Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Penggemar Rahasia??


__ADS_3

Sudah tiga hari Nafisa tidak sadarkan diri demamnya lambat laun mulat menurun dokter mengatakan tidak lama lagi dia akan siuman, Rayyan dengan setia menunggu Nafisa disana ditatap nya wajah cantik dan tenang itu dengan lekat membuat otak suci Rayyan melanglang buana kemana-mana dia pun memalingkan mukanya jangan sampai karena terlalu terpesona dengan kecantikan Nafisa dirinya sampai hilang akal.


"Astaghfirullahalazim, pantas saja para lelaki sangat mengagumi anti lihatlah cara anti menyihir ana dalam seketika..." ucap Rayyan bermonolog sendiri dan menyalahkan kecantikan Nafisa.


"Sesudah ana meminang anti ana tidak akan membiarkan wajah cantik ini menjadi santapan lelaki brengsek diluaran sana, kalau perlu ana akan menutup wajah anti dengan kemeja ana biar semua orang tidak bisa memandang anti walau hanya sekejap." ucap Rayyan kembali.


Tidak disangka karena ocehan Rayyan tidur Nafisa pun terusik sedikit demi sedikit jari jemarinya memberikan respon gerakan kecil Rayyan pun terkesip dirinya lantas memanggil dokter dan pergi dari ruangan itu.


Nafisa pun sedikit demi sedikit membuka matanya secara perlahan semuanya tampak silau dia pun menyesuaikan matanya dengan sorot lampu, baru Nafisa terbangun dia sudah diselimuti oleh rasa trauma itu semuanya seakan berputar dikepalanya dimana kejadian Bobby yang hampir melecehkannya kembali seperti awal dia masuk kampus dan kejadian dimana Bella dan teman-temannya menyekapnya dalam ruangan lacnat itu.


"Dek...?" panggil Zidan mulai khawatir adiknya tidak merespon apapun melainkan hanya tangisan yang terdengar.


"Sssttt hey liat kakak, dek..." panggil Zidan kembali, Nafisa pun memeluk Zidan dengan erat dan menangis sejadi-jadinya tubuhnya bergetar hebat karena tangisan nya.


Refan mengepalkan tangannya kuat demi melihat adiknya yang kembali menangis karena ulah seseorang seperti kejadian Anita waktu itu.


"Heyy lihat kakak, kakak disini sama kamu ada ibu sama ayah maafin kakak ya datang terlambat kemarin." ucap Zidan mengelus punggung Nafisa dia ingat betul kejadian masa kecil Nafisa dimana awal mula trauma itu datang.


"Sssttt kakak disini kamu ngga usah khawatir ya." ucap Zidan kembali mencoba menenangkan Nafisa.


Sedang diluar sana tepatnya di depan pintu ruangan Nafisa emosi Rayyan sudah terpancing demi melihat pujaan hatinya histeris seperti itu, setelah mendapatkan restu dari Zidan dan Refan Rayyan memberanikan diri menanyakan keadaan Nafisa dan menanyakan siapa pelaku dibalik semua ini. Setelah tau ada seorang laki-laki yang pernah menyentuh Nafisa dengan paksa dan hampir melecehkannya amarah Rayyan memuncak demi mendengar nama laki-laki brengsek tersebut, alasan Nafisa tidak memberitahu kedua kakak nya adalah ia takut jikalau Refan dan Zidan tau maka dipastikan Bobby akan dibunuh oleh kedua kakaknya itu Nafisa hanya tidak ingin kedua kakaknya sampai berurusan dengan polisi sepertinya dulu.


"Ana pastikan cowo brengsek sepertinya membusuk di penjara ukhty!" gumam Rayyan giginya mengeretak kuat tangannya sudah terkepal ingin menghajar Bobby saat ini juga. Dia pun lantas pergi demi ingin menemui seseorang yang bisa membantunya seperti dulu.


...****************...


Zidan pun berusaha untuk menghibur Nafisa demi menghilangkan kenangan buruk itu sedikit demi sedikit keadaannya semakin membaik hanya saja rasa trauma itu masih melekat pada dirinya sedang dikampus Bella dan teman-temannya bahagia Nafisa menderita mereka berharap semoga Nafisa lekas segera keluar dari kampus itu tapi...disisi lain teman-temannya Nafisa tidak ada yang semangat terutama Alvin yang jelas-jelas melihat keadaan orang yang dicintainya harus berada dirumah sakit karena ulah Bella dan Bobby. Setiap hari Nafisa menerima bingkisan manis dari Rayyan, diam-diam ketika Nafisa tidur Rayyan setiap waktu menjenguknya hanya saja tidak pernah bertatapan langsung dengan Nafisa. Setiap hari Rayyan memberi Nafisa bingkisan berubah makanan-makanan kesukaannya mulai dari coklat dan sebagai nya setiap bingkisan ada secarik surat yang sengaja Rayyan tulis untuk Nafisa seperti hal nya sekarang Nafisa kebingungan siapakah gerangan penggemar rahasia ini. Setiap hari dirinya tidak pernah absen untuk memberi Nafisa banyak makanan yang dia suka.


