
Pagi ini aku bangun lebih awal karena memang jadwal matkul hari ini sedikit terlebih lagi aku mendapatkan info dari sahabat absurd ku bahwa hari ini pak rudi tidak mengisi matkul dikarenakan sedang berhalangan. Pak rudi adalah dosen yang terkenal killer di unesa surabaya ini, jikalau terlambat sedikit atau membuat kesalahan maka sudah dipastikan hukuman pun melayang.
Kedua kakak ku pun sudah pulang kerumah mereka masing-masing, sudah lama mereka sering menginap disini karena kejadian dulu mereka sangat over protective terhadap ku. Apalagi soal pacar, ketiga sahabat laki-laki ku pun tidak lepas dari pengawasan kedua kakak ku. Heran saja kemana-mana aku selalu diikuti barang ke kamar pun mereka selalu kepo, kalau sudah tidak tahan akan tingkah mereka ibu lah penyelamat ku dengan sedikit drama queen dihadapan ibu maka kedua kakak ku pun langsung tunduk dan tidak membantah.
"Ibu..." rengek ku dengan menenteng gitar kesayangan ku.
"Iya kenapa nak?"
"Hari ini Nafisa izin pulang telat ya!" ucap ku meminta izin kepada ibu, belum ibu berucap kak Refan sudah memotong nya.
"Mau kemana?? ke kampus ngapain bawa gitar?mau ngamen? atau mau tebar pesona biar di puji semua cowo!" tanya nya dengan tatapan tajam, bahkan jikalau ku letakan kertas di depan mata kak Refan mungkin kertas itu sudah sobek dibuat nya karena saking tajamnya.
"Ish bisa ngga sih ngga nuduh sembarangan!" ucap ku merengut.
"Kakak ngga nuduh kok fakta! terus kalau bukan karena itu mau ngapain segala bawa gitar ke kampus?!" seru Refan dingin. Bahkan es batu saja kalah dingin oleh nada bicara nya kepada Nafisa.
"Huff gini deh kalau minta izin sama ibu pas ada kak Refan, tahun dinosaurus baru ntar baru kelar! cuman bawa gitar aja urusannya panjang banget ya Allah, lain kali gue bawa panci aja sama spatula ya Allah biar dikira mau masak di kampus sekalian!" benak ku menjerit frustasi.
"Gini nih punya kakak yang sangat protective semuanya ditanyain ngga sekalian no sepatu pak rt berapa ukuran wc pak rw berapa meter!" dumel ku.
"Ngga usah sok imut biar dikasihani! jawab dulu pertanyaan kakak atau ngga usah kuliah sekalian!" seru Refan kejam. Muka Nafisa bukan lagi terkejut melainkan sudah seperti sayur sisa kemaren asem, lepek,kecut.
"Ibuu...."ucap Nafisa menoleh menatap ibu nya dan memasang wajah memelas biar dikasihani.
"Sudah sudah, Refan duduk nak jangan gitu dengerin ucapan adik mu dulu." seru ibu melerai pertikaian kakak beradik itu.
"Nafisa mau izin kemana nak? kenapa bawa-bawa gitar juga ke kampus kan sekarang jadwalnya pak rudi memang nya tidak akan kena hukum?" tanya ibu lembut.
"Pak rudi tidak masuk bu, beliau sedang izin cuti karena berhalangan." ucap ku menunduk dengan nada bicara pelan, jujur saja aku sudah seperti akan di bunuh oleh kakak ku sendiri melihat tatapan nya saja aku sudah kesulitan untuk bernafas.
__ADS_1
"Terus kenapa bawa gitar?" tanya Refan
"Nafisa mau izin pulang telat karena mau ke panti asuhan kak sama temen-temen buat ketemu Cia, dia udah beberapa kali telfon Fisa terus katanya kangen mau main sama Fisa. Kalau untuk masalah kenapa bawa gitar, Fisa sengaja bawa gitar buat ngehibur mereka, kan ngga mungkin Fisa ngehibur mereka sambil jungkir balik atau main lempar-lempar bola api yang ada nanti tulang Fisa ngga balik gimana kalau kulit Fisa luka kena api gimana kan Nafisa bukan ahli sirkus!" ucap ku memainkan kedua tangan telunjuk ku.
