
Saat Viscount Randolph Wolfgang memegang bahu Duchess Jeanny untuk melepaskan gaun dan menelanjangi sang Duchess tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam perutnya. Semua orang di ruangan tidak menyangka Jeanny tidak terpengaruh oleh obat opium yang dimasukkan ke dalam minuman atau aroma dupa opium.
"UGGGHH!!!" Sang Viscount terkejut dan mengerang kesakitan jatuh ke lantai.
Belum selesai mereka terkejut, Jeanny tiba-tiba langsung melesat ke arah orang terdekat dengan dia kemudian menyerang pria tersebut dalam hitungan detik.
\BACK!////
"UAGHH!!!" Pria tersebut langsung pingsan saat lehernya dihantam tangan kanan sang Duchess.
Orang terakhir anggota komplotan di ruangan itu berusaha menyerang Duchess Jeanny dengan sebuah tongkat. Tapi, Jeanny dengan sigap meraih sebuah hiasan tempat lilin dari logam kemudian melemparkannya ke arah orang tersebut. Pria tersebut berhasil menepis hiasan tempat lilin tersebut tetapi tidak menyadari sang Duchess ikut menyerang dari arah sama.
\CLANG////
\BACK!!....BUCK!!///
"URGHHH!!!!" Pria terakhir tersebut juga jatuh pingsan saat selangkangannya diserang dan dipukul tepat sasaran.
Dalam sekejab Viscount Wolfgang dan dua anak buahnya tergeletak pingsan di lantai sementara Duchess Jeanny kembali mengatur napasnya. Jeanny yang telah berpengalaman di medan perang Crimea pernah belajar ilmu bela diri ala Rusia dan Asia. Selain itu, sang Duchess juga telah kebal terhadap bau opium dosis tertentu karena John pernah terluka dan di beri obat penghilang rasa sakit.
__ADS_1
Jeanny langsung melihat sekelilingnya dan bertindak cepat. Dia langsung memindahkan sofa dan kursi untuk menutupi semua pintu-pintu di ruangan tersebut. Semua perabotan berat di ruangan itu dipindahkan menghalangi semua pintu sehingga orang tidak bisa masuk ke dalam.
Sang Duchess kemudian membuka semua jendela, memadamkan dupa-dupa opium dan berusaha membangunkan Countess Angelica yang tertidur karena pengaruh opium.
"Angelica....Angelica..." Panggil Duchess Jeanny cemas.
"Ummm....kakak Jeanny....saya masih mengantuk." Jawab sang Countess lemas.
Jeanny langsung mengambil segelas air dan menyiramkan ke wajah Angelica. Sang Countess langsung terbangun setelah terkena dinginnya air.
"HUAAHHH!!!!....Ada apa ini?" Tanya Countess Angelica tersadar kembali.
Angelica melihat tiga orang tergeletak di lantai sementara Jeanny bergegas mengambil bubuk bekas dupa opium sebagai barang bukti dan menyimpannya di sapu tangannya.
"Hahh...lari...ada apa ini?" Tanya sang Countess bingung.
Belum selesai rasa terkejut Countess Angelica. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan suara orang berusaha membuka pintu ruangan dari luar.
\HEI....ada apa ini? Kenapa pintu ruangan ini terkunci?////
__ADS_1
\HEI...BUKA PINTUNYA!!!!////
Angelica langsung menyadari maksud Duchess Jeanny. Mereka berdua bergegas menuju jendela terdekat tetapi langsung terhenti mengetahui mereka berada di lantai dua sebuah bangunan.
"Kakak Jeanny ini lantai dua....bagaimana kita bisa turun ke bawah." Tanya Angelica panik.
\BRAK....BRAK!!!////
Terdengar pintu ruangan sedang didobrak oleh orang dari luar ruangan. Duchess Jeanny langsung menggendong Countess Angelica dan meloncat keluar jendela.
"KYAAAAaaaaa!!!!" Angelica menjerit saat dia dan Jeanny meloncat dari lantai dua.
\BRUK....BRUK.////
Mereka berdua mendarat selamat di rumput halaman rumah kediaman Viscount Wolfgang.
"Owwww...owwww." Sang Countess mengerang kesakitan.
"Lari....lari secepatnya....saya dibelakangmu!!!" Perintah Jeanny.
__ADS_1
Mereka berdua berlari sekencang-kencangnya menjauhi kediaman Viscount Wolfgang. Tetapi saat mereka sedang berlari tiba-tiba terdengar bunyi tembakan senjata api dari belakang mereka.
\DOR!!!////