
Duchess Jeanny menyadari bahwa para petugas panitia pacuan kuda Derby berusaha mengamankan atau melumpuhkan kuda stallion hitam yang ditungganginya. Mereka bahkan mungkin membunuh kuda tersebut jika perlu.
\Duchess Jeanny...turunlah nona. Kami akan mengamankan kuda tersebut.////
\Bersiap semua. Amankan kudanya!!!////
Jeanny yang melihat sekelilingnya turun dari kuda. Tetapi, sang Duchess tidak berlari menghindar malah berusaha menghalangi para petugas panitia yang berusaha menangkap kuda stallion hitam tersebut. Lord Wallace dan Earl Peter yang melihat perbuatan Jeanny menjadi heran.
"Jeanny...apa yang engkau lakukan. Menjauhlah dari kuda tersebut!!!" Teriak Lord Wallace khawatir.
"Sepupu Jeanny....dengarkanlah perkataan paman. Biarkan para petugas mengamankan kuda itu!" Panik Earl Peter.
Duchess Jeanny yang melihat kearah paman dan sepupunya tiba-tiba berbalik dan memeluk leher kuda hitam tersebut. Semua orang terkejut melihat apa yang dilakukan sang Duchess.
"Paman...Lord Wallace...ini stallion pertama....pernah saya jinakkan sendiri.....bolehkah saya memeliharanya?" Ungkap Jeanny malu tersipu-sipu.
"Jeanny....apa yang engkau katakan!" Lord Wallace keberatan mendengar pendapat keponakannya.
"Paman...Lord Wallace....kumohon....sepupu Peter....kumohon." Sang Duchess memohon memelas.
"Tapi...Duchess Jeanny." Earl Peter tampak mulai goyah pendiriannya.
Jeanny yang melihat Lord Wallace dan Earl Peter, bahkan semua penonton mulai goyah, iba atau bersimpati kepadanya merasa perlu melakukan sesuatu untuk menyakinkan semua orang. Dia kembali menghadap ke kuda stallion hitam tersebut dan melihat kearah kuda itu dengan iba.
\CUP!////
Sang Duchess mencium hidung kuda tersebut dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
\!!!!!!////
Semua orang terkejut melihat yang dilakukan Duchess Jeanny.
"Kumohon...kumohon." Jeanny bersikap seperti seorang gadis yang mendapatkan mainan baru.
Akhirnya Lord Wallace menyerah dan mencairkan suasana.
"OKE...OKE....baiklah, saya menyerah dan mengerti jika engkau ingin memiliki kuda tersebut. TAPI, berjanjilah untuk memelihara dan bertanggungjawab atas kuda tersebut...FOR GOD'S SAKE!" Tegas Lord Wallace.
Duchess Jeanny yang mengetahui keinginannya dikabulkan pamannya langsung memberi hormat dan berterimakasih.
"Terimakasih paman...Lord Wallace....hal ini akan....saya ingat selalu." Ungkap Jeanny sambil dengan sopan memberi hormat.
\My....my....Duchess Jeanny merasa iba dan kasihan melihat kuda itu akan ditembak.////
\Benar...benar....para petugas panitia seharusnya tidak perlu menakuti kuda tersebut.////
\Mungkin kuda tersebut tidak terbiasa dengan suasana ramai seperti saat ini.////
\Benar...tindakan Duchess Jeanny benar sekali. Sebaiknya kuda diberi kesempatan sekali lagi.////
Penonton pria mulai mendukung para penonton wanita dan bersimpati untuk menyelamatkan kuda stallion hitam milik Duchess Jeanny. Akhirnya panitia dan para petugas pacuan kuda Derby menyerah kemudian melepaskan kuda tersebut. Sang Duchess berterimakasih kepada semua orang.
Kemudian acara berkuda Derby sesi siang hari dilanjutkan kembali, kecuali tanpa kehadiran Duchess Jeanny. Dia kembali ke tempat kuda dan tenda keluarga Duke Marlborough untuk menenangkan kuda barunya. Pangeran Williem pun pamit mohon diri kepada Duchess Jeanny.
#######
Di suatu tempat tidak jauh dari lokasi kejadian mengamuknya kuda Duchess Jeanny. Countess Angelica kelihatan marah dan kecewa melihat rencana kuda milik Duchess Jeanny ditukar dengan kuda liar gagal terlaksana. Semula Angelica mengira Jeanny akan jatuh terluka sehingga tidak bisa menemani Earl Peter.
__ADS_1
"Jeanny....engkau keparat!!!! Seharusnya engkau terjatuh dari kuda itu!!!!" Sang Countess menahan marahnya selama acara berkuda Derby.
########
Sementara itu, pangeran Williem kembali ke tenda milik negara Belanda. Dia diam saja sepanjang jalan dan hanya tersenyum ramah saat ada orang yang menyapanya. Williem turun dari kudanya saat sampai dan bergegas masuk ke tenda miliknya.
"Van, tolong jangan biarkan orang lain mendekati tenda ini. Saya ingin sendirian!" Perintah sang Pangeran.
"Baik Yang Mulia Pangeran." Jawab butler sang Pangeran.
Williem masuk ke dalam tendanya dan menutup semua jendela dan pintu tenda. Sang pangeran diam dan tidak bisa menahan marahnya lagi.
\KENAPA BISA BEGINI!!!! SEHARUSNYA AKULAH YANG DICIUM JEANNY BUKAN KUDA ITU!!!!////
\BRENGSEK...BAGAIMANA BISA SANG DUCHESS BERKUDA SEPERTI ITU....TIDAK MUNGKIN....SEMUANYA SUDAH SEMPURNA!!!!////
"Jeanny....Duchess cantikku....aku pasti akan mendapatkan dirimu. Belum pernah aku merasa seperti ini....hehehehe....hahahaha!!!" Pangeran Williem tertawa licik dan sinis.
Di luar tenda, butler sang Pangeran, Van, hanya bisa menghela napas panjang mendengarkan semua frustasi tuannya.
#######
Tetapi, setahun kemudian tanpa diketahui dan di sangka banyak orang. Duchess Jeanny mendaftarkan dan memasukkan kuda stallion hitam kesayangannya ke dalam lomba pacuan kuda Derby dan lomba kuda lainnya. Kuda stallion hitam tersebut diberi nama 'Lighting' (Petir).
Kuda bernama 'Lighting' tersebut akan menjuarai tujuh kali dari sepuluh kejuaraan pacuan kuda Derby yang diikutinya. Prestasi itu menjadikan kuda kesayangan Duchess Jeanny menjadi kuda paling dicari dan termahal di Inggris.
Para bangsawan ingin membeli kuda tersebut dari sang Duchess dan para joki berebutan ingin menungganginya saat kejuaraan pacuan kuda.
Para penonton yang bertaruh berebutan mendapatkan tiket taruhan yang terbatas untuk kuda 'Lighting' dan banyak yang menang besar.
__ADS_1
Duchess Jeanny bahkan menciptakan tradisi baru di pacuan kuda Inggris dimana saat kuda 'Lighting' menang kejuaraan Jeanny akan mencium kuda dan jokinya di hadapan penonton. Sejak itu, di setiap kejuaraan berkuda di Eropa sang pemenang dan kudanya mendapatkan ciuman dari putri kerajaan atau wanita paling cantik di negara tersebut.