
Rehan berjalan ke arah kelas Dinda, dengan sorot mata tajam. Di sepanjang koridor banyak siswa-siswi yang memberi jalan untuk Rehan lewat. Karena mereka sadar, bagaimana Rehan jika dalam keadaan marah. Dia akan menghilangkan halangannya tanpa pandang buluk. Dari pada kena hajar, mending mereka cari aman bukan?.
Sesampainnya Rehan di kelas Dinda matanya menatap ke sekeliling dan matanya tak menemukan Dinda di mana pun.
Brak!
"Dimana Dinda?!" tanya Rehan penuh akan tekanan dan aura negatif.
Mendengar pertanyaan dari Rehan membuat mereka saling pandang dan mengangkat bahu tak tahu, hingga salah satu di antara mereka mengangkat suara.
"T-tadi aku lihat dia jalan ke taman belakang kak" ucap siswa tadi dengan gugup.
Setelah mendengar jawaban yang dia minta, Rehan pun berjalan ke arah taman belakang dengan Tama yang masih setia mengekorinya bagaikan anak ayam.
Sesampainya di taman belakang, Rehan menagkap sosok Dinda yang terduduk di bangku taman dengan sorot mata kosong.
"Dinda!" teriak Rehan memanggil nama Dinda. Dinda yang tadinya melamun pun terkejut karena suara keras Rehan.
Matanya menatap ke arah sumber suara dan aaat melihat siapa yang memanggilkan, dia tersenyum senang.
"Kak Rehan!" panggil Dinda dengan senyum senang dan berlari ke arah Rehan berniat memeluk tubuh tegap itu.
__ADS_1
Belum juga dirinya menyentuh tubuh Rehan sebuah tamparan hinggap di pipi kanan Dinda, hingga membuat tubuhnya terjatuh ke atas tanah dengan cukup kasar.
Plak!
"K-kak?" panggil Dinda dengan tangan memegang pipinya yang terasa berdenyut nyeri. Rehan jongkok di depan Dinda dan mencengkeram rahang Dinda dengan kasar.
"Mulai sekarang kita putus dan jangan ada di jangkauan mata gue atau terima akibatnya!" bisik Rehan dengan penuh tekanan. Setelahnya di melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hingga membuat wajah Dinda tertoleh ke kanan.
"Gue tunggu kata maaf lu buat Liska, kalau gak gue denger, tunggu dan lihat apa yang akan gue lakuin sama keluarga kecil lu itu" ucap Rehan dengan datar.
Rehan mulai bangkit dan berniat pergi tapi langkahnya terhenti karena cengeraman di tangannya.
"Kak, kenapa? Dinda ada salah apa?" tanya Dinda dengan raut wajah bingung.
"Maksud kakak apa? Dinda gak paham? Coba bicara baik-" ucap Dinda terpotong dengan suara dingin Rehan.
"Bicara baik-baik lu bilang? Setelah apa yang lu lakuin kemarin?! Sekarang lu bilang buat bicara baik-baik? Otak lu di mana?!" bentak Rehan sambil menunjuk kepala Dinda dengan kasar hingga dia berjalan ke belakang beberapa langkah.
"Ledakan di Lab. Kimia kemarin itu semua rencana lu sama Clesia bukan?! Dan dengan mudahnya elu putar balikkan fakta, melemparkan semua kesalahan ke Liska? Gak habis pikir gue kalau cewek yang gue kira polos ternyata licik!" ucap Rehan dengan sorot mata menilai.
Dinda yang mendengar perkataan Rehan barusan, hanya bisa menatap ke arah Rehan dengan raut wajah tak percaya. Matanya menatap ke arah Tama, yang sendari tadi diam di belakang Rehan. Di sana Tama menatap ke arahnya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Maksud kakak apa?" tanya Dinda pura-pura tak tahu.
"Jangan pura-pura tak tahu Dinda! Semua bukti udah jelas! Bahkan satu sekolahan udah tahu!" ucap Rehan tak habis pikir dengan sosok Dinda di depannya.
Dinda yang mendengar perkataan Rehan barusan merasa terkejut.
"Bagimana mungkin?" batin Dinda dengan raut wajah tak percaya.
"Cih!" decih Rehan dan berjalan meninggalkan Dinda di sana. Tama juga ikut berjalan menjauh dari sana.
"Aku ngelakuin itu juga karena kalian!" teriak Dinda membuat langkah Rehan dan Tama berhenti. Mereka membalikkan badan dan menatap Dinda dengan datar.
"Aku gak suka kalian perhatian ke Liska! Aku gak suka kalian mulai care dengan Liska! Aku gak suka!" teriak Dinda dengan mata terpejam dan tangan terkepal kuat.
"Aku mau perhatian kalian hanya buat aku, gak boleh buat perempuan lain!" teriaknya lagi sambil menundukkan kepala dalam.
"Gila!" desis Rehan sambil menatap Dinda dengan sorot mata merendahkan. Sedangkan Tama? Dia menatap jijik ke arah Dinda.
Dalam benak mereka berkata, ternyata mereka salah menilai orang. Mereka merundung orang yang salah dan mereka benar-benar menyesal.
Mereka kembali berjalan menjauh tak memedulikan sosok Dinda yang berdiri di sana.
__ADS_1
Dinda menatap punggung mereka dengan sorot mata terluka. Dengan kasar tubuhnya kembali luruh ke atas tanah. Dirinya menangis dengan kencangnya, menangisi takdirnya yang tak sesuai dengan ekspektasi.