
Jam istirahat.
Gosip tentang Liska dan Anton sudah menyebar ke sebagian besar siswa dalam waktu sekejap.
Di kantin, mereka sibuk membicarakan hubungan Liska dan Anton dengan hebohnya.
Di salah satu meja kantin, yang berisikan 5 orang remaja laki-laki. Mereka sibuk mendengarkan beberapa orang yang bergosip di dekat mereka.
"Apa benar mereka berpacaran?" ucap si A dengan raut wajah penasaran.
"Entah, tapi dari sikap Anton tadi aku merasa yakin mereka mempunyai hubungan" balas si B dengan raut wajah santai, tak merasa terbebani dengan berita yang menyebar.
"Kenapa harus dia? Apa tak ada gadis lain?" kata si A dengan raut wajah kesal.
"Itu pilihannya, kita tak bisa ikut campur" balas si B dengan penuh peringatan.
"Tapi aku tak setuju jika pangeranku memiliki hubungan dengan gadis itu" sahut lawan bicaranya dengan lesu.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Menjadi pelakor? Atau ingin menjadi antagonis di hubungan mereka seperti dia? Membully Liska setiap hari dan mengancamnya untuk menjauhi Anton?" tanya si B dengan raut wajah tenang.
"Tentu saja tidak, aku tak sepicik itu" balas si A dengan lesu dan menaruh kepalanya di meja kantin.
Tak jauh berbeda dari mereka, beberapa orang juga sedang sibuk membicarakan hubungan Liska dan Anton.
__ADS_1
"Mereka benar mempunyai hubungan?" tanya Adit dengan raut wajah penasaran dan menatap wajah teman-temannya satu persatu.
"Mana ku tahu, tanya saja pada orangnya langsung" balas Tama dengan raut wajah tak santai.
Dika yang mendengar perkataan kedua temannya pun merasa tertarik dan menyuarakan pendapatnya.
"Bukankah itu bagus? Jika dia berhubungan dengan Anton makan dia tak akan mendekati Aland lagi? Dan yang pasti dia tak akan waktu untuk medekati kita, karena sibuk dengan pacar barunya?" ucap Dika menyuarakan isi pikirannya.
"Yah, benar apa katamu" balas Adit sedikit ganjil dengan perkataannya barusan.
"Yang terpenting dia tak menganggu Dinda lagi" balas Rehan dengan tenang dan memakan makanannya.
Tama juga merasakan hal yang sama, entah kenapa di sudut hatinya ia merasa tak suka tentang hubungan Anton dan Liska.
Sedangkan Aland, dia sedang menahan gejolak marahnya. Bahkan tangan yang sendari tadi di bawah meja sudah terkepal kuat, siap untuk menghajar siapa saja. Aura yang dia keluarkan juga penuh akan tanda bahaya.
Liska duduk di mejanya dengan tenang. Tak tahu akan gosip yang tersebar di luar sana, karena sibuk dengan dunianya sendiri. Kalau pun tahu, dia juga akan bodo amat.
Dengan raut wajah tenang Liska membaca buku sejarah. Di temani oleh satu kota susuk coklat, pemberian Rangga.
Semua ketenanganya bagaikan angin lalu saat suara nyaring seseorang memasuki gendang telinganya.
"Liska!" panggil Yara dengan suara yang menggema di dalam kelas.
__ADS_1
Mendengar suara yang tak asing baginya, membuat Liska menatap malas ke arah Yara.
Tanpa memedulikan tatapan penuh ancaman dari Liska, Yara mulai berlari mendekat dengan nafas tak teratur. Dia diam beberapa saat untuk mengatur deru nafasnya.
"Lu punya hubungan apa sama Anton?!" tanya Yara dengan heboh setelah nafasnya mulai tenang.
"Hah?" bingung Liska sambil menatap ke arah Yara dengan raut wajah tak paham.
"Elu punya hubungan apa sama Anton? Satu kantin bicarain lu berdua, Liska!" ucap Yara dengan geram. Sangking geramnya dia sampai memukul meja dengan pelan, untuk pelampiasan.
"Enggak, gue gak ada hubungan apa pun sama dia" balas Liska apa adanya.
"Bohong! Kalau gak ada apa-apa, kenapa banyak siswa yang bicarain lu? mereka bilang lu pacaran sama Anton!" ucap Yara dengan nada suara tak percaya dan sorot mata penuh akan kecurigaan.
"Terserah mau percaya atau gak, yang pasti gue sama Anton gak ada hubungan apa pun" ucap Liska dengan mengangkat bahunya sekilas dan kembali sibuk ke bukunya.
"Yang bener dong Lis!" ucap Yara dengan raut wajah frustrasi.
"Gue gak bohong Yara, lagi pula kenapa lu percaya banget sama gosip murahan dari kantin? Kayak gak tahu aja, gosip kek gitu belum tentu bener" ucap Liska dengan raut wajah lelah.
"Tapi-" perkataan Yara yang di potong oleh Liska tanpa minat.
"Udah ya, gue masih sibuk. Kalau gak ada yang penting sana balik jajan, bentar lagi masuk" ucap Liska berniat mengusir Yara.
__ADS_1
"Iya, Bye" balas Yara dengan pasrah. Dan mulai berlari ke arah kantin, saat ingat akan pesanannya.
Liska yang melihat itu hanya menggelengkan kepala pelan dan kembali sibuk ke bukunya.