Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Pangeran berkuda nyasar!!


__ADS_3

Setelah kenangan indah kemarin kami semua pun kembali beraktivitas seperti biasanya, Rendi sangat bersyukur acara itu hanya satu hari saja tidak seperti layaknya anak-anak sultan pada umumnya yang gelar acara ulang tahun 7 hari 7 malam mirip orang akan melakukan ritual.


"Alhamdulillah untung cuman sehari yang jadi peri kalau ngga bisa-bisa gue mati muda gara-gara kemaren!" ucap Rendi dengan mengelus dada tawa kami pun pecah seketika pabila mengingat Cia dan anak-anak panti sangat menyanyangi Rendi mengusili nya habis-habisan tanpa ampun.


"Hahaha.... ini mah judul nya ibu peri terzholimin!!" jawab Cika tertawa puas melihat muka Rendi yang sangat suntuk dan lelah akibat acara kemarin dia tidak bisa tidur malamnya karena ulah teman-temannya dan anak-anak panti.


"Sialan! gue sampek tidur jam 3 kemaren govlok mana mami ngomel mulu lagi, belum lagi sekarang masih kalian bully!" seru Rendi kesal karena ide absurd Nafisa dan teman-temannya dia sampai begadang hingga subuh.


"Gue minta maaf ya Ren, makasih yaa... atas semuanya kalau ngga ada ibu peri kek kamu mungkin acara kemaren ngga akan lengkap!" saut Nafisa mencoba merendam amarah Rendi.


"Sama-sama Fisa, kalau buat kamu mah aku ngga masalah Fisa mau disuruh gadang sampek pagi ketemu pagi mah rela aku apasih yang ngga buat kamu!" gombal Rendi kepada Nafisa Miko, Alvin dan Cika pun menjitak nya bersamaan kalau dasarnya emang buaya ya sampek kapan pun ngga akan bisa berubah!


"Cuihh! amit-amit ya allah buaya jadi-jadian kumat lagi penyakitnya!" ucap Cika meludah sembarangan ingin muntah saja rasanya mendengar ucapan manis Rendi yang ada maunya saja. Nafisa pun tertawa melihat perdebatan kecil yang selalu diciptakan teman-temannya itu, definisi kalau ngga gelud sehari aja ngga enak rasanya menurut mereka.


"Udah yuk masuk bentar lagi dosen dateng!" ajak ku menengahi pertengkaran itu dan lebih memilih masuk ke kelas.


"Pulang matkul kamu mau kemana Fisa?!" tanya Nanda.


"Hm... keknya aku ke toko deh soalnya ada pesenan dessert tadi kata Citra." jawab ku.


"Wah kamu mau ke toko ya, gue ikut dong penasaran pengen liat kamu bikin cake kek apa. Siapa tau kan aku juga bisa coba-coba buat nantinya kalau dirumah." seru Nanda tidak sabar ingin ikut Nafisa.


"Hm... boleh deh sekalian bantu-bantu nanti yah hehehe..." ucap ku menggoda Nanda kan lumayan dapet tenaga tambahan apalagi Ica sedang izin jadi cuman ada Danu, Citra dan Fatima saja karyawan lain sibuk melayani pelanggan yang di luar.


"Boleh boleh... boleh banget malahan kan gue ikut emang mau belajar cara buat sekalian." ucap Nanda.


"Ya udah kalau gitu pulang ngampus langsung ke toko aja nyusul atau bareng?!" tanya ku.


"Bareng ajalah males bolak balik." seru Nanda kembali.


"Guys, ntar pulang ngampus ke toko Nafisa yuk sekalian gue mau belajar bikin cake sama dia." ajak Nanda pada teman-temannya.


"Boleh, gue bagian icip-icip ntar ya Fisa!" ucap Cika dengan antusias.


"Yey lu mah kalau makan aja cepet ka! dasar gentong!" timpal Rendi dengan mengusap wajah Cika kasar.


"Ih tangan lu tuh ya seenaknya aja kalau sama gue! ini muka bego buka lap kompor!" ucap Cika kesal karena ulah Rendi.


