
Pagi ini aku akan berangkat kuliah, tapi ibu mencegahku karena firasat nya yang tidak enak hari ini seperti akan ada suatu hal yang akan terjadi kepada ku.
"Ibu ayah, Nafisa pamit ya mau berangkat ke kampus." ujar Nafisa akan bersalim takzim tapi tangannya di pegang erat oleh ibu nya seolah dia tidak memberikan Nafisa untuk pergi.
"Nak, hmm.... kamu sebaiknya libur kuliah dulu ya buat hari ini aja ibu mohon." ucap Adiba tidak membolehkan Nafisa untuk berangkat hari ini.
"Ibu kenapa? tidak seperti biasanya." tanya Nafisa lembut dengan bersimpuh didepan ibu yang sangat di sayang nya.
"Ngga tau nak, perasaan ibu ngga enak hari ini takut Nafisa kenapa-kenapa..." seru Adiba dengan meneteskan air matanya, ntah kenapa hati nya sangat was-was dan khawatir terhadap putri nya itu tidak seperti biasanya.
"Ibu.... Nafisa ngga papa kok ibu tenang aja Nafisa bisa jaga diri Nafisa sendiri ibu tidak usah khawatir ya..." ucap Nafisa menenangkan ibu nya yang tidak berhenti menangis seolah tidak rela ditinggal olehnya.
"Tapi nak.... firasat ibu tidak enak sedari tadi takut akan terjadi apa-apa dengan kamu..." seru Adiba terus saja tidak melepaskan tangannya terhadap Nafisa.
Nafisa pun melirik jam ditangannya hampir jam 7 dirinya harus berangkat sekarang kalau tidak dia akan dihukum seperti waktu itu lagi oleh dosen super killer itu, tapi bagaimana dengan ibu. fikir Nafisa
"Ayah...." panggil Nafisa meminta bantuan kepada ayahnya untuk menenangkan ibunya yang sangat khawatir terhadap Nafisa padahal dirinya sedang baik-baik saja.
"Ibu, Nafisa mau berangkat sebaiknya lepaskan tangan ibu kasian Nafisa nanti telat kena hukum" seru Fatih menenang sang istri yang sangat tidak ingin ditinggal oleh putrinya.
"Ngga yah, firasat ibu ngga enak Nafisa jangan pergi ya nak ibu mohon hari ini aja..." ucap Adiba bersikeras untuk tidak membiarkan Nafisa pergi dari hadapannya.
"Tapi bu, hari ini ada presentasi yang harus Nafisa sampaikan untuk nilai semester ini. Karena 2 bulan lagi Nafisa akan melakukan magang di rumah sakit." seru Nafisa mencoba kembali memohon kepada ibunya untuk pergi berangkat ke kampus.
Adiba menggeleng kuat dan meneteskan air matanya ntah kenapa hari ini dia sangat overthinking terhadap putrinya itu, firasatnya sangat tidak enak takut jikalau putri nya setelah keluar dari sini akan kenapa-kenapa padahal Nafisa hanya akan pergi ke kampus bukan akan tawuran.
"Sebaiknya kamu pergi saja nak, sudah hampir jam 7 nanti kamu kena hukum lagi." seru Fatih memberi izin Nafisa pergi dan tidak mengkhawatirkan ibunya karena ayahnya ada disana.
"Baik yah, Nafisa berangkat dulu ya yah maaf udah ngga nurut perkataan ibu." ucap Nafisa ntah kenapa melihat ibunya seperti itu perasaan sangatlah sedih apakah akan terjadi sesuatu padanya nanti?
...----------------...
Nafisa pun berangkat dengan motornya menuju kampus, disepanjang perjalanan dia sangat gelisah apakah dia salah sudah melakukan ini dan tidak menuruti perkataan ibunya sendiri. fikir Nafisa
"Apakah aku sudah salah melakukan ini ya allah ntah kenapa hati ku sangatlah gelisah hari ini..." batin Nafisa bingung apakah dia benar melakukan hal ini.
Akhirnya tidak membutuhkan waktu lama Nafisa pun sampai dikampus, apakah sudah masuk kenapa tidak ada orang sama sekali. batin nya
"Tunggu kenapa sepi sekali, apa gue telat lagi? mampus gue bisa-bisa ntar gue di hukum nyuci toilet lagi dah." batin Nafisa
Disaat Nafisa tengah berkecamuk dengan fikiran nya sendiri, dari arah belakang ada seseorang yang ingin mencelakai Nafisa di tuangnya obat tidur kedalam sapu tangan itu dan dia pun berjalan perlahan-lahan dan....
