Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Nafisa kembali berulah


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir aku menginap di rumah umi farida, hari ini kak Zidan dan kak Nurul akan pulang dan langsung menuju kerumah umi.


Karena akibat lelah mengajar anak-anak santri aku sampai lupa bahwa hari ini kak Zidan sudah hampir sampai dirumah, namun aku masih saja berkutak dengan selimut dan bantal guling yang empuk itu sampai lupa ntah sudah pukul berapa aku terlalu lama tidur.


"Assalamu'alaikum umi, abi..." salam Zidan dan Nurul dengan masuk bersamaan dengan Maryam dalam gendongan Nurul.


"Waalaikumsalam eh, kamu udah pulang nak cepat sekali?" tanya umi.


"Iya umi, kebetulan Zidan ambil penerbangan awal jadinya sampai sebelum jam yang Zidan kasih sama kalian." ucap Zidan sopan.


Disana sudah ada Refan, Aini dan kedua anaknya. Ibu dan ayah Nafisa memang sengaja tidak ikut dikarenakan sedang berhalangan untuk hadir jadi yang akan ikut mengantar para santri untuk tanding hanyalah kedua kakak Nafisa dan juga kakak iparnya termasuk Nafisa sendiri. Tapi yang menjadi pertanyaan banyak orang dimanakah adik absurd nya itu berada? dikarenakan sedari tadi Zidan sampai dirumah tidak melihat batang ketek adiknya itu.


"Fan, Nafisa mana?!" tanya Zidan.


"Auh, masih belum bangun kali!" jawab Refan menggidikkan bahu.


"Astagfirullah jam segini belum bangun?!" ucap Zidan kembali menepuk jidatnya, lama-lama dia bisa depresot menghadapi tingkah adiknya yang super duper absurd. Jam segini belum bangun, ayam saja sudah bangun dari subuh untuk mencari makan tapi adiknya?


"Oh iya mas, kemaren Fisa katanya ngajar disini dimana dia sekarang? aku mau kasih hadiah buat dia oleh-oleh dari bandung kemaren." ucap Nurul antusias ingin bertemu dan memberi hadiah cantik kepada adiknya itu, tiga hari tidak bertemu adik ipar kesayangan nya serasa ada yang kurang menurutnya ntah kurang ramai atau kurang garam.


"Oh Nafisa ada diatas neng lagi tidur belum bangun mungkin." ucap umi tersenyum.


"Kenapa ngga dibangunkan saja umi? itu anak bener-bener ya allah!" keluh Zidan.


"Sudah tidak apa-apa nak, mungkin dia kelelahan karena acara kemarin." ucap umi kembali membela Nafisa.


"Ngga bisa gitu umi, sebentar lagi kami akan berangkat. Pertandingan akan dimulai jam 10 dan sekarang sudah jam 9, Nafisa ikut andil dalam hal mengantar para santri karena memang dia pelatih pengganti Zidan." jelas Zidan sopan.


"Baiklah kalau memang begitu, kalian bangunkan saja dia nak." jawab umi.


tanpa membuang-buang waktu lagi, Refan dan Zidan naik ke lantai atas untuk membangunkan tuan putri yang doyan tidur. Dilantai atas ada dua kamar yang tersedia satunya kamar yang berada di ujung sendiri adalah kamar Zidan dan istri nya ketika mereka menginap dirumah umi farida maka mereka akan tidur di kamar tersebut,dan kamar yang berada dekat dengan tangga adalah kamar milik anak dari sahabat abi khalid yang memang sering menginap disana ketika mereka sedang berkunjung kerumah umi farida. Zidan mengira adiknya tidur dikamar nya dan istrinya tapi ketika mereka mengecek hasilnya nihil, Nafisa tidak berada dikamar tersebut alis Zidan mulai menukik tajam matanya sudah tertuju pada kamar sebelahnya mungkin kah adiknya ada didalam? kalau sampai memang ada maka tidak ada kata maaf nantinya, adiknya mungkin akan di goreng hidup-hidup oleh kedua kakaknya.Saking lelahnya kah dia sampai-sampai tidak melihat kamar siapa yang dia masuki?


Zidan dan Refan pun membuka handle pintu kamar tersebut dan... memang benar dugaan mereka adiknya tengah tertidur dengan santainya tanpa dosa, dikamar lelaki lain pula!


Zidan maju dan membangunkan Nafisa tapi hasilnya nihil si empunya bukannya bangun malah bergumam tak jelas." Dek, bangun!" guncang Zidan di badan Nafisa. tapi tidak ada reaksi lebih dari nya.


