
Tepat dihari ini Nafisa ada jadwal di toko dan mungkin dirinya akan pulang sampai larut malam dikarenakan kejadian tempo hari yang menyebabkan Nafisa sampai masuk rumah sakit maka tugasnya menumpuk sangat banyak layaknya sampah di selokan.
Seperti hari ini Citra selalu menelfon dan menanyakan dimana keberadaan Nafisa berada perempuan itu sangat khawatir jikalau sahabatnya itu di apa-apakan kembali, walaupun Nafisa absurd dan ngeselin tapi dia tetaplah sahabat kesayangan Citra dan Fatima.
" Nafisa Az-Zahra....lo dimana kamvret! " teriak Citra diujung telfon sana.
Nafisa pun menjauhkan tangannya dari telinganya itu bisa-bisa dia nanti tuli dimasa mudanya karena ulah teman kamvret nya itu.
"Bjirr, bisa ngga sih ngga usah teriak-teriak kuping gue masih sehat walafiat!!" hardik Nafisa kesal.
" Hehehe.... maap abisnya lu lama banget gue nya kan khawatir takut-takut lo ntar jatuh di got gitu. " ucap Citra ngasal dengan cengengesan.
"Kamvret emang punya temen!" umpat Nafisa.
"Lagian lu tumben-tumben amat khawatirin gue, kesambet paan lo?!" seru Nafisa dengan terus berjalan menuju parkiran kampus, jadwal kuliah nya sebentar maka dari itu dirinya langsung capcus pergi ke toko.
"Kalau cuman khawatirin gue biar gaji lu di tambah mohon maaf ngga mempan!" seru Nafisa kembali dengan kejamnya.
" Idih nih anak suudzon mulu kerjaan nya, masih untung ada yang khawatirin lo. Nih ya gue jarang-jarang lo khawatirin orang semua cowo di luaran sana aja minta gue khawatirin tapi lo nya gue khawatirin malah ngga mau! " cerocos Citra tak terima.
"Curhat bun?!" seru Nafisa menyebalkan.
" Ya allah... kira-kira jual temen sendiri laku ngga yah. Gue udah stress punya temen kek dia! " ucap Citra dengan berdo'a ingin menjual Nafisa.
"Kagak bakalan laku Cit yang ada orang yang beli Nafisa ntar bisa-bisa mati duluan sebelum waktunya." saut Lisa dan di tertawai oleh Nafisa.
" Hahaha.... iya juga ya kalau gue jual Nafisa kasian pembelinya ntar bisa-bisa dia kena serangan jantung mendadak! " ucap Citra dengan tertawa kencang.
"Bjirrr emang ngga ada akhlak kalian!" umpat Nafisa.
"LU JUGA SAMA!!!" seru Lisa dan Citra bersamaan.
Nafisa pun tertawa kencang menuduh orang tidak berakhlak padahal dirinya sendiri sangatlah menyebalkan.
" Kagak ngaca bu! coba ngaca dulu dah kalau ngga ada kaca ntar gue beliin kaca yang gede! " seru Citra.
"Dah ahh gue otw kesana Cit bareng Lisa, gue matiin dulu telfonnya byeee." seru Nafisa lantas mematikan telfon sepihak.
" Nih bocah kamvret emang kebiasaan ya suka mati-matiin telfon gitu aja! " maki Citra kesal.
Tidak berselang lama mereka berdua pun sampai di toko Nafisa, karena modal yang pernah Alvin dan teman-temannya berikan dulu Nafisa bisa mendekor tokonya dengan lebih luas dan cantik yang dulu tokonya kecil dan hanya bisa menerima pesanan lewat jasa antar sekarang semua pelanggan setianya juga bisa makan dan minum ditempat tersebut.
Baru Nafisa akan masuk ke dapur sekedar membantu Ica dan Danu, Citra pun datang langsung menemui Nafisa dan memarahinya karena terlalu lama menunggu.
"Nah dateng juga nih anak!" seru Citra dengan berkacak pinggang.
Nafisa dengan entengnya melewati Citra dan memilih pergi kedapur.
"Buset nih anak gue lagi ngomong lah b@ngke kenapa lu main nyelonong aja!" ucap Citra kesal karena tidak direspon.
"Berisik lu mah mending gue masak aja!" seru Nafisa malas.
