Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Kenangan terkamvret


__ADS_3

Aku pun sampai dirumah tepat jam 7 malam dikawal oleh kedua kakak tersayang, selepas mereka pulang aku pun pergi ke kamar untuk mengecek perkembangan toko, besok adalah hari tersibuk ku karena mendekati ulang tahun Cia. Toko ku sangat ramai dan banyak pelanggan yang memesan beberapa cake, kue kering dan dessert. Kebetulan besok kampus libur, besok kuhabiskan waktuku bekerja sampai larut, lumayan kan nambah-nambah tabungan juga bayar kuliah. sesampainya dikamar aku merasa ada hilang ntah apa itu, telfon ku berdering Citra menelfon menanyakan orderan toko tapi aku lupa menaruhnya dimana.


"Assalamu'alaikum bu boss..." salam nya


"Waalaikumsalam, iya kenapa Cit?!" ucap ku dengan tetap fokus pada layar laptop.


"Soal pesenan bu Wina yang buat besok apa aja ya? gue lupa hehe..." tanyanya.


"Pesanan bu Wina? kalau ngga salah dia pesen brownies coklat 3 pack, puding dessertnya 30 biji apa 25, sama pancake berapa ya?!" ucap ku menggaruk kepala.


"yee, lu yang nyatet kenapa tanya gua?!" omel nya.


"Iyakah? bentar-bentar perasaan udah gue tulis dibuku deh, tapi tu buku mana ya." ucap ku beranjak mencari buku kecil berwarna biru langit.


"Lah, lu mah kebiasaan lagi genting gini malah ngelawak lupa narok buku dimana." kembali Citra mengomel.


"Berisik lu mah! nama nya juga orang lupa feak!" saut ku.


"Yah terus gimana Fisa, pesenan besok loh mana belum lagi punya bu Ratih. Gue ngga bisa stay di toko besok, soalnya kan gue bagian nganter paling lu dibantu Ica." jelas nya.


"Iya-iya, gue tau bawel lu!"


Aku pun mencoba mengingat-ingat letak buku tersebut setelah berapa lama aku pun ingat, buku itu tertinggal dirumah umi Farida disaat aku terburu-buru berangkat nyusul kak Zidan. Aku pun menepuk jidat ku keras "kenapa bisa tertinggal disana dah! mana besok orderan harus siap sebelum jam 10 lagi, kalau gue pergi kerumah umi dulu bisa-bisa sampek di toko udah jam 9" gerutu merutuki kelalaian ku sendiri.


"Gimana? dah inget lu?!" tanya Citra.


Aku pun membuang nafas dengan kasar " Udah, tapi tuh buku ada dirumah umi Farida ketinggalan!" ucap ku pasrah. Sudah lelah sedari pagi tadi, selesai pertandingan dihukum pula oleh kak Zidan. Sekarang? buku malah ketinggalan dirumah umi, mana pesenan orang diambil besok semua lagi!


Arrrggghhh


"Yahh, gimana bisa ketinggalan? lu mah apa-apa makanya jangan buru-buru udah ketinggalan gitu ribet kan!" kembali dia mengomel, kepala ku rasanya mau pecah mendengar ocehan Citra yang layaknya emak-emak nawar sayur.


"Au ah Cit gue pusing, besok gue minta bantu kakak gue aja. Udah gue mau tidur dulu byee!" ucap ku mematikan telfon sepihak.


"Yah, nie anak kalau udah ngga mood main matiin telfon orang." dumel Citra ditempat lain.


Nafisa pun menutup laptopnya dia mengambil handphone nya dan melakukan panggilan kepada Zidan, tapi tidak ada respon lebih dari sih empunya mungkin Zidan lelah akibat pertandingan tadi. Dia pun mencobanya kembali sampai beberapa kali namun hasilnya tetap sama, akhirnya Nafisa pun mencoba menghubungi Refan dan akhirnya diangkat lah oleh sang empunya, karena tidak tahan akan rasa lelah itu Nafisa pun menangis meraung-raung mencoba merayu Refan untuk mengambilkan buku pemberiannya dirumah umi Farida.


