
Sudah tiga hari semenjak kehadiran Duchess Jeanny menggemparkan kota London. Sejak itu surat undangan berdatangan ke kediaman keluarga Duke Marlborough. Sebagian besar surat tersebut adalah undangan untuk pesta dansa, pesta kebun, makan siang dan makan malam untuk Duchess Jeanny, Ontario Dukedoom.
Wallace Marlborough Senior, ayah Duke John. Semula terkejut dengan rencana istri dan anak perempuannya. Tetapi setelah diceritakan krologis kejadian yang dialami John dia berubah pikiran dan ikut andil dalam rencana ini.
Kadang ada pria bangsawan yang mampir ke kediaman Duke Marlborough untuk sekedar berkenalan dengan Duchess cantik tersebut. Tapi nyonya Constanza, nona Diana dan para butler bersikeras bahwa Duchess Jeanny tidak mau diganggu.
Para pria bangsawan tersebut kemudian berusaha menyuap sebagian pegawai Duke Marlborough untuk menceritakan keseharian Duchess Jeanny.
"Duchess Jeanny selalu hadir saat sarapan pagi dan memberi hormat kepada Lord Wallace dan nyonya Constanza seperti keluarga kandungnya. Dia juga akrab dengan nona Diana. Saat siang hari dia dan nona Diana belajar tata krama di perpustakaan atau bersama guru pengajar sampai sore. Sore harinya dia bersama nyonya Constanza berkebun di rumah kaca. Saat makan malam Duchess Jeanny juga tidak pernah terlambat hadir. Dia kembali ke kamarnya setelah makan malam." Ungkap pegawai Duke Marlborough yang disuap oleh pria bangsawan disebuah pub.
"Damn...dia benar-benar seperti anak pingit yang selama ini disembunyikan keluarga Duke Marlborough. Aku benar-benar penasaran untuk bertemu dan berkenalan dengannya."
"Apa kau bisa menyampaikan pesan ke Duchess Jeanny? Saya akan tambahkan satu pound jika kau bisa mengantar bingkisan ini." Tanya pria bangsawan lainnya.
"Tidak mungkin tuan. Duchess Jeanny selalu didampingi nyonya Constanza atau nona Diana. Mereka selalu mengambil surat-surat yang ditujukan ke Duchess Jeanny. Bahkan lord Wallace kemarin membakar surat yang ditujukan ke nona Jeanny yang terselip dalam surat-surat resmi." Ungkap pegawai Duke Marlbourough ketakutan.
"Aghhh...pengawasannya ketat sekali. Tidak mungkin kita bisa berkenalan dengannya. Brengsek." Para pria bangsawan tersebut frustasi.
###########
Suatu pagi yang cerah. Nona Diana, nyonya Constanza dan Duchess Jeanny berjalan-jalan di pedesaan Inggris wilayah kekuasaan Duke Marlborough.
Para penduduk setempat menyapa mereka bertiga dengan ramah. Selain itu, banyak masyarakat lokal yang ingin melihat langsung Duchess Jeanny yang dikabarkan cantik menurut rumor orang-orang kota akhir-akhir ini.
"Selamat datang nyonya Constanza. Semoga kunjungan anda berkesan di desa kami kali ini." Sapa kepala desa Watergate.
"Terimakasih atas sambutan anda, bapak kepala desa. Jika ada persoalan tolong segera beritahukan kami atau pemerintah setempat." Jawab nyonya Constanza.
"Terimakasih nyonya. Ngomong-ngomong apakah beliau tamu yang sedang berkunjung di kediaman anda?"
__ADS_1
"Benar sekali bapak kepala desa. Perkenalkan sepupu jauh saya, Duchess Jeanny, beliau berasal dari Ontario, Kanada." Diana dengan bangga memperkenalkan Jeanny.
Jeanny dengan sopan menunduk memberi hormat kepada kepala desa. Semua orang terpukau dengan kecantikan dan anggunnya Duchess Jeanny.
Payung parrasol dengan topi musim panas lebar menutupi rambut silver Jeanny. Dari belahan topi summer terlihat wajahnya yang putih cantik. Bibirnya yang tipis menambah seksi wajahnya. Senyumnya membuat semua orang terpana. Mata violetnya memicing untuk menghindari teriknya matahari. Kulitnya yang putih serasi dengan baju dan gaun putih musim panasnya. Dia memakai sarung tangan tipis untuk melindungi tangannya dari sinar matahari. Penampilan Duchess Jeanny sederhana tapi sangat anggun dan berwibawa untuk kaum aristokrat.
Pada masa era Victoria semakin banyak kaum wanita muda aristokrat Inggris yang tinggi hati dan glamor. Mereka jarang keluar dari kediamannya atau mengunjungi wilayah kekuasaan keluarganya. Walaupun mereka keluar berkeliling atau jalan-jalan biasanya naik kereta kuda dan tidak mau turun dengan berbagai alasan.
