
"Barang nya aman kan bu? ngga ada yang hilang kan?!" tanya Nafisa.
"Alhamdulillah tidak nak, kamu Nafisa kan?!" tanya Khodijah memastikan bahwa didepannya memanglah Nafisa yang selama ini ia cari.
"Ehm iya bu, kenapa memang nya?" tanya ku pasalnya aku tidak pernah melihat nya, ntah memang gue yang pelupa ya.
"Kamu ngga ingatkah? ini umi Khodijah" ucap nya meyakinkan Nafisa.
"Umi Khodijah hmm...." jawab ku berfikir seperti pernah dengar tapi dimana ya?
Suara ponsel pun membuyarkan Nafisa yang tengah asik berfikir di sana tertera jelas nama Refan yang khusus dibuat untuknya dari Nafisa.
"Abang bear🐻💛"
"Bapak nya beruang ngapain telfon dah!" ucap ku memutar bola mata malas.
"Assalamu'alaikum kak ada apa?" salam ku baru saja aku mengucapkan salam, dia sudah mengamuk merapalkan semua mantra karena aku yang telat pulang ke rumah. Ku lirik jam di ponsel sudah hampir jam 7 malam aku belum pulang ke rumah dan tidak mengabari orang rumah sama sekali.
"Duh mampus gue, pulang-pulang di gantung dah keknya gue nih." ucap ku menepuk keras jidat ku.
Aku pun kalang kabut ingin segera pulang kalau tidak maka uang jajan ku yang akan menjadi taruhannya nanti.
"Aduhh tadi siapa? oh iya umi Khodijah temennya umi Farida ya?!" ucap ku bingung mencari tas ku.
"Iya nak, alhamdulillah umi akhirnya bisa ketemu kamu disini setelah sekian lama." ucapnya
"Ck, gue kudu bilang apa dah ya allah nyuekin orang tua dosa tapi kalau gue diem disini mulu yang ada gue yang kena gantung ntar dirumah!" batin ku kebingungan.
"Anu umi... aduhh maaf sebelumnya nanti kita lanjut lagi ngobrolnya lain waktu Zahra harus pulang kalau ngga nanti bakalan disuruh beresin kandang ayam lagi ntar!" ucap Nafisa tak enak hati. Khodijah pun mengerutkan dahi, dilihat memang sudah sangat malam mungkin dia dicari oleh keluarganya.
"Baik nak, tapi umi bisa ketemu lagi kamu dimana nanti?" tanya Khodijah.
"Ah iya bentar umi." jawab Nafisa membongkar isi tas nya demi mencari kartu nama miliknya, tapi yang di cari-cari ngga mau ketemu-ketemu kan asem jadinya lagi genting kek gini pake ngilang lagi.
"Ck, tuh kartu buset dah pake acara kagak ketemu lagi. Ahh iya ada di dompet bego!!" gumam nya merutuki kebodohannya sendiri.
"Ini umi, kalau umi perlu apa-apa atau mau ketemu itu nomer telfon Fisa nanti hubungin Fisa aja kapan. Kalau untuk soal mau ketemu dimana di toko Fisa juga boleh umi" ucap ku setelah merapikan tas dan bersiap akan pergi, baru aku ingin menaiki motor umi kembali menghentikan ku dan dia pun memberiku sebuah satu kantong kresek penuh dengan jajanan didalamnya.
"Ini sayang kamu bawa pulang makasih udah bantu umi sama abi ya!" ucap Khodijah dengan memberikan Nafisa satu kresek penuh berisikan jajanan tradisional berlebelkan toko makanan tradisional.
__ADS_1
"Eh umi, ngga usah ngga papa Fisa nolong umi sama abi ikhlas kok. Buat anak umi aja ngga apa" ucap ku menolak karena memang niat ku menolong mereka semata-mata karena kemanusiaan bukan imbalan semata.
"Ngga papa sayang, ambil aja umi tadi memang beli lebih untuk dirumah juga mohon di terima ya sebagai tanda ucapan terimakasih umi." kembali Khodijah memaksa Nafisa untuk mengambil bingkisan tersebut mau tidak mau Nafisa menerimanya, bukan sematan karena imbalan tapi karena menghargai pemberian orang.
"Alhamdulillah syukron umi..." ucap ku menerima pemberian umi Khodijah.
"Kalau gitu Nafisa pamit dulu ya umi, abi..." ucap ku mengambil tangan umi Khodijah dan salim takzim lantas pamit dan meninggalkan masjid tersebut.
"Sama-sama sayang, umi ngga sabar buat persatukan kalian berdua semoga allah meridhoi hubungan kalian Aamiin..." gumam Khodijah tersenyum menatap kepergian Nafisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menempuh beberapa jam Nafisa pun sampai dirumah dia memarkirkan motornya didalam dan menguncinya dengan benar, ditatap nya rumah sangat terlihat sepi dia berinisiatif mengendap-endap agar tidak ketahuan.
"Rumah sepi banget kak Refan dah tidur kali ya?!" fikir ku.
Aku pun membuka pintu dengan perlahan dan langsung menuju lantai atas belum aku menaiki tangga tas ransel ku sudah di tarik oleh seseorang yang ku tau dialah bapak nya beruang.
"Ekhem!!"
"Hehehe....kakak belum tidur?!" tanya ku basa basi.
"Ngga punya jam kah?!" tanya Refan kembali dengan aura yang sangat menakutkan.
"Jawab!" ucap Refan dengan nada dingin dan tajam.
