Duchess Jeanny

Duchess Jeanny
Chapter 7 Duchess bertemu Pangeran


__ADS_3


Duchess Jeanny melihat kearah Lord Wallace, Duke Marlborough senior, dan merasa lega. Dia sangat khawatir jika diam saja akan sangat tidak sopan kepada pangeran Williem tapi jika dia berbicara sembarangan akan mengundang kecurigaan orang lain terkait identitasnya. Kedatangan Lord Wallace, ayah Duke John, sangat tepat waktu sekali menyelamatkan Jeanny dari Williem.


Lord Wallace langsung berjalan kearah Jeanny, melindungi sang Duchess dibalik badannya dan menatap tajam kearah pangeran Williem. Tapi sang pangeran tersenyum melihat sikap Duke Marlborough senior ini.


"Salam saya kepada Lord Wallace Marlborough, Duke Marlborough, 1st knighthood, Britain first minister and Queen's aide." Pangeran Williem menyebutkan semua gelar dan jabatan Lord Wallace menunjukkan dia mengetahui semua tentang Duke Marlborough.


"Dan anda adalah Pangeran Williem Huis van Oranje-Nassau, 2nd Prince, Royal Envoy dari kerajaan Belanda." Balas Lord Wallace kepada pangeran Williem tanpa basa-basi.


Duchess Jeanny mengintip pangeran Williem dari balik Lord Wallace. Sang pangeran berambut pirang keemasan. Wajahnya tampan dan muda menarik perhatian wanita yang melihatnya. Matanya berwarna keemasan dan kulit putih pucat kaukasia tipikal orang Belanda atau Belgia. Badannya yang tegap dan kekar menunjukkan Williem pernah bergabung di militer, seperti Duke John. Jas dan pakaiannya kombinasi putih biru laut sangat serasi dengan penampilannya. Secara keseluruhan Pangeran Williem sempurna sebagai seorang anggota keluarga kerajaan di Eropa. Dia sangat berwibawa, ramah, menarik, kaya dan tampan menjadi perhatian dan impian para wanita aristokrat di Inggris atau Eropa.


Pangeran Williem ketika menyadari Duchess Jeanny memperhatikan dirinya langsung tersenyum.


"Maafkan kelancangan saya. Saya mengetahui keponakan anda, Jeanny Ontario, Duchess Ontario, dirumorkan cantik tapi saya tidak menyangka kalau dia secantik dan seanggun ini." Williem berbasa-basi.

__ADS_1


"Terimakasih atas pujian anda, pangeran, tapi saat ini kami sekeluarga hanya berkumpul secara pribadi (private). Kami tidak ingin mengganggu kesibukan pangeran." Lord Wallace menolak keberadaan Williem secara informal.


"Terimakasih atas perhatian anda, Duke Marlborough. Saya akan menemui anda secara formal di lain waktu. Maafkan saya harus meninggalkan anda, Duchess Jeanny. Sampai bertemu lagi." Pangeran Williem pamit kepada kepada Jeanny.


Setelah sang pangeran pergi dari lobby Brown's hotel. Lord Wallace langsung menanyai Jeanny dengan penuh perhatian.


"Jeanny. Apa engkau baik-baik saja? Untung saya datang tepat waktu."


"Saya tidak apa-apa paman Wallace. Terimakasih perhatian anda."


"Aah...bibi Constanza pamit ke restroom beberapa saat yang lalu dan sampai sekarang belum kembali." Ungkap Jeanny.


Saat Lord Wallace sibuk menanyai Jeanny. Nyonya Constanza kembali dari restroom dan mendapati suaminya sedang memegang kedua bahu Jeanny dan Lord Wallace kelihatan sangat khawatir.


"Wallace honey, ada apa engkau memegang Jeanny seperti itu? Aku tidak pernah melihat wajahmu seperti itu sebelumnya." Tanya nyonya Constanza.

__ADS_1


Lord Wallace langsung menceritakan kejadian yang dialami Duchess Jeanny selama nyonya Constanza pergi ke restroom. Nyonya Constanza langsung mengajak Jeanny pulang ke kediaman Duke Marlborough setelah makan siang bersama lord Wallace.


Sejak kejadian itu, Duchess Jeanny selalu ditemani oleh nyonya Constanza, nona Diana atau Lord Wallace.


##############


Malam harinya di kamar royal suit Brown's Hotel. Pangeran Williem sedang beristirahat setelah seharian bertemu berbagai pejabat pemerintah Inggris dan kedutaan Belanda. Dia tidak bisa melupakan pertemuan dia dengan Duchess Jeanny di tea house.


"Van, bisakah kau mencari informasi kegiatan yang dilakukan Duchess Jeanny Ontario?" Perintah sang pangeran.


"Baik Yang Mulia Pangeran. Saya akan perintahkan kedutaan dan kontak kita di London untuk melakukan penyelidikan." Jawab butler pangeran Williem.


Williem duduk di sofa dan minum segelas wine dengan tenang. Dia membayangkan saat dia bersandar di sofa, disebelahnya Jeanny merebahkan diri ke pelukan Williem dengan penuh kehangatan. Sang pangeran mengelus rambut silver Jeanny dengan lembut. Sang Duchess pun tertidur dalam pelukan pangeran Williem.


"Duchess Jeanny. Kita akan bertemu lagi di pesta dansa Jubilee emas dan saat itu aku akan memintamu untuk berdansa....Hmmmm." Ungkap pangeran Williem.

__ADS_1


Williem bertekad untuk mendapatkan Duchess Jeanny dengan segala cara apapun. Sementara itu, Jeanny sendiri tidak menyadari berbagai pihak ingin mendapatkan dirinya.


__ADS_2