Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Melatih + Healing


__ADS_3

"Ikhlas ngga nih kak ngasih? Fisa becanda kok, walaupun Rifa bandel dia kan tetep ponakan Fisa!" ucap ku, Lama-lama aku kasihan juga melihat kedua kakak ku setiap hari ku jahili dengan meminta ini itu.


"Iya, kakak ikhlas kok! kakak emang sengaja mau beliin kamu itu. Makasih yah, udah jagain Abi sama Rifa, Rifa memang bandel mirip kek kamu!" jawab Refan.


"Hahaha...maap lah kakak kuh sayang...ya udah Fisa pamit dulu ya. Oh iya besok kakak mampir dulu kan ke pesantren?!" tanya ku pasal nya sudah lama sekali aku tidak pergi kesana lagi.


"Iya, kakak mampir dulu sebentar. Mungkin agak sorean kakak bantu kamu ngajar di sana" sahut Refan dengan tangan dan pandangan nya fokus terhadap layar laptop.


"Oke deh, tapi... yang ngajar bagian santri putra siapa kak?" tanya ku pasalnya jikalau kak Zidan ada maka dialah yang mengajar para santri putra, tapi besok kan dia ambil cuti lalu siapa pengganti nya?


"Bagian santri putra ada ustadz lukman yang mengajar mereka. Tugas kamu besok cuman ngajar yang bagian putri, soalnya ustadzah yang biasa mengajar bagian putri sedang ambil cuti karena sedang hamil!" jelas Refan, kedua kakak ipar ku memanglah dari putri kyai, pesantren yang di pegang kak Zidan sekarang adalah milik mertuanya, orang tua dari kak Nurul. Kak Nurul adalah anak tunggal, jadi pesantren milik Abi nya di wariskan kepada kak Zidan untuk kak Zidan handle. Kak Refan bukan siapa-siapa memang tapi dia sebisa mungkin membantu kak Zidan dalam hal mengurus bisnis dan yang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi-pagi buta kak Zidan sudah menelfon ku dan meminta ku untuk mengajar di tempat nya biasa mengajar yaitu pesantren Al-Hikam, pesantren yang selama ini di pegang dan di kelola oleh kak Zidan dan juga kak Nurul. Rasanya sudah lama aku tidak bertemu umi farida bagaimana kabarnya ya?


Aku pun meneruskan perjalanan ku menuju pesantren Al-Hikam, sudah lama aku tidak menemui umi Farida dan juga abi Khalid. Akhirnya aku pun sampai di kediaman rumah kak Nurul, aku pun turun dan memarkirkan motor ku tepat dirumah umi pemandangan yang pertama ku lihat dimana-mana anak-anak santri putra dan putri dengan duduk di pohon yang rindang dengan membawa kitab, ku tebak mereka sedang menghafalkan beberapa ayat.


Ya iyalah Fisa mereka lagi hafalan, ya kali mereka bawa-bawa kitab buat di pegang doang! fikir ku. Aku pun melangkahkan kaki dan memasuki rumah umi, tidak lupa di depan pintu ku ucapkan salam terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum...Umi...Abi..." ucap ku.


"Waalaikumsalam...iyaa siapa?!" jawab orang yang didalam.

__ADS_1


"Eh, neng Zahra? aduh meuni geulis pisan atuh sekarang!" ucap bi Ina.


"Bi, umi sama abi ada didalam?" tanya ku.


"Oh, ada atuh neng ada. Umi sama abi ada didalam lagi sarapan, mari masuk neng. Aduhh bibi sampek lupakan nyuruh si neng buat masuk." ucap bibi heboh, aku pun terkekeh dengan penuturan bibi.


"Umi, ini teh ada tamu si geulis."


"Siapa bi?" sahut umi dari dalam.


"Assalamu'alaikum..." salam ku kembali.


"Waalaikumsalam, eh Zahra? aduhh...cantik nya umi kesini juga akhirnya umi kangen banget sama Zahra." seru umi memeluk ku, aku pun menyalami tangan umi dan abi. Mereka berdua sudah seperti layaknya orang tua kedua bagiku, dikala aku sedih dan bimbang maka tempat perlarian ku adalah rumah umi, pesantren Al-Hikam tempat ini memang lah sangat cocok untuk introspeksi diri, atau merenungkan suatu kesalahan kita. Tempatnya yang tidak begitu luas tapi cukup untuk para santri menuntut ilmu dan pemandangan yang begitu sejuk dan hangat karena letaknya yang berada didataran bukit. Setiap aku kesini tujuan ku hanyalah satu, melihat terbit nya fajar ciptaan Tuhan yang sangat indah diwaktu pagi. Pesantren yang letaknya dikelilingi banyak perkebunan dan peternakan warga didaerah ini, menambah kesan manis dan sejuk untuk dipandang karena kebanyakan yang di pandang warna nya hijau semua.


