
Sudah 1 bulan berlalu tepat di hari ini Rayyan akan menyelesaikan sidang dari skripsi nya, dan akan segera mengkhitbah Nafisa setelah pulang dari bandung. Sejak kepergian Rayyan Nafisa mendadak tidak bersemangat, dirinya juga bingung kepada dirinya sendiri kenapa dengan dirinya hari ini dia benar-benar sangat malas ingin berkuliah ataupun bekerja di toko. Rayyan mengirimi Nafisa kado terakhir darinya bulan lalu sebelum Rayyan disibukkan oleh sidang dan sudah lama sekali Rayyan tidak mengirimi atau memberi Nafisa surat kembali seperti biasanya, rasanya ada yang hilang tapi bukan barang. Apa itu hayooo...π
Nafisa turun dari kamarnya menuju lantai bawah disana sudah ada Zidan, Refan dan juga kakak ipar Nafisa yang menunggu dibawah.
Zidan dan Refan saling pandang dan beralih menatap adiknya yang tampak sangat lesu itu seperti tidak biasanya dia begitu fikir mereka.
"Dek, kamu sakit?" tanya Zidan aneh melihat tingkah Nafisa yang tidak seperti biasanya.
Nafisa menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia sedang baik-baik saja.
"Terus kamu kenapa? ngga kayak biasanya pagi-pagi dah ngereog" ucap Zidan ngasal. Nafisa memutar bola matanya malas kakaknya sangatlah menyebalkan bisa-bisanya dia mengatakan hal itu apakah dirinya mirip topeng monyet yang kemana-mana selalu ngereog? tapi kalau difikir-fikir lagi kakaknya memang benar tidak biasanya dirinya mendadak jadi anak manis seperti ini.
"Jajan kamu abis dek?" tanya Refan absurd.
"Ck, bukan kak ihh..." ketus Nafisa.
"Yah terus kamu kenapa kek gitu, ngga ada semangat-semangat nya dah kek orang abis keabisan jajan aja." ucap Refan.
"Ngga tau juga, Fisa cuman lagi males aja ngapa-ngapain ngga tau kenapa." keluh Nafisa.
"Terus ngga kuliah nih?" tanya Zidan namun Nafisa menggelengkan kepalanya dirinya tidak mau terus menerus cuti karena sidang sebentar lagi ya kali dia malas-malasan yang ada nanti dirinya tidak akan bisa lulus nantinya.
"Yah terus maunya gimana?" ucap Refan kesal lama-lama ditanya gini ngga nyaut dikasih saran gini ngga mau lama-lama pengen lelepin adiknya harinya juga.
"Fisa tetep kuliah tapi anterin yah" ucap Nafisa dengan memasang wajah semanis mungkin.
"Dih, curut ternyata ada udang dibalik bakwan." ucap Refan memutar bola matanya malas, kalau sudah seperti itu dapat dipastikan adiknya bakalan ngelunjak nantinya.
"Enak dong, apalagi kalau dicocol sama sambel tambah enak." seru Nafisa absurd.
"Nyesel gue nanya tadi!" keluh Refan melihat tingkah Nafisa yang kembali kumat seperti biasanya.
Sedang Zidan dan kedua kakak ipar Nafisa tertawa melihat adik ipar sekaligus suaminya pusing meladeni sang adik.
"Dah ah ntar Fisa telat." ucap Nafisa dengan melenggang pergi menuju pintu dan memasak sepatunya dengan cepat.
"Ayo kak ntar Fisa telat." teriak Nafisa menyuruh Refan untuk cepat.
"Iya, iya bawel!" ketus Refan.
"Kalau ngga bawel bukan Nafisa namanya!" debat Nafisa.
"Ya allah berikan hamba kesabaran seluas samudera pasifik ya allah!" gumam Refan antara kesal dan terpaksa selalu menjadi tumbal kejahilan Nafisa.
"Udah do'a nya dilanjut ntar lagi Fisa bisa telat ntar!" ucap Nafisa menarik kerah baju Refan dengan paksa agar segera keluar dari rumah.
"Aduh mas-mas ngga adek ngga abang sama-sama bikin gemes keluarga kerjaan nya." seru Aini menggelengkan kepala pabila mengingat tingkah suami dan adik iparnya jikalau disatukan.
__ADS_1
...****************...
"Fisa..." panggil Lisa dan menghampiri Nafisa yang baru saja sampai di gerbang kampus.
"Ya udah kalau gitu kakak pulang dulu." pamit Refan lantas akan meninggalkan kampus.
"Eh...kak, hmm beliin Fisa jajan dong." seru Nafisa dengan memainkan ujung jarinya.
Alis Refan pun mengkerut bukannya tadi dia bilang jajannya masih ada kenapa hari minta?
"Kata jajannya masih banyak." seru Refan.
"Hehehe udah abis kak kan udah lama juga yang abis." ucap Nafisa nyengir.
"Katanya tadi kakak mau beliin kalau abis ya udah beliin ya!" seru Nafisa mengingatkan Refan kembali akan ucapannya tadi.
"Hufff, nyesel gue nawarin tadi!" gerutu Refan.
"Ish ngga boleh gitu kak, kakak kan dah janji juga tadi janji adalah hutang loh kak!" ucap Nafisa menakut-nakuti Refan.
"Iyaaaa, ntar kakak beliin." ujar Refan pasrah.
"Yess maacihhhh....kakak ganteng deh." seru Nafisa girang dengan memonyongkan bibirnya kedepan mirip bebek.
