Dokter Manis Itu Sahabat Ku

Dokter Manis Itu Sahabat Ku
Latar Belakang Alvin


__ADS_3

Sejak kejadian semalam, kejadian itu selalu berputar di kepala ku apakah benar rumor yang ku dengar dari sebagian siswa bahwa Alvin adalah anak nakal. Karna aku sangat gelisah aku berinisiatif untuk bertanya kepada yang bersangkutan langsung."Pagi ini aku bersiap-siap untuk pergi ke kampus sepanjang aku bersiap aku selalu tertawa sendiri sudah persis seperti pasien rumah sakit jiwa."fikir ku. Karna mengingat kejadian-kejadian konyol bersama Cia baru kemaren aku bertemu dengan nya aku sudah sangat merindukan bocah kecil itu.


"Nafisa berangkat dulu ya bu, Assalamu'alaikum." ucap ku dan salim takzim.


"Waalaikumsalam, belajar yang rajin ya nak jangan banyak pikiran pasti ada jalan untuk toko kue mu berkembang lagi.." kata ibu memberiku semangat. Aku pun tersenyum ibu memang selalu mengerti akan keadaan ku tanpa aku memberi tahu nya sekali pun naluri seorang ibu memang kuat aku akui itu.


Keadaan di dalam kelas cukup ramai dengan kericuhan yang mereka buat. Tapi tunggu dimana mereka semua? aku lantas pergi keluar untuk mencari mereka disepanjang koridor kampus banyak siswa siswi membicarakan kelakuan buruk Alvin dan teman-teman apakah itu benar adanya. Didepan sana tepat nya di lapangan basket sudah ramai di kerubungi oleh para siswa siswi, aku bertanya-tanya ada apa disana kenapa bisa seramai ini dan kenapa mereka semua tidak masuk kelas masing-masing.


"Ini kenapa rame banget ada apa didepan?!" ucap ku mencoba melewati para siswa siswi tanpa ku duga didepan mata ku sendiri aku melihat kelima sahabat ku dihukum oleh pak dekan termasuk ada Bobby dan teman-teman nya.


"Kalian semua saya hukum!! karna sudah membuat keonaran dalam kampus dan juga membawa minuman haram kesini!" kata pak dekan dengan sangat kesal.


"Pak semua itu ngga bener saya dan teman-teman di fitnah!" debat Alvin dan yang lain berusaha membela diri. Aku meringis melihat wajah teman-teman ku terdapat banyak luka lebam yang sudah membiru termasuk Bobby dan yang lain. Akhirnya Aku memberanikan diri untuk bertanya, walaupun bagaimana pun mereka selalu bersama ku dan membantu ku ketika aku di sakiti oleh Bella atau Bobby.


"Permisi...maaf sebelum nya pak mereka semua salah apa kenapa mereka dihukum seperti ini?!" tanya ku karna mendengar aku bertanya seperti itu semua siswa seperti menatap ku aneh sedangkan pak dekan menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan juga.


"Nafisa?!" gumam Alvin dan yang lain.


"Mereka semua bapak hukum karna sudah membuat keributan di kampus serta membawa minuman haram kedalam kampus ini!" jelas pak dekan.


"Tapi apakah semua itu benar ada nya pak?!" lanjut ku bertanya,aku pun memberi saran untuk pak dekan mencoba memeriksa secara teliti terlebih dahulu. "Saran saya coba di periksa dulu kebenaran nya pak, takut nya memang ada yang sengaja buat menfitnah Alvin dan yang lain bukan karna saya ingin memihak Alvin tapi ada baiknya lakukan razia pak jadi kita tahu siapa yang sudah menuduh Alvin dan yang lain..." ucap ku. Jujur saja tangan ku sudah dingin dibuat nya berdebat dengan pak dekan seperti akan berdebat dengan presiden saja.


