
Ambulans pun datang membawa tubuh Nafisa yang penuh dengan luka, luka yang kemarin Bobby perbuat saja belum sembuh ditambah luka perbuatan Bella dan teman-temannya, kakak mana yang tidak hancur perasaan nya melihat keadaan adiknya sendiri yang penuh luka memar di sekujur tubuhnya apalagi Nafisa tidak bercerita tentang apapun yang terjadi di kampus alhasil ke lima teman Nafisa yang akan di sidang oleh Zidan dan Refan nantinya. Sedang Adiba sendiri terkejut tidak percaya bahwa putri kesayangannya masuk rumah sakit akibat dendam seseorang terhadap Nafisa, padahal ia sangat tahu watak putrinya itu tidak akan mengusik hidup orang atau menganggu siapapun kecuali jikalau dirinya yang di usik terlebih dahulu.
...----------------...
Sedang disisi lain hati Rayyan sangat gelisah ntah kenapa hatinya sangat gelisah dan takut, takut akan apa dia pun tidak mengerti kenapa hatinya sangat sakit dan tidak tenang hari ini.
FROM RAYYAN
Gelas pun jatuh dari tangan ku dan air panas itu tumpah tepat di tangan kanan ku, ntah firasat apa ini rasanya hati ku tidak tenang dan selalu memikirkan nya sebenarnya apa yang terjadi kepadanya?
"Astagfirullah aa, kenapa ini teh." ucap bi Arum melihat Rayyan mengipas-ngipasi tangan nya karena terkena tumpahan air panas yang baru saja diangkat.
"Panas bi." ucap Rayyan dengan tangan yang sedikit melepuh karena terkena air panas.
"Aduhh ya allah, sini coba di basuh atuh aa itu tangannya teh sampai melepuh gitu." seru bi Arum dengan sigap membasuh tangan Rayyan dan mengambil kotak p3k dibalurnya dengan salep secara perlahan dan di tutup dengan kain kasa agar lukanya tidak terkena debu atau semacamnya.
"Ini kenapa sampek melepuh gitu teh aa." omel bi Arum yang sudah menganggap Rayyan layaknya anak nya sendiri, bi Arum adalah ART kepercayaan Khodijah dia bekerja dirumah Rayyan selama bertahun-tahun sebelum Rayyan lahir bi Arum sudah menjadi bagian rumah ini. Maka dari itu jikalau Rayyan, Reihan atau Zaky terluka maka orang kedua setelah umi adalah bi Arum yang akan memarahi mereka.
"Ngga sengaja tadi kena tumpahan air panas yang bibi masak, tadinya mau bikin teh sama kopi buat abi tapi malah jatuh." jelas Rayyan tapi dibalik rasa sakit itu hati nya masih belum tenang sedari tadi dia selalu memikirkan gadis itu apakah terjadi sesuatu padanya.
"Firasat buruk apa ini ya allah, kenapa ana selalu memikirkan ukhti apa yang terjadi dengannya?!" batin Rayyan gelisah.
Dia pun lantas pergi ke lantai atas menuju kamarnya berniat menelfon kedua adiknya demi bisa menghalau rasa gelisah itu. Telfon pun tersambung ke laptop Rayyan dan menampakkan wajah kedua adiknya yang tengah mesem-mesem kamvret.
"Assalamu'alaikum bang..." ucap Reihan dan Zaky dengan senyum-senyum sendiri.
"Waalaikumsalam, antum kenapa pada senyum seperti itu?!" tanya Rayyan bingung.
"Hahaha....ciee yang dua bulan lagi mau khitbah anak orang." goda Reihan, Rayyan pun memutar bola mata malas selalu dan selalu jikalau menelfon mereka berdua ujung-ujungnya Rayyan lah yang menjadi bahan bully-an kedua adiknya.
"Calon manten kok merengut gitu jelek antum bang!" ledek Reihan dengan bertos ria dengan Zaky.
