
Liska menatap tak percaya ke arah depan. Orang yang tak pernah terpikirkan olehnya tiba-tiba berada di depan rumah?.
Saat Liska akan membuka suaranya kembali, suara seseorang sudah mendahuluinya.
"Eh, nak Aland sudah datang. Bunda, Ayah di mana?" tanya Mama Liska dengan nada suara ceria.
"Di belakang tan, masih ada beberapa urusan yang harus di selesaikan terlebih dahulu" balas Aland dengan sopan dan senyum kecil.
Liska yang melihat sikap Aland yang cukup berbeda pun menatap ke arahnya dengan raut wajah tak percaya.
"Kerasukan setan kah?" batin Liska dengan perasaan heran.
"Baiklah, ayo masuk" ucap Mama Liska, mempersilahkan Aland untuk masuk ke dalam rumah.
"Loh, Mah?" ucap Liska dengan raut wajah heran dan bingung.
Mama Liska yang paham akan maksud anaknya pun tersenyum lembut serta mengelus pelan pundak Liska dan berkata,
"Nanti Mama jelaskan, sekarang masuk dulu" ucap Mama Liska dengan lembut.
"Oh, oke?" balas Liska yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
Sedangkan Aland hanya menatap heran ke arah Ibu dan anak di depannya. Dalam benaknya bertanya, apakah ada sesuatu yang tak dia tahu?.
Yah, sendari awal Aland tak tahu jika Liska di kabarkan lupa ingatan. Yang dia tahu, perubahan sikap Liska karena ingin bermain trik dengannya, dengan tujuan agar dia memperhatikan sosok Liska.
Mereka mulai memasuki rumah dan menuju ke arah ruang makan. Dengan tenang Aland menarik salah satu kursi yang berada di samping kursi Liska. Liska yang melihat itu menatap tak suka ke arah Aland. Aland yang menyadari itu hanya mengangkat bahu tak peduli. Dengan tenang dia mendudukan diri di kursi tadi.
Tak membutuhkan waktu lama, sepasang suami/istri berjalan mendekat ke arah mereka dan di sambut oleh Mama Liska dengan penuh suka cita.
__ADS_1
"Mbak Lia" panggil Mama Liska dengan raut wajah senang.
"Lala, apa kabar?" tanya wanita tadi setelah sampai di dekat Mama Liska.
"Baik, mbak sendiri bagaimana?" tanya Mama Liska balik.
"Baik juga, lalu-" ucap lawan bicara Mama Liska terpotong oleh suara berat seorang lelaki dewasa.
"Duduk dan makan, jika ingin berbincang nanti setelah makan" ucap sang suami dengan datar menatap ke dua wanita tadi.
"Hehe, iya Yah. Maaf" balas sang istri dengan raut wajah penuh sesal.
Setelahnya dia mulai duduk di kursinya, bersebelahan dengan kursi Mama Liska. Sedangkan sang lelaki tadi duduk di kursi paling ujung, kursi kepala keluarga.
Setelah semuanya duduk, dengan tenang tanpa terburu mereka mulai mengambil makanan dan menyantapnya.
Ruang makan terlihat sangat tenang dan damai, tak ada suara yang keluar dari sana kecuali suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.
"Ada yang ingin di bicarakan?" tanya lelaki dewasa tadi, yang duduk di kursi kepala keluarga.
"Ekhm!" dehem Mama Liska, mengambil alih perhatian mereka semua.
"Pertama-tama saya ingin meminta maaf karena merahasiakan ini dari kalian," ucapnya terhenti sejenak dan menatap ke seluruh orang yang ada di sana, untuk melihat reaksi mereka atas perkataannya barusan.
"Seperti yang kalian tahu, Liska anak saya mengalami kecelakaan ringan dan tanpa di duga dari kecelakaan itu berdampak cukup besar untuknya" lanjutnya dengan helaan nafas pasrah.
"Apa maksudmu La?" tanya Bunda Aland dengan raut wajah tak paham.
"Liska mengalami amnesia, sebagian ingatan dia lupakan" balas Mama Liska apa adanya.
__ADS_1
"Yang benar La? Bagaimana mungkin?" tanya Bunda Aland dengan raut wajah tak percaya. Tak jauh dari Bundanya, sosok Aland juga merasa tak percaya bercampur terkejut. Dengan refleks dia menatap ke arah Liska. Yang di tatap sedang mendengarkan pembicaraan itu dengan tenang, tak merasa terganggu sama sekali.
"Saat terjatuh dari tangga, beberapa kali kepalanya terbentur ke lantai dengan keras, sebab itu sebagian ingatanya hilang" jelas Mama Liska dengan raut wajah serius.
"Benarkah? Lalu bagaimana?" tanya Bunda Aland dengan raut wajah cemas.
"Ingatanya bisa pulih seiring berjalannya waktu, mbak tak perlu risau" balas Mama Liska dengan senyum menyakinkah.
"Syukurlah jika begitu" ucap Bunda Aland dengan bernafas lega.
"Tapi saya berpikir untuk memudurkan waktu pengumuman tentang pertunagan mereka, tunggu sampai ingatan Liska kembali" ucap Mama Liska menyampaikan keinginanya.
"Tunangan? Maksud Mama apa?" tanya Liska dengan raut wajah terkejut.
"Iya sayang, mungkin kamu lupa tapi kenyataannya kamu dan Aland sudah bertunangan" ucap Bunda Aland dengan nada suara lembut.
"Sejak kapan?" tanya Liska refleks, dalam benaknya bertanya bagaimana mungkin dia dan Aland bertunangan?.
"Sudah 6 bulan kalian bertunangan dan hanya anggota keluarga saja yang tahu itu" balas Mamanya dengan sorot mata lembut.
Liska memasang raut wajah rumit, dirinya masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin dia dan Aland bertunangan? Apakah ini ada dalam alur novel? Jika pun dia dan Aland bertunangan bukankah sosok Aland terlalu kejam dengan tunangannya sendiri?.
"Apakah pertunangan itu bisa di batalkan?" gumam Liska yang masih bisa di dengar oleh mereka, terutama sosok Aland yang ada di sampingnya.
Mendengar gumangan Liska barusan membuat mereka menatap terkejut ke arahnya.
"Tidak bisa sayang, pertunangan ini sudah di setujui oleh kedua belah pihak. Selain itu, pertunangan ini juga menyangkut hubungan kedua belah keluarga" balas Bunda Aland dengan lembut.
"Ah, begitu ya" balas Liska dengan raut wajah tak puas.
__ADS_1
Aland yang melihat respons Liska tadi entah kenapa merasa tak suka dalam benaknya.