"Usulan kamu ada benarnya Nafisa Bapak akan melakukan razia bersama Bu Susi." ucap pak dekan


"Akhirnya negosiasi gue berhasil ya Allah habis dari sini gue tumpengan ntar baru pertama kali seumur-umur gue ngelawan sama atasan kampus syukur-syukur ngga di gorok gue." gumam ku sebisa mungkin tersenyum dalam keadaan bermandikan peluh. Aku bernafas lega semua teman-teman ku tidak jadi di hukum, semua para siswa siswi di kumpulkan di lapangan basket ada guru yang mengawasi mereka sedangkan Pak dekan dan Bu Susi melakukan razia seluruh kelas.


"Kalian ngga apa-apa kan?!" tanya ku khawatir melihat luka lebam di sekujur tubuh Alvin, Rendi dan Miko.


"Kita semua ngga apa-apa kok Fisa ngga perlu khawatir." ucap Alvin di setujui kedua teman nya.


Sedangkan disisi lain Bobby dan teman-teman nya gelisah dan bingung takut akan aksi mereka diketahui pak dekan. Yups pelaku yang sudah menfitnah Alvin dan dkk adalah Bobby orangnya dia sangat kesal dan benci pada Alvin dari dulu apa yang dia incar selalu Alvin lah yang mendapatkan semua itu sedangkan dia malah di benci semua orang, Alvin dan dkk lah yang selalu menjadi pusat perhatian banyak orang dari dulu dan Bobby sangat benci akan hal itu di kampus ini yang di takuti Genk Alvin dan Genk Bobby karna mereka lah yang sangat mencolok di kampus ini. Karna Pak Dekan masih melakukan razia aku Cika dan Nanda mengobati luka Alvin Rendi dan Miko, cukup lama Pak Dekan pergi dan akhirnya Pak Dekan kembali dengan membawa beberapa barang bukti seperti rokok, minuman haram itu serta lain sebagainya. Bisa di tebak dari air muka keduanya bahwa pelaku sebenarnya sudah di temukan.

__ADS_1


"Alvin, Rendi, Miko dan kamu Bobby ikut saya ke ruangan." Perintah Pak Dekan.


"Baik Pak.." ucap mereka semua.


"Sisanya yang tidak saya sebut silahkan kembali ke kelas masing-masing!" lanjut Pak Dekan dan akhirnya semua bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Sedangkan aku ragu untuk kembali ke kelas melihat ketiga teman ku kondisi nya mengkhawatirkan.


"Kalian bertiga balik aja ke kelas kita semua ngga apa-apa ngga usah khawatir." ucap Alvin sebisa mungkin tidak membuat kita bertiga khawatir. Aku Cika dan Nanda kembali ke kelas dengan perasaan tak enak.


☘️RUANG PAK DEKAN☘️


"Silahkan kalian duduk!"


"Saya sangat menyayangkan akan kejadian ini kamu Alvin dan teman-teman mu sering terkena SP akibat ulah mu yang selalu bertengkar dengan Bobby. Dan kamu Bobby selalu mencari perkara untuk berdebat dengan Alvin, jujur saja saya selaku Dekan di kampus ini sangat malu melihat kelakuan kalian. Saya diam bukan berarti saya tidak tau latar belakang kalian semua, apa kalian tidak kasihan kepada kedua orang tua kalian yang selalu saya panggil untuk kesalahan yang kalian perbuat!" jelas Pak Dekan.


"Dan kamu Bobby. Saya sangat marah karna kamu sudah menuduh Alvin membawa minuman haram ke kampus dan menawari beberapa anak!! Disini sudah terpangpang jelas dilarang membawa minuman haram rokok atau semacam nya kalau untuk di luar kampus terserah kalian karna itu bukan tanggung jawab bapak!" lanjut Pak Dekan memberi mereka semua wejangan. Disisi lain Alvin dan teman-teman sudah menahan amarah mereka karna ulah Bobby nama baik mereka semua di cap jelek oleh semua orang.


