Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 75


__ADS_3

Aland masih berdiri di depan gerbang rumah Liska, bahkan cuaca yang panas tak membuatnya berpindah tempat. Hingga sebuah panggilan mengalihkan fokusnya.


Tanpa melihat siapa yang menelfon, Aland mengangkat panggilan itu.


"Hm?" gumam Aland dengan mata menatap ke arah depan.


'Lu di mana?' tanya Tama dengan nada suara sedikit terburu.


"Rumah Liska" balas Aland tanpa minat.


'Lu buang-buang waktu, Liska gak ada di rumah. Lihat grub, gue tunggu di rumah Rehan' ucap Tama sebelum mematikan ponselnya.


Setelah panggilan itu Aland mulai membuka grub pertemanannya.


Lokasi


'Titik terakhir sebelum Liska menghilang'.


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Adit di grub. Tanpa menunggu lama, Aland mulai berlari ke arah motornya dan melajukannya ke arah tempat yang Tama bilang tadi.


Di lain sisi.


Saat ini Anton sedang menunggu anak buah Daddy 'nya dengan tak sabaran.


Tak lama sosok dengan baju formal serba hitam pun datang dan menghampirinya.


"Selam-" ucap sang pengawal yang sudah terpotong oleh perkataan Anton.


"Berkas" ucap Anton dengan datar.


Tanpa melajutkan perkataannya, pengawal tadi memberikan tap di tangannya ke Anton.


"Ini beberapa rekaman CCTV jalan yang saya dapatkan. Menurut rekaman CCTV, mobil yang membawa nona menuju ke arah ujung kota" balas sang pengawal dengan raut wajah tanpa emosi.


Anton sibuk memeperhatikan setiap video yang berputar, dan tak lama dia menatap ke arah pengawal di depannya.


"Panggil 7 pengawal Daddy, gue tunggu di titik ini" ucap Anton sambil menunjuk salah satu titik kota yang ada di rekaman CCTV.


"Baik" balas lawan bicara  Anton dengan patuh.


"Dan satu lagi, turunkan nilai saham keluarga Dirgantara sekitar 3%" perintah Anton lagi.

__ADS_1


"Baik tuan muda" balas sang pengawal dengan patuh.


"Bagus" ucap Anton dengan puas, setelahnya memasuki mobil yang di bawa oleh pengawalnya tadi.


"Lu ikut gak?" tanya Anton dengan datar sambil menatap Rangga tak berminat.


"Y-ya" balas Rangga yang masih syok dengan mobil milik Anton.


Setelahnya, mereka memasuki mobil dengan Anton yang menyetir.


Dengan kecepatan sedang Anton melajukan mobilnya menjauh dari sana. Mata itu menyorot tajam ke arah depan. Tak lama, di belakang mobil Anton ada sosok Adit mengikuti mereka.


"Curut satu itu, masih mengikuti?" batin Anton dengan raut wajah datar.


"Lu kenapa?" tanya Rangga dengan raut wajah heran.


"Ada curut" balas Anton dengan datar dan mata masih fokus ke arah depan.


"Hah?" bingung Rangga sambil menatap Anton dengan raut wajah tak paham.


"Adit ada di belakang" ucap Anton dengan malas.


"Oh?" balas Rangga dan menatap ke belakang untuk memastikan dan benar saja, ada sosok Adit yang sedang mengendarai motornya dengan jarak yang tak jauh dari mereka.


"Biarin, siapa tahu berguna" balas Anton dan menambah laju mobilnya.


Di lain tempat.


Setelah tersebarnya video itu, sekolah menjadi kacau. Dan ketiga pemeran utama di video itu, di panggil oleh kepala sekolah. Di sinilah mereka sekarang, menghadap kepala sekolah dengan kepala tertunduk dalam.


"Kalian tahu, alasan kenapa di sini?" tanya sang kepala sekolah dengan datar.


Ketiga siswi yang di tanya hanya bisa diam membisu dengan kepala menunduk dalam.


"Hah!" helaan nafas lelah sang kepala sekolah dan menatap ke arah mereka dengan datar.


"Ini surat untuk keluarga kalian, sesuai peraturan di sekolah kalian di keluarkan secara tidak hormat dari sekolah" ucap sang kepala sekolah sambil menyerahkan amplop putih ke arah mereka.


Ketiga orang itu menatap ke arah sang kepala sekolah dengan raut wajah terkejut.


"Sekarang keluar, kecuali Derana" ucap sang kepala sekolah dengan mata menatap Derana tajam.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang kepala sekolah, membuat mereka mau tak mau mulai bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan dengan sebuah amplop di tangan masing-masing.


"Derana, berapa kali Paman bilang? Ubah sikap mu jika tak mau Paman kirim ke Papimu" ucapnya sambil memijat pelipisnya pelan.


"Maaf Paman" balas Derana dengan tangan meremas roknya dengan cemas.


"Paman tak bisa mempertahankan kamu di sini lagi Derana, mulai besok kamu akan tinggal di Canada bersama Papimu" ucap Paman Derana sambil menatap keponakannya dengan datar.


"T-tapi Paman-" ucap Derana sambil menatap ke arah Pamannya dengan raut wajah takut.


"Tidak ada bantahan Derana, berapa kali Paman kasih kamu kesempatan untuk berubah?" tanya Paman Derana dengan sorot mata datar.


"Derana mohon Paman, beri Derana satu kesempatan. Derana janji, kali ini Derana tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dari Paman" ucap Derana dengan raut wajah memohon.


"Keputusan Paman sudah bulat, sekarang kamu pulang dan persiapkan barang-barangmu untuk berangkat ke Canada" balas Paman Derana tak merasa iba sama sekali.


"Paman-" ucap Derana yang terpotong oleh perkataan Pamannya.


"Keluar Derana" ujar Paman Derana dengan sorot mata penuh peringatan.


"B-baik" balas Derana dengan gugup dan mulai berlari keluar ruangan. Karena dia tahu persis bagaimana amarah Pamannya itu.


Di lain sisi.


Di sepanjang koridor, banyak pasang mata yang menatap Dinda dan Clesia dengan mencemooh.


"Cih! Satu topeng harganya berapa?" tanya salah satu siswi sambil menatap mereka dengan senyum mengejek.


"Gila sih, satu geng punya stok topeng banyak" balas yang lain.


"Ini yang namanya, teman cerminan diri sendiri, sama-sama ngoleksi topeng"


"Yang gue kira baik dan ramah, eh ternyata egois dan serakah!"


Kurang lebih, begitulah kata-kata yang mereka lontarkan.


Dinda yang mendengar perkataan mencemooh dari mereka, hanya bisa menunduk dalam dengan tangan saling meremas.


Clesia? Dia menatap orang yang berani membicarakannya dengan sorot mata tajam. Setelah itu menambah laju jalannya menuju kelas, untuk mengambil tas.


"Aku gak terima, ini semua gara-gara Liska" batin Dinda yang masih menyalahkan Liska.

__ADS_1


                       


__ADS_2