"Antum berdua kalau cuma mau meledek ana matikan saja." ancam Rayyan mulai sebal.
"Hahaha....sok atuh matikan tak apa yang telfon duluan juga siapa?!" tantang Reihan kakak nya itu sangatlah lucu dia yang menelfon dia juga yang ngambek.
"Ck, antum bisa serius tidak?! ada suatu hal yang mau ana bicarakan kalau antum becanda terus besok-besok tidak usah telfon lagi kalau perlu apa-apa kerjakan sendiri!" ucap Rayyan kesal.
__ADS_1
"Ulululuhh anak capa cih marah-marah nanti gantengnya ilang pindah ke ana!" bujuk Reihan layaknya membujuk anak kecil. Zaky pun tak kuasa menahan tawanya kedua abangnya memanglah seperti itu dimana yang satu selalu dingin, cuek dan serius yang satu lagi sengklek perpaduan gen yang lengkap.
"Sebentar itu tangan antum kenapa? sampai harus di lilitin mirip mummy?!" tanya Reihan absurd, Zaky pun menepuk paha kakak keduanya itu agar diam dan serius sedikit.
"Sssttt diam dulu bang!" lerai Zaky.
" Sok atuh bang antum mau bilang apa? dan soal tangan antum itu kenapa?!" tanya Zaky memasang mode serius.
"Ntah kenapa hari ini perasaan ana tidak enak selalu memikirkan ukhti apan sebaiknya ana tanyakan saja kabar ukhti pada umi Farida, tapi jikalau ana menanyakan ukhti nanti mereka malah kembali menggoda ana seperti kalian hari ini!" ucap Rayyan dengan alis menukik tajam, Reihan dan Zaky pun tak kuasa untuk tertawa kembali mereka sangatlah senang mengoda kakak pertamanya itu. Karena dari sekian banyak wanita yang umi nya pilihkan untuknya dari mulai yang berwajah cantik, pintar memasak, hafidzah Qur'an dan juga anak-anak dari pesantren nya pun sama sekali dia tertarik pada mereka, tapi setelah ia bertemu dengan Nafisa kakak nya langsung mendadak di landa penyakit bucin\= budak micin terkadang mereka memergoki Rayyan yang tengah senyam-senyum sendiri layaknya orgil.
" kalau memang hati anta tidak tenang kenapa tidak tanyakan saja pada umi Farida bagaimana keadaan ukhti?!" usul Zaky
" Lagi pula sebentar lagi kalian akan tunangan bukan kenapa harus masih sembunyi-sembunyi seperti maling?!" ucap Zaky kembali Reihan pun meledakkan tawanya demi mendengar penuturan yang Zaky katakan.
" Lalu soal tangan anta kenapa bisa seperti itu bang?!" tanya Reihan.
"Tadi ke siram air panas waktu mau bikinkan abi kopi." jelas Rayyan ketus.
" Hahaha.... apa yang sudah ukhti perbuat terhadap antum bang sampai-sampai antum frustasi seperti ini?!" ledek Reihan kembali.
"Tertawalah antum sepuas mungkin nanti ada saatnya antum berada diposisi ana!" ucap Rayyan kesal dengan mematikan vidcall sepihak.
"Sebaiknya ana telfon umi Farida saja ya, sekedar memastikan ukhti baik-baik saja." gumam Rayyan.
Dia pun mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan ke nomor umi Farida telfon pun tersambung tapi ia dikejutkan oleh suara seseorang yang bilang bahwa ukhti sedang ada di rumah sakit tepatnya di IGD.
"Assalamu'alaikum nak, ada apa kamu menelfon?!" tanya Farida.
"Wa'alaikumussalam umi ada yang ingin ana tanyakan kepada umi." ucap Rayyan.
"apa itu nak?!" tanya Farida kembali.
