
Hari ini adalah hari terakhir Nafisa di rumah sakit dirinya tengah menunggu dokter untuk membolehkan nya untuk pulang, seperti layaknya sekarang dirinya tidak bisa diam walau hanya sekejap. Katanya rumah sakit tidak enak lah ingin cepat kuliah kembali dan sebagai nya banyak alasan Nafisa agar bisa cepat-cepat keluar dari sana.
"Kak, Nafisa boleh pulang kan?" tanya Nafisa dengan gusar.
"Insah Allah tunggu dokternya dulu ya." jawab Zidan.
"Kamu bisa diem ngga sih dek, geli gue liatnya dah mirip cacing kepanasan!" gerutu Refan melihat Nafisa yang tidak bisa diam dengan posisinya.
Nafisa pun nyengir kuda "Hehehe maaf kak... abis nya ngga enak banget lama-lama disini." ucap Nafisa merengut.
"Nafisa pengen cepet pulang ih, kangen masakan ibu ayam goreng sambal matah, telur orak arik sama tumis kangkung huaaa..." ucap Nafisa kembali dengan membayangkan makanan favoritnya yang membuat air liurnya menetes.
"Buset dah yang dipikirin makanan mulu lu dek, ngga bisa apa mikirin luka kamu yang belum sembuh itu. Inget ya kakak ngga mau tau, besok kakak bakalan temuin laki-laki brengsek itu udah berani-beraninya ngelecehin kamu seenaknya. Dan kamu dek, kakak ngga izinkan kamu buat langsung masuk kuliah besok!" seru Refan mutlak syarat akan perintah, amarahnya kembali memuncak setiap melihat luka memar ditubuh Nafisa karena ulah Bobby dan Bella.
"Tapi kak...." ucap Nafisa menggantung perkataannya karena tatapan tajam Refan.
"Dek, untuk hari ini aja kakak mohon sama kamu turutin ucapan kami. Kakak cuman ngga mau kamu kenapa-kenapa lagi karena ulah pria gila sepertinya." seru Zidan lembut mencoba membujuk Nafisa.
Nafisa pun hanya bisa menurut dan tidak mendebat ucapan kedua kakaknya seperti biasanya " Nafisa cuman ngga mau kalian sampai kenapa-kenapa apalagi masuk penjara seperti Nafisa dulu kak." batin Nafisa sedih. Nafisa sangat tau Bobby dan Bella seperti apa, apalagi kedua orang tua Bobby dan Bella dari kalangan teratas ia sangat tau Bobby dan Bella akan mudah bebas kembali dengan adanya jaminan dari orang tuanya sendiri.
Nafisa pun terdiam demi mendengar ucapan Refan dan Zidan, ia hanya tidak mau kakaknya sampai diapa-apakan oleh Bobby dan teman-temannya. Apalagi jika Zidan dan Refan nantinya akan di seret ke kantor polisi, cukup hanya dirinya saja yang merasakan bagaimana hidup di dalam jeruki besi yang dingin tanpa ada orang yang menemani disana.
"Assalamu'alaikum permisi..." seru seseorang masuk kedalam ruang rawat inap Nafisa. Zidan Refan dan Nafisa pun menoleh bersamaan kearah pintu dilihatnya dokter Daffa yang sedari tadi Nafisa nanti-nantikan akhirnya datang juga, setidaknya membuat hati Nafisa terhibur walau hanya sedikit.
Bukannya memeriksa keadaan Nafisa Daffa memandangi Nafisa dengan lekat sambil bergumam tidak jelas.
"Ckckck, pantes si Rayyan klepek-klepek sama nih cewe liat aja bodynya yang bak bidadari nyungsep dari kayangan ke rumah sakit ini." gumam Daffa karena terlalu fokus memandangi wajah Nafisa sampai membuat dirinya salah memeriksa, bukannya tangan Nafisa yang dia cek melainkan tangan Refan sang kakak yang kebingungan apa maksud dari dokter ini. Zidan hanya memandangi adik keduanya yang sudah meringis takut akan jarum suntik.