"Heh! maemunah gue capek-capek nunggu lu dateng lu nya malah bodoamat!" ucap Citra kembali dengan tampang yang dibuat sekejam mungkin mirip mak tiri nya cinderella.
"Heh! juminten lo ngga tau apa jadwal kuliah gue padet banget sepadet jalan tol pas hari raya! gue kesini juga bela-belain dateng kasian sama kalian lu dikasihani malah ngeselin ya!" seru Nafisa berkacak pinggang dengan tangan yang memegang spatula.
Baru Citra akan membalas ucapan Nafisa kembali Lisa pun angkat bicara dan membuat kedua makhluk itu diam seketika.
"Heh curut! lu berdua bisa diem kagak, lu berdua tuh kesini buat kerja peak! cari duit bukan mau adu gontok-gontokan kek l*nte aja!" seru Lisa dengan kejamnya.Cara itu pun berhasil membuat kedua makhluk yang berstatuskan sahabat itu diam seketika.
Jangankan Nafisa sepupunya sendiri saja kalah apalagi dirinya😂
"Nah gini dong dari tadi diem!" seru Lisa kembali dengan santainya. Tawa mereka semua pun pecah seketika melihat kedua bos yang sangat mereka kenal tidak mudah kalah dalam berdebat dengan siapapun tiba-tiba menjadi anak penurut hanya karena seorang Lisa yang mereka tau teman baru bos nya itu.
"Haduh ya allah sakit perut gue." seru Ica sudah kram dibuatnya karena tertawa terus menerus.
Nafisa pun menatap tajam mereka semua yang berada disana, seketika mereka pun diam karena takut jikalau sang bos marah dan malah akan memotong gaji mereka.
"Udah balik kerja sana kalau ngga mau dipotong gaji nya." seru Lisa yang sudah melihat tampang Nafisa seseram itu.
"Noh liat bos kalian dan melotot mulu awas keluar tuh mata Fisa!" ucap Lisa enteng.
" Gue kira Nafisa doang yang ngeselin ternyata ada yang lebih ngeselin dari dia. " batin Citra frustasi menghadapi satu Nafisa saja sudah pusing lah ini malah ada duplikat nya.
Waktu pun berjalan begitu cepat tidak terasa semua pelanggan sudah pulang sejak tadi dan toko pun akan segera ditutup.
__ADS_1
"Hufftt, capek juga ya." ucap Citra mengeluh.
Tidak disangka-sangka Farida pun datang menemui Nafisa di toko nya dengan bertemankan kyai Khalid sang suami.
"Assalamu'alaikum..." salam Farida dari arah pintu.
"Waalaikumsalam, eh umi." jawab mereka semua lantas menyalami Farida dan suaminya.
"Ekhem, bos kalian dimana?" tanya Farida.
Mereka pun menunjuk ke arah sofa yang terdapat seorang gadis yang tengah memejamkan matanya karena lelah.
"Masyaallah." seru Farida dengan tertawa kecil melihat tingkah Nafisa yang selalu random.
"Dia tidur?" tanya Farida kembali.
"Engga umi palingan juga akting doang!" saut Citra.
"Umi emang ada keperluan apa kesini? kalau emang penting banget Citra bangunkan." seru Citra kembali dengan wajah usil nya. Lumayan kan ngerjain temen yang minus akhlak kek Nafisa apalagi ketika orangnya tidak berdaya seperti itu.
"Memang nya bisa?" tanya Farida pasalnya anak kesayangannya itu jikalau sudah tidur pasti akan sulit dibangunkan jangankan Citra kedua kakaknya saja sudah nyerah duluan jikalau harus membangunkan adiknya itu.
"Bisa umi tenang aja." seru Citra enteng.
"Baiklah sok bangunkan, umi ada perlu soalnya." ucap Farida mempersilahkan Citra untuk membangunkan Nafisa.
Dengan santainya Citra menuju dapur dan mengambil tutup panci diapun kembali keluar dengan menenteng penutup panci, dipegangnya penutup tersebut dan berjalan menuju Nafisa yang tengah anteng tidur di sofa tunggu.
Citra pun mulai berhitung dan....
GOMPYANGGG.....