"Hmm....soal....itu umi...." ucap Rayyan menggantung ucapan nya dan kembali berfikir apakah yang dia lakukan sudah benar adanya dengan lancangnya menanyakan anak gadis orang dan ingin tahu tentang nya apakah dia sedang baik-baik saja atau tidak.
"Soal apa nak?!" tanya Farida penasaran.
Belum Rayyan menjawab pertanyaan Farida bi Ina datang dari luar dengan tergesa-gesa nafas nya naik turun demi mendengar kabar yang baru saja dia tahu dari Nurul istri Zidan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum umi." salam bi Ina
"Waalaikumsalam iya kenapa bi?" jawab Farida.
"Anu...itu...neng Nafisa..." ucap bi Ina panik bingung mau menyampaikan kabar ini seperti apa.
"Iya Nafisa kenapa bi, coba bibi minum dulu lalu ceritakan secara pelan-pelan" seru Farida menuangkan air minum dan di minumnya oleh bi Ina dia pun mencoba untuk tenang dan membicarakan ini dengan pelan-pelan, sedangkan diujung sana Rayyan mendengarkan percakapan keduanya dengan perasaan tidak tenang.
"Neng Nafisa, dia.....masuk rumah sakit umi karena kecelakaan." ucap bi Ina panik Farida pun terkejut anak kesayangannya sekarang sedang berada dirumah sakit.
"Lalu Nafisa sekarang berada dirumah sakit mana bi?!" tanya Farida tak kalah panik.
"Sekarang neng Nafisa berada dirumah sakit kota umi, neng sedang dirawat intensif karena terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya." seru bi Ina hampir menumpahkan air matanya, orang yang dia sayang harus berada dirumah sakit padahal Nafisa sudah dia anggap seperti layaknya anak dia sendiri. Sedangkan seseorang yang sedari tadi mendengar percakapan mereka langsung mematikan telfonnya sepihak dan lantas akan menuju rumah sakit tersebut melihat keadaan Nafisa apakah yang dikatakan bi Ina benar.
Rayyan pun turun kebawah dengan tergesa-gesa mengambil kunci mobil dan lantas menuju rumah sakit tersebut.
"Abang mau kemana?!" tanya Khodijah melihat putranya sibuk mengambil sweater dan kunci mobil.
"Umi kunci mobil abi mana?!" tanya Rayyan.
"Itu ada di dekat laci, memang nya abang mau kemana terburu-buru seperti itu?!" tanya Khodijah kembali. Rayyan pun menyambar kunci mobil tersebut dan lantas pergi menuju garasi.
"Abang mau kemana atuh..." ucap Khodijah lagi dengan kesal.
"Abang pamit mau pergi kerumah sakit umi." jawab Rayyan sebelum keluar dari gerbang pesantren.
"Iya tapi kerumah sakit ngapain?!" gumam Khodijah.
Telfon rumah Rayyan pun berdering diujung sana Farida mengabari Khodijah bahwa Nafisa sedang berada dirumah sakit setelah mengalami kecelakaan.
"Astagfirullahalazim, syukron sudah memberitahu Farida saya dan mas Akmal akan kesana nanti." ucap Khodijah, dia pun mengerti kenapa putranya tergesa-gesa akan pergi kerumah sakit ternyata Rayyan sudah menerima perjodohan ini buktinya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Nafisa sekarang.
"Semoga Nafisa baik-baik saja ya allah." gumam Khodijah dia pun lantas pergi ke pesantren dan berniat memberitahu suaminya tentang ini.
Rayyan pun menancap gas dengan kuat membelah jalanan yang padat dengan mudah, ternyata dibalik hatinya yang tidak tenang sedari tadi ternyata Nafisa tengah berada dirumah sakit dengan keadaan yang cukup buruk.
"Semoga anti baik-baik saja ukhti ana tidak mau jikalau anti kenapa-kenapa." gumam Rayyan dengan mata yang fokus ke depan.
__ADS_1
...----------------...