"Yang bilang muka lu kek panci penggorengan sapa peak!!" jawab Rendi tak kalah sengit. Mata Cika pun melotot sempurna demi mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Rendi jauh dari kata halus.


"Heh! enak aja kalau muka gue kek panci penggorengan muka lu tuh mirip pantat sapi!" timpal Cika lebih sengit lagi. Aku pun menepuk jidat ku sendiri karena masalah kecil saja mereka sudah kembali ribut baru juga damai.


"BERISIKKK!!" seru seseorang bukan Nafisa bukan juga teman-temannya melainkan Bella yang sangat terusik dengan pertengkaran Cika dan Rendi yang menurutnya sangat lebay.


"Lu berdua tuh yah mirip radio rusak tau ngga! doyan banget bikin rusuh dikelas, pake berantem segala lagi cuman masalah kecil LEBAY tau ngga!!" jelas Bella dengan menekan kata lebay.


Betina lagi ngamuk makin dipancing akibatnya akan semakin buruk nantinya, bukannya diam Cika semakin kesal dibuatnya dia bukanlah Nafisa yang memang stok kesabarannya sampai tumpah-tumpah jikalau Nafisa di bully dan di usik dia lebih memilih untuk mengalah dan meninggalkan orang itu, tapi... bedahal nya dengan Cika jikalau hidupnya diusik oleh orang modelan seperti Bella maka mulut nya yang sangat pedas lah yang akan menghadapinya cabai saja kalah pedas oleh mulut bar-bar Cika, biarlah jikalau dia nanti di cap sebagai perempuan bar-bar dan sebagainya yang terpenting harga dirinya tidak diinjak-injak lagi oleh orang seperti Bella dan teman-temannya.


"Heh cewe jadi-jadian! mending mulut lu diem, ngga usah ikut campur dari pada tuh mulut gue jadiin pepes bakar dirumah mau lu!!" seru Cika dengan berapi-api, kami semua pun tertawa pelan demi mendengar ucapan pedas Cika terhadap Bella.


"APA LU BILANG!!" jawab Bella tidak terima dibilang cewe jadi-jadian.

__ADS_1


"APA! emang lu cewe jadi-jadian kan?! bukan siapa-siapa nya Bobby ngaku-ngaku pacarnya apa namanya kalau bukan cewe jadi-jadian hm..." seru Cika tidak kalah sengit.


Bella pun langsung diam seribu kata demi mendengar penuturan yang Cika ucapkan memanglah benar adanya bukan siapa-siapa Bobby tapi ngaku-ngaku pacarnya padahal orangnya saja tidak mau terhadapnya.


"Nah diem kan lu!" ucap Cika kembali duduk demi melihat kedatangan dosen ke kelas.


Aku pun menggelengkan kepala atas tingkah teman-teman ku yang sangat random semua, Bella salah dalam memilih lawan bukannya lawan yang diam tapi dialah yang kalah duluan sebelum perang.


...****************...


Kami semua sepakat untuk pergi ke toko Nafisa demi membantu nya sekalian icip-icip kan lumayan!


"Fisa lu kek gini tiap hari ngga capek kah?!" tanya Nanda disepanjang perjalanan menuju toko tidak ada pertengkaran seperti biasanya para pelaku sedang anteng dengan dunianya masing-masing.


"Hm... kalau dibilang ngga capek ya capek sih, tapi mau gimana lagi kan kalau gue sih pekerjaan kek gini udah jadi makanan gue sehari-hari guys. Mulai awal bangun yah paling malam baru bisa istirahat, kalau gue mah pekerjaan apa aja gue nikmatin mau itu susah atau gampang sama aja, yang penting masih ngasilin cuan banyak kenapa ngga kan hehehe?!" jelas Nafisa.