"Ck, kalau udah gini mah susah buat bangun kak mending pake cara extream dari pada pake cara halus tapi tetep ngga nyaut!" ucap Refan memberikan pendapatnya.


"Emang nya cara seperti apa? kalau memang bisa buat bangunin nih bocah coba aja Fan, kakak mau keluar dulu ke bawah melihat persiapan santri yang ikut tanding nantinya." jelas Zidan sudah menyerah dengan adiknya tersebut biarlah Refan yang membangunkan nya sementara dia akan mengecek persiapan para santriwan dan santriwati untuk tanding nantinya.


Zidan pun keluar dari kamar tersebut dengan tergesa-gesa kebawah, sedangkan Refan sendiri tengah memikirkan ide untuk membangunkan adiknya tersebut cara cepat seperti apa yang akan membuat adiknya langsung terbangun?


Ditengah-tengah Refan sedang berfikir ide absurd pun muncul dikepalanya ide tersebut memang ampuh untuk membangunkan kebo cantik tukang tidur seperti adiknya itu. Dia pun turun kebawah mengambil garam didapur dan berlari kembali kekamar tersebut, serta menuangkan air dari teko yang berada di nakas samping tempat tidur, dengan membaca bismillah dia pun menuangkan garam yang tinggal setengah itu kedalam air tersebut hingga habis dan mengobok-obok air tersebut dengan tangan nya. Tanpa basa basi lagi air tersebut di tuang perlahan kedalam mulut Nafisa, setelah menuang air tersebut dalam hitungan 3 detik dia akan terbangun.


1


2

__ADS_1


3


BYUURR....


Nafisa pun bangun dengan terbatuk-batuk, lidahnya keluh dengan rasa asin yang menyengat dikerongkongan nya.


"Uhukkk... uhukkk...huweeekkk..."


"Alhamdulillah bangun ya allah." ucap Refan dengan tanpa dosa menaruh gelas tersebut di nakas dia bersyukur idenya ternyata berhasil.


Nafisa pun melotot tajam ternyata ulah kakaknya yang super nyebelin, sungguh cara membangunkan yang sangat tidak manusiawi masak orang lagi asik tidur di kasih air garem! dikira orang abis diare apa ya.


"Apa melotot-melotot! mau kakak colok matanya biar keluar!" sengit Refan.


"Kakak jahat ihh! bangunin nya ngga manusiawi banget! itu tadi apaan asin kecut sepet-sepet lagi rasanya." dumel Nafisa merasai lidahnya yang masih kelu akan rasa nano-nano tersebut.


Refan pun tertawa tanpa dosa melihat ekspresi adiknya yang merem melek sambil meludah sembarangan.


"Itu barusan apa ihh! udah asin sepet pula, Nafisa aduin ibu ya! kakak udah racunin Fisa!" ucapnya masih meludah sembarangan dan ingin muntah kembali.


"Habis kamu tidur dah kek kebo! ngga liat apa itu jam udah hampir jam 10. Kak Zidan marah noh kamu sebagai pelatih ngga bertanggung jawab banget sama santri nya, udah gitu tidur di kamar cowo lagi hmm!!" jawab Refan melotot sinis.


"Hah?! udah jam 10?!" ucap Nafisa pun tersadar, dia pun melirik jam yang berada di nakas samping tempat tidur dan ternyata benar hanya kurang 5 menit lagi sudah jam 10 sedangkan dia sendiri belum apa-apa.


Tapi tunggu, kamar cowo? fikir Nafisa diapun mengedarkan pandangan pada seluruh kamar dan memang benar adanya, ternyata dia sudah tertidur cukup lama di kamar laki-laki


glekk


Aku pun menatap kak Refan dengan cengengesan, berusaha sebisa mungkin memasang wajah seimut mungkin agar dimaafkan.


"Apa liat-liat! ngga usah sok melas kakak tau isi otak kamu apa!" ucap Refan seketika mematikan urat nadi Nafisa.


"Bodoh...bodoh kenapa dah gue ceroboh banget, udah tau punya kakak modelan kucing garong semua kenapa gue malah seenaknya rebahan ditempat tidur cowo!" batin Nafisa merutuki kebodohannya sendiri.


Akhirnya Zidan pun datang dan sudah melihat adiknya bangun dari tidur wenakk nya, dengan keadaan sedang di sidang oleh Refan.