"Anak anjing bertelur, anak ayam melahirkan..." ucap Nafisa latah dan bangun dengan keadaan tangan yang memegang dadanya karena terkejut.
Tawa mereka semua pun pecah seketika ya kali anjing bertelur? dapet kamus dari mana.
"Hahaha....kebalik b@ngke!!" umpat Citra dengan terus tertawa terpingkal-pingkal.
"CITRA AMELIA PUTRI!!!" teriak Nafisa dengan wajah kesalnya.
"Kamvret anak sy@iton!" umpat Nafisa kesal lantas menarik kerah baju Citra seperti akan menggantungnya hidup-hidup.
"Aduhh sakit bego, bisa-bisa gue mati muda ntar!" seru Citra memelas karena tarikan Nafisa yang sangat kuat bukan tidak tau siapa Nafisa sebenarnya jikalau sudah mengamuk maka beginilah resikonya.
"Bodoamat!! siapa suruh ngeselin hah!" ucap Nafisa dengan masih narik kerah baju Citra ke atas.
"Huwaaa umi bantuin Citra..." seru Citra memelas dirinya tidak ingin mati muda karena ulahnya sendiri yang berniat menjaili Nafisa tapi malah berujung begini.
"Umi?." gumam Nafisa dengan mata yang dia edarkan di penjuruh toko.
Dilepaskan nya cengkraman tangan Nafisa pada kerah baju Citra dengan tiba-tiba hanya karena dilihat oleh Farida, segitunya Nafisa menjaga image kepada Farida?
~Ya iyalah min siapa taukan ntar bisa di nikahin sama salah satu santrinya yang ganteng😜
~Idih juminten sabae😂
"Umi?" ucap Nafisa kebingungan.
"Umi ngapain atuh kesini." ucap Nafisa lembut dengan menghampiri Farida.
"Idih juminten bisa ae ngerayunya." hardik Citra dengan memutar bola mata malas.
"Bocah diem! ngga usah berisik!" seru Nafisa.
Farida dan kyai Khalid pun tertawa melihat tingkah keduanya yang seperti anjing dan kucing itu.
"Haduh ya allah, umi kesini mau ketemu neng atuh ya kali umi kesini mau ketemu sama panci dan spatula." gurau Farida mencoba meredam rasa geli tersebut.
"Ihh umi jangan gitu atuh cukup Citra aja yang ngeselin!" seru Nafisa dengan melempar tatapan permusuhan kepada Citra. Si pelaku dengan entengnya tertawa tanpa memperdulikan bahaya yang akan datang sebentar lagi.
"Umi kesini cuman pengen main, abisnya neng jarang kerumah jadinya umi kesini." seru Farida dengan memeluk Nafisa.
"Ngga kangen apa sama umi?" tanya Farida dengan raut sedih.
"Kangen atuh, kangen.... banget malah umi kan kesayangan Zahra." seru Nafisa dengan memeluk erat Farida.
__ADS_1
"Oh iya, umi Khodijah juga kangen tau sama kamu." seru Farida.
"Kamu ngga pernah kasih kabar sama beliau kah?" tanya Farida pasalnya teman nya itu selalu menanyakan kabar calon menantu nya itu seperti apa, apakah dia sudah makan atau belum.
"Hehehe belum umi, Zahra sibuk umi akhir-akhir ini karena mau KKN nanti." jelas Nafisa.
"Hm, kalau gitu umi telfon Khodijah dulu ya." seru Farida dan diangguki oleh Nafisa. Farida lantas mengambil ponsel nya dan mencoba menghubungi sahabat nya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang disisi lain Rayyan tengah buru-buru mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke kantor. Rayyan pun turun dengan tergesa-gesa menuju lantai bawah dilihat nya sang umi tercinta tengah duduk di ruang tamu bersama sang abi.
"Pelan-pelan atuh abang nanti jatuh." ucap Khodijah memperingati Rayyan yang terburu-buru turun dari tangga.
"Afwan umi, abang terburu-buru karena ada meeting." seru Rayyan lantas pergi menuju pintu setelah salim takzim kepada kedua orang tua nya baru dirinya akan keluar menuju pintu langkahnya terhenti dikala mendengar suara yang sangat lama ia ingin rindukan.
"Assalamu'alaikum umi..." seru Nafisa dengan girang.