..."Penggemar Rahasia"...


Assalamu'alaikum ukhty apa kabar anti hari ini ? seperti surat-surat terdahulu ana cuman berharap anti cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas kembali, mungkin ana tidak pandai merangkai kata-kata manis karena ana bukan seorang puitis cinta atau semacamnya. Oh iya menu hari ini pasti seperti biasanya bukan? maka dari itu ana sengaja membelikan anti makanan kesukaan anti seperti biasanya.


Selamat makan tuan putri lekas sembuh.


^^^Muhammad Rayyan Ilham~^^^


Begitulah isi dari surat tersebut Nafisa mengerutkan dahinya beberapa lipatan, orang ini tau dari mana kalau dirinya menyukai semua makanan itu terlebih lagi menu makanan rumah sakit apakah dia seorang dukun, atau cenayang?


"Fix nih orang temenan sama demit keknya setiap gue ngelakuin apa aja dia tau semua dong!" dumel Nafisa.


"Kak, kakak tau ngga sih nih orang siapa. Sejak Nafisa bangun dari tidur panjang nih orang tiap hari ngirim bingkisan mulu mana makanannya semua kesukaan Nafisa lagi." ucap Nafisa melihat-lihat kembali isi semua bingkisan itu.


Zidan dan Refan pun menggidikan bahu mereka sengaja merahasiakan identitas Rayyan kepada Nafisa karena dapat dipastikan Nafisa akan menolak pertunangan itu karena alasan belum siap.

__ADS_1


"Ntah kakak ngga tau." seru Zidan acuh.


"Makanya jadi orang jangan centil-centil amat apalagi diluar suka tebar-tebar pesona sekarang di intilin fans sendiri malah nyalahin orang udah dikasih makanan juga ngga bersyukur!" ketus Refan.


"Idih bapaknya beruang sensi amat, lagian yah Fisa kapan ada tebar-tebar pesona sama orang kakak ngga usah ngadi-ngadi ya!" saut Nafisa tidak mau kalah.


"Lagi pun siapa sih cowo yang berani deketin Nafisa baru liat muka kakak aja mereka udah lari duluan!" ucap Nafisa kembali.


"Emang muka kakak mirip demit apa?!sampai-sampai mereka lari tanpa alasan." seru Refan.


"Dih ngga sadar diri, kakak mah bukan mirip demit lagi tapi rajanya demit!" saut Nafisa kejam. Refan pun tersedak air minum demi mendengar ucapan adiknya yang cukup kejam.


"Adek ngga ada akhlak emang ganteng gini titisan pangeran dari surga di bilang rajanya demit, awas kamu ya dek!" seru Refan menghampiri Nafisa dan memasukkan kepala Nafisa di ketiaknya. Zidan pun tersenyum melihat interaksi kedua adiknya jikalau Nafisa sudah bisa bicara kejam berarti tandanya dia sudah sembuh, walaupun harus Refan lah yang menjadi korban mulut kejam Nafisa yang terpenting adiknya sudah kembali seperti sedia kala lagi.


Zidan pun memotret momen dimana Nafisa tengah menertawakan Refan karena pertengkaran unfaedah itu, dikirim nya foto tadi ke nomer Rayyan dan baru saja dia mengirim foto tersebut Rayyan sudah membalasnya dengan cepat.


"Syukron bang " ucap Rayyan.


"Afwan, dia sudah membaik Ray mungkin beberapa hari lagi Nafisa akan pulang apakah kamu tidak ingin menemuinya?" jelas Zidan.


" Tidak usah bang belum saat nya ukhty melihat ana biarkan dia fokus pada kuliahnya dulu jikalau sudah waktunya kami bertemu maka Allah akan mempertemukan kami dengan caranya yang indah." tolak Rayyan.


" Baiklah kalau begitu, tadi dia sempat marah karena dapat bingkisan dari orang asing." terang Zidan tertawa mengingat kejadian barusan yang Nafisa mengomel-ngomel tidak jelas karena bingkisan itu, dirinya mengomel tapi itu bingkisan tetap dia terima dan dia makan kan aneh.


" Biarlah bang ukhty penasaran ana memang sengaja membuatnya seperti itu, Afwan sebelum nya bang ana selalu menggoda ukhty melalui bingkisan serta surat itu." ucap Rayyan tidak enak belum sah tapi dirinya selalu menggoda Nafisa melalui surat dan bingkisan itu.


" Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ada kerjaan yang perlu saya urus ." ujar Zidan lantas pamit.


" Na'am bang sekali lagi syukron."


