
Note: Saya mengganti kata 'Nona' menjadi 'Lady' mulai chapter ini supaya lebih alami dibaca.
Lady Diana, anak perempuan Duke Marlborough, sejak kecil sangat menyukai dunia kosmetik dan fashion. Tetapi hobby Lady Diana ini sulit terlaksana karena di keluarga Duke Marlborough hanya dia dan ibunya yang perempuan. Diana tidak punya sepupu perempuan yang sebaya atau mau dijadikan teman berbagi hobby kosmetik dan fashion.
Tetapi, keinginan Lady Diana ini terkabul saat remaja. Abang Lady Diana, Duke John Marlborough, suatu ketika diejek atau ditertawakan teman-temannya hanya karena wajahnya dan postur tubuhnya mirip wanita. Begitu selesai mendengar penjelasan dari abangnya, Lady Diana dan Nyonya Constanza merasa marah besar.
Entah dari mana suatu ide tidak masuk akal tercetus di dalam benak Nyonya Constanza. Sang ibu ingin mengerjai balik orang-orang yang mengejek Duke John pakai trik ala wanita. Memanfaatkan postur, penampilan dan wajah John yang mirip wanita menjadi benar-benar wanita tulen.
Lady Diana yang semula tidak mengerti langsung menyadari peluang jika dia bisa memanfaatkan situasi abangnya, John, maka secara otomatis Diana mendapat obyek untuk menyalurkan hobby merias dan fashion yang selama ini dia pendam.
"Ohohoho....anakku kemarilah dan menurutlah dengan ibu untuk mengenakan pakaian dalam wanita ini. Hmmm...Blouse dan gaun ini kelihatannya akan cocok sekali denganmu, John....fufufu." Ungkap Nyonya Constanza.
"Fufufu....abang John sebaiknya menuruti ibu dan saya. Semua akan baik-baik saja. Serahkan semuanya kepada adikmu ini...hihihihi." Tawa Lady Diana licik sambil membawa kotak bedak dan lipstik.
"!!!!!"
Duke John tidak bisa menghindar dari kepungan ibu dan adik perempuannya yang mendekatinya penuh semangat. Pada akhirnya, John menyerah dan mempersilahkan adik perempuannya mendandani badan dan wajahnya dengan penuh semangat.
Selama 4 jam lebih, Lady Diana dan Nyonya Constanza bersemangat mendandani John menjadi seorang wanita asli. Nyonya Constanza bahkan terkejut melihat bakat terpendam anak perempuannya untuk pertama kali dan mendukung hobby tersebut.
"Oho...Diana sayang. Ibu tidak pernah tahu engkau berbakat dalam bidang kosmetik dan fashion. Engkau benar-benar anak perempuanku." Kagum Nyonya Constanza.
"Hihihi....terimakasih ibu. Ini belum seberapa. Saya punya banyak ide yang akan saya lakukan untuk rencana ini...fufufu." Jawab Lady Diana.
"Heeh....benarkah? Ibu akan dukung engkau nak. Mari kita balaskan dendam kita ini tanpa ampun....ohohoho." Ucap Nyonya Constanza.
"Fufufufu....belum pernah kita sekeluarga bersemangat seperti ini. Hmmm....hampir selesai...oke....PAS! KELIHATAN SEMPURNA!" Lady Diana menyelesaikan sentuhan terakhir ke wajah abangnya.
Mereka bertiga, Duke John, Nyonya Constanza dan Lady Diana, bersama-sama menghadap ke sebuah cermin raksasa di ruangan rias kediaman Duke Marlborough. Diantara Lady Diana dan Nyonya Constanza, ada seorang wanita cantik sedang duduk dengan elegan. Rambut peraknya sangat indah. Wajah dan kulitnya putih seputih susu. Bibirnya tipis menawan. Badannya ramping. Bola mata violet dan tatapan matanya sangat seksi.
"HAAAAAHHHH!!!!!" John berteriak kaget menyadari siapa wanita tersebut.
"Ohohoho....SEMPURNA....MENAKJUBKAN....MAHA KARYA....ohohoho!!!!" Nyonya Constanza memuji puas hasil karya kolaborasi dia dan putrinya.
"Waaaaw....saya sendiri tidak percaya hasilnya seperti ini....fufufufu." Ungkap Lady Diana.