"Hm... tadi pergi ke masjid dulu sholat magrib kak, tapi Fisa istirahat dulu sebentar karena capek. Tapi waktu mau pulang, ada ibu-ibu kecopetan suaminya sampek pingsan karena di pukul itu copet." jelas ku dengan kepala yang menunduk dan memainkan jari telunjuk ku, jujur saja jikalau kakak ku sudah mode warning maka mereka lebih seram ketimbang copet tadi.
"Gua mending lawan copet dah ya allah, mau 15 orang juga ngga apalah ketimbang harus di sidang sama kak Refan apalagi kalau kak Zidan tau tamat udah riwayat gue jadi adek!" batin ku menjerit.
"Terus? kamu berantem sama tuh copet?!" tanya Refan kembali dengan alis menukik tajam, pasal nya jikalau Nafisa sudah berkelahi dengan preman Refan sangatlah takut, karena kemampuan Nafisa yang memang sudah lama tidak di latih lagi olehnya dan Zidan mereka takut adiknya kenapa-kenapa nantinya.
"Iya kak..." jawab Nafisa di genggamnya sangat erat plastik pemberian Khodijah tadi.
"Hufff.... lain kali kalau ada apa-apa telfon kakak! kamu biasanya pulang cepet tadi malah lewat dari jam biasanya." omel Refan, Nafisa pun mengangguk menurut karena memang dia juga salah karena lupa mengabari orang rumah kalau dirinya akan pulang telat.
"Ada yang luka ngga? coba sini liat!" tanya Refan memutar-mutar badan Nafisa layaknya gangsing.
"Syukur deh, itu plastik apa?" tanya Refan mulai kepo.
__ADS_1
"Udahan kan? Fisa mau keatas!" ucap Nafisa dengan tidak menjawab pertanyaan Refan tadi.
"Eh, itu plastik apaan dek!" teriak Refan karena tidak diubsir oleh adiknya.
"Kakak jangan kepo ngga boleh!!" teriak Nafisa dari dalam kamar.
"Sue punya adek!" umpat nya dengan melengos ke kamar nya.
Sedang Nafisa didalam kamar sudah rusuh mencari air minum, untung saja kakak nya percaya dan dia tidak di hukum seperti kemarin lagi. Nafisa pun meminum air hingga tandas hari ini sangatlah melelahkan baginya, dalam waktu dekat diri nya akan melakukan magang disalah satu rumah sakit dan itu memanglah tidak mudah baginya dia sampai dititik ini sangatlah tidak mudah banyak ujian yang dia harus lewati dengan perasaan tertekan, ingin menyerah, menangis dan sebagiannya. Tapi ia selalu percaya bahwa semua makhluk tuhan tidak akan di uji diatas batas kemampuan mereka masing-masing dibalik pahitnya hidup dan harus banting tulang demi bisa membanggakan orang tua memanglah tidak mudah, tapi Nafisa selalu percaya dibalik adanya hujan pasti akan datang pelangi. Dan dibalik banyak nya ujian pasti akan ada kebahagiaan nantinya ntah itu datangnya rezeki, pasangan atau sebagainya.
"Besok gue libur matkul, kebetulan juga besok Cia ulang tahun gue mau ajak dia jalan-jalan kali ya sekalian gue beliin gaun cantik pasti dia cantik banget pake gaun pas ultah. Duh makin gemezz deh gue lama-lama pengen gue jadiin anak, tapi nunggu bapaknya ada dulu. Eh iya kira-kira siapa bapaknya ya, gue ngejomblo udah lama banget dari kecil sampek sekarang kok gue tebak-tebak jodoh gue sultan dubai deh. Kan lumayan memperbaiki keturunan bwahahaha...." ucap Nafisa bermonolog sendiri.
"Hahaha ya allah udah gila gue..." ucap ku merutuki kegilaan ku sendiri halu tapi ketinggian banget.
Sedang disisi lain Rayyan merasakan ada orang yang sedang merindukannya, sehingga perasaan aneh merasukinya dengan tiba-tiba perasaan bahagia yang dia tidak tau bahagia karena apa.
"Aa kok senyum-senyum sendiri atuh mamang jadi takut atuh aa." ucap mang kosim selaku supir kepercayaan abi dan umi nya.
"Ngga tau atuh mang tiba-tiba aja pengen ketawa, ngga tau sebab nya apa." jelas Rayyan bingung.
"Ciee, pasti lagi di rindukan seseorang nih sih aa." goda mang kosim, Rayyan pun menggelengkan kepala rasanya aneh saja jikalau benar memang ada lantas siapa orangnya?
"Nafisa Az-Zahra..." gumam Rayyan sambil tersenyum simpul, ntah naluri dari mana dia selalu ingin menyebutkan nama itu berulang-ulang kali.
Rayyan pun sampai dia pun turun dari mobil dan membuka pintu dengan mengucapkan salam, didalam sudah ada abi nya yang di periksa oleh dokter yang diminta datang oleh umi nya.
"Assalamu'alaikum..." salam Rayyan.
"Waalaikumsalam..." jawab semua orang didalam.
"Abi kenapa bi?" tanya Rayyan menaruh tas nya di sofa dan mendekati ayahnya.
"Abi ana kenapa dok? apakah sakitnya kambuh lagi?!" tanya Rayyan khawatir.
"Kyai Akmal tidak papa nak, dia hanya mengalami luka ringan saja yang disebabkan oleh benturan keras." jelas dokter.
"Luka? benturan keras??" tanya Rayyan bingung.
"Nanti umi jelaskan nak, sekarang biarkan abi mu istirahat dulu dan kamu sebaiknya bersih-bersih saja dan makan umi sudah siapkan makanan di meja untukmu." jawab Khodijah membiarkan putranya untuk istirahat dan menceritakan nya nanti.
__ADS_1