"Assalamu'alaikum dek, kenapa? ngga liat jam berapa? kakak mau tidur malah kamu telfon!" dumel nya di sebrang sana.


"Waalaikumsalam, huwaa....kakak...." jawab Fisa dengan menangis.


"Eh, kamu kenapa? dek, kenapa? ngomong sama siapa?!" tanya Refan panik, pasalnya sang adik tidak ada hujan tidak ada badai tau-tau nangis tengah malem kan serem!


"Buku Fisa kak, hilang....hiks...hiks" ucap ku terbata-taba. Refan pun menepuk jidatnya dengan keras lama-lama dia bisa depresi menghadapi adiknya yang super duper menjengkelkan. Refan kira adiknya menangis malam-malam seperti itu karena takut di apa-apa kan orang ngga taunya cuman buku ilang!


"Astaghfirullahalazim...." jawab Refan frustasi malam-malam telfon dikira ada apa-apa atau maling malah nangis karena buku!


"Lama-lama nih tembok gue cemilin dek! "batin Refan dengan menjambak rambutnya sendiri frustasi.


"Bantuin kak! nyari hiks..." ucap ku memelas.


"Terus kakak harus nyari dimana dek malem-malem buta kek gini?! yang ada kakak dikira mau maling keliling malem-malem buta! " jawab Refan pusing. Nafisa pun tertawa dalam diam, tapi dia tetep harus membujuk kakak nya untuk mengambil buku itu dirumah umi Farida.


"Yang bilang kakak nyari di rumah orang siapa?!" tanya Nafisa.

__ADS_1


"Yah terus nyari dimana dek?! " tanya Refan kembali.


"Kakak inget buku kecil yang warna biru langit yang dulu pernah kakak kasih Fisa kado?"


"Iya inget, emang kenapa?"


"Buku itu penting kak ada isi pesenan pelanggan setia Fisa, yang biasanya suka borong kue Fisa. Nah sekarang masalah nya itu buku ilang kak, ada dirumah umi Farida keknya Fisa terlupa membawa tadi." jelas ku.


"Terus kakak harus ngapain? kerumah umi gitu, malem-malem gini? yang ada kakak dikira maling dek! " jawab Refan tidak habis fikir saja dengan isi otak adiknya itu masak dia harus manjat pagar rumah orang malem-malem cuman karena buku!


"Yah ambilin kak ya, pleasee....kalau ngga bisa sekarang besok ya, habis sholat subuh Fisa perlu banget kak. Soalnya itu pesenan mau diambil besok semua yah!" ucap ku memelas.


"Kenapa ngga minta tolong sama kak Zidan aja, besok kakak takut ngga bisa dek ada yang harus kakak urus soalnya." jawab Refan.


"Ngga diangkat sama kak Zidan kak! yah pleasee...sebentar aja besok kak yah!" ucap ku kembali memohon.


"Huff, astaghfirullah...ya udah besok kakak ambilin kakak anter langsung kerumah apa toko?! " tanya Refan yang akhirnya luluh.


"Anter kerumah aja kak, besok Fisa berangkat jam 6 kok ke toko." jawab ku.


"Yaudah sekarang tidur kakak matikan telfon nya ngantuk kakak." Ucap Refan langsung mematikan telfon sepihak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan pagi nya Refan pun menepati janji nya untuk mengambilkan buku tersebut dirumah umi Farida, umi Farida pun berpesan para Refan jikalau semua pesanan sudah beres untuk segera menelfon umi Farida, dikarenakan ada sahabat nya yang ingin bicara dengan Nafisa serta melepas kangen dan Nafisa pun mengiyakan permintaan umi.


Di lain tempat Nafisa tengah terburu-buru untuk berangkat ke toko membuat semua pesanan ibu-ibu pelanggan setia nya.


"Bu Nafisa berangkat dulu ya do'ain semoga toko Fisa rame lagi seperti dulu." ucap ku antusias.