"Kak buset bantu gue!" panggil Refan ketakutan melihat dokter Daffa hampir salah suntik pasien.
Sedang Nafisa sendiri terpingkal-pingkal melihat penderitaan kakaknya. "Dokter Daffa maaf sebelumnya." panggil Zidan menepuk punggung Daffa untuk menyadarkan dokter itu dari pelet sang adik.
"Ya??" saut Daffa membeo.
"Maaf dok, itu dokter salah pegang tangan. tangannya Nafisa yang ini dok." ucap Zidan memberikan tangan Nafisa yang asli.
"Astaga maaf pak." seru Daffa melepas tangan Refan dan meminta maaf menggaruk tengkuknya tidak gatal malu akibat ulahnya sendiri.
"Hahahaha.... " tawa Nafisa pun meledak seketika.
"Kak, muka kakak udah mirip ikan kurang aer! pucat banget dah kek mumi! hahaha...." ucap Nafisa terbahak melihat muka Refan seperti orang habis keliling lapangan 100 putaran pucat dan keringat diseluruh tubuh nya.
__ADS_1
"Njirr dokter lacnat Nafisa yang sakit kenapa gue yang lu suntik bego!" batin Refan memaki dokter tersebut.
"Ya tuhan dia ketawa gini aja udah manis banget apalagi pas senyum dah, ngga salah sih kalau Rayyan sampek klepek-klepek sama nih cewe semoga aja lu ngga gila bro!" batin Daffa masih menatap lekat Nafisa.
"Maaf ya pak sebelumnya." seru Daffa kembali meminta maaf tidak enak.
"Ya..." jawab Refan singkat.
"Hahahaha....." Nafisa masih saja terus tertawa terbahak-bahak.
"Diem ngga lu dek!" ancam Refan dengan menatap Nafisa dengan tatapan tajamnya.
"Sssttt udah-udah!" ucap Zidan melerai kedua adiknya, perutnya sampai sakit melihat Refan menderita seperti itu.
"Baiklah kalau begitu saya periksa dulu ya..." ucap Daffa dengan melakukan serangkaian pemeriksaan melihat keadaan Nafisa sejauh apa perkembangannya.
Daffa pun selesai melakukan tes dan membolehkan Nafisa pulang dengan syarat Nafisa tidak boleh melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan, untuk masalah trauma nya dokter menyarankan Nafisa untuk melakukan terapi demi bisa menghilang sedikit rasa traumatis nya akibat kejadian lalu.
"Baiklah nona Nafisa boleh pulang sekarang, tapi ingat jangan melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan terlebih dahulu dikarenakan rasa trauma nona belum sepenuhnya pulih." ucap Daffa dengan tatapan mata yang tetap fokus pada wajah Nafisa, tanpa ia sadari diluar pintu Rayyan sudah menatapnya dengan tatapan permusuhan berani sekali dia menatap calon sahabat karib nya sendiri.
"Awas antum Daf keluar dari ruangan ini ana gantung antum!" gumam Rayyan hati nya bergemuruh dadanya terasa sangat panas melihat Daffa kawan baiknya menatap Nafisa calon istrinya seperti itu.
Padahal Daffa hanya menatap Nafisa saja kenapa dirinya harus khawatir sedangkan dirinya telah mendapat restu dari keluarga untuk apa dirinya cemas jikalau Nafisa akan direbut oleh laki-laki lain.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu karena ada pasien lain yang harus saya periksa." ucap Daffa lantas meninggalkan ruang rawat Nafisa.
Baru saja Daffa keluar dari ruangan itu Rayyan sudah menarik kemeja Daffa untuk sedikit menjauh dari ruangan itu, ditatap nya Daffa dengan tatapan permusuhan jikalau bukan karena teman sendiri mungkin nasib Daffa akan sangat tragis.