"Wa'alaikumussalam, sayang." ucap Khodijah lembut.
"Umi kangen atuh, neng kemana lama ngga telfon?" tanya Khodijah dengan raut wajah sedih.
" Hehehe maaf umi, Zahra sibuk banget akhir-akhir ini jangankan telfon umi narok hp sendiri aja kadang Zahra lupa narok dimana." jelas Nafisa dengan absurd.
Sedang disisi lain Rayyan tengah senyum-senyum sendiri mendengar suara yang lama ia rindukan akhirnya terdengar kembali. Karena rasa rindu yang telah lama dia pendam akhirnya Rayyan menelfon Irfan dan meminta nya menunda rapat tersebut menjadi besok guna ingin mendengar suara orang yang sangat ia rindukan.
"Assalamu'alaikum Fan, rapat kita tunda besok saja ana ada urusan mendadak." ucap Rayyan.
" Lah Ray, kata lu tadi free ngga ada jadwal ?! " seru Irfan tak terima pasalnya Rayyan sudah menelfon nya barusan dan akan segera berangkat menuju kantor tapi sekarang?.
"Afwan Fan ana ada urusan mendadak besok saja kita mulai rapat, kalau begitu ana matikan telfonnya." seru Rayyan.
"Assalamu'alaikum." salam Rayyan dengan menutup telfonnya sepihak.
"Kamvret emang punya bos, main seenak nya aja batalin meeting penting." dumel Irfan kesal tidak habis pikir dengan temannya itu.
" Demi cinta apapun ana korbankan! " batin Rayyan dengan masih senyum-senyum sendiri mendengar suara Nafisa.
Sedang Khodijah dan Akmal kebingungan melihat tingkah putranya itu, bukannya tadi dia bilang ada meeting penting dan terburu-buru akan pergi tapi sekarang?
"Abang bukannya ingin pergi meeting kenapa tidak berangkat?" tanya Khodijah kebingungan.
"Meeting nya ditunda umi jadi besok." seru Rayyan dengan santainya duduk di sebrang Khodijah.
" Umi kenapa? " tanya Nafisa di ujung telfon.
"Umi tidak apa-apa sayang." ucap Khodijah tersenyum manis.
"Umi rindu kue buatan Zahra tau." seru Khodijah sedih.
" Hehehe, umi tenang aja Zahra selalu disini kok ngga kemana-mana. Atau kalau mau nanti Zahra buatkan buat umi. " seru Nafisa.
"Boleh atuh sayang, boleh banget gini aja umi pesan beberapa kue buatan Zahra sama jangan lupa..." ucap Khodijah menggantungkan ucapannya.
"Kue brownies tentunya..." seru Nafisa dan Khodijah bersamaan dan mereka pun tertawa bersamaan Nafisa sangat ingat betul kue favorit keluarga Khodijah yaitu brownies coklat buatannya.
"Jangan lupa bikinin yang enak ya sayang buat anak umi." ucap Khodijah dengan mata yang menatap Rayyan demi bisa menggodanya kembali.
" Siap atuh umi, apa sih yang engga buat umi. " seru Nafisa dengan menggombali Khodijah.
" Demi Khodijah apa anaknya atuh neng? " seru Farida menggoda Nafisa.
" Aaa cieee uhuukk...." seru mereka semua menggoda Nafisa.
" Ihh umi demi umi Khodijah lah ya kali buat anaknya! " tolak Nafisa dengan memalingkan wajah demi bisa menutupi pipinya yang sudah merah merona.
Sedang Khodijah dan kyai Akmal malah meledek Rayyan habis-habisan.
"Kasian atuh bi, Zahra ngelakuin ini semua demi umi bukan karena anak abi." ledek Khodijah dengan menertawai Rayyan yang muka nya sudah di tekuk beberapa lipatan.
"Iya umi, kasian atuh capek-capek batalin meeting tapi yang disana cuman cinta sama umi!" ucap Akmal memanas-manasi Rayyan.
"Sudahlah abang mau menyusul Reihan sama Zaky saja!" seru Rayyan dan lantas pergi meninggalkan abi dan umi nya yang masih tertawa.
"Astagfirullah, anak abi tuh." seru Khodijah.
__ADS_1
"Anak umi juga." saut kyai Akmal tak mau kalah.