"Gue ngga kebayang aja gimana jadi lo, banting tulang demi cari uang buat biaya kuliah ngga gampang loh bisa masuk jurusan dokter anak biayanya juga mahal." seru Nanda aku pun tersenyum mendengar yang di ucapkan Nanda memang ada benarnya


"Tidak mudah berada diposisi gue, selalu di ombang ambing oleh berbagai ujian dimulai dari toko gue yang hampir bangkrut dan gue yang terpuruk selama berminggu-minggu apalagi sampai masuk penjara rasanya mental ku sangatlah diuji waktu itu tapi...selagi kalian ada buat ku dan mendukung ku selalu akan ku wujudkan semua impian ku yang menurut orang mustahil akan aku jadikan nyata nantinya. Makasih kalian selalu ada buat ku, kalian kak Zidan dan kak Refan juga semua orang yang sayang sama gue thanks ya atas semua dukungan kalian ngga akan gue buat pengorbanan kalian sia-sia akan gue wujudkan apa yang menjadi impian kalian dan gue tunggu sebentar lagi..." batin Nafisa mengingat semua rasa sakit yang dia terima demi bisa kuliah di bidang yang dia cita-citakan sejak kecil.


Kami semua pun sampai di toko karena masih pukul 10 maka kami semua lebih memilih nongki di toko ku sekalian membantuku melayani pesanan pelanggan, dilihat nya toko sudah ramai oleh para pengunjung kami semua pun masuk lewat pintu belakang disana sudah ada Citra, Fatima serta Danu dan yang lain.


"Assalamu'alaikum..." salam ku kepada mereka dan langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Waalaikumsalam... nah dateng juga udah di tunggu lama juga!" omel Citra, hanya Citra sajalah yang berani terhadap bos sendiri yang lain mana berani buat bentak-bentak Nafisa.


"Sabarlah bawel, tadi macet di jalan." saut ku, mata Citra pun langsung melek demi melihat teman-teman Nafisa ganteng-ganteng, putih dan dengan postur tubuh yang sangat kece badai.


"Fisa..." bisik Citra


"Itu cowo-cowo ganteng temen-temen lo?" bisik Citra kembali dengan malu-malu. Alis ku pun menukik tajam demi mendengar penuturan Citra, Citra pun menunjuk Alvin, Miko dan Rendi dengan dagunya.


"Dih dasar kadal betina!" gumam ku memutar bola mata malas, jikalau ada yang ganteng aja tuh mata ngga bisa diem!


"Kenalin dong Fisa yahh..." ucap Cika dengan memasang wajah seimut mungkin agar dikasihani.


"Fisa kita bantuin apa nih?!" tanya Nanda mewakili yang lain.


"Hm....diluar rame ya?" tanya ku pada Danu.


"Iya bu, rame banget hari ini kebanyakan yang dateng sih remaja semua sama temen-temen nya." ujar Danu dengan mengelap keringat saking lelahnya.


"Nah gini aja deh, Alvin, Miko sama Rendi bantuin Danu gih layanin pelanggan sama anter pesenan mereka." ucap ku mereka pun setuju tapi beda halnya dengan Rendi yang memang kadar gengsinya lebih besar dari pada kadar lainnya.


"What? ngelayanin mereka Fisa?!" tanya nya kembali dan aku pun mengangguk.


"Gue bantu lo aja yahh..." tawar Rendi.


"Bukan pasar woy! bisa nawar-nawar!" ucap Cika kesal lama-lama punya teman seperti Rendi.


"Ck, ayolah ya Fisa..." seru Rendi kembali memohon belum Nafisa menjawab kerah baju Rendi sudah di tarik oleh kedua temannya layaknya narik kardus.

__ADS_1


"Udahlah Ren ayok kerja lebih enak diluar banyak ciwi-ciwi cantik." ajak Miko dengan bertos ria dengan Alvin.


"Dih, kalau emang dasarnya buaya mah ngga akan tau tempat dimana aja selalu gaskeun kalau masalah ciwi!" saut Cika.


Semua karyawan Nafisa pun tertawa gemas selalu saja ada tingkah absurd dari teman-teman bos nya.


"Fisa..." bisik Citra.


"Allahu akbar, iya kenapa Citra sayang?!" ucap Nafisa dilembut-lembutin.


"Hehehe, kenalin ntar ya sama temen-temen lo oh iya sekalian gue minta nomer mereka boleh ngga?!" seru Citra memohon dengan memainkan jari telunjuknya.


