
Keadaan Nafisa pun semakin membaik,selepas kejadian dirumah Anita. Anita pun sekarang tengah menjalani hukuman nya Syifa sudah lama memutuskan hubungan dengan Ryan. Dan Anita pun sudah tidak mau menerima Ryan lagi.
Tapi, usaha toko Nafisa pun belum begitu berkembang pesat akibat kejadian kabar yang tidak benar adanya. Beberapa karyawan lama nya mengundurkan diri, karena alasan takut mereka ikut di seret juga dalam kasus itu. Hanya ada beberapa karyawan saja yang masih bertahan dengan Nafisa sedang tokonya tetap lah sepi dan belum berkembang lagi. Uang tabungan nya juga hanya tinggal beberapa lagi, karena sudah di bayarkan pendaftaran semester awal kuliah nya.
Dia tetap bersabar walaupun sudah di terpa begitu banyak badai, kedua kakaknya selalu memberinya support agar tidak menyerah lagi untuk kedua kalinya.
"Heyy...kok ngelamun aja sih!" seru Zidan mencubit hidung adiknya yang pesek itu.
"Ish kak Zidan! ngagetin aja!" ucap ku menepis tangan Kak Zidan.
"Ck, neng cantik ngelamun terus ntar kesambet tau neng!" goda Zidan dengan memetik gitar kesayangan nya.
Aku pun menoleh melihat kak Zidan sudah dengan posisi duduk dengan gitar berada di pangkuan nya. "Kak Zidan ngapain bawa-bawa gitar?!" tanya ku penasaran karena sudah jarang sekali aku melihat nya memegang gitar lagi. "Mau ngamen!" seru nya memutar bola mata malas.
"Hahaha...kakak tuh yah ngga cocok tau ngamen!" tawa ku.
"Terus, cocoknya jadi apa?!" tanya Zidan memetik senar gitar tersebut sambil memainkan nada lagu.
"Cocoknya tuh jadi tukang sol sepatu! ha ha ha..." ucap ku melompat dari ranjang menghindari amukan kingkong yang lagi kelaperan.
Zidan pun melotot mendengar penuturan adiknya tersebut "Suee anjay punya adek! ganteng gini di bilang tukang sol sepatu njirr!" seru nya kesal lantas menaruh gitar tersebut dan mengejar adiknya yang kurang asem itu. Mereka berdua pun berlarian kesana kemari serta tertawa bersama mengambil bantal dan guling dan saling melempar bantal satu sama lain.
FLASHBACK OFF
"Gitu deh cerita nya huff..." ucap ku menghelah nafas lelah. "Akibat kejadian itu toko ku masih sepi sampai sekarang walaupun korban dari kue ku itu sudah minta maaf tapi tidak merubah apapun untuk perkembangan toko ku. Beberapa karyawan ku banyak yang mengundurkan diri karena berita yang tidak benar adanya,mereka semua takut kalau harus mereka juga yang ikut di seret polisi." lanjut ku lesu. Mereka semua paham apa yang aku alami, akhirnya mereka pun menganggukkan kepala dan saling pandang satu sama lain.
"Ok, gini deh kamu butuh uang berapa buat kembangin toko kamu lagi?!" tanya Rendi. Akupun mendongak "Kalau ku hitung-hitung 3jt cukup sepertinya untuk membeli bahan-bahan dan dekorasi kue,sisanya bisa ku buat bayar gaji karyawan dan akan ku tambah dengan uang tabungan ku sendiri insah Allah cukup." benak ku.
__ADS_1
"Hm... 3jt cukup deh insah Allah buat beli bahan-bahan sama dekorasi kue selama sebulan." ucap ku sudah menghitung semuanya.
"Terus kata nya kamu mau ambil karyawan lagi? serius cukup 3jt?!" tanya Alvin.
"Bener juga sih, tapi kan itu urusan nanti aku yang akan bayar mereka pakai gaji ku yang kemaren cukup lah untuk mereka." benak ku.
"Ngga usah vin segitu udah cukup kok insah allah.." ucap ku tersenyum.
"Okelah, no rekening kamu berapa Fisa?!" seru Alvin dan diangguki yang lain. Tunggu sebentar kenapa mereka menanyakan card ku apakah?
"Bentar kalian mau ngapain?!" tanya ku.
"Nafisa sayang...bebz ku yang blaem-blaem...kita mau bantu kamu, kembangin toko kamu secantik mungkin masalah uang kamu ngga usah khawatir kita ada buat kamu!" seru Cika memeluk ku. Jujur saja hati ku tersentuh begitu sayang nya mereka pada ku, sedangkan aku sendiri belum begitu percaya kepada mereka kemaren-kemaren, berdosa banget aku udah suudzon kenapa mereka tapi nyatanya mereka sayang banget sama aku ampuni hamba ya rabb...
