Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Baby sitter dadakan


__ADS_3

Tidak terasa sudah lama aku menuntut ilmu demi meraih sebuah cita-cita dan membanggakan kedua orang tua ku. Ku jalani masa-masa remaja ku dengan baik, kedua kakak ku selalu mendukung dan mensupport ku, alhamdulillah hari ini toko ku berkembang pesat atas bantuan yang di berikan oleh teman-teman baik ku. Aku bersyukur mempunyai keluarga serta teman yang selalu mendukung ku dikala dunia menghujat ku memandang ku sebelah mata dan menghina ku.


Hari ini aku berniat mengajak Cia untuk pergi kerumah kak Refan, dikarnakan yang punya rumah sedang asik pacaran di luar dan terlebih dirumah kak Refan tidak ada art maka akulah yang harus menjadi baby sitter dadakan perintah dari yang mulia kak Refan.


"Kakak doktel, ini rumah siapa?" tanya Cia


"Ini rumah kak Refan sayang, kakaknya kakak doktel." ucap ku tersenyum, Cia pun mengangguk-angguk tanda bahwa dia masih mengingat kedua kakak ku.


Aku pun mengetuk pintu rumah, namun tidak ada jawaban dari dalam. Apakah kedua kakak ku sudah berangkat atau masih tidur? ku lirik jam tangan ditangan ku, jarum jam sudah menunjukkan hampir jam setengah 9 tapi kenapa rumah ini sepi sekali?


"Assalamu'alaikum....sepedaaaa..." ucap ku berteriak namun tetap tidak ada tanda-tanda satu makhluk pun keluar.


"HALOO....PERMISI!!" seru ku kembali berteriak.


"HALOOO....ADA ORANG NGGA....KALAU NGGA....GUE BALIK NIH!!" ucap ku bermonolog sendiri. Cia terkekeh atas penuturan absurd ku, definisi orang seteres seperti ini mungkin menurut Cia, ngomong sendiri jawab pun sendiri.


Aku pun manyun karna ditertawakan Cia, akhirnya karna tidak ada jawaban dari dalam aku pun berinisial untuk nyelonong masuk, pelan-pelan tapi pasti aku memasuki rumah kak Refan dengan tanpa suara di ikuti Cia dibelakang ku. Ruang keluarga ku lihat tidak ada tanda-tanda satu manusia pun, aku pun berniat mengecek dapur, disana semua alat-alat dapur tertata rapi hanya ada sedikit bekas kulit bawang saja, mungkin pemilik rumah baru selesai memasak tadi fikirku. Aku pun membuka lemari pendingin dan tadaa...aku menemukan sebuah harta karun yaitu brownies coklat bertaburkan keju dan kacang diatasnya.


"Alhamdulillah lumayan rezeki anak sholehah" ucap ku memakan brownies tersebut dan membaginya bersama Cia.


"Kakak doktel jangan dihabisin nanti yang punya rumah malah!" bisik Cia, aku pun baru sadar jikalau brownies tadi hanya tinggal satu dan itu sudah ku telan habis. Aku pun nyengir karna sudah menghabiskan kue coklat itu dengan sekejap.


"Ngga apa sayang yang punya rumah baik kok, dia sholeh dan rajin menabung." ucap ku absurd. Karna sudah terlanjur basah, aku menghabiskan kue coklat itu maka aku berganti memakan pisang keju yang berada di kulkas, sudah berbagai macam makanan yang ku makan didalam kulkas sampai habis tidak tersisa aku pun mencuci piring bekas makan tadi dan menaruhnya kembali.


"Maap ya kak, lo nyuruh gue buat jaga anak lo. Tapi gue kesini malah ngabisin isi kulkas lo." ucap ku meminta maaf karna sudah menghabiskan isi kulkas kak Refan, setelah ini gue bakalan siap ngadepin ceramahan kak Refan dengan perut kenyang.


Aku pun pergi ke kamar keponakan tercinta ku, dikarnakan aku sudah mengecek beberapa ruangan tapi tidak ada tanda-tanda mereka.