"Aamiin...ibu do'akan semoga kamu sukses ya nak..." jawab ibu tersenyum


Tidak butuh waktu lama aku pun sampai di toko, semua orang sudah menunggu di depan pintu bersiap akan bertempur sampai lelah demi cuan.


"Assalamu'alaikum..." salam ku


"Waalaikumsalam bu..." jawab mereka


"Okeh Leadist siap bertempur demi cuan?!" tanya ku bersemangat.


"SIAP!!" jawab mereka tak kalah semangat.


"Okeh last go!" ucap ku berlari masuk kedalam toko dan mengambil apron mencuci tangan dan mengambil beberapa wadah serta bahan-bahan lainnya.


Citra dan Fatima sibuk mengurus telfon yang datang dari beberapa pelanggan, Ica, danu dan karyawan lainnya membantu ku didapur dikarenakan pesanan yang begitu banyak aku membutuhkan tenaga lebih dari mereka.


Kami semua pun bertempur didalam dapur dengan tangan dan wajah yang penuh dengan tepung sesekali kami menciptakan suasana agar tidak terlalu sepi.


"Okeh guys semangat Leadist, gue bagian icip-icip ntar!" seru Citra sekenanya memasuki dapur.


"Lu mah kalau gue yang buat maju paling depan buat icip!" dumel ku dengan tangan fokus mengaduk wipcream coklat.


"Ha ha ha...harus itu mah kalau lu yang buat kan pake bubuk cinta jadinya semua orang yang makan langsung kena pelet!" ucap nya meledek ku, semua karyawan yang ada di dapur pun tertawa mendengar perdebatan kami berdua.


"Iya atuh bu, kalau ibu yang buat semua pelanggan pada ketagihan! yang awal nya ngga begitu suka manis pas tau rasa kue ibu langsung pada doyan!" saut Ica tertawa dengan menyusun beberapa kue yang sudah matang.

__ADS_1


"Ck, kalian mah gitu. Semua mah sama aja mau siapa yang buat asalkan dibuat dengan ikhlas tambah tulus itu kue bakalan enak kok. Kalau Citra mah jangan di suruh buat kue, yang ada tu kue di maki mulu sama Citra! ujung-ujungnya tu kue gosong kan!" ucap ku menepis tangan Citra yang sudah bermain terlalu jauh mencolek beberapa kue yang sudah matang.


"Yeayy enak aja, gini-gini kalau gue yang buat mah rasanya paling enak! bahkan makanan-makanan yang ada di cafe berbintang 5 mah kalah!" saut dengan memutar bola mata sinis kepada ku.


"Nah itu, saking enak pake banget tuh pelanggan sampek bolak-balik toilet gara-gara sayur asem lu dulu!" ucap ku dengan menodongkan spatula pada nya, Citra pun tertawa terpingkal-pingkal mengingat kejadian dulu sewaktu mereka smp dan mengadakan lomba tata boga yang berujung para guru bolak-balik toilet.


"Lu mah gitu Fisa! dukung gue kek gitu sekali-sekali." jawab nya memelas dengan masih menyisakan tawa.


"Memang nya sayur asem nya kenapa bu, kok para guru sampai bolak-balik toilet?" tanya danu.


Citra semakin keras tertawa karena ulah ya dulu Nafisa dan Fatima lah yang harus menanggung resiko menyapu semua kelas dan halaman sekolah.


FLASHBACK ON


"Citra, semua nya udah siapkan bentar lagi juri ke kesini" ucap ku berlari menghampiri Citra yang tengah kebingungan.


"Hah? udah kok Fisa, udah semua kok tenang aja." jawab nya gugup.


"Okelah, sayur asem nya udah kan? Fatima mana? kata tadi mau masak sayur asem dia?!" tanya ku tidak menemukan Fatima.


"Ah, Fatima tadi izin ke belakang. Eh... ke toilet, iya ke toilet Fisa!" jawab nya semakin gugup.