"Hmppp...." gumam Nafisa tidak jelas karena dibekap oleh sapu tangan yang sudah di tuang obat tidur didalamnya.
Nafisa pun langsung tidak sadarkan diri, mereka semua membawa Nafisa ke belakang kampus dimana kawasan itu jarang di pakai oleh anak-anak kampus atau dosen manapun. Diseret nya Nafisa kedalam gudang yang lama tidak terpakai dengan keadaan tangan dan kakinya di ikat oleh pelaku gudang yang sangat sempit kotor dan juga berdebu karena lama tidak terpakai.
"Hahaha..... rencana kita berjalan dengan lancar Bella tuan putri kesayangan kampus ini akhirnya tidak sadarkan diri." seru teman-teman Bella bertos ria dengan Bella karena rencana mereka berjalan mulus seperti yang sudah direncanakan oleh mereka semua, terlebih lagi Alvin dan yang lain tengah berada di kantin jadi mereka tidak akan tau jikalau Nafisa hari masuk atau tidak.
"Hahaha.... tuan putri kesayangan kampus ini dia akan menderita disini sendirian tanpa ada seseorang membantunya, dia akan berteriak tolong... tolong... Alvin, Cika, ayah...ckck tapi tidak akan ada orang yang akan membantunya." seru Bella dengan kejamnya mengurung Nafisa di gudang yang sempit dan sangat gelap terlebih didalam sama Bella dan teman-temannya sudah menaruh 3 anjing yang sangat ganas didalamnya tapi anjing itu terikat lehernya dengan rantai, mereka tidak ingin membunuh nya dengan mudah melainkan akan menyiksa nya saja sampai dia sendirilah yang akan meminta keluar dari kampus ini.
"Selamat bersenang-senang tuan putri sayang..." ucap Bella dengan tersenyum smirk meninggal Nafisa sendiri disana dan mengunci gudang itu dengan rantai agar tidak ada orang yang bisa membukanya.
...----------------...
FROM NAFISA
Aku pun bangun dan merasakan sesak di dada ku dengan badan yang sakit semua ku tatap sekitar dimanakah aku sekarang? ini sangat gelap siapa yang sudah mengurung ku disini. Aku tidak tahu sedang berada di mana sekarang suasana ruangan yang begitu sempit, gelap dan berdebu, Bella dan kedua temannya menyeretku ke suatu tempat ntah dimana itu karena mata ku di tutup oleh kain oleh mereka.
Mulut ku sudah di sumpal dengan kain oleh Bella ketika aku mencoba menendang sesuatu aku dikejutkan oleh suara anjing yang begitu banyak didalam ruangan ini, dada ku sangat sesak dan sulit untuk bernafas semakin aku bergerak suara anjing itu semakin keras, keringat dingin mengalir begitu banyak dari pelipis ku aku sangat membenci keadaan ini. "Ku mohon siapapun yang ada diluar tolong aku...." rintih Nafisa dengan sangat ketakutan berada didalam sana, suasana yang begitu gelap dan hanya ada beberapa cahaya yang tembus melewati lubang ventilasi.
Sedang di dalam kelas Alvin dan teman-temannya bingung kenapa hari ini Nafisa tidak kuliah, ponsel nya juga mati dan tidak bisa dihubungi kira-kira kemana dia berada.
"Lo udah coba hubungi Nafisa Ka.." tanya Rendi sudah mencari-cari Nafisa dimanapun dan hasilnya nihil.
__ADS_1
"Udah Ren gue udah coba hubungi dia berkali-kali tapi ponsel nya mati." jawab Cika panik soalnya tidak seperti biasa Nafisa tidak kuliah apalagi tanpa kabar, sesibuk apapun dia akan tetap berkabar kepada teman-temannya.
Hari pun semakin larut materi kuliah pun telah usai tapi tidak ada tanda-tanda dari Nafisa dimana dia sekarang.
"Ck, ponsel nya mati udah gue telfon tapi ngga mau diangkat-angkat terus gimana?" ucap Cika mondar-mandir tidak jelas.
"Gimana kalau kita pergi kerumahnya siapa tau dia sakit?!" usul Miko.
Mereka semua pun setuju ada baiknya langsung pergi ke rumah Nafisa melihat sendiri keadaannya sedang Alvin sendiri hatinya sangat gelisah demi melihat pujaan hatinya menghilang tanpa kabar sedikitpun.
..............