"Assalamu'alaikum..." ucap ku berbisik. Pemandangan pertama yang kulihat adalah dimana baby abi tengah tertidur pulas dengan pose yang sangat tampan tapi tunggu. Dimana Rifa? Aku pun masuk kedalam dan memandang wajah tampan abi yang tengah terlelap dengan nyenyak nya.


"Kakak doktel..." bisik Cia


"Iya kenapa sayang?" ucap ku juga berbisik

__ADS_1


"Adeknya ganteng...lucu Cia pengen cium adek..." seru Cia gemas ingin mencium Abidzar tapi nanti dia bangun dan menangis, ya sudah kalau nanti dia bangun akan langsung ku mandikan karna waktu juga sudah menunjukkan siang.


"Cium aja sayang ngga apa cuman pelan-pelan ya nanti dedek nya kaget." ucap ku membiarkan Cia mencium Abidzar dengan pelan-pelan. Belum Cia mencium Abi suara toa masjid pun mengagetkan kami berdua.


"Atee... jangan cium-cium dedek Rifa!" teriak Rifa aku pun kaget bukan main, bukan karena suara teriakan nya saja tapi yang lebih membuat ku kesal adalah karena suara teriakan Rifa Abidzar pun ikut terbangun kaget karena teriakan toa masjid kakak nya.


"Astagfirullahalazim...huhh sabar ya allah!" ucap ku menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kasar. Kalau sudah begini maka akan susah untuk membujuk bayi tampan satu ini.


Aku pun mengambil Abidzar yang sudah menangis histeris, dan menatap sengit Syarifah karena perbuatan nya lah Abi terbangun dari tidur terwenakk nya.


"Atee! minggir!" seru nya mengusir ku.


"Rifa cantik manis.. jangan teriak-teriak ya sayang! kasian dedek bangun hmm!" ucap ku sebisa mungkin tersenyum dan tidak terpancing sungguh anak sulung dari kakak ku satu ini sangat lah rese 11 12 sama bapak nya ngeselin mulu kelakuan.


"Abi sama umi Rifa mana? kok ate ngga ada liat dari tadi?" tanya ku bukan nya menjawab bocah itu malah sibuk memandangi Cia dengan intens.


Karena belum begitu akrab dengan Rifa, Cia memberanikan diri untuk berkenalan dengan nya.


"Oh iya, Rifa kenalin Cia dedek ate." ucap ku memperkenalkan Cia kepada Rifa. Gadis itu memang cukup jutek nan judes terhadap orang baru biasalah ikut gen dari bapaknya sama siapapun ngga pernah ramah main curigaan mulu.


"Hai, aku Rifa" ucapnya memperkenalkan diri kepada Cia, Cia pun menyambut tangannya dan memperkenalkan dirinya.


"Hai kakak, aku Cia.." saut nya tersenyum manis.


"Tadi Umi sama Abi udah berangkat ate. Kata nya pulang nanti sore, ate...Rifa laper, dedek Abi juga baru bangun belum makan juga." jelasnya pantas saja dia teriak-teriak seperti pasien RSJ ternyata belum diisi amunisi sama emaknya.


"Kok belum makan? bukannya tadi di dapur umi udah masak ya?!" ucap ku berjalan keluar kamar Abi dengan menenteng 3 tuyul, yang sama-sama butuh asupan.


"Iya umi masak, tapi Rifa laper lagi ate.." seru nya dengan menampilkan raut wajah memelas mirip seperti orang belum makan berabad-abad.


"Busett nih bocah! udah makan tapi masih kurang perasaan bapaknya makan ngga doyan-doyan amat dia ngikutin gen nya siapa sih, sifat sama judes nya mirip kak Refan tapi tuh perut kenapa mirip gue satu piring masih kurang!" ucap ku bermonolog.