Melihat sifat Duchess Jeanny yang tanpa sungkan berjalan kaki dan mengunjungi desa di wilayah Duke Marlborough dengan sabar membuat semua penduduk senang.
"Mari nyonya dan nona Duke Marlborough. Kami berniat menyambut anda sekalian dengan jamuan kecil. Silakan dimakan dan minum jangan sungkan-sungkan."
Jeanny mengambil segelas bir hitam. Minuman umum para penduduk (commoner). Meminumnya tanpa sungkan. Kemudian memakan sedikit snack dan sosis yang tersedia. Cara makan Duchess Jeanny sedikit demi sedikit dengan anggun menarik perhatian semua orang. Jarang ada wanita aristokrat yang mau makan dan minum makanan sederhana dengan elegan seperti Jeanny.
"Oh...nona. Anda hebat bisa minum bir tanpa tersedak dan makan makanan hidangan sosis hasil desa kami." Ungkap kepala desa.
"Saya terbiasa minum bir karena lebih bersih dan hygenis dibanding minum air diwilayah kami. Selain itu, kami tidak punya banyak pilihan makanan seperti di Inggris. Keluarga kami juga sering makan hidangan sosis seperti ini."
Saat nyonya Constanza dan nona Diana makan sambil berbincang, beberapa pria muda menghampiri Duchess Jeanny yang kebetulan berdiri agak jauh dari keramaian.
"Nona...apakah anda Duchess Jeanny?" Sapa salah satu pria tersebut.
Jeanny hanya tersenyum ringan kepada para pria tersebut sambil mengiyakan bahwa mereka benar.
"Duchess Jeanny. Perkenalkan saya Count Ralph Wordsworth. Ijinkan saya berkenalan dengan anda." Count Ralph memegang tangan kanan dan mencium bagian belakang tangan Duchess Jeanny.
Jeanny merasa merinding mengetahui ada pria yang mencium tangannya. Tapi Ralph mengira Jeanny merasa malu tersipu-sipu karena ada pria yang mendekatinya.
"Saya Baron Alex Dufalph, perkenalkan diri saya."
"Sebentar Duchess, saya Count Steven Backfield, senang berkenalan dengan wanita secantik anda." Para pria bangsawan tersebut berusaha berebutan berkenalan dengan Duchess Jeanny.
__ADS_1
Para pria tersebut saling berselisih sampai lupa tindakan mereka menarik perhatian semua orang di desa tersebut.
"Ehmmm...tuan-tuan. Mohon perhatiannya."
"Sebentar. Saya belum selesai memperkenalkan diri kepada Duchess."
"EHHMMMM...TUAN-TUAN YANG TERHORMAT."
Saat para pria bangsawan tersebut membalikkan badan mereka. Ada lima petugas polisi Inggris (constable) dan puluhan orang-orang desa dengan geram melihat kearah mereka. Dimata semua orang desa terlihat Duchess Jeanny seperti sedang dipaksa oleh kelima pria bangsawan tersebut.
"Tuan-tuan...anda sudah berani memaksa seorang wanita aristokrat terhormat dan tamu Duke Marlborough. Anda kami tangkap dengan tuduhan Lèse-majesté terhadap Duchess Jeanny." Seorang polisi senior menyebutkan kesalahan para pria bangsawan tersebut.
\TANGKAP MEREKA//// Teriak petugas polisi tersebut dan semua petugas dan puluhan pria warga desa langsung menangkap kelima pria bangsawan tersebut tanpa ampun.
Kelima pria bangsawan tersebut ditangkap, dibawa dan dimasukkan kedalam kereta kurungan polisi yang telah tersedia. Para warga desa melihat mereka dengan marah dan geram.
"Dengarkan saya. Kami hanya mau berkenalan dengan Duchess Jeanny!!!"
"Jangan sentuh saya. Orang tua saya adalah lord Wordsworth. Saya ajukan protes atas penangkapan ini."
"Duchess..tolong kami tidak bersalah!!!"
Para pria bangsawan tersebut berusaha melawan polisi dan membantah perbuatan mereka.
Sementara itu, nyonya Constanza dan nona Diana melindungi Duchess Jeanny dari pandangan para pria tersebut hingga kereta polisi pergi dari desa itu.
Semua warga desa merasa Duchess Jeanny mengalami shock dan ketakutan atas kejadian tersebut. Mereka bersimpati dan sepakat akan melindungi Jeanny dari gangguan para pria muda bangsawan.
Kejadian tersebut menjadi tajuk berita di koran London beberapa hari kemudian menambah kegemparan keberadaan Duchess Jeanny. Banyak bangsawan muda yang bersimpati dan semakin tertarik terhadap Duchess baru misterius ini.
Di suatu tempat, seorang wanita memerintahkan butlernya untuk mengirim undangan resmi kepada Duchess Jeanny.
__ADS_1