
Duchess Jeanny telah beberapa hari ini merasa ada seseorang yang mengikuti semua kegiatannya saat dia berada di ibukota London. Ini semakin sering terjadi sejak identitas Jeanny sebagai Anastasia diketahui pasangan suami istri Pangeran mahkota Edward dan Putri mahkota Alexandra.
Saat Duchess Jeanny bertanya kepada pamannya dia malah menerima jawaban ringan.
"Hahaha....masa engkau menyadari kami menguntitmu....kami hanya ingin mengamatimu dari jauh saja. Engkau tidak usah pedulikan kami....hahaha!!!' Jawab Pangeran Edward tertawa.
" Paman Edward!!!" Jeanny merasa privasinya terganggu.
"Ohohoho....kami berdua punya banyak waktu luang sampai ibu menugaskan kami untuk kunjungan kenegaraan berikutnya....fufufu." Tambah Putri Alexandra.
"Nenek!!" Sang Duchess minta bantuan neneknya.
"Saya mengerti maksudmu, cucuku, nenek juga ingin paman dan bibimu kembali bertugas secepatnya tapi jadwal kunjungan kenegaraan berikutnya masih tiga bulan lagi." Jawab Ratu Victoria putus asa.
"Hahahaha!!!"
"Ohohohoho!!!"
\Jadi kami berdua punya banyak waktu untuk mengamatimu, keponakanku.//// Pangeran Edward dan Putri Alexandra senang melihat Jeanny putus asa.
########
Hari ini pun Duchess Jeanny dibuntuti sebuah kereta kuda berwarna hitam mengkilat. Walau masih beberapa meter tapi sang Duchess langsung merasa Pangeran mahkota Edward dan Putri mahkota Alexandra pun membuntutinya hari ini.
Jeanny merasa perilaku paman dan bibinya ini sudah agak keterlaluan walau dia juga merasa mereka melakukan ini karena kasih sayang kepadanya.
Saat Duchess Jeanny berjalan di depan sebuah toko penjahit pakaian pria (Men's tailor shop) bernama 'Smiths & Co Tailor Shop' dia mendapat ide. Jeanny berniat melepas atribut cross dressing wanitanya di dalam ruang pas di toko penjahit pria tersebut dan keluar sebagai sebagai pria tanpa disadari paman dan bibinya.
Sang Duchess meneguhkan tekadnya dan masuk ke dalam toko penjahit pria tersebut.
"Selamat datang, nona muda. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai toko dengan penuh kesopanan.
"Jeanny, nama saya. Bisakah anda menunjukkan koleksi dasi pria yang toko anda punya?" Tanya sang Duchess sopan.
"Tentu saja Lady Jeanny. Mari silahkan saya bantu anda." Jawab pegawai tokoh ramah.
"Jika boleh saya tahu untuk siapa dasi ini akan anda hadiahkan?" Tanya pegawai toko.
"Paman...dasi ini akan saya hadiahkan untuk paman saya." Jawab Duchess Jeanny senang.
"Ahh...rupanya Lady Jeanny adalah seorang keponakan perempuan yang menyayangi pamannya. Sungguh beruntung paman anda." Ungkap pegawai toko.
__ADS_1
"Ini adalah rekomendasi dari saya...." Sang pegawai toko menunjukkan set dasi terbaik di toko tersebut.
Sang Duchess membeli satu set pakaian pria dan dasi untuk pamannya kemudian dia minta di antar ke ruang pas di toko tersebut.
Di dalam bilik ruang pas, Jeanny cepat-cepat melepas semua atribut wanita cross dressingnya dan mengenakan pakaian pria. Kemudian dia menunggu sampai pegawai toko yang memandunya dipanggil oleh tamu lainnya.
Beberapa waktu kemudian, John (Jeanny) mendengar pegawai toko tersebut sibuk memandu tamu lainnya. Dia mengintip dari dalam bilik dan memastikan di luar aman.
"Ayo John....engkau pasti bisa." Bisik John menyakinkan kepada dirinya.
John keluar dari ruang pas toko dan menuju kasir untuk membayar semua set pakaian pria yang dipakainya.
"Terimakasih tuan. Kami menunggu kunjungan anda berikutnya." Jawab pegawai kasir ramah.