"Cih, giliran ada jajan aja kakak ganteng kalau ngga ada kakak ditendang!" desis Refan memutar bola matanya malas.
"Hahaha.... iya dong kakak ganteng banget kalau lagi baik beliin Fisa jajan, tapi kalau ngga gantengan juga satpam depan rumah!" ujar Nafisa absurd.
"Jangan lupa jajannya kak!!" teriak Nafisa kembali dengan mengingatkan Refan akan janjinya.
"Waalaikumsalam, iyaaa bawel!!" jawab Refan tak kalah nyaring.
"Apes banget punya adek tiap hari kelakuan kalau ngga jajan bikin pusing orang. Heran dah ibu dulu pas hamil dia ngidam paan sih sampek punya anak kek gitu, ketuker kali ya pas waktu di rumah sakit?!" gerutu Refan seraya meninggalkan kampus dengan perasaan yang dongkol.
......πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ......
Akhirnya mata kuliah pun selesai di liriknya jam masih menunjukkan pukul siang tandanya masih banyak waktu untuk dibuat senang-senang. mereka semua pun keluar menuju parkiran di liriknya Nafisa tanpa sangat lesu sekali ada apa gerangan dengan gadis itu?
"Fisa..." panggil Rendi tapi tidak ada sautan dari si empunya.
Rendi pun mendekat dan menepuk bahu Nafisa dengan keras bukan jawaban yang Rendi dapatkan malah bogeman mentah yang Nafisa layangkan.
Bukkk....
"B4ngke!" umpat Rendi manakala dirinya terpental akibat pukulan dari Nafisa yang mendadak.
"Bwahahaha...." tawa mereka semua pun pecah melihat Rendi yang dipukul mentah-mentah oleh Nafisa hingga tersungkur.
__ADS_1
"Eh, aduh Ren maafin gue..." ucap Nafisa baru tersadar siapa yang dipukul nya barusan dia pun membantu Rendi untuk bangun.
"Aduh Ren gue minta maaf, ngga sengaja..." sesal Nafisa melihat luka lebam yang dia ciptakan disudut bibir Rendi.
"Sakit ngga Ren?" tanya Nafisa dengan polosnya.
"Kagak Fisa! enak kok sumpah enak banget!!" seru Rendi dengan senyum terpaksa.
"Makanya jadi orang tuh kalau mau nyentuh cewe liat-liat, jangan asal main geblak sana geblak sini kalau dah gini enak kan!" seru Cika dengan meledek Rendi.
"Kamvret lu Ka!" umpat Rendi kesal.
"Maaf Ren gue kira lu orang jahat soalnya disini dah sepi." ucap Nafisa meminta maaf atas kesalahannya barusan.
"Ngga papa kok Fisa, gue juga salah kok." seru Rendi menenangkan Nafisa yang panik.
"Makanya Ren kalau punya muka tuh ngga usah dimirip-miripin sama orang jahat jadinya Nafisa takutkan!" timpal Miko meledek Rendi dengan masih menertawakan nya .
"Ngga usah minta maaf Fisa kamu bener kok tampang Rendi emang mirip copet!" Sambung Alvin ikut membela Nafisa.
"B4ngke emang punya temen lucknut tuh kek kalian!" umpat Rendi kembali dengan meraih Miko dan Alvin berniat ingin membalas ucapan mereka barusan.
"Yok terus gorok-gorokan cakar-cakaran gue, Nafisa, Nanda sama Lisa bantu nonton yaaa!" seru Cika mengompori.
"Oh iya, kalau salah satu dari kalian ada yang metong gue bantu tahlilan ntar! jangan lupa juga makanannya yang enak yaa!" teriak Cika kepada ketiga orang pria yang tengah asik cakar-cakaran tersebut. Karena mendengar ucapan Cika yang sangat tidak berakhlaq mereka bertiga pun berniat akan membalas dendam kepada Cika dilihatnya aura mereka bertiga yang sangat menyeramkan Cika pun mengambil ancang-ancang dan berniat kabur dari terkaman macan jomblo akut itu.
"Wah, wah apa kata lo Ka tadi?!" tanya Rendi.
"Bener-bener emang nih anak curut!" timpal Miko.
"Gimana kalau kita ceburin dia ke got?!" Seru Alvin memberi ide untuk balas dendam nya.
"Wah ide bagus tuh kita iket dulu abis itu kita ceburin ke got terus kita tinggal deh!" seru Rendi dengan seringai jahatnya.
"Ide bagus kalau gitu tangkep orangnya!!" teriak Alvin dan langsung diangguki oleh Rendi dan Miko.
Cika yang melihat nyawanya dalam bahaya segera ngacir berlari bersembunyi dibalik tubuh Nafisa dan teman-temannya.
"Huwaaa.....Fisa tolongin gue...." teriak Cika meminta tolong.
"Mama..... papa.....Cika mau dilecehin sama om-om bau b4ngke!" ucap Cika kembali dengan absurd menyumpahi Rendi dan yang lain.
"4njirr bau b4ngke dong!" umpat Miko dan Rendi bersamaan.
Kami pun tertawa melihat kelakuan mereka yang terbilang minus akhlak tersebut.
"Gue tau kok Fisa lo lagi kangen kan sama Rayyan?!" batin Lisa tersenyum melihat sahabatnya tersenyum kembali karena tingkah teman-temannya yang lain.
__ADS_1
...πππππππππ...
~Kita galon-galonan dulu yaa sampai abang Ray pulang dan bawa mahar serta seperangkat alat sholat dibayar tunaiππ