Duchess Jeanny

Duchess Jeanny
Chapter 6 Duchess berkunjung ke tea house


__ADS_3


Pada era Victoria, para wanita kaum aristokrat lebih memilih tea house atau toko teh yang khusus menjual berbagai macam merek atau jenis daun teh sebagai tempat berkumpul. Pengunjung tea house juga bisa memesan teh untuk diseduh dan diminum di tea house layaknya restoran atau cafe.


Suatu waktu, Duchess Jeanny diajak nyonya Constanza untuk ikut bertemu dengan Lord Wallace, ayah John, di sebuah tea house dekat gedung parlemen Inggris.


Kebetulan nona Diana mendapat pelajaran tambahan sehingga tidak bisa ikut menemani. Maka, Nyonya Constanza mengajak Duchess Jeanny sebagai ganti temannya. Jeanny dengan senang hati menerima ajakan tersebut.


Dibutuhkan perjalanan dua jam dari kediaman Duke Marlborough ke pusat kota London. Nyonya Constanza berniat untuk menjemput suaminya saat jam makan siang (lunch) sekaligus mengunjungi tea house bersama-sama. Kebetulan lalu lintas London hari itu lancar sehingga nyonya Constanza dan Jeanny tiba lebih awal satu jam dari waktu yang dijanjikan.


Kereta kuda Duchess Jeanny dan nyonya Constanza tiba di sebuah tea house di Brown's Hotel di Albermale street. Doorman (porter) dengan sangat sopan membukakan pintu kereta dan mempersilahkan Jeanny dan nyonya Constanza masuk ke lobby.


Semua tamu melihat ke arah Jeanny saat dia berjalan di lobby. Beberapa tamu bahkan berbisik-bisik saat mengetahui kehadiran Duchess anggun yang menghebohkan koran di kota London beberapa pekan lalu.


"Hei, lihat disana. Bukankah dia Duchess Jeanny Ontario yang pernah diberitakan di koran beberapa waktu lalu?"


"Wow...benar. Dia, nona Jeanny yang pernah menjadi pembicaraan saat dia berkunjung ke departemen store Fenwick. Aku dengar semua gaun yang dicoba dia sangat menawan sampai manajemen Fenwick memberi pengecualian khusus kepadanya untuk mencoba semua produk mereka secara free charge." Beberapa tamu pria membicarakan tentang Jeanny.


"Bukan tentang Fenwick saja, teman. Di berita koran London disebutkan bahwa saat dia berjalan-jalan di wilayah pedesaan Marlborough dia dipaksa untuk menjalin hubungan asmara oleh beberapa Viscount muda. Para penduduk desa yang melihat sang Duchess dalam bahaya bahkan bahu membahu dengan polisi lokal untuk menangkap para pelaku."

__ADS_1


"Ooh...pantas saja. Dia cantik dan sangat anggun menarik perhatian seperti sekarang ini. Tentu saja para pria muda bangsawan sangat menginginkan dirinya. Kyaa....sungguh romantis." Tamu wanita mulai membayangkan kisah asmara Jeanny.


"Dia seperti bunga mawar atau sapphire langka yang jarang muncul. Tentu saja banyak aristokrat yang menginginkannya." Pengunjung wanita hotel bersimpati kepada Duchess Jeanny.


"Bagaimana jika kita coba berkenalan dengan Duchess Jeanny?"


"Kau jangan bercanda! Lihat disampingnya ada nyonya Constanza, istri Duke Marlborough senior. Beliau tuan rumah dan pelindung Duchess Jeanny selama dia tinggal di Inggris." Tamu pria merasa segan tidak bisa mendekati Jeanny.


Jeanny yang menjadi pusat perhatian di lobby hotel tersebut tidak menyadari dirinya jadi bahan perbincangan. Sementara itu, nyonya Constanza bertanya ke receptionist tentang tea house di hotel tersebut.


