
Jeanny tiba-tiba merasa lengan kanannya sakit dan panas. Tetapi, dia tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan dirinya karena gelapnya malam. Duchess Jeanny dan Countess Angelica terus berlari sekuat tenaga mereka.
"Kakak Jeanny....tadi suara apa?" Angelica bertanya sambil berlari.
"Tidak....jangan hiraukan....tetaplah lari...." Jeanny berusaha menyembunyikan sakitnya dan menyemangati sang Countess.
Beberapa saat kemudian mereka berdua melihat sebuah gudang tua dan memutuskan untuk bersembunyi di gudang tersebut sampai situasi aman.
\BRAK!!!////
Didalam gudang tersebut Duchess Jeanny dan Countess Angelica tidak melihat sesuatu kecuali tumpukan jerami dan tong air.
"Haahaaahaah....sepertinya aman. Kita istirahat dahulu di tumpukan Jerami itu." Ajak sang Duchess.
"Iya, kakak Jeanny." Angelica menurut.
Mereka berdua berbaring di tumpukan jerami sambil beristirahat.
"Maafkan saya, kakak Jeanny. Saya tidak menyangka akan seperti ini....uhuuhuu." Angelica mulai menangis.
"Tidak apa-apa Angelica. Semua akan baik-baik saja." Jawab Jeanny menghibur Angelica.
Beberapa waktu kemudian bulan keluar dari balik awan malam dan sinarnya berlahan menerangi isi gudang tersebut.
Jeanny berlahan bisa melihat kenapa lengan kanannya sakit sekali dan terasa panas. Sebuah luka tembakan menembus lengan kanannya dan mengeluarkan darah.
\!!!!!////
"Kak Jeanny. Engkau terluka....bagaimana ini!!!" Angelica panik.
Jeanny menyadari dia harus segera menenangkan Angelica atau seseorang mungkin mendengar keberadaan mereka berdua.
"Sssttt!!!" Bisik sang Duchess.
"Saya tidak apa-apa. Bantu saya mengobati luka ini." Tambah Jeanny.
"Tolong ambilkan air dari dalam tong itu. Sementara saya mengobati luka ini." Perintah sang Duchess.
Angelica mematuhi perintah Jeanny. Sementara sang Duchess merobek kain roknya untuk menjadi perban darurat. Jeanny membilas luka tersebut sampai darahnya berkurang kemudian membalut dengan perban tadi dan mengikatnya dengan bilah jerami panjang.
"Wow....kakak Jeanny pandai sekali mengobati luka tembak." Kagum Countess Angelica.
"Ahahaha....ini pengalaman sewaktu saya bekerja amal di Royal London Hospital. Saya sering membantu suster-suster mengobati pasien." Jawab sang Duchess ringan.
__ADS_1
Jeanny memperhatikan Countess Angelica dengan penuh perhatian kemudian mengelus wajah sang Countess lembut.
"Syukurlah engkau selamat dan tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu padamu, saya tidak tahu bagaimana berhadapan dengan sepupu Peter." Jeanny menghibur Angelica.
"Tapi....tapi....karena saya, kakak Jeanny terluka....saya...uuuhh." Angelica kembali mulai menangis.
Jeanny langsung memeluk Angelica erat-erat dan menenangkan sang Countess. Angelica yang kelelahan akhirnya tertidur di pelukan Duchess Jeanny.
"....ssssttt....jangan dipikirkan Angelica sayangku....semua akan baik-baik saja." Hibur sang Duchess.
"Kak Jeanny....." Jawab Angelica.
"Ada sesuatu yang ingin saya beritahukan kepada kakak......" Angelica mulai menceritakan semua yang dia ketahui kepada Jeanny.
Mereka berdua tertidur di atas tumpukan jerami.
########
Sementara itu, di tempat lain.
\Tock.....tock.....tock.....tock!!!////
\Clack!!////
Saat pintu di buka tampak puluhan tentara kerajaan Inggris bersenjata lengkap berbaris di halaman rumah kediaman Viscount Wolfgang.
Earl Peter, Jendral Brown dan Colonel Thompson berada di depan pintu.
"Kami punya surat perintah penggeledahan tempat ini. Pihak kepolisian telah memberi izin tentara mewakili mereka!!!" Jendral Brown menunjukkan surat resmi kerajaan Inggris.
"Tunggu apa lagi. Kalian geledah rumah ini SEKARANG JUGA!!!" Teriak Colonel Thompson.
"Tapi....tapi....ini gangguan privasi. Saya protes....." Sang butler berusaha menghalangi tapi tidak berdaya.
Para tentara masuk ke dalam rumah dan menangkap semua orang di dalam kediaman Viscount Wolfgang.
#######
Di gudang tempat Duchess Jeanny dan Countess Angelica bersembunyi. Jeanny terbangun setelah mendengar sesuatu di luar gudang.
"......."
".........."
__ADS_1
Angelica yang juga terbangun melihat Jeanny telah siaga. Sebuah tongkat kayu siap di tangan kiri sang Duchess.
"Ummm....kak Jeanny ada apa?" Tanya Angelica.
".....sssstttt!" Jeanny memberi tanda supaya diam.
Sejak kejadian Phantom Thief, Jeanny menjadi semakin waspada dan langsung mencurigai tanda-tanda keberadaan orang saat seperti ini. Beberapa saat kemudian dia mendengar orang berbicara.
\Kalian periksa gudang ini.////
"!!!!"
Sang Duchess langsung menutup mulut Countess Angelica untuk mencegah sang Countess bersuara yang membuat curiga orang-orang tersebut.
\BRAK!!////
\Ini hanya gudang tua.////
\Mana mungkin mereka berlindung di tempat seperti ini.////
\Diam. Cari saja mereka.////
\Baik...baik...boss.////
Lima orang tiba di gudang tua tersebut. Tiga orang masuk memeriksa bangunan tersebut sementara dua orang berjaga di depan pintu.
\Kau cari di sudut kiri....kau cari di sudut kanan...aku akan mencari di tumpukan jerami itu.////
"!!!!!"
Jeanny dan Angelica panik mendengar perkataan orang tersebut. Cepat-cepat sang Duchess mengambil sisa kain yang di pakai sebagai perban kemudian menutup mulut Countess Angelica. Kemudian Jeanny mengambil tongkat kayu dan bersiap melawan dengan tangan kirinya.
\SRAK....SRAK....SRAK.//// Tumpukan jerami tersebut diuraikan oleh orang tersebut. Tetapi karena tumpukan jerami itu terlalu besar maka hanya sebagian kecil tempat yang bisa di periksa.
Saat orang tersebut hampir mendekati tempat Jeanny dan Angelica bersembunyi. Tiba-tiba salah satu anggota kelompok tersebut memanggil orang tersebut.
\HEI!!!...kami sudah selesai....tidak ada apa-apa disini.////
\Baik....baik....saya segera kesana.////
Jeanny merasa lega orang tersebut tidak jadi memeriksa tumpukan jerami tempat dia dan Angelica bersembunyi. Tetapi, sang Duchess tetap waspada sampai yakin keadaan aman.
Saat komplotan Wolfgang tersebut berkumpul di depan pintu gudang tua. Tiba-tiba terdengar teriakan.
__ADS_1
\ANGKAT TANGAN KALIAN! KALIAN SUDAH DIKEPUNG!!////