" Afwan Ray ngga usah terlalu formal sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami juga ." ucap Zidan kembali sebelum mematikan ponselnya.


" Na'am bang ."


Rayyan pun senyum-senyum sendiri dibuatnya melihat foto Nafisa dimana dirinya tengah bertengkar dengan Refan layaknya kucing dan tikus jauh dari kata akur, saking larut nya Rayyan memandangi foto Nafisa dia sampai tidak tau bahwa sekertaris nya plus sahabat karibnya sudah menatapnya sedari tadi dengan tatapan aneh.


"Wahh keknya boss gue mulai ngga waras dah kelamaan menjomblo!" batin Irfan sekertaris Rayyan dan juga sahabat karibnya.


"Panas nih anak keknya dari tadi dikit-dikit senyum abis itu ketawa sendiri, gue kok takut lama-lama temenan sama lu Ray." batin Irfan masih menatap Rayyan dengan tatapan ngeri didalam ruangan kantor sendirian tanpa ada orang satupun temannya itu senyum-senyum sendiri memandangi ponselnya terkadang tertawa tanpa alasan.


"Bismillahirrahmanirrahim..." ucap Irfan sambil memegang jidat Rayyan dan membacakan surat-surat yang dihafalnya.


Alis Rayyan pun menukik tajam ada apa dengan teman nya itu kenapa komat-kamit tidak jelas sambil memegang dahi Rayyan.

__ADS_1


"Antum ngapain?" tanya Rayyan menatap Irfan dengan kebingungan.


"Gue lagi mau nyelametin temen gue keknya dia lagi kesambet penunggu sini." seru Irfan dengan mata yang masih terpejam dan mulut yang terus komat-kamit tidak jelas.


Rayyan pun menepis tangan Irfan dengan keras "Apa maksud antum? antum kira ana gila?!" ucap Rayyan ketus.


"Hehehe... gue kira gitu, yah abis lo disini sendirian pas gue masuk tiba-tiba aja lo kek orang seteres senyum sendiri sama hp udah gitu kadang ketawa sendiri kalau ngga gila terus apa?!" seru Irfan menyebalkan.


"Astaghfirullah, mulai berani antum ya sama ana!" ucap Rayyan menakut-nakuti Irfan.


"Hehehe....maaf boss qu jangan potong gaji ya, yang ada ntar gue ngga bisa ngedate sama ayang gue dong peace..." seru Irfan dengan mengangkat tangannya membentuk angka dua.


"Maka nya kalau tidak tau mending antum diam." ucap Rayyan dingin.


"Iya iya... buset dah kalau udah marah anceman nya ngga main-main, mau potong-potong semua!" ketus Irfan.


"Oh iya btw lo manggil gue kesini ngapain?!" tanya Irfan.


"Ana ingin tau semua data mahasiswa di kampus tempat abi menjadi donatur." jawab Rayyan. Alis Irfan pun terangkat tumben-tumben sekali boss nya itu meminta data mahasiswa sana ada apakah gerangan.


"Wait, tumben lo minta data mahasiswa kesambet apaan lo Ray?" tanya Irfan.


"Antum kalau dimintai bantuan selalu bertanya alasannya apa sekali-sekali iyakan permintaan ana." ucap Rayyan kesal.


"Data mahasiswa fakultas mana?" tanya Irfan membuka laptopnya demi mencari data-data mahasiswa di kampus itu atau bisa dibilang kampus tempat Nafisa belajar, Rayyan adalah donatur tetap di kampus itu kyai Akmal sudah lama menjadi donatur tetap kampus itu atas kejadian Nafisa kemarin Rayyan ingin mencari biodata para mahasiswa yang ada disana.


"Fakultas kedokteran." ucap Rayyan singkat.


"Dah gue kirim filenya ke laptop lo ntar cek aja." seru Irfan.


"Na'am, apakah Hendra sudah kembali dari kampung halamannya?!" tanya Rayyan.


"Hm... udah keknya dah coba lu telfon aja." jawab Irfan.


"Oh iya jangan lupa ntar ada meeting jam 10." nasehat Irfan.


"Na'am, ana keluar sebentar ada yang perlu ana bicarakan sama Hendra perihal mahasiswa kampus itu." ucap Rayyan dingin dan lantas pergi meninggalkan Irfan sendiri.


Hendra adalah orang kepercayaan Rayyan dirinya selalu membantu Rayyan disaat-saat mendesak, Hendra memiliki banyak algojo-algojo yang seremnya ngalahin demit.


"Assalamu'alaikum Hen ana punya tugas baru dan menarik buat antum." seru Rayyan tersenyum smirk.


...----------------...

__ADS_1


Apa yang akan Rayyan lakukan terhadap kampus Nafisa nantinya, dan pelajaran apa yang akan Rayyan berikan terhadap Bobby dan Bella.


silahkan tunggu di next episode🤭


__ADS_2