kepala Nafisa bersamaan adiknya itu memanglah tiada duanya kalau untuk masalah absurd.

__ADS_1


__ADS_2