Sejak malam itu, terciptalah Duchess Jeanny, seorang wanita aristokrat paling cantik dan menawan di kerajaan Inggris era Ratu Victoria. Sementara Nyonya Constanza mengajari Duchess Jeanny berbagai hal dan etiket terkait wanita bangsawan kerajaan Inggris. Lady Diana bersemangat menjahit pakaian wanita dan menyiapkan peralatan make up terbaik yang bisa didapatkannya. (^o^)/
Duke John dirumorkan pergi meninggalkan Inggris menuju Kanada bergabung dengan tentara kerajaan Inggris disana untuk waktu yang tidak ditentukan. (T_T)
#########
Suatu pagi akhir pekan yang cerah, Lady Diana dan Duchess Jeanny berangkat menuju London dengan kereta kuda keluarga Duke Marlborough. Sang kusir kuda dan pegawai pengawal yang ditugaskan menemani tampak malu-malu melihat ke arah Duchess Jeanny.
\Clak...clak...clak...clak...clak...clak////
"Umm....adik Diana, saya khawatir jika orang merasa aneh melihat penampilan saya ini." Ungkap Duchess Jeanny malu-malu.
"Kakak Jeanny jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Saya sudah lama sekali bermimpi bisa jalan bersama-sama seperti ini." Lady Diana tersenyum senang kepada Jeanny.
"....." Sang Duchess hanya diam saja.
Beberapa saat kemudian kereta kuda mereka sampai di Bond Street, daerah Picadilly, kota London. Kereta tersebut berhenti didepan gedung departemen store Fenwick. Lady Diana melihat bagaimana Doorman (porter) terkejut dan merah malu melihat Duchess Jeanny.
__ADS_1
"AHH....WOW." Doorman tersebut takjub melihat Duchess Jeanny.
Lady Diana turun duluan dari kereta kuda melihat semua pengunjung memperhatikan ke arah kereta kuda keluarganya.
Kemudian, saat Diana melihat Duchess Jeanny turun menyusulnya dari kereta kuda dia melihat bagaimana seluruh pengunjung dan pegawai di tempat tersebut takjub dan terpukau melihat Jeanny untuk pertama kalinya.
Duchess Jeanny berpakaian blouse dan gaun dark blue sangat serasi dengan rambut perak dan kulit putihnya yang halus. Mata violetnya sangat menawan. Bibir tipis dengan lipstik merah muda sangat sensual saat sang Duchess tersenyum kepada Doorman yang membantu membuka pintu kereta. Badan ramping dan langkah kaki Jeanny menunjukkan dia menguasai etiket kelas tertinggi Eropa. Secara keseluruhan penampilan Duchess Jeanny sangat sempurna dan membuat kagum semua orang yang melihatnya.
\Wow...waaah...lihat wanita muda itu. Sungguh anggun dia.////
\\Siapa dia?.....Apa ada yang mengenalnya?////
\\Uwaaa....rambut perak dan mata violetnya sungguh menawan. Wajah cantik memukau. Dia pasti seorang putri kerajaan Eropa lain yang sedang berkunjung ke London.////
Lady Diana tersenyum lebar saat mendengar dan melihat semua orang takjub melihat hasil make up yang dilakukannya. Para wanita lain ingin bisa berpenampilan seperti Duchess Jeanny. Sementara para pria ingin berkenalan dengan sang Duchess tetapi ragu karena mengira Jeanny adalah seorang putri kerajaan.
Ketika semua pengunjung takjub dan membisu melihat Duchess Jeanny. Tiba-tiba Earl Herbert Pembroke dan istrinya menyapa Lady Diana dengan ramah.
"Selamat pagi Lady Diana. Bagaimana kabar anda?" Sapa Earl Herbert.
"Apa kabar Earl Herbert dan nyonya. Kami baik-baik saja. Ayah saya sering membicarakan tentang anda." Jawab Diana.
"Umm...Lady Diana. Bisakah anda memperkenalkan wanita anggun yang bersama anda jika diperkenankan?" Tanya istri Earl Herbert.
"Ohh...my. Tentu saja. Perkenalkan Duchess Jeanny, sepupu jauh saya, dia berasal dari keluarga Duke Ontario, Kanada. Saat ini dia sedang berkunjung di Inggris untuk menggantikan ayahnya di pemerintahan kerajaan Inggris." Jawab Diana dengan terus terang.