Sedangkan di gudang keadaan Nafisa pun semakin memburuk dia diselimuti oleh rasa takut yang teramat, dia mencoba membuka penutup mulut itu dan meminta tolong bukan bantuan lah yang datang melainkan suara anjing yang terus menggonggong membuat kepala Nafisa semakin pusing dada nya sangat sesak dan sulit untuk bernafas, phobia nya telah disalah gunakan oleh seseorang yang berniat ingin mencelakai nya. Keringat dingin terus mengalir membasahi pakaian dan tubuhnya dia hanya berharap semoga kedua kakaknya datang dan menolongnya seperti dulu.
"Kak Refan.... kak Zidan.... tolongin Fisa kak......" teriak Nafisa sekuat tenaga didalam sana dengan air mata yang mengalir deras. Dia pun mencari-cari ponsel nya dan berniat menghubungi kedua kakaknya.
"Huhh....uhukk....uhukk...."
"Kak Refan.... kak Zidan....." ucap Nafisa kembali berteriak dengan histeris.
"Guk... guk.... guk...."
"Ayah.... ibu.... tolongin Nafisa...." seru Nafisa kembali badannya begitu lemas dan tidak sanggup untuk berbicara lagi.
Sampailah Alvin dan teman-temannya ke rumah Nafisa, disana tampak sepi mungkin kedua kakak Nafisa sedang berada dirumah mereka masing-masing. Diketuk nya pintu rumah Nafisa dengan keras semoga firasat mereka salah tentang Nafisa.
"Assalamu'alaikum....tok...tok...tok" seru Alvin mengetuk pintu dengan keras.
"Tante Adiba....om Fatih....tok...tok...tok...." seru Alvin semakin keras mengetuk pintu akhirnya Fatih dan Adiba pun membuka pintu dan bingung dengan kedatangan teman-temannya Nafisa mengapa mereka kesini? lalu Nafisa dimana?
"Assalamu'alaikum om, tante" salam Alvin serta menyalami kedua orang tua Nafisa.
"Wa'alaikumussalam nak, ada apa nak kenapa kalian semua berkeringat?" tanya Fatih kepada teman-temannya Nafisa.
"Maaf om sebelumnya, apakah Nafisa ada didalam? dikarenakan kami sedari tadi tidak melihat Nafisa di kampus ditambah ponsel nya mati tidak bisa kami hubungi." jelas Alvin langsung pada intinya.
"Apa yang kalian katakan benar?! apakah kalian tidak berbohong jikalau Nafisa tidak berada di kampus?!" tanya Adiba mulai panik.
"Bu tenang dulu sebaiknya kita tanyakan saja para Refan dan juga Zidan takutnya Nafisa berada dirumah mereka." ucap Fatih mencoba menenangkan sang istri yang sudah dilanda cemas dan fikiran-fikiran negatif.
"Gimana ibu bisa tenang yah, ibu kan tadi sudah melarang Nafisa untuk kuliah karena firasat ibu tidak enak terhadapnya tapi kalian berdua tetap tidak mau mendengarkan ibu..." seru Adiba menyalahkan Fatih akan semua itu dia pun mulai menangis histeris setelah tau Nafisa tidak berada di rumah kedua kakaknya, sedang Refan dan Zidan sudah langsung tancap gas demi mendengar kabar adik kesayangannya menghilang dan tidak memberi kabar akan kemana dia pergi.
"Gimana terus yah, ibu ngga mau tau temukan Nafisa sekarang juga!" ucap Adiba memaksa Fatih segera mencari Nafisa dan menemukannya saat ini juga.
Hari pun semakin larut dan matahari pun hampir tenggelam ditelan malam tapi belum juga ada kabar dari Nafisa, semua orang tengah mencari keberadaan Nafisa sampai seluruh teman-temannya ditanyakan dan hasilnya nihil. Sedang disisi lain keadaan Nafisa semakin memburuk karena ruangan yang sangat sempit dan trauma akan phobia nya itu membuat nya kesulitan untuk bernafas keringat dingin selalu mengalir melewati pelipis dan pipinya dia terus saja menangis berharap bantuan segera datang dan menolongnya keluar dari sini.
Nafisa pun mencoba meraih ponsel nya yang tadi sudah di hancurkan oleh Bella dan teman-temannya dia berharap ponsel nya bisa hidup dan dia bisa menelfon kakaknya untuk meminta bantuan, Nafisa berusaha sekuat tenaga membuka tali itu dari tangan dan kakinya. Akhirnya tali pun terbuka tapi Nafisa pun terjatuh ke tanah badannya sangat lemas untuk meraih ponsel nya saja dia sudah tidak kuat, dada nya sangat sesak dan kesulitan dalam bernafas.