"Pfff..." ibu dan ayah sudah mengulum bibir mereka masing-masing selalu begini jikalau ada drama meminta surat izin kepada Refan ataupun Zidan, anak perempuan memang lah beda jikalau anak yang lain akan meminta izin dengan nada bicara keras atau melawan kepada kakaknya maka beda hal nya dengan anaknya yang satu ini dia akan meminta izin dengan seribu kata absurd nya kepada sang kakak.
Refan yang mendengar penuturan adiknya menggelengkan kepala, adiknya memang kurang kadar kewarasan nya, bahkan jauh dari mata waras kalau sudah menyangkut hal seperti ini.
"Ya sudah, kakak izin kan tapi jangan terlalu malam! kalau sampai terlalu malam kamu tidur diluar nanti bareng nyamuk sama curut!" ucap nya mutlak syarat akan perintah.
"Yahh, ngga mau bobo sama curut kak." ucap ku bergidik ngeri jujur saja aku sangat membenci makhluk Tuhan yang sangat menjijikkan itu.
"Cepet makan kalau ngga kakak tinggal nih!" seru nya kejam.
"Sssttt udah makan makan" seru ibu dengan masih menyisakan tawa sambil mengusap air mata putri semata wayang nya, jikalau sudah begini maka Nafisa akan menangis karena tidak bisa menolak ataupun membantah.
Mobil pun berhenti tepat di depan panti, kami semua pun turun. Kedatangan kami semua disambut hangat oleh anak-anak panti terlebih-lebih lagi oleh Rara dia sangat antusias jikalau ada orang yang berkunjung dan bermain bersama mereka.
"Kakak dokter cantik...." seru Rara berlari dan memeluk ku.
"Assalamu'alaikum sayang, Rara apa kabar sayang."
"Waalaikumsalam Rara baik kakak, hmm kakak dokter sama siapa?" tanya Rara berbisik di telinga ku.
"Oh mereka temen-temen kakak sayang." ucap ku juga berbisik kepada Rara.
"Memangnya kenapa?!" ucap ku lagi
__ADS_1
"Temen-temen kakak ganteng-ganteng sama cantik-cantik" seru Rara malu-malu.
"Astaga ya Allah..." ucap ku tertawa.
"Kamu yah, masih kecil udah tau mana yang ganteng sama yang cantik hmm!" ucap ku mencubit hidungnya, dia pun tertawa sambil memeluk ku.
"Heyy kalian kalau bisik-bisik ajak-ajak dong!" seru Cika penasaran sedari tadi.
"Tante kalau kata kakak dokter ngga boleh kepo!" seru Rara meniru ucapan ku dulu kepada Cia. Aku pun tertawa atas penuturan yang dilontarkan oleh Rara bocah berusia 10 tahun itu sangat lah pandai meniru ucapan atau candaan ku bersama Cia.
"Siapa yang ngomong gitu sayang?!" tanya Cika.
"Kakak dokter cantik!" saut Rara dengan polos nya menunjuk ke arah ku. Mereka pun tertawa bersama sambil menggeleng kepala.
"Rara sayang memang nya dokter cantik ngomong gitu sama Rara?" tanya Cika kembali.
"Iya tante, kata kakak dokter cantik ngga boleh kepo nanti kalau kepo hidungnya panjang kayak Pinokio!" saut Rara kembali. Jujur saja perut ku sudah sakit karena tertawa mereka semua menatap ku dengan tatapan mengejek aku tau itu.
"Astagfirullah...Rara Cia kemana sayang?" tanya ku merendam rasa geli itu.
"Cia ada didalam kakak." seru Rara senang.
"Ya udah kita masuk yuk, kakak bawa jajanan kesukaan kalian kita makan bareng-bareng yuk!" ucap ku menuntun Rara dan yang lain untuk masuk.
"Ssstt Fisa..." seru Cika berbisik.
"Iya kenapa Ka?!" tanya ku.
"Gue mau tanya kira-kira lu dapet kamus dari mana kalau orang kepo idung nya bisa panjang kayak Pinokio?!" tanya Cika menahan tawa nya.
__ADS_1
"Hah? hahaha...barusan dapet ilham dari kang somay kalau orang kepo idungnya bakalan panjang!" ucap ku ngasal tawa mereka pun meledak karena ucapan ku, aku sendiri pun geli atas ucapan ku sendiri.
"Ha ha ha...Suee @njayy jadi tuh kamus dapet dari kang somay!" seru Cika tertawa terpingkal pingkal.