"Gimana? berapa nomor nya?!" tanya Rendi.
"Ish ngga boleh ngomong gitu, kita bantu kamu ikhlas kok tanpa mengharapkan imbalan apapun karena seorang sahabat akan membantu temannya dan akan selalu ada dikala mereka susah tanpa mengharapkan uang atau hadiah sebagai gantinya!" seru Cika memeluk ku. Aku tersentuh oleh perkataan Cika ternyata dugaan ku salah terhadap mereka, karna kejadian lampau hati ku sangat susah untuk membuka hati kepada semua orang.
"Yuk ahh ngga usah sedih-sedih lagi, kita kan sahabat suka duka kita lalui bersama! udah ahh gua laper nih..." seru Cika memelas.
"Buset dah, baru juga lu makan mie tadi Ka sekarang dah laper lagi. Itu perut apa gentong!" saut Rendi menyebalkan. Tanpa di duga Cika membuka sepatu nya dan memukul Rendi dengan sepatunya sendiri.
"Lu kalau ngomong sekate-kate ya Ren, dibilang gentong lagi ihh..." seru Cika terus memukul Rendi tanpa ampun sedang sih empunya mengaduh sambil tertawa, baginya menggoda Cika sangat lah menyenangkan.
"Aduh...aduh...ampun Ka hahaha...Ka aduh...ya lagian lu baru juga makan mie barusan sekarang dah laper lagi sih! tuh mie pergi kemana dah." dumel Rendi sambil terus tertawa karena di gelitik oleh Cika. Karna sudah gemas dipukul tak henti-henti oleh Cika akhirnya Rendi menangkap tangan Cika dan mengunci badan Cika oleh tangannya.
"Rendi s@bleng! lepasin gue ngga!" seru Cika berteriak.
__ADS_1
"Bisa ngga sih lu diem,ngga usah teriak-teriak bukan hutan! Lama-lama gua cium juga lu!" saut Rendi sudah sangat gemas oleh tingkah Cika. Kami yang melihat hanya menggelengkan kepala mereka memang seperti itu kalau sudah ketemu sudah seperti gukguk dan kucing! jauh dari kata akur.
"Huwaa...lu gila Ren lepasin gua ngga! huwaa mama...tolong Cika ma...Cika mau dilecehkan sama om-om gilaa!" seru nya terus berteriak dan semakin kencang.
"@njimm dikatain om-om gila njirr!" umpat Rendi karena sudah dibilang om-om gila, ganteng kek gini di bilang om-om benak nya.
"Hahaha....om-om ngga waras, tampang lu emang kek om-om hidung belang Ren hahaha...." seru Miko bertos dengan Alvin.
"Njirr! kalian semua mah sama gua gitu! ya Allah kenapa sih dde ganteng ini selalu di zholimin mulu!" seru Rendi meratapi nasib nya di kerjain dan di goda habis-habisan oleh temannya sendiri.
"Btw pulang dari kampus kita nongki-nongki cantik yuk!" ajak Cika.
"Boleh, aku lagi mumpung ngga ada jadwal di toko." ucap ku. Mereka pun senang karena memang aku jarang sekali mau ikut jalan-jalan atau sekedar cuci mata bersama mereka karena padat nya jadwal matkul dan toko yang harus ku urus.
"Oh ya, kalian minggu depan sibuk ngga? soalnya aku mau bawa kalian dan kenalin kalian sama seseorang!" ucap ku antusias mengajak mereka untuk bertemu Cia. Karena bidadari penyemangat ku dari kemarin terus saja menanyakan ku, kapan aku akan main kesana lagi.
"Hm... keknya ngga deh, kita ngga ada jadwal balap minggu depan lagi pun minggu depan jadwal matkul sedikit." jelas Alvin.
"Boleh deh memang nya kamu mau bawa kita kemana Fisa?!" tanya Rendi penasaran. Bukannya Nafisa yang menjawab akan tetapi Cika yang menyaut dengan nada menyebalkan.
"Ngga usah kepo! inget kepo memperpendek umur!" seru nya memutar bola mata malas.
"Njirr! amit-amit gua belum kawin Ka!" saut Rendi kesal lantas akan menyerang Cika lagi. Kami semua tertawa atas penuturan yang diberikan oleh Cika.
"Inget Ren! ngga usah kepo kalau lu masih mau kawin!" seru Miko menakut-nakuti Rendi. Aku pun tertawa melihat kepolosan Rendi, dia langsung percaya ketika Cika berucap tahayul seperti itu.
"Emang bener ya, kepo bisa memperpendek umur." benaknya.
__ADS_1
"Ya Allah kalau emang iya gua ngga akan kepo lagi dah, amit-amit gua belum married masak dah koit dulu gara-gara kepo urusan orang!" seru nya menggidikan bahu. lama-lama kalau dibayangkan ngeri juga, fikirnya lantas menyusul kami semua.