"Apakah hamba akan meninggal disini ya allah apakah maut hamba sudah dekat ya allah, hamba sudah tidak kuat lagi ya allah..." tangis Nafisa histeris sebegitu bencinya mereka terhadapnya sampai-sampai akan membunuhnya secara perlahan.
Di raihnya ponsel nya kembali dan mencoba menghidupkan nya percobaan pertama gagal ponsel nya tidak menyala di percobaan kedua pun juga gagal ponsel nya tidak mau menyala.
"Pleasee.... aku mohon hidup hiks... aku pengen telfon kak Zidan dan kak Refan buat terakhir kali, jikalau memang takdir ku harus meninggal ditempat ini aku ikhlas tapi aku mohon aku hanya mau mendengarkan suara keluarga ku untuk terakhir kalinya..." ucap Nafisa sudah pasrah jikalau mautnya memang sudah dekat dia hanya ingin bisa menelfon kedua kakaknya dan meminta maaf.
Ntah keajaiban dari mana ponsel Nafisa pun kembali hidup setelah beberapa percobaan akhirnya ponsel nya kembali hidup tapi sayang batrei ponselnya hanya tinggal 3℅ saja waktu Nafisa tidak banyak untuk menelfon kedua kakaknya untuk meminta bantuan.
"Hiks... waktu gue ngga banyak jikalau memang inilah takdir ku aku ikhlas ya allah..." seru Nafisa memencet tombol panggilan ke nomor Zidan.
...----------------...
Sedang disisi lain Zidan, Refan dan juga teman-temannya Nafisa tengah mencari keberadaan Nafisa dimana setelah mereka semua hampir menyerah karena tidak menemukan Nafisa dimanapun Zidan dikejutkan oleh dengan ponsel nya yang berdering keras dilihat nya nama yang tertera disana adalah nama adiknya yang tengah dia cari-cari sedari tadi Zidan pun mengangkat telfon tersebut dan lantas akan memarahi Nafisa karena hilang tanpa kabar.
"Halo dek... kamu dimana sekarang kakak khawatir dari tadi cariin kamu ponsel kamu juga kenapa bisa mati?!" ucap Zidan mencecar Nafisa dengan semua pertanyaan tapi bukannya jawaban yang keluar dari mulut Nafisa melainkan suara tangis bercampur ucapan meminta tolong kepada Zidan.
__ADS_1
"Hiks....tolongin Nafisa kak....keluarin Nafisa dari tempat ini...." seru Nafisa dengan suara yang hampir habis karena terlalu sering berteriak tadi.
"Dek, kamu kenapa?! kamu sekarang ada dimana?!" tanya Zidan panik demi mendengar suara Nafisa yang serak dengan nafas tersengal-sengal.
"Kakak....tolongin Nafisa...." ucap Nafisa kembali.
"Kamu tunggu disana kakak segera jemput kamu dek, ponsel jangan kamu matikan kakak mohon..." seru Zidan kalang kabut segera menghidupkan motornya kembali dan mengajak teman-temannya Nafisa untuk segera menjemput Nafisa pulang.
"Nafisa dimana kak?!" tanya Refan menyusul Zidan.
"Sebaiknya kita kembali ke kampus sekarang juga" ucap Zidan dingin dia berjanji jikalau sampai adiknya kenapa-kenapa dia tidak akan mengampuni orang tersebut sampai ke lubang laut pun akan dia cari siapa orangnya yang telah membuat adiknya tersiksa seperti ini.
Zidan, Refan dan teman-temannya Nafisa pun membelah jalan dengan mahir walau rintangan apapun akan dia lalui demi adiknya.
"Tunggu kakak Dek, kakak pasti dateng buat nolong kamu maafin kakak udah ngga becus jagain kamu." batin Zidan dengan menitihkan air mata dia tidak rela adiknya disiksa seperti itu oleh seseorang yang selalu iri dengan apa yang Nafisa punya padahal adiknya bukanlah tipe anak dari kalangan artis atau semacamnya tapi selalu saja semua orang mencelakai nya atau membuat fitnah serta isu-isu tidak jelas.
Nafisa pun semakin lemas tenaga nya sungguh terkuras banyak karena panik, anjing itu pun selalu menggonggong dan tidak mau diam telinga Nafisa rasanya ingin pecah mendengar suara dari hewan itu.