"Dengan ini saya akan memberikan kalian semua hukuman sebagai pelajaran untuk kalian. Bahwa jangan pernah sekali-kali bertindak konyol seperti ini karna akan membuat kampus kita di cap jelek oleh Kampus-Kampus lain, Bapak juga malu pada para investor-investor kalau mereka semua tau maka mereka akan mengambil saham-saham yang mereka berikan untuk pengembangan kampus!"


"Saya harap kalian tidak melakukan hal konyol lagi seperti ini yang mengakibatkan nama baik Kampus rusak!"


Jam istirahat pun berbunyi aku dan kedua teman ku berlari menemui teman-teman kami yang habis di ospek Pak Dekan mereka sedang berada di ruang UKS untuk mengobati luka-luka mereka.


"Huhhhh...capek ahh lari-lari kek orang di kejar demit." ucap Cika mengeluh. Aku dan Nanda tertawa sambil mengatur nafas berlari dari kelas ke ruang UKS lumayan melelahkan itung-itung olahraga siang.


"Ha Ha Ha...mayan Ka lari kek gini lemak gue bisa berkurang!" ucap Nanda tertawa aku pun ikut tertawa mendengar penuturan Nanda.


"Emang lemak turun kalau gini mulu mah tiap hari bisa-bisa gue kurus kek triplek anjayyy!" aku dan Nanda tergelak melihat Cika manyun karna penuturan Nanda.


"Hey!! leadist kenapa kalian pada gelud disono weh!" teriak Rendi menertawakan perdebatan unfaedah kami.


"Ck, bawel lu Ren!"

__ADS_1


"Gimana keadaan kalian?!" tanya ku.


"Alhamdulillah abang baik-baik aja kok neng Fisa, kan ada neng yang selalu buat abang kuat!" gombal Rendi dengan mengedipkan matanya kepada ku. Cika menoyor kepala Rendi dan yang lain tertawa sedangkan Cika kesal atas ucapan Rendi yang secara tak langsung menggoda ku.


"Heh!! buaya buntung lu ada Nafisa aja sok manis! giliran gue yang nanya lu maki persis kek ibu tiri!" ucap Cika.


"Abang-abang sejak kapan lu jadi abang cilok?!" lanjut Cika.


"Sirik aja lu Ka ngga bisa apa liat gue bahagia walaupun hanya sedetik!" ucap Rendi memelas.


"Idih jijikkk gue liat lu gitu Ren!"


"Ha Ha Ha...kalian berdua tengkar mulu awas lama-lama jadian!" goda Miko.


"Idih iyuhhh amit-amit gue suka sama kang cilok!" kata Cika bergidik ngeri sambil mengelusi perutnya.


"Idih dia mah bukan selera gue!! masak gue bersanding sama emak-emak rempong kek dia!" ucap Rendi ogah melihat Cika. Aku pun dan yang lain tertawa puas menggoda mereka berdua. Sedangkan kedua pelaku saling menatap permusuhan.


"Hm Vin gue boleh tanya satu hal?!" ucap ku memberanikan diri untuk bertanya kejadian semalam.


"Boleh Fisa tanya soal apa?!"


"Semalam gue liat lo bertiga di bawa polisi, kalian ngelakuin apa emang?!" ucap ku hati-hati.


DEG!!


SKAK MAT!!


"MAMPUS GUE!" gumam mereka bertiga. tapi sebisa mungkin mereka menetralkan suasana.


"Huff oke. Dalam persahabatan harus ada kepercayaan dan kejujuran kan?!" tanya Alvin dan akupun mengangguk.

__ADS_1


"Gue mau jujur tentang latar belakang gue, Rendi sama Miko." ucap Alvin menghelah nafas.


"Tapi jangan disini ya Fisa. Kita bicarakan ini pulang dari kampus kita mampir ke cafe dulu." usul Miko. kami pun setuju dan membicarakan ini semua selepas pulang Kampus.


__ADS_2