"Ya udah ate masakin dulu, kalian berdua diem anteng ya jagain dedek Abi kalau sampek dedek Abi nangis lagi... kalian berdua ate gantung di pohon cabe!" ucap ku mengomel dengan menunjuk Cia dan Rifa dengan spatula.

__ADS_1


"Ihh...ate serem ihh...mirip nenek lampir" ucap Rifa dengan tertawa dan berlari menghindari amukan ku. Aku pun melotot bukan main fix nih bocah 11 12 mirip bapaknya ngeselin + nyebelin.


"Hahaha....ampun ate..." teriak nya dengan masih tertawa mengejek.


"Huff... berikan hamba kesabaran ya Allah..." ucap ku sudah sangat frustasi menghadapi anak sulung dari kakak ku.


Akupun memasak makanan yang di sukai bocil pada umumnya yaitu nasi goreng udang telur orak arik serta kawan-kawan nya tidak lupa dengan aku juga membuat kan bubur bayi untuk bayi tampan kesayangan ku, setelah bertempur beberapa menit didalam dapur akhirnya nasgor dan kawan-kawan nya pun jadi tidak lupa aku juga membuat para tuyul puding susu untuk mereka.


baru ku tinggal sebentar untuk memasak makanan untuk mereka para tuyul sudah membuat kekacauan dimana-mana yang sudah membuat darah ku naik ke ubun-ubun mungkin sudah keluar asap dalam telinga ku.


"Astaghfirullahalazim Laahaula..." ucap ku memejamkan mata dan menekan nampan sampai semua kuku ku memutih karena menahan emosi yang akan meledak. Sedangkan yang menjadi tersangka hanya nyengir tanpa dosa, terlebih yang membuat ku sangat marah adalah, wajah tampan kesayangan ku sudah di lukis oleh kedua tuyul dengan maha karya acak-acakan mereka, Abi sudah mirip badut karena ulah kedua tuyul biang rusuh itu.


"hah! ya Allah....sabar... huff tenang Nafisa!"


"Hehehe ate...udah selesai masaknya ate?" tanya Rifa nyengir.


"Sudah sayang! sudah kok hmm..." ucap ku dibuat semanis mungkin demi menahan ledakan gunung merapi yang dapat dipastikan akan meledak kapan saja.


"Siapa yang udah buat kacau hmm?!" tanya ku.


"Hehehe ampun ate..." saut Rifa memainkan telunjuknya.


"Tarik nafas....hembusan hufff....sabar Nafisa biasa bocah emang suka gitu... hufff..." ucap ku bermonolog sendiri dengan menenangkan diri.


"Huff...ya udah ini kalian makan dulu pindah ke meja ate mau beres-beres ini dulu.Inget jangan buat kacau lagi di meja makan kalau ngga ate telen kalian idup!!" ucap ku syarat akan perintah dan peringatan.


"Iya ate...iya kakak doktel" seru keduanya kompak.


"Ya Allah pangeran gue! diapain sama dua tuyul!" ucap ku meringis melihat penampilan Abidzar yang sudah acak-acakan tapi masih terlihat ganteng dan gemesin.


Aku pun membereskan mainan-mainan yang berceceran dimana-mana serta mengambil kain pel dan mulai mengepel ruang tamu, setelah berapa lama aku pun mengambil Abidzar dan memandikan nya memakainya baju serta memberinya makan dengan hati-hati kulihat kedua tuyul sudah nyenyak tertidur di sofa ruang tamu dengan posisi amburadul.


Setelah menyuapi Abidzar dan menggendong nya serta menceritakan cerita dongeng untuknya tidak membutuhkan waktu lama dia pun terlelap didalam gendongan ku. Karena sudah lelah dikerjai habis-habisan oleh para tuyul aku pun mengunci pintu rumah menidurkan Abi di tempat tidur bayi di dekat televisi dan aku pun ikut terlelap bersama para tuyul kesayangan ku, yahh walaupun mereka bandel serta nyebelin tapi mereka tetap menjadi kesayangan ku.

__ADS_1


__ADS_2