Seorang waiter hotel menjadi pemandu Jeanny dan nyonya Constanza selama mereka berkeliling dan mencoba produk teh di tea house disebelah ruangan lobby hotel. Setelah puas memilih daun teh, Jeanny dan nyonya Constanza memesan supaya teh pilihan mereka untuk diseduh dan dihidangkan di tea house tersebut.


Saat bibir Jeanny menyentuh pinggir cangkir porselen dan meneguk teh seperti dia sedang mengecup ringan (kiss peck) sesuatu dengan gaya menggoda. Ekspresi Jeanny saat minum teh juga sangat menyenangkan membuat tamu lain ingin mencoba produk teh yang dipesan sang Duchess. Cara Jeanny makan kue kering (cookies) dengan pelan sangat anggun membuat orang terkesima dengan penampilannya. Sang Duchess duduk sambil menyilangkan kedua kakinya pun sungguh menarik perhatian dan bersahaja.


Semua penampilan, gaya dan tingkah laku yang dilakukan Jeanny di tea house saat menikmati teh menunjukkan kepada semua orang tentang tata krama kesopanan tingkat tertinggi aristokrat yang dikuasainya. Penampilan Duchess Jeanny saat menikmati teh dihiasi latar belakang jendela kaca yang besar di tea house seperti lukisan yang indah dan elegan. Semua orang kagum melihatnya.


Duchess Jeanny dan nyonya Constanza sendiri tidak menyadari kehadiran mereka menarik perhatian semua tamu hotel.


Beberapa waktu kemudian, nyonya Constanza pamit sebentar ke Jeanny untuk ke restroom dan meninggalkan Jeanny sendirian di tea house tersebut. Saat Duchess Jeanny kembali menikmati tehnya sambil menunggu nyonya Constanza kembali dari restroom. Seseorang menghampiri dan menyapa Jeanny.

__ADS_1


"Mademoiselle, puis-je connaître votre nom?" (nona cantik bisakah saya mengetahui nama anda?) Seorang pria aristokrat bertanya kepada Duchess Jeanny dalam bahasa Perancis fasih.


 


"Je suis désolé, mais je ne veux pas être dérangé." (maafkan saya, tapi saya tidak ingin diganggu.) Jeanny mengelak sambil berusaha menutupi wajahnya dengan kipas yang dibawanya.


Duchess Jeanny mengira cara ini paling aman untuk menolak halus orang lain. Tapi pria aristokrat tersebut merasa tindakan Jeanny tersebut seperti seorang gadis tersipu malu-malu saat seorang pria mendekatinya.


"Je suis désolé, belle dame. Permettez-moi de vous présenter le prince Williem Huis van Oranje-Nassau du royaume des Pays-Bas." (Maafkan saya, nona cantik. Perkenalkan saya pangeran Williem Huis van Oranje-Nassau dari kerajaan Belanda.) Pria tersebut mengungkapkan identitasnya didepan Duchess Jeanny.


Jeanny langsung diam terpaku dan tidak berani berkata apa-apa. Dia khawatir identitasnya akan terungkap jika dia tidak berhati-hati berbicara.


Pangeran Williem yang melihat Duchess Jeanny terdiam berlahan meraih tangan kanan Jeanny dan mencium bagian belakang telapak tangannya dengan penuh hormat. Williem mencium tangan Jeanny cukup lama kemudian melepaskannya. Duchess Jeanny tetap diam saja.


"Cheh....tidak mungkin kita bisa mengimbanginya. Kau dengar sendiri dia seorang pangeran dari Belanda." Ungkap salah seorang tamu pria.


"Kyaaa....sungguh romantis pertemuan antara Duchess cantik dan pangeran. Ini seperti kisah fantasy!" Para pengunjung wanita berbisik-bisik antusias.


Saat situasi tidak berpihak bagi Duchess Jeanny dimana pangeran Williem hendak duduk disampingnya.

__ADS_1


"MAAFKAN SAYA......TAPI BISAKAH ANDA JANGAN DEKATI KEPONAKAN SAYA!!!!" Tiba-tiba terdengar suara Lord Wallace, Duke Marlborough senior, bernada tegas.


__ADS_2