\WOW....wow...hebat//// Semua orang langsung kagum dan terkesan mengetahui identitas wanita bernama Jeanny dan bergelar Duchess tersebut.
Lady Diana kemudian melihat bagaimana Duchess Jeanny memberi salam hormat kepada pasangan suami istri Earl Pembroke dengan etiket paling anggun. Istri Earl Pembroke tampak sungkan menerima penghormatan tersebut.
"Ohhh...Duchess. Anda tidak perlu sampai menghormati kami seperti ini. Kebangsawanan anda lebih tinggi dari gelar keluarga kami." Ungkap istri Earl Pembroke.
"Maafkan kami, sebenarnya Duchess Jeanny dibesarkan di wilayah Kanada Perancis (French Canadian) sehingga bahasa Inggrisnya masih kurang sempurna tetapi sepupu saya ini sangat fasih bahasa Perancis." Sanggah Lady Diana.
"Ohhh..my goodness. Sangat luar biasa. Masih sedikit wanita aristokrat Inggris yang fasih bahasa Perancis saat ini. Bahkan bahasa Perancis saya masih kurang sempurna." Istri Earl Herbert malu.
"N'hésitez pas, madame. Vous pouvez toujours apprendre le français." (Jangan ragu, nyonya. Anda selalu bisa belajar bahasa Prancis). Duchess Jeanny dalam bahasa Perancis.
!!!!!////
\Woow....waaahh....sungguh sempurna bahasa Perancisnya.////
\Penampilan dan gaya bahasa Perancisnya fasih. Mungkin Duchess Jeanny pernah tinggal di Perancis.////
Lady Diana cepat-cepat menggandeng lengan sepupu wanitanya, Jeanny, supaya mereka berdua tidak menjadi bahan perbincangan orang-orang di tempat tersebut.
"Kami mohon diri untuk berbelanja. Maaf mengganggu waktu anda, Earl." Lady Diana cepat-cepat menggandeng tangan Jeanny dan mohon diri untuk meneruskan berbelanja.
"Oh iya...terimakasih. Salam untuk ayah anda." Jawab Earl herbert.
#########
Didalam departemen store Fenwick, Lady Diana dan Duchess Jeanny menjadi pusat perhatian. Para pengunjung, pegawai dan eksekutif Fenwick memperhatikan mereka berdua.
"Selamat datang di Fenwick store. Ijinkanlah saya memandu anda." Sambut senior eksekutif Fenwick.
__ADS_1
\Topi ini sangat cocok dengan anda, Yang Mulia Duchess.////
\Blouse ini akan sangat menawan jika anda memakainya, Duchess.////
\Jika lace ini.....glove itu....pouch ini....////
Para pegawai toko bahkan eksekutif Fenwick menawarkan berbagai macam koleksi fashion terbaik kepada Duchess Jeanny untuk dicoba free of charge.
Eksekutif Fenwick memanfaatkan kunjungan Duchess Jeanny untuk mempromosikan produk-produk unggulan mereka kepada kaum aristokrat Inggris, terutama ibukota London.
\Lihat-lihat, topi yang dikenakan wanita itu sungguh indah.////
\Engkau benar, kita sebaiknya membeli topi yang sama sebelum orang lain. Lihat, sapu tangan yang ditawarkan kepadanya juga cantik.////
Lady Diana tampak senang dan bahagia bisa menemani seorang wanita secantik sepupunya Jeanny. Dia antusias mengkoordinir dan memborong berbagai macam koleksi fashion dan make up demi sang Duchess.
Pada sore harinya, Lady Diana dan Duchess Jeanny mengakhiri acara belanja mereka. Mereka kembali naik kereta kuda sambil diperhatikan dan diperbincangkan oleh semua pengunjung departemen store Fenwick.
"Fuuu...belum pernah saya seantusias ini berbelanja. Terimakasih kak Jeanny...fufufu." Ungkap Lady Diana gembira.
"....." Jeanny hanya diam saja.
Duchess Jeanny menyadari bahwa mimpi buruknya akan bertambah sejak hari itu.
Beberapa waktu kemudian firasat tersebut menjadi kenyataan. Sang Duchess menerima undangan langsung dari Ratu Victoria.
Mimpi buruk bagi John atau mimpi indah untuk Jeanny. (>_<)
__ADS_1