
Setelah kejadian kemarin Sarah sudah jarang menampakkan wajahnya kembali bahkan hanya didepan Khodijah saja. Sedang Khodijah sendiri bingung melihat tingkah putra sulung nya yang selalu pulang larut malam, alasannya karena ada meeting penting atau lembur.
"Assalamu'alaikum..." salam Rayyan masuk kedalam dengan raut wajah yang sangat lesu dia pun melakukan salim takzim kepada Kyai Akmal dan Khodijah.
"Wa'alaikumussalam, abang kenapa larut sekali pulang nya?" tanya Khodijah khawatir.
"Afwan umi, abang baru menyelesaikan beberapa dokumen untuk rapat besok." jawab Rayyan dan lantas pamit untuk beristirahat.
"Abang kenapa bi?" tanya Khodijah kepada suaminya.
"Ngga tau mi, coba umi cek saja tidak seperti biasanya dia seperti itu." jawab Kyai Akmal.
Sedang di kamar Rayyan tengah merebahkan dirinya sambil memejamkan mata berharap kejadian lalu hilang dari ingatan nya. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari arah luar, disana Khodijah meminta izin untuk masuk kedalam kamar putra sulungnya yang sebentar lagi akan membawakan nya menantu yang sangat cantik.
tok...tok...tok...
"Umi boleh masuk?" tanya Khodijah dari luar.
"Na'am umi, masuk saja pintu tidak abang kunci." jawab Rayyan.
Ceklek....
Khodijah pun masuk dan duduk di pinggir ranjang dengan Rayyan beradal dalam pangkuan nya. Khodijah pun mengelus kepala Rayyan dengan lembut walaupun dirinya adalah anak tertua dalam keluarga nya jikalau bersama sang ibu sifat manjanya lah yang keluar karena sekeras apapun hidup anak pertama tetaplah pangkuan seorang ibu tempatnya untuk berpulang.
"Abang." panggil Khodijah dengan lembut.
"Iya umi." jawab Rayyan dengan mata terpejam merasakan hangatnya belaian seorang ibu.
"Apakah ada masalah di kantor?" tanya Khodijah lagi dengan sangat lembut.
"Tidak umi." jawab Rayyan kembali.
"Lalu, ada apa dengan abang? apakah ada masalah dikampus perihal kelulusan abang?" tanya Khodijah kembali.
"Tidak umi, semuanya baik-baik saja." jawab Rayyan.
Rayyan pun bangun dari tidurnya dan menatap mata sang ibu dalam-dalam mencoba menumpahkan semua rasa lelah yang ada pada punggungnya, ia tau dia adalah anak pertama tapi manusia tetaplah manusia ada saatnya mereka merasakan membutuhkan seseorang untuk menjadi support sistem nya bisa berbagi suka dan duka bisa memahami rasa lelahnya. Dan itu semua hanya bisa kita bagi hanya kepada seorang ibu saja.
"Boleh abang minta satu hal sama umi?" ucap Rayyan dengan manik mata yang memohon.
"Mintalah selagi umi bisa kasih untuk abang akan umi kasih." jawab Khodijah dengan senyum manisnya.
"Abang mohon sama umi, jangan terlalu dekat dengan Sarah ataupun memberinya harapan." seru Rayyan dengan serius.
"Memangnya kenapa? apakah ada suatu hal yang membuat abang tidak suka jikalau umi menyanyangi Sarah seperti Aisyah." tanya Khodijah.
"Bukan begitu umi, Ray hanya tidak ingin Sarah nekan untuk mengejar Ray dengan cara melukai orang yang Ray sayang." seru Rayyan dengan menunduk baru kali ini seorang Muhammad Rayyan Ilham takut pada suatu hal, padahal dulu dirinya tidak kenal takut akan apapun itu kecuali Tuhannya.
"Baiklah umi akan menuruti kemauan abang, asalkan abang tidak murung kembali?" ucap Khodijah dengan memberi syarat Rayyan pun mengangguk dan setuju. Walaupun Khodijah tidak tau menau soal pertengkaran mereka tapi dia sangat percaya bahwa semua keputusan putranya adalah yang terbaik untuk keluarga dan orang disekitarnya.
"Udah atuh jangan cemberut terus, mau umi telfonkan ayang?" seru Khodijah mencoba menghibur Rayyan dengan sedikit menggoda nya.
"Sudah sangat malam umi, mungkin ukhty sudah tidur." jawab Rayyan menolak permintaan Khodijah padahal dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat menginginkan mendengar suara orang yang sangat ia cintai.
"Malam apa malu?" goda Khodijah kembali.
"Umi..." panggil Rayyan dengan raut wajah tidak suka pabila selalu di goda oleh uminya.
__ADS_1
Khodijah pun tertawa melihat tingkah putranya yang selalu malu pabila ia goda.
"Nafisa jam segini belum tidur abang, baru saja umi melihatnya online."