"Ngga ada ngga ada, udah sono balik kerja!" usir ku.


Semua pelanggan disana terkesan dengan pelayanan yang dilakukan oleh ketiga teman ku, yang noteback nya adalah cowo idaman kampus jelas saja bukan karena pelayanan mereka saja karena ketampanan mereka toko Nafisa semakin ramai oleh pengunjung sampai-sampai mereka semua kewalahan untuk menangani hal ini.


"Buset dah, bukannya makin sepi malah makin rame coyy!" dumel Rendi.


"Kita kapan istirahat nya kalau ini coy, gue laper njir pengen icip kue Nafisa dari tadi kagak bisa!" ucap Rendi kembali mengomel sedang Alvin dan Miko tertawa melihat penderitaan temannya yang sedang kelaparan.


"Udahlah yuk lanjut lagi, nanti bagian kita dikasih paling gede sama Nafisa lu tenang aja Ren." jawab Alvin menepuk-nepuk punggung Rendi dan melanjutkan pekerjaan nya.


"Ini anter ke meja no 10 ya Vin!" seru ku dan Alvin pun mengangguk menerima nampan yang Nafisa kasih.


"Permisi mbak, ini pesanannya ya dua puding dessert dan jus strawberry satu sama coffee latte satu. Silahkan dinikmati semoga mengenyangkan." seru Alvin tersenyum manis memberikan pesanan tersebut kepada customer.


"Oh iya, apa ada mau pesen sesuatu lagi mbak?!" tanya Alvin.


"Kalau pesen abang nya boleh ngga?!" gombal perempuan tersebut belum Alvin menjawab kedua temannya sudah mewakilinya.


"Boleh mbak, mau pesen berapa lama? setahun dua tahun apa satu abad?!" jawab Rendi absurd dan disetujui oleh Miko, bukannya menjawab perempuan tersebut malah tersenyum malu-malu.


"Govlok njirr, lu kira gue apaan b@ngke!" timpal Alvin memukul lengan kedua temannya yang absurd.


"Udah ahh balik!" seru Alvin masih tertawa akan kelakuan teman-temannya.


"Ih toko ini banyak pangeran berkuda nyasar ya, kalau yang ngelayanin kayak itu terus gue mah rela dateng kesini tiap hari!" bisik para pelanggan cewek.


Sedang didapur kami semua tertawa mendengar penuturan Danu, karena sejak kedatangan Alvin dan dkk toko Nafisa padat oleh pengunjung yang biasanya jam 5 sudah tutup ini malah hampir magrib baru akan tutup.


"Hahaha beneran bu, sejak kedatangan teman-teman ibu toko rame pengunjung apalagi pengunjung cewek-cewek nya banyak banget. Ngga jarang banyak yang gombalin mas Alvin atau mas Miko tadi." ujar Danu tertawa melihat jawaban-jawaban yang keluar dari mulut teman-teman bos nya itu yang berhasil membuat cewek-cewek auto klepek-klepek mirip ikan kurang aer!


"Hahaha....alhamdulillah dong makasih yaa guys berkat kalian toko gue laris manis!" ucap ku memeluk Cika dan Nanda sebagai tanda terimakasih mewakili yang lain.


"Gue ngga lu peluk Fisa?!" ucap Rendi manyun.


"Dih najis, tuh peluk aja tembok!!" saut Cika dengan menunjuk tembok dapur, Rendi pun memutar bola mata malas yang di tanya Nafisa yang jawab malah emak nya Nafisa.


"Nah gue ada buatin sesuatu buat kalian yuk duduk makan bareng nih mumpung masih anget!" ucap ku dengan mengambil piring dan mulai membagi nasi goreng yang ku buat tadi beserta brownies coklat lumer sebagai penutupnya.


"Wihh alhamdulillah rezeki anak emak ngga kemana, gue duluan Fisa!" ucap Rendi dengan mengambil giliran pertama.

__ADS_1


"Njirr rakus lu Ren!" seru Cika karena didorong oleh Rendi untuk minggir.


"Bodo amat gue laper!" jawab Rendi menyebalkan.


__ADS_2