"Buset dah, dateng-dateng bukannya assalamu'alaikum main narik baju gue aja lu Ray." ketus Daffa dengan merapikan kemejanya yang lusuh karena ulah Rayyan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Rayyan menekan ucapannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Daffa. Tiba-tiba saja dirinya merasakan bahaya yang mengintai dirinya saat ini.
"L-Lu kenapa Ray?" tanya Daffa gemetar melihat perwujudan temannya saat ini yang seperti tidak biasanya.
"Antum sedang apa tadi diruangan Nafisa?!" tanya Rayyan to the point.
"Y-ya gue meriksa dialah t-terus ngapain lagi!" seru Daffa ketakutan menatap wajah Rayyan yang sudah seram mirip boto ijo.
"Antum meriksa atau menatapnya!" ucap Rayyan kembali.
__ADS_1
"Y-ya gue meriksalah t-terus kalau g-gue ngga natap dia g-gimana gue mau meriksa?!" jawab Daffa dirinya terpojok karena ulahnya sendiri sudah lancang menatap tunangan temannya sendiri.
"Besok-besok ana carikan Nafisa dokter lain saja!" ucap Rayyan mutlak.
"Loh ngga bisa gitu lah, kan gue yang nanganin dia dari awal!" tolak Daffa mentah-mentah.
"Lalu kenapa? dokter juga banyak di kota ini, kenapa harus selalu antum! lagi pun ana berani membayar mahal dokter lain yang terpenting bukan antum orangnya!!" ucap Rayyan ketus.
"Lah kan ngga bisa gitu Ray, gue yang tau Nafisa sakit apa gue juga yang rawat dia selama ini lo ngga bisa main ganti-ganti dokter gitu aja!" debat Daffa tidak mau kalah.
"Terserah ana, lagi pula dia tunangan ana. Mau ana yang membawa dia berobat ke Malaysia sekalipun itu urusan ana kenapa antum yang ribet!!" ucap Rayyan kesal Daffa tidak peka maksud Rayyan apa dan kenapa dirinya meminta Nafisa untuk tidak di periksa oleh temannya sendiri.
"Idih pundung/(ngambek)"
"Terserah ana lebih baik antum jangan dekat-dekat dengannya lagi, berani antum dekat ana gantung antum di pohon mangga!" ancam Rayyan lantas meninggalkan Daffa dengan kebingungan nya sendiri.
"Tuh anak kesambet apaan dah, emang apa masalahnya sih kalau Nafisa gue yang periksa?!" gumam Daffa kebingungan melihat sifat Rayyan yang tiba-tiba seperti itu.
...----------------...
"Assalamu'alaikum boss..." salam Hendra.
"Waalaikumsalam, iya kenapa Hen?" jawab Rayyan.
"Perihal tugas yang boss kasih untuk saya sudah saya laksanakan laki-laki brengsek itu sudah menerima ganjarannya boss dan untuk perempuan menjijikkan itu sudah saya bereskan." seru Hendra di ujung telfon.
"Baiklah syukron Hen, tapi mereka tidak antum apa-apakan bukan? hanya memberi mereka pelajaran saja tidak lebih?" tanya Rayyan.
"Tidak boss saya hanya memberinya ganjaran saja seperti keinginan boss, dan untuk memantau nona Nafisa sendiri saya mempunyai keponakan yang akan saya kirim untuk kuliah disana boss. Kebetulan keponakan saya mengambil bidang kedokteran juga setidaknya dengan begitu bisa memantau pergerakan nona nantinya." jelas Hendra.
"Baiklah syukron Hen atas bantuan antum." ucap Rayyan.
"Sama-sama boss."
"Maaf sudah menganggu liburan antum serta keluarga." seru Rayyan.
"Ahh, tidak masalah boss ini sudah menjadi tanggung jawab saya."
"Baiklah kalau begitu besok temui ana di rumah umi untuk membicarakan perusahaan." seru Rayyan.
"Siap boss." jawab Hendra.
__ADS_1