Alis Zidan pun menukik tajam setajam silet, dengan menatap lurus kearah Nafisa di liriknya jam di tangan nya sudah pukul 10 bagaimana pun dia harus berangkat dikarenakan jikalau anak santri telat mereka akan di diskualifikasi dari pertandingan.


"Huff, sebaiknya kita berangkat sekarang juga Fan. Untuk masalah Nafisa biar jadi urusan nanti sepulang dari pertandingan!" ucap Zidan tenang tapi berhasil membuat bulu kuduk Nafisa berdiri.


"Habis sudah hamba ya Allah" batin nya


"Dan kamu! segera siap-siap, kakak berangkat duluan nanti kamu nyusul pake motor! sebagai hukuman karena udah lalai terhadap tanggung jawab yang kakak kasih!" ucap Zidan kembali dengan tegas kepada Nafisa.


"Iya kak, nanti Fisa nyusul." jawab ku menunduk tidak berani menatap wajah sangar kedua kakak ku ketika sedang berubah menjadi hulk.


Akhirnya Zidan Refan dan kedua kakak ipar Nafisa pun berangkat dengan memakai mobil pesantren menuju pertandingan. Nafisa pun turun dan bersiap-siap untuk menyusul kedua kakaknya tersebut dengan memakai motor legendaris nya yang selalu menemaninya selama beberapa tahun ini.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Abi...umi...Zahra berangkat dulu ya nyusul kak Zidan." ucap ku menyalami umi Farida dan abi Khalid.


"Iya kak hati-hati dijalan ngga mau dianter aja kah sama mang asep?" tawar umi.


"Ngga usah umi Zahra berangkat sendiri aja ngga apa." ucap ku tersenyum.


"Ya sudah hati-hati dijalan ya kalau ada apa-apa hubungi umi atau kakak mu, umi bakalan kangen sama kamu sayang. Sering-sering main kesini ya biar umi ngga kesepian." jawab umi memeluk ku.


"Insah Allah umi kalau Zahra libur kuliah bakalan kesini main." ucap ku dengan membalas pelukan umi Farida.


"Zahra berangkat dulu ya umi, abi...assalamu'alaikum" pamit ku dengan mulai melajukan motor keluar dari gerbang pesantren.


Karena terburu-buru Nafisa sampai melupakan barang berharga nya dikamar tadi, buku dengan desain dan bentuk lucu seperti karakter Nafisa. Yang dibelikan khusus hadiah kado ulang tahun nya dari Refan sang kakak.


Tepat setelah Nafisa keluar dari pesantren, datang sebuah mobil hitam dengan berisikan 3 orang didalamnya memasuki gerbang pesantren. Mereka pun turun dari mobil menuju rumah umi Farida.


"Assalamu'alaikum..." ucap mereka serempak.


"Waalaikumsalam..." saut umi Farida dari dalam.


"Eh, Khodijah?" seru umi Farida senang, melihat kedatangan sahabat masa kecilnya bersama keluarga nya.


"Farida? kamu masih ingat ternyata." jawab umi khodijah tersenyum.


"Masya Allah, bagaimana aku bisa lupa dengan sahabat ku sendiri yang sudah seperti keluarga bagi ku." ucap umi Farida memeluk umi khodijah senang.


"Aku kira kamu sudah lupa kepada ku khodijah" ucap umi Farida kembali.


"Bagaimana bisa aku melupakan sahabat kesayangan ku ini hmm!" jawab umi Khodijah tersenyum.


"Kalau begitu mari masuk..." ucap umi Farida mempersilahkan mereka masuk.


"Assalamu'alaikum kak..." ucap kyai Akmal menyalami dan memeluk abi Khalid.


"Waalaikumsalam saudara ku, bagaimana kabar mu sudah lama rasanya tidak berjumpa kalian." jawab abi Khalid senang.


"Alhamdulillah kabar baik kak." saut kyai Akmal, walau mereka hanya sekedar sahabat masa kecil tapi tali silaturahmi mereka layaknya kakak beradik.


"Eh ini? Rayyan kan?" tanya abi Khalid.


"Na'am abi ana Rayyan" ucap nya tersenyum.


"Masya Allah, kamu semakin tampan nak mirip seperti abi mu." ucap abi Khalid tertawa pelan. Dan semua orang pun tertawa mendengar penuturan abi Khalid terhadap Rayyan.


Akhirnya mereka pun berbincang serta melepas kangen satu sama lain

__ADS_1


__ADS_2