Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 19


__ADS_3

Malam itu, Liska benar-benar menghabiskan waktunya dengan Anton. Bahkan dirinya belum juga pulang hingga pukul 10 malam.


"Udah malam, ayo pulang" ucap Anton dan bangkit dari duduknya.


"Hm" balas Liska dan ikut bangkit dari duduknya.


Mereka mulai berjalan beriringan ke arah motor Anton berada, hingga mata Liska tanpa sadar menangkap dua sosok manusia yang cukup tak asing di matanya.


Kedua orang itu sedang memasuki mobil dengan sang lelaki membukakan pintu mobil dengan mesranya.


"Cih! Memuakan!" ucap Liska dengan sorot mata tajam dan sinis. Dalam sekejap suasana hatinya berubah, dia benar-benar muak dengan sosok Aland. Sosok yang tadi dia lihat adalah Dinda dan Aland.


Anton yang mendengar perkataan Liska tadi merasa heran dan menatap ke tempat yang Liska tatap. Di sana, dia hanya melihat sebuah mobil melaju meninggalkan taman.


"Apa itu kekasih Liska?"  batin Anton sambil menatap mobil tadi dengan rumit dan tangan terkepal erat. Entah kenapa dia merasa kesal saat mengingat perkataan Liska tadi.


Flasback.


"Lu kenapa pakai pakaian kek gitu?" tanya Anton dengan heran.


"Niat awal ada janjian sama tunangan, tapi setengah jam gue nunggu dia gak muncul-muncul" ucap Liska dengan raut wajah tenang dan mata menatap ke depan dengan sorot mata tanpa emosi.


Berbeda dengan Anton, dia berpikir Liska merasa sedih dan menutupi kesedihannya dengan raut wajah datarnya. Dia juga merasa terkejut saat mendengar fakta bahwa Liska sudah memiliki tunangan, tapi dalam sekejap dia sadar, tak mungkin sosok seperti Liska masih single.


Flasback off.


"Sial! Awas aja kalau gue tahu tunangan Liska, habis lu sama gue"  batin Anton dengan tangan terkepal kuat.


"Gak jadi pulang?" tanya Liska saat tak melihat Anton bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


"Oh iya, ayo" ucap Anton dengan menepuk jidatnya pelan. Setelahnya membawa sosok Liska ke arah motornya berada.


Di lain tempat.


Aland baru saja sampai di depan rumah Dinda. Dia mengantarkan Dinda hingga di depan perkarangan rumahnya.


"Aku turun dulu kak, hati-hati di jalan" ucap Dinda dengan senyum manisnya, dan melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di dada dan perutnya.


"Hm, langsung tidur" ucap Aland dengan senyum tipis.


"Siap! Selamat malam kak dan makasih malam ini" ucap Dinda sebelum keluar dari dalam mobil.


"Dadah kak!" teriak Dinda sambil memasuki rumahnya.


Aland masih di tempat dan matanya menatap lekat sosok Dinda, hingga sosok itu hilang di balik pintu. Saat Dinda sudah masuk ke dalam rumah, dirinya ingat akan satu hal.


"Sial, gue lupa sama dia!" ucap Aland setelah ingat tujuan awalnya ke taman tadi. Dengan gerakan terburu dia melajukan mobilnya kembali ke arah taman.


Walau sudah malam, tapi taman ini masih saja ramai dengan padatnya orang.


Aland mulai melangkah memasuki taman, memutari taman itu dengan langkah sedikit berlari. Cukup lama Aland mencarinya, tapi dia tak bisa menemukan Liska di mana pun.


"Sial! Apa dia udah pulang?" ucap Aland dengan raut wajah frustrasi karena tak menemukan Liska di mana pun.


Dengan langkah sedikit terburu dia kembali memasuki mobil dan berniat menuju ke rumah Liska. Untuk memastikan apakah Liska sudah sampai rumah atau belum.


Di lain tempat.


"Gue masuk dulu, hati-hati" ucap Liska setelah turun dari motor Anton.

__ADS_1


"Hm, tidur yang nyenyak. Selamat malam" ucap Anton dengan senyum manis, setelahnya mengendarai motor itu menjauh dari kawasan rumah Liska.


Liska menatap tubuh Anton hingga hilang, karena jarak yang semakin menjauh.


Liska mulai berjalan memasuki rumah, baru saja pintu terbuka sudah menampilkan sang Mama, yang bersedekap dada dengan raut wajah datar.


"Dari mana? Kenapa tak bersama Aland?" tanya Mama Liska dengan mata menatap sang anak penuh selidik.


"Jalan-jalan sama temen, dan untuk dia Liska tak tahu" balas Liska dengan raut wajah malas. Setelahnya berjalan melewati sosok Mamanya dengan raut wajah kesal.


"Kalian tak jadi makan malam?" tanya Mama Liska dengan kerutan di dahinya.


"Tidak, setengah jam Liska menunggu di tempat janjian tapi dia tak muncul-muncul. Jadi Liska tinggal saja dan di jalan Liska bertemu teman Liska tadi" ucap Liska menjelaskan kepada Mamanya.


Mendengar penjelasan sang anak, Mama Liska hanya mengangguk paham dan menatap sedih ke arah anaknya.


"Mama tahu, tadi orang suruhan Mama sudah lapor ke Mama" balas Mama Liska dengan senyum simpul. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekati sosok Liska dan mengelus kepala anaknya dengan sayang.


"Sekarang tidur, besok masih harus sekolah" ucap Mamanya dengan lembut.


"Baik, selamat malam Mah" ucap Liska dengan senyum tipis, setelahnya berjalan menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya.


Mama Liska menatap punggung anaknya denga  sorot mata sulit di artikan.


"Inilah alasanku memundurkan waktu pengumuman pertunanga mereka. Aku masih tak percaya dengan anak bau bedak itu" ucap Mama Liska dengan nada suara tajam. Dirinya benar-benar kecewa dengan sosok Aland. Setelah itu berjalan ke arah kamarnya dengan langkah pelan.


Di luar rumah.


Terlihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang rumah Liska. Sang pengendara menatap pintu pagar dengan pandangan  rumit.

__ADS_1


"Kenapa sampai di sini?" gumam Aland sambil menatap ke arah rumah Liska dengan raut wajah heran.


"Bukan urusanku dia sudah ada di rumah atau belum, bodoh!" ucap Aland sebelum menancapkan gasnya meninggalkan perkarangan rumah Liska.


__ADS_2