Duchess Jeanny

Duchess Jeanny
Chapter 1 Penghinaan di gentleman club


__ADS_3


Disclaimer: Semua karakter di novel ini adalah fiksi. Nama karakter dinovel ini sama dengan tokoh sejarah hanya sebagai referensi dan tidak terkait dengan kehidupan tokoh sebenarnya.


Di suatu tempat di London, Inggris, pada era Victoria. Para kaum bangsawan dan elit berkumpul setiap sore di gentleman club terkenal, Carlton club. Mereka bersosialisasi, membicarakan bisnis, bermain kartu, membaca buku atau minum minuman di bar.


Di suatu sudut Charlton club, empat orang bangsawan sedang berbincang-bincang sambil main kartu.


"Jadi bagaimana perkembangan hubungan romance antara kau dan nona Adelaide?" tanya Duke Robert.


"Haaahh...sulit, dia tipe wanita yang hanya senang jika aku datang membawa hadiah atau mengajak dia berbelanja di Boutique." Jawab Viscount Edward.


"Kalo kamu, Robert, aku yakin saat ini kau sedang bermesraan dengan nona Helen, anak Duke Edinburgh?" Canda Edward.


"Jangan bercanda, Helen itu tipe wanita yang suka cari perhatian. Dia hampir setiap hari mengirim surat kepadaku menanyakan keadaanku, bagaimana pekerjaanku, siapa tamuku, apa ada wanita yang bertemu aku? Dia lebih mirip stalker daripada kekasih." Sanggah Robert.


"Hei, hei, sabar teman. aku hanya bercanda."


"Terus...bagaimana denganmu, John, apa kau sudah menemukan wanita yang mau menjadi kekasihmu?"


"Buhahaha....John. Mustahil ada gadis atau wanita yang mau jadi pendamping John. Dia lebih ramping dan wajahnya lebih putih seperti wanita muda. Jika mereka berjalan berdampingan pasti dikira pasangan yuri (lesbian)...Hahaha." Robert tertawa.


"Diam kau, Robert. Aku masih lebih baik daripada nasibmu. Kau masih mengejar nona Helen karena keluargamu butuh dukungan perdana menteri, ayah nona Helen." Ancam Duke John.

__ADS_1


"Apa kau bilang!! Lihatlah dirimu sendiri. sampai kau menjadi orang tua pun pasti hidupmu masih membujang. Kasihan keluargamu dan gelarmu pasti dipindahkan ke adikmu" Sanggah Robert.


"Awas kau...beraninya kau bilang aku akan tua membujang.!!!!" John berusaha memukul Robert.


"Hei...Hei....sabar kawan. Jangan berkelahi di sini. Kalian bisa diusir dan dilarang masuk ke klub ini lagi." Cegah Baron Thomas.


John melepaskan baju Robert dan pergi mengambil jas dan topinya meninggalkan teman-temannya.


"Pergilah kau, John. Lihatlah nanti saat kau dimakamkan hanya ada nisanmu tanpa ada nisan istrimu disebelah makammu. Hahaha!!" Teriak Robert setengah mabuk.


John merasa terhina mendengar ejekan temannya dan merasa sedih menyadari kekurangannya. Walau dia berusaha berlatih dan olahraga untuk meningkatkan image maskulin sampai ikut bergabung di militer kerajaan Inggris sebagai perwira menengah. Tetapi, hasilnya badan dan perawakannya semakin mirip wanita muda.


John kembali ke kereta kudanya dan minta diantar pulang ke rumah keluarganya di pinggir kota London.


"Selamat datang kembali abang John." ungkap Diana.


"Selamat sore ibu dan Diana. Terimakasih telah menyambutku." Sapa John.


"Kenapa kau lesu dan sedih nak? apa ada yang mengganggu kau?" Tanya Constanza.


"Ahh, tidak apa-apa ibu. Saya baik-baik saja."


"Nak, aku telah mengetahui sifatmu sejak kau lahir. Jangan sungkan ceritakan ke ibu jika kau merasa terbebani."

__ADS_1


"Baiklah ibu begini ceritanya......" John menceritakan kronologis kejadian di gentleman club, Carlton club, dari awal hingga akhir.


Setelah selesai menceritakan kejadiannya. Dia melihat ibunya merah marah. Adiknya geram mendengar semua yang dialami kakak laki-lakinya.


"Kurang ajar mereka. Beraninya mereka menyebutmu seperti wanita padahal kau adalah pria yang paling maskulin di keluarga ini." Geram Constanza.


"Iya benar. Abang sampai berani bergabung dengan militer dan bertugas di garis depan sementara mereka hanya ditugaskan di garis belakang. Abang John lebih baik daripada para pengecut itu." Diana marah.


"Tunggu. Tadi kau bilang mereka mengejekmu karena kau mirip wanita kan?" Tanya Constanza.


"Err..betul ibu." Jawab John.


"Fufufu...kalo begitu mari kita beri mereka pelajaran ala wanita agar mereka tidak memandang rendah kau lagi." Constanza mencengkram bahu kanan John.


"Ala wanita...maksud ibu? Ah, saya mengerti maksud ibu." Diana tiba-tiba juga memegang bahu kiri John.


"Hei...kalian kenapa tertawa sinis seperti itu?" tanya Johnny.


"Tenang nak. Serahkan semuanya kepada ibu. Ohohohoho...." Tawa Constanza.


"Fufufu...abang sebaiknya menurut saja kepada saya dan ibu. Semuanya akan berjalan lancar." Diana tersenyum seperti wanita licik.


John ketika menyadari ibu dan adik perempuannya seperti itu tiba-tiba punya perasaan tidak enak (bad feeling).

__ADS_1


Seminggu kemudian terungkap hidup John berubah total.


__ADS_2