Tidak berselang lama rombongan Alvin, Zidan dan Refan pun datang dilihatnya pintu gerbang sudah ditutup karena memang sudah malam, Zidan pun berteriak memanggil seseorang untuk segera membuka gerbang tersebut. Dilihatnya dari jauh ada satpam yang berlari menuju gerbang Zidan meminta agar satpam itu segera membukakan pintu karena adiknya dalam bahaya.
"Pak saya mohon buka gerbangnya adik saya ada didalam pak dia butuh bantuan kami!" seru Zidan memohon kepada satpam itu tapi satpam itu melarang mereka untuk masuk dikarenakan jam kampus telah usai dan tidak boleh siapapun masuk kedalam selain para dosen.
"Maaf nak, silahkan kamu kembali besok saja hari ini kampus sudah tutup dan kalian tidak di perbolehkan masuk." ucap satpam tersebut melarang mereka semua untuk masuk, Zidan pun membuka paksa gerbang tersebut yang terpenting baginya adalah adiknya jikalau dia harus menerima hukuman karena sudah memaksa masuk kampus tanpa izin biarlah itu menjadi urusannya nanti yang terpenting adalah adiknya Nafisa harus selamat.
Disisi lain Nafisa hampir tidak sadarkan diri lagi karena rasa sesak yang begitu didadanya membuat tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.
"Kak...." panggil Nafisa lemah.
"Iya dek, kakak sudah sampai kakak minta kamu bertahan sebentar saja ya kakak mohon...." seru Zidan dengan menitihkan air mata kembali, adik kecilnya harus menerima coba-cobaan hidup yang begitu berat dari orang-orang yang iri terhadap nya.
"Nafisa cuman mau ngomong satu hal sama kakak..."
"Maafin Nafisa ya... selalu ngerjain kakak, selalu nyusahin kakak dan juga selalu bikin kakak kesal." ucap Nafisa dengan air mata yang mengalir.
"Kamu ngga usah ngomong ngaco dek, kakak ngga suka itu!" seru Zidan dingin.
"Ponsel Nafisa hampir mati kak, waktu Nafisa ngga banyak lagi..."
"Kalian semua cari Nafisa sampai dapet ke semua penjuru kampus!" teriak Zidan kepada teman-temannya Nafisa.
"Kamu dimana dek kasih tau kakak." ucap Zidan mencari Nafisa keseluruh ruangan tapi hasilnya nihil.
"Nafisa ngga tau dimana Nafisa sekarang kak, tempat ini gelap hanya ada ruangan sempit dan ventilasi yang kecil juga hanya ada anjing yang terus berada disisi Nafisa." jelas Nafisa.
"Anjing?? ruangan gelap??" gumam Zidan.
"Pak kira-kira disini apakah ada ruangan yang tidak terpakai?!" tanya Zidan.
Satpam tersebut pun tampak berfikir lama Zidan pun memaksa satpam tersebut untuk segera mengingat ruangan itu.
"Pak!! apakah ada ruangan seperti itu?!" tanya Zidan lagi dengan ngegas.
"Seperti nya ada nak, ah... iya ada tidak jauh dari gedung kampus ini memang ada gudang yang lama tidak terpakai memangnya kenapa nak?!" jelas satpam itu penasaran, Zidan pun tidak menjawab ucapan bapak itu melainkan turun kebawah dan segera menuju gudang tersebut.
Tanpa Nafisa sadari salah satu dari rantai anjing tersebut hampir lepas, anjing itupun berjalan mendekati Nafisa tubuhnya sudah tidak kuat untuk berdiri tapi jikalau dia tetap disana maka dia akan menjadi santapan anjing tersebut.
"KAK ZIDAN....." teriak Nafisa dari dalam Zidan pun panik mendengar suara itu yang bukan lain adalah suara adiknya.
"BUKA PINTUNYA PAK!!" sentak Zidan kepada satpam itu.
"Maaf nak kuncinya tidak ada dengan bapak" seru satpam itu.
Zidan pun mengambil baru besar dan berniat memukuk kunci rantai tersebut hingga putus, di pukul nya rantai itu dengan keras sehingga membuat tangan Zidan sedikit tergores akibat baru tersebut dia tidak memperdulikan lukanya yang terpenting adalah nyawa adiknya.
__ADS_1
Akhirnya pintu pun terbuka dan....
"DEK....." teriak Zidan dan Refan bersamaan dikala melihat keadaan Nafisa.