Duchess Jeanny

Duchess Jeanny
Chapter 43 Ratu Victoria marah (Extra)


__ADS_3

Suatu pagi yang cerah di gereja Westminster Abbey, London, Inggris. Pada hari itu akan dilaksanakan pernikahan anggota keluarga kerajaan Inggris di gereja tersebut. Semua anggota keluarga kerajaan Inggris, kalangan aristokrat dan elit Inggris juga hadir. Sementara di jalan-jalan menuju atau keluar Westminster Abbey telah dipenuhi oleh ribuan masyarakat London yang ingin menyaksikan pernikahan tersebut.


Ratu Victoria bersama Pangeran consort Albert, Pangeran Mahkota Edward, Putri Mahkota Alexandra, Duchess Jeanny dan anggota keluarga kerajaan berkumpul di suatu ruangan tunggu. Sang Ratu mengamati Jeanny (Anastasia), cucu kesayangannya dengan lembut tapi sedih.


Saat Ratu Victoria melihat dan bertemu langsung pertama kali dengan Duchess Jeanny. Sang Ratu langsung mengenali kemiripan Jeanny dengan mendiang putri Sulung sang Ratu. Mata berwarna violet, bibir tipis yang cantik dan badan ramping. Insting keibuaan Ratu Victoria langsung yakin bahwa Jeanny adalah Anastasia, cucu perempuannya yang hilang setelah kematian Putri Alice di Prussia.


Sejak saat itu hilang beban sang Ratu dan menjadi optimis. Selain itu, Jeanny sederhana, rendah hati, bersahaja, ramah dan baik hati dalam bergaul menjadikannya sangat populer di masyarakat Inggris. Tidak ada putri kerajaan yang sesempurna Jeanny (Anastasia) didalam pikiran Ratu Victoria.


Telah sepuluh tahun kehadiran Jeanny mengisi kehidupan Ratu Victoria dan Pangeran consort Albert. Kehadiran sang Duchess memberi warna tersendiri dalam kegiatan sehari-hari sang Ratu. Sebuah kata 'nenek' atau 'kakek' dari Jeanny seakan sudah memompa semangat kepada sang Ratu.


"Nenek....nenek....kenapa nenek melihat saya seperti ini?" Tanya Duchess Jeanny menyadari sang Ratu memperhatikannya.


"Ahhh...tidak apa-apa....Anastasia....cucu kesayanganku. Nenek tidak apa-apa." Jawab Ratu Victoria.


"????"


"Nenek jika merasa kurang sehat biarkan kakek dan paman Edward yang menggantikan nenek saat masuk ke ruang gereja." Tambah sang Duchess.


"Victoria sweety. Jangan engkau paksakan dirimu jika engkau tidak sanggup menyaksikan acara nanti." Pangeran consort Albert mengkhawatirkan istrinya.


"Ibu tidak perlu khawatir. Saya dan Alexandra bisa mewakili ibu di dalam gereja." Usul Pangeran mahkota Edward.

__ADS_1


Saat mereka semua sedang berbicara dengan Ratu Victoria terdengar ketukan dari pintu ruangan.


\Tok....tok....tok....tok....tok////


"Permisi Yang Mulia Ratu beserta keluarga kerajaan. Para tamu negara telah hadir dalam gereja. Kami siap dan menunggu kehadiran Yang Mulia Ratu beserta keluarga kerajaan." Seorang petugas gereja memberikan laporan dengan penuh hormat.


"Nah....Victoria honey. Itu adalah tanda untuk kita hadir. Mari semuanya bersiap." Ucap Pangeran Consort Albert.


"......" Sang Ratu hanya diam saja.


"Hei....hei....Alexandra apa engkau bawa cemilan untuk dibawa saat acara nanti." Tanya Pangeran mahkota Edward kepada istrinya.


"Ara...ara....jangan khawatir Edward honey. Saya bawakan sekotak biscuit dan sebotol kecil minuman soda untuk diminum didalam....fufufu." Jawab Putri Mahkota Alexandra.


Saat mereka semua tiba didepan pintu aula gereja Westminster Abbey. Keluarga kerajaan Inggris berdiri di depan pintu siap menerima sambutan kenegaraan.


"Baiklah. Semua siap." Pangeran Albert mengingatkan semuanya.


"......." Ratu Victoria tetap diam.


Saat Duchess Jeanny dan Pangeran consort Albert melangkah tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sang Ratu tidak mau bergerak maju dan menolak masuk aula gereja.

__ADS_1


"!!!!!!"


"Nenek....ada apa nenek?" Tanya Jeanny panik.


"Victoria sweety. Engkau tidak apa-apa?" Tanya Pangeran Albert panik.


"?????"


Ratu Victoria mulai menangis didepan keluarganya dan berkata sesuatu yang belum pernah diucapkannya. Sang Ratu tersenyum kemudian memandang ke arah suaminya.


"Albert dear....aku ingin turun tahta." Ungkap sang Ratu.


"!!!!!!!!" Semua yang hadir di ruang tunggu langsung terkejut.


Semula upacara pernikahan yang akan dilaksanakan jam 09.00 mundur selama satu setengah jam untuk menenangkan dan menyakinkan kembali Ratu Victoria untuk membatalkan keinginan turun tahtanya.


Mempelai pria langsung berlari menuju ruang tunggu untuk melihat keadaan sang Ratu.


Saat melihat mempelai pria sang Ratu menjadi marah dan menatap tajam kearah calon menantunya.


"Kau.....engkau yang menyebabkan semua ini. AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!!!!!"

__ADS_1


"KEMBALIKAN CUCU KESAYANGANKU!!!!!" Ratu Victoria berteriak sambil ditahan oleh Jeanny dan Pangeran consort Albert.


__ADS_2