"Lalu...?" tanya Rayyan dengan alis yang terangkat.
"Yah kan siapa tau abang sangat merindukan nya, lebih baik jujur abang dari pada menyesal nantinya, mumpung yang lagi di kangenin online." goda Khodijah kembali.
Rayyan pun menghelah nafasnya dengan kasar yang dikatakan uminya memang lah benar dia sangat merindukan Nafisa namun egonya yang terlalu tinggi harus membuat nya tersiksa menahan rindu tersebut.
"Terserah umi saja, tapi jangan video call." jawab Rayyan pasrah.
Khodijah pun mengambil ponselnya dari saku gamisnya dan menscrool mencari nama menantu kesayangannya lalu dia pun menekan tombol hijau dan....
" Assalamu'alaikum umi..." salam Nafisa dari sebrang telfon.
"Waalaikumsalam sayang." jawab Khodijah dengan mengedipkan mata ke Rayyan yang sudah menunggu harap-harap cemas.
Khodijah pun tak kuasa melihat raut wajah putranya yang sangat penasaran dengan suara Nafisa, ia pun menyalahkan low speaker agar anaknya tidak mati penasaran dengan rindu tersebut.
" Umi ada apa telfon malam-malam?" tanya Nafisa diujung telfon dengan fokus pada layar laptop nya.
" Apa ada yang bisa Nafisa banting?" seru Nafisa kembali dengan absurd nya.
"Kamu mau banting umi sayang?" jawab Khodijah dengan sedikit menggoda Nafisa.
"Eh, bukan itu maksudnya umi. Maksud Nafisa apa ada yang bisa Nafisa bantu." seru Nafisa dengan buru-buru membenarkan ucapannya niat ingin bercanda malah di buat serius.
Khodijah pun terkekeh melihat tingkah Nafisa yang kian hari kian membuat seisi rumah geleng-geleng kepala dibuat nya.
"Huh selamat." gumam Nafisa dengan mengelus dada namun suaranya masih terdengar begitu jelas di telfon. Khodijah pun kembali tertawa dibuatnya.
"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Khodijah. Rayyan dengan serius mendengarkan setiap ucapan Nafisa yang membuat nya semakin rindu dibuat nya.
Belum Nafisa menjawab pertanyaan Khodijah barusan, Khodijah dan Rayyan harus di kejutkan dengan teriakan Nafisa yang membuat mereka berdua sangat khawatir.
"Huwaa....kakak...." teriak Nafisa dengan tiba-tiba. Rayyan dan Khodijah pun lantas terkejut bukan main apakah terjadi sesuatu dengannya?
"Sayang, Nafisa sayang..." panggil Khodijah kepada Nafisa namun tidak ada sautan dari empunya tapi disana terdengar suara Refan yang juga khawatir.
" Dek, kenapa? ada apa?" tanya Refan khawatir bukan main, malam-malam begini adiknya teriak-teriak tidak jelas padahal tidak ada siapapun didalam kamarnya.
"Huwaaa.... itu kak...." seru Nafisa dengan berjingkrak-jingkrak di kasur dengan tubuh yang memeluk erat guling kesayangannya.
"Iya Kenapa, ada apa?!" seru Refan dengan raut wajah harap-harap cemas memaksa Nafisa untuk bicara lebih jelas.
" Huwaa.... itu kak.... anu...." seru Nafisa dengan ambigu antara rasa takut dan geli bercampur menjadi satu.
"Itu... anu apaan?! ngomong yang jelas peak!" hardik Refan kesal lama-lama.
"I-itu....kecoa...." ucap Nafisa dengan masih berteriak kencang dan menunjuk ke arah bawah dimana terdapat kecoa yang sedang terbang menghampiri mereka berdua.
"Huwaaa....ibu...." sekarang giliran Refan lah yang berteriak dan naik ke tempat tidur Nafisa dengan memeluk selimut Nafisa sebagai tameng.
Tawa pun pecah di ujung telfon sana dimana Khodijah dan Rayyan tidak habis pikir dengan tingkah kakak-beradik itu, setidaknya dia bisa bernafas lega Nafisa tidak terjadi apa-apa namun yang membuatnya tak habis pikir kenapa bisa ada kecoa malam-malam masuk kedalam kamar calon istrinya padahal dia sendiri tidak pernah melihat langsung seperti apa wujud kamar Nafisa. Sungguh sangat beruntung menjadi seorang kecoa diam-diam dirinya bisa menyelinap ke kamar wanita yang sangat ia cintai namun dirinya sendiri?
Refan dan Nafisa pun berdebat saling menyalahkan satu sama lain dengan masih berteriak meminta tolong kepada orang rumah.
__ADS_1
"Huwaaa.... kak Refan kenapa ikut naik!" ucap Nafisa dengan memukul lengan Refan dengan keras bukannya membantu Nafisa menyingkirkan makhluk menjijikkan itu kakaknya malah ikut-ikut berteriak sepertinya ini sebenarnya yang cewe siapa sih?