Saat John keluar dia mendengar dibelakangnya pegawai toko bingung.
"Lho...dimana nona muda yang tadi hendak membeli dasi?" Tanya pegawai toko.
"Tapi semua belanjaan nona muda yang kau sebutkan tadi telah dibayar di kasir. Mungkin dia membayar saat engkau sibuk memandu tamu lain." Jawab kepala pegawai toko.
"Benarkah....sepertinya saya perlu istirahat..." Sang pegawai toko bingung.
John merasa bersalah kepada pegawai toko tapi ini demi supaya dia bisa lepas dari pengawasan paman dan bibinya.
"Permisi...apakah saya mengenal anda?" Jawab pria tersebut.
"!!!!!"
John sempat terkejut mengetahui pria yang menyapanya adalah Pangeran Williem.
"Maafkan saya....tapi saya tidak ingat pernah mengenal anda." Jawab John basa-basi.
"Ohh...maafkan saya jika sosok anda mengingatkan saya kepada seseorang yang dekat dengan saya." Ungkap sang Pangeran.
"Benarkah....saya merasa terhormat bisa mirip dengan kenalan anda." Ucap John.
"Williem nama saya. Ini toko penjahit pria favorit saya." Ungkap Pangeran Williem.
"Smith....Smith Crow nama saya. Senang berkenalan dengan anda." John berjabat tangan dengan Williem.
"Baiklah sampai lain waktu tuan Smith Crow." Ungkap Williem ramah.
John cepat-cepat berjalan dan berusaha bersikap sewajarnya. Dia berpikir lain kali akan membawa set pakaian dan attribut pria yang lebih baik supaya tidak gampang dikenali orang-orang kenalannya.
__ADS_1
Pangeran Williem memandangi John berjalan pergi. Dia melihat ciri-ciri Jeanny di sosok tuan Smith Crow. Mata violet, rambut silver dan badan kecil.
"Tidak...tidak mungkin itu Duchess cantikku." Bisik sang Pangeran kepada dirinya.
#######
Keesokan paginya, Duchess Jeanny dengan bangga menghadiahkan set dasi kepada pamannya, Pangeran mahkota Edward.
"Bagaimana....bagaimana mungkin engkau menghilang dari pandangan kami saat di toko penjahit pria tersebut. Pasti ada triknya." Ungkap Pangeran Edward bingung.
"Fufufu....paman Edward masih perlu seratus tahun untuk bisa mengalahkan saya....fufufu." Jawab Jeanny bangga.
"Ara...ara...ara...tampaknya keponakanku ini yakin sekali bisa mengelabui kita, Edward honey." Ucap Putri mahkota Alexandra.
"Nah....sekarang sebagai balasan engkau berhasil mengelabui kami maka engkau harus ikut kami ke Boutique untuk membeli hadiah balasan dari kami....fufufu." Tambah Putri Alexandra sambil memegang lengan kiri Jeanny.
"Oho...engkau benar. Alexandra sweety. Mari kita bertiga pergi ke Boutique terbaik di London..." Ucap Pangeran Edward sambil memegang lengan kanan sang Duchess.
"EDWARD!!!" Ratu Victoria berteriak marah tapi tidak berdaya karena dia masih sibuk bekerja.
"KENAPA JADI BEGINI!!!" Jeanny berteriak putus asa saat dia di seret keluar dari ruang kerja Ratu Victoria.
"Hahahaha!!'
"Ohohohoho!!!!"
Pangeran mahkota Edward dan Putri mahkota Alexandra puas bisa beralasan mengajak keponakan kesayangan mereka.
########
Sementara itu, Pangeran Williem kembali ke ruangan tempat dia menginap di Brown Hotel. Dia masih teringat perjumpaan dengan tuan Smith Crow.
"Van....bisakah engkau tunjukkan laporan terbaru tentang Duchess Jeanny kepada saya." Perintah sang Pangeran.
"Baik Yang Mulia Pangeran." Jawab sang butler.
Pangeran Williem membaca dengan serius semua laporan-laporan terkait Duchess Jeanny hingga dia sampai pada suatu berkas tentang John Marlborough.
Dia tersenyum puas kemudian menulis surat kepada Duchess Jeanny.
__ADS_1