"Duduk sini sayang, kita makan bareng-bareng." ucap umi


"Ngga apa, makan lagi ayok mumpung bibi masak enak nih. Ada rendang kesukaan kamu, ada jengkol sama udang sambalado." ucap umi memberikan rincian list menu sarapan pagi hari ini. Kira-kira umi lagi sarapan apa gimana? menu nya banyak banget!


"Yok sayang, umi sengaja minta bibi masak banyak karena kamu mau kesini juga. Umi tau dari bang Zidan katanya kamu di minta kesini buat ngajar anak-anak kan? maka dari itu umi masak banyak biar kamu semangat ngajarnya!" seru umi semangat, gua yang mau ngajar kenapa umi yang semangat banget ya?


Akupun tertawa atas penuturan umi, karena terlanjur dipaksa maka hayuk lah gass.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hari pun berganti sore, dan kini waktu nya aku mengajar para santri putri mengetes latihan mereka selama ini yang diajarkan kak Zidan selama ini.


"Assalamu'alaikum wr wb." salam pembukaan ustadz Lukman.


"Waalaikumsalam wr wb." jawab serempak para santri.


"Hari ini ustadz akan mengetes latihan kalian dikarenakan pertandingan antar pesantren sebentar lagi, maka dari itu ustadz akan melatih kalian dengan maksimal. Kalah menang sudah biasa, ustadz dan kyai sangat bahagia karena atas prestasi yang telah kalian capai sampai saat ini sudah membuat kami semua bangga mempunyai santri tangguh seperti kalian. Ingat jikalau kalian suatu saat nanti sukses dan berhasil jangan lupa untuk selalu ringan tangan kepada semua orang, berbagilah selagi ada dan cukup walau rezeki kalian sedikit, sisihkan sedikit saja untuk menambah amal baik kalian fahimtum?!" jelas ustadz Lukman.


"Fahimna ustadz!" serempak mereka.


"Baiklah tanpa menunggu lama lagi kita mulai latihan nya ya! untuk santri putri akan di latih oleh ustadzah Zahra. Silahkan ustadzah!" ucap ustadz Lukman. Aku yang terlalu asik melamun malah tidak mendengarkan apa yang di ucapkan ustadz Lukman.


"Ya??" membeo ku


"Mari ustadzah anak-anak sudah menunggu." seru ustadz Lukman kembali.


"Astagfirullah, baik ustadz." ucap ku segera tersadar dengan kesalahan yang ku buat.


"Huff...Baiklah sebelum kita mulai, kita akan melakukan beberapa pemanasan terlebih dahulu okeh!" ucap ku bersemangat menyalurkan semangat itu kepada para santriwati untuk tidak terlalu tegang ketika akan berlomba.


"Okehh ustadzah!" ucap serempak mereka.


Akupun melakukan beberapa latihan kepada mereka, sungguh aku sangat takjub atas didikan hebat kak Zidan mereka akhirnya sampai pada titik ini. Titik dimana mereka akan menampilkan prestasi-prestasi hebat mereka kepada semua orang, dan itu saja sudah membuat kami semua bangga mempunyai anak-anak didik seperti mereka.

__ADS_1


Tidak terasa sudah hampir magrib aku mengajar mereka semua, mereka pun bubar dan bersiap untuk mandi dan melaksanakan sholat magrib. Aku berniat akan menginap dirumah umi besok hanya ada sedikit jadwal matkul liburan sebentar lumayan kan? apalagi di daerah seperti ini jangankan untuk menginap rasanya aku tidak ingin pulang saja. Sekalian cari bahan presentasi untuk besok, ditengah keasikan ku mengerjakan makalah seseorang mengulurkan tangannya memberi ku sebuah coklat. Aku pun mendongak dan tunggu sepertinya aku mengenal nya.


"Nih coklat buat kamu!" ucap nya. Aku pun mendongak senyum ku mengembang manis semanis ibu-ibu ketika nerima uang gajian dari paksu.


__ADS_2