Akhirnya Fatima pun kembali dengan tergesa-gesa menghampiri kami berdua.


"Cit, sayur nya udah kan?!" tanya Fatima dengan mengatur nafas nya.


Jidat ku pun berkerut beberapa lipatan pasalnya Citra pernah bilang kalau dia tidak bisa memasak, jangankan sayur masak telor ceplok saja dia tidak tau.


"Citra?!" panggil ku menyudutkan Citra, perasaan ku mulai tak enak ada yang aneh dengan Citra apa sayur itu.


Citra pun hanya menyengir kuda, karena penasaran aku pun membuka panci yang berisi sayur asem dan teman-temannya, mencoba mencicipi nya awalnya aku ragu ketika membuka penutup panci aroma nya memanglah wangi. Tapi tunggu...kenapa wortel nya masih ada kulitnya?


Ketika aku mencicipi kuah dan sayur nya sungguh perpaduan rasa yang tidak bisa ku utarakan, karena tidak tahan aku pun memuntahkan sayur tersebut, rasa perpaduan antara terlalu asin, manis dan juga sayur yang belum masak membuat perut ku mual. Citra hanya bisa nyengir kuda dan berlindung tepat dibelakang Fatima menghindari amukan serigala berbulu ayam dari ku.


"CITRA!!!" teriak ku, dia pun terkekeh dan meminta maaf.


"Itu tadi sayur asem apa sayur garem!!" ucap ku dengan perasaan antara ingin marah dan tertawa. Konyol saja rasanya aku menyuruhnya membuat sayur asem dia malah menciptakan rasa baru yaitu sayur garem. Karena penasaran Fatima pun mengambil sendok dan mencicipi nya juga, dia pun juga memuntahkan sayur tersebut dengan sembarangan meminum air dengan rakus hingga tandas.


"Citra sableng! gue nyuruh lu buat sayur asem lah kenapa lu buat sayur garem! tuh sayur juga kenapa ngga lu kupas b3go!" ucap Fatima hampir menangis karena ulah Citra masakannya harus berujung tidak karuan. Terlanjur basah, juri sudah sampai di tempat kami padahal kami belum sempat membuang dan mengganti sayur itu alhasil juri juga kena akibat ulah sableng Citra.


"NAFISA FATIMA DAN CITRA KE KANTOR SAYA SEKARANG!!" teriak bu santi, kami pun hanya menurut dan mengikutinya dengan pasrah.


"Karena ulah kalian bertiga, para guru dan juga juri harus bolak-balik toilet. Untuk itu ibu hukum kalian berdua bersihkan halaman sekolah sampai bersih! jikalau masih ada debu sedikit saja, kalian tidak akan ibu izinkan pulang!!" teriak bu santi kesal.


"Ya Allah, sue lu Cit. Lu yang berulah kita yang kena getah!!" dumel ku dan Fatima. Sih pelaku dengan tanpa dosa tertawa terpingkal-pingkal.


"Ngga papa lah, kan kita bestfriend polepel! disaat gue senang lu berdua ada, yah disaat gue susah lu berdua gue tinggal!" ucap nya tertawa dan lari dari sana sebelum kena amuk kedua temannya.


"KAMVRETTT!! CITRA SABLENG SINI LO!!" teriak ku dan Fatima melempar Citra dengan sapu dan alat pel.


FLASHBACK OFF


Semua yang ada di dapur pun tertawa terpingkal-pingkal, mendengar cerita dari ku.


"Haduh bu... kalian bertiga ini memang polepel banget yah, dalam hal apapun selalu bikin heboh dan kocak." seru Ica dengan masih tertawa

__ADS_1


"Itu mah kenangan terkamvret Ca, bukan kenangan manis kalau boleh milih mah ibu ogah ngulang kenangan itu lagi" seru ku kalau di ingat-ingat kembali itu adalah kenangan terburuk disepanjang sejarah.


Akhirnya beberapa pesanan pun sudah jadi dan Citra pun mengantarkan pesanan tersebut kepada customer.


__ADS_2