
Izumi Matsumoto adalah putri tunggal Baron Matsumoto. Sang Baron ditugaskan oleh Kekaisaran Jepang, Kaisar Meiji, untuk menjalin hubungan dengan negara Inggris di benua Eropa. Ini merupakan pengalaman pertama kali Lady Izumi pergi keluar negeri Jepang bersama ayah dan ibunya.
Perjalanan dari Yokohama, Jepang, menuju London, Inggris, menempuh waktu 4.5 bulan. Selama perjalanan tersebut Izumi awalnya sangat antusias tetapi lama kelamaan dia merasa tertekan melihat pengaruh budaya lain di Asia, India, Afrika dan Eropa.
Budaya Eropa ternyata berbeda dengan harapan Lady Izumi. Mereka berbusana lebih rumit, cara makan aneh, gaya bicara lebih tinggi hati, dan lebih senang naik kereta daripada berjalan kaki.
Semula Izumi berusaha berteman dengan gadis-gadis aristokrat yang seumur dengannya. Tetapi para gadis tersebut merasa segan dan aneh melihat cara berpakaian ala Oriental yang dikenakannya. Lady Izumi hampir merasa putus asa dengan situasi ini.
Hingga suatu saat Izumi menemani ayah dan ibunya berkunjung ke istana Buckingham untuk bertemu Ratu Victoria dan pangeran consort Albert.
Semula Lady Izumi mengira ini akan menjadi hari yang membosankan. Saat sedang menunggu sendirian diruang tunggu istana tiba-tiba masuk seorang wanita cantik dan menawan seumur dengannya. Wanita tersebut duduk berseberangan dengan Izumi.
Lady Izumi merasa takjub memperhatikan sang wanita cantik tersebut. Rambut silver yang indah, mata violet yang menawan, wajah cantik, kulitnya yang putih seputih susu, bibirnya yang tipis menggoda dan badannya yang ramping. Tipe ideal wanita Eropa yang diimpikan Izumi.
Lady Izumi bahkan lebih terkejut lagi ketika wanita cantik tersebut ternyata rendah hati, ramah, terbuka dan mudah diajak berbicara daripada orang-orang Eropa yang ditemuinya.
Seketika itu, perasaan Izumi mencair dan lega karena dia akhirnya bertemu dan berteman dengan seseorang yang mengerti dirinya.
"Perkenalkan, saya Jeanny Ontario, Duchess Ontario, tetapi anda boleh memanggil saya dengan nama Jeanny." Ungkap sang Duchess ramah.
"uhh...ahhh...perkenalkan saya Izumi Matsumoto, putri Baron Matsumoto, duta besar negara Jepang." Jawab Izumi malu-malu.
__ADS_1
"Ara...ara...kalau begitu saya akan menyebut anda sebagai Lady Izumi. Di masa depan mungkin saya akan menyebut anda Baroness Izumi. Salam kenal Lady Izumi." Jeanny memberi hormat paling sopan dalam etiket Eropa.
"Salam kenal juga....Jeanny onee-san." Jawab Izumi gembira.
Duchess Jeanny dan Lady Izumi berbincang-bincang lama sampai mereka dipersilahkan masuk ke dalam ruang kerja Ratu.
Saat berada didalam ruang kerja Ratu, Izumi baru mengetahui status Duchess Jeanny adalah bangsawan kelas atas dekat dengan keluarga kerajaan. Dia langsung kagum melihat Jeanny yang seumur dengannya sudah memiliki gelar bangsawan Duchess, cantik dan rendah hati. Sempurna.
#######
Lady Izumi kemudian menginap di kediaman keluarga dekat Duchess Jeanny. Disana dia berkenalan dengan Lady Diana, nyonya Constanza dan Duke Marlborough yang merupakan kerabat dekat Duchess Jeanny.
Lady Diana dan nyonya Constanza langsung akrab dengan Izumi membuatnya merasa dekat dengan keluarga tersebut seperti kerabatnya di Jepang. Ini membuat Lady Izumi merasa berhutang budi dengan Duchess Jeanny.
Saat Lady Izumi sedang bingung bagaimana dia bisa mempopulerkan budaya Jepang di masyarakat Inggris. Keluarga Duke Marlborough bahu membahu membantu ide tersebut tanpa pamrih.
Ini juga kesempatan bagi Izumi melihat seperti apa jika Duchess Jeanny memakai Hakama dan kosemetik Jepang. Lady Diana terutama antusias mempelajari kosemetik Oriental dan busana Jepang.
"Uwaaa....kalian mau apakan saya....eeekk!!!" Jeanny menjerit saat dikepung kerabatnya.
"Ohohoho....menyerahlah engkau Jeanny. Sekarang turuti semua instruksi kami....ohohoho." Nyonya Constanza memegang tangan sang Duchess.
__ADS_1
"Fufufu....kakak Jeanny mendekatlah kemari sehingga kami bisa meriasmu....fufufu." Lady Diana membawa kotak kosmetiknya.
"Maafkan saya, Jeanny onee-san ini semua demi kebaikanmu." Lady izumi merasa bersalah melihat Jeanny jadi model busana Hakama.
Saat Izumi dan Jeanny tampil di publik memakai busana Hakama dan etiket Jepang langsung menjadi sensasi dan sukses besar. Semua pengunjung di Hyde Park memperhatikan betapa cantik dan menawan Duchess Jeanny yang memakai Hakama saat upacara minum teh Jepang.
\Lihat...lihat pakaian Oriental yang dikenakan Duchess Jeanny. Saya ingin punya pakaian seperti itu.////
\Uwaaa....Duchess Jeanny sangat menggoda saat minum teh. Wanita cantik sungguh berbeda jika melakukan sesuatu pasti kelihatan lebih indah.////
\Japonika....japonika. Ini pasti tren fashion yang populer di Paris saat saya sedang berkunjung ke daratan Eropa.////
\Ini pasti bisa jadi tren fashion yang akan datang. Kita bisa memperdagangkan barang-barang seperti yang sedang dipakai keluarga Duchess Jeanny.////
Lady Izumi merasa bangga dan senang mendengar untuk pertama kali orang-orang Eropa membicarakan budaya Jepang secara luas. Semua ini berkat bantuan Duchess Jeanny.
"Terimakasih....Jeanny onee-san. Saya tidak akan pernah melupakan hari ini." Bisik Izumi.
Tanpa disadari Lady Izumi, beberapa tahun kemudian saat dia pulang ke Jepang membawa berbagai barang-barang Eropa bersamanya. Foto dan lukisan Duchess Jeanny yang mengenakan Hakama menjadi harta paling berharga yang dipamerkan saat pameran di Jepang.
Keluarga kekaisaran Jepang dan para bangsawan di negerinya juga langsung takjub melihat lukisan dan foto Duchess Jeanny yang cantik, anggun dan menawan orang Eropa bisa mirip wanita Jepang.
__ADS_1
Model busana Hakama yang dikenakan Jeanny menjadi seragam sekolah gadis-gadis aristokrat di Jepang.
Kepopuleran Jeanny bahkan semakin meroket saat kabar identitas dia sebenarnya adalah putri Anastasia, cucu Ratu Victoria, sampai terdengar di negara Jepang. Seorang putri misterius yang diselamatkan keluarga Duke kemudian bertemu kembali dengan nenek dan kakeknya yang Ratu dan Raja Inggris. Cerita asal usul Jeanny menjadi novel romantis favorit dikalangan gadis-gadis aristokrat Jepang pada masa itu.