"Kakak takut dek, kamu kenapa ngga bilang sih kalau ada dia disana!" seru Refan kesal dengan menatap tajam ke arah Nafisa.
"Ihh, kakak tuh sebenarnya cowo apa cewe sih sama makhluk kecil gitu takut. Tapi lawan preman sekampung sendiri berani!" ujar Nafisa kesal kembali memukul Refan dan mendorong-dorongnya.
" Kamu sendiri juga sama, lawan preman pasar banyak bisa kenapa sama kecoa takut!" ucap Refan tak mau kalah.
"Ya wajar lah Fisa takut, kan Fisa cewe kalau kakak kan cowo kok takut!" ujar Nafisa tak terima.
" Ya kalau gitu sama dong, cowo juga manusia ada kalanya dia takut sama sesuatu!" elak Refan tidak mau disalahkan.
" Kakak mending di keroyok preman sekampung dek dari pada harus ngelawan dia sendiri!" ucap Refan dengan masih berteriak meminta tolong.
Tidak di sangka-sangka makhluk kecil yang tidak berdosa itupun terbang menuju Refan dan Nafisa, mereka berdua pun kalang kabut dan turun dari ranjang dengan buru-buru. Tapi naas karena selimut yang di peluk Refan tadinya melilit kaki mereka berdua dan alhasil....
Brukkk....
"B@ngke!" umpat Refan dengan mengelus pantatnya yang ngilu akibat mendarat mendadak kebawah.
Sedang Nafisa sendiri kepalanya terantup kursi belajar dan meninggalkan luka gores kecil di keningnya.
" Huwaaa....ibu....kak Zidan...." ucap Nafisa lagi dengan berteriak dan mengelus keningnya yang berdenyut akibat benturan tadi.
Zidan pun dan Adiba berlari tergesa-gesa menuju kamar Nafisa karena mendengar teriakan putri semata wayang nya.
"Astagfirullahalazim....." seru Adiba terkejut melihat penampakan kedua anaknya yang acak-acakan dan kamar yang sudah berantakan.
"Kalian berdua ngapain?" tanya Zidan kebingungan.
"Kakak...." ucap Nafisa dengan raut wajah yang sangat memelas meminta pertolongan.
Belum Nafisa menjawab makhluk kecil menjijikkan itu pun kembali terbang dan menghampiri mereka berdua, alhasil Nafisa dan Refan berlari kalang kabut demi menghindari makhluk kecil menjijikkan itu.
"Ya allah, ya rabbi neng, *i*bu kira kamu teriak kenapa ternyata hanya karena kecoa." seru Adiba dengan menepuk jidatnya sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya itu.
Sedang Zidan tertawa puas melihat kedua adiknya yang bertengkar mempeributkan makhluk kecil yang tidak berdosa itu.
" Kak....tolongin Fisa...." ucap Nafisa memelas kepada Zidan agar menyingkirkan makhluk menjijikkan itu segera karena dirinya sudah sangat lelah berlari-lari kesana-kemari.
" Haduh ya allah, gini amat punya adek!" keluh Zidan dengan masih tertawa melihat penampilan kedua adiknya yang seperti odgj nyasar.
Zidan pun menyingkirkan makhluk itu dan membuangnya keluar lalu menutup pintu jendela yang terbuka tadinya.
Brukkk.....
Nafisa dan Refan pun ambruk seketika raganya sudah terlalu lelah dikerjai habis-habisan oleh makhluk tidak berakhlak seperti tadi.
" Hufft, capek...." seru Nafisa dengan menendang-nendang selimut yang berada di dekatnya.
Zidan tak kuasa menahan tawanya melihat penampilan kedua adiknya antara kasihan dan juga senang baru kali ini mereka di kerjai habis-habisan oleh makhluk kecil seperti kecoa, padahal kepada orang lain pun mereka tidak kenal takut bahkan Refan yang terkenal jago bela diri dan sebagai nya di sekolah dulu mendadak menjadi anak manis yang diam tidak berkutik hanya karena makhluk itu.
" Haduh ya allah dek-dek, kalau ngga bikin ulah sekali aja ngga bisa apa ya." seru Zidan dengan masih tertawa dan menggelengkan kepala nya tidak habis pikir dengan mereka berdua.
" Kak Zidan kalau mau gelud nanti aja ya kak, Fisa capek banget...." seru Nafisa dengan menitikan air matanya kejadian yang memalukan seumur hidup ditambah lagi umi mendengar nya.
Nafisa pun diam seketika apakah Khodijah mendengar tingkah konyolnya barusan? big no.... kalau pun benar fix dia bakalan malu sampai 7 turunan. Membuat preman bertekuk lutut di hadapannya adalah hal yang mudah tapi dihadapkan dengan makhluk kecil menjijikkan bernama kecoa itu, lebih baik dirinya pensiun sejak diri dari ilmu persilatan.
__ADS_1