Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 51


__ADS_3

Jam istirahat, Liska berjalan menuju ke arah kantin. Langkahnya begitu tenang dan tegas. Di setiap langkahnya terlihat begitu penuh akan tekanan.


Koridor sekolah saat itu cukup ramai, tapi tak membuat raut wajah Liska berubah.


Di pertengahan koridor, secara sengaja atau tidak? Ada seseorang menabraknya dengan setupuk buku di tangannya.


"Akhh!" jerit orang tadi dengan raut wajah kesakitan? Entahlah.


Liska masih berdiri di tempat dan mata menatap datar ke arah orang di bawahnya.


"S-sorry" ucapnya sedikit gugup, setelahnya memungut buku-buku yang dia bawa tadi.


"Hm" balas Liska tanpa niatan untuk membantu. Tapi kakinya masih berhenti di sana, dengan lekat dia menatap ke arah gadis itu. Wajah itu terlihat tak asing baginya, wajah yang cukup femilier, tapi siapa?.


Sangkin fokusnya mengawasi perempuan tadi membuat Liska tak sadar jika gadis tadi sudah selesai memungut bukunya.


"Sekali lagi maaf" ucap gadis tadi tak berani menatap ke wajah Liska.


"Lu siapa?" tanya Liska tak memedulikan ucapan maaf dari gadis di depannya.


"G-gue?" tanya Gadis di depan Liska dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Hm" balas Liska dengan anggukan kepala ringan.


"Gue Ariana, kelas Bahasa" balas gadis tadi dengan kaku.


"Oh?" balas Liska merasa asing dengan nama gadis tadi.


"Mungkin cuma perasaan gue aja" batin Liska dengan mata terfokus ke sosok gadis di depannya.


"Gue duluan" ucap Liska dan tanpa menunggu waktu lebih lama Liska mulai berjalan ke arah kantin, menyusul Rangga dan Yara.


Sesampainya di kantin, Liska menatap ke sekelilingnya dan mata itu menangkap ke bangku bagian tengah. Di sana ada Rangga dan Yara yang sedang menikmati makanan mereka. Kakinya mulai melangkah mendekat dan duduk di samping Yara dengan tenang.

__ADS_1


"Sorry telat" ucap Liska tidak ada raut wajah menyesal sama sekali.


"Dih! Minta maaf apaan tuh, ulang-ulang!" ucap Yara tak terima dengan cara minta maaf Liska.


"Ribet" balas Liska dengan malas dan tak berminat untuk mengulang permintaan maafnya.


Tanpa memedulikan kedua temannya yang menatap ke arahnya dengan sorot mata protes, Liska mulai berjalan menuju ke salah satu warung.


"Woy! Permintaan maaf lu belum di terima!" teriak Rangga tanpa malu.


"Malu bege!" ucap Yara sambil menutup wajahnya dengan kedua tanga.


"Heleh! Tumben tahu malu, biasanya juga malu-maluin gak tau tempat" nyinyir Rangga dengan sorot mata julidnya.


"Beda ya, dulu gue kagak ada crus, sekarang ada, ya harus jaga image lah" ucap Yara tak terima.


"Heleh, image yang mana? Image lu tinggal 60% cewek aneh, 40% cewek gila" ucap Rangga tanpa beban.


"Sialan lu!" ucap Yara sambil melepar sedoknya ke arah Rangga, tapi bisa Rangga hindari. Yara yang melihat itu pun tak terima dan menatap kesal ke arah Rangga. Sedangkan Rangga? Dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah tertekuk Yara.


Saat ini Liska sedang mengantri di salah satu warung penjual makanan. Dengan sabar dia menunggu gilirannya. Dan perjuangannya pun tak sia-sia saat semangkuk soto sudah di tangannya.


Dengan perlahan Liska membawa makanannya ke arah meja tadi. Saat matanya fokus menatap ke arah semangkuk soto, tanpa sadar dari depan ada seseorang berjalan ke arahnya dan tabrakan pun tak bisa terelakkan.


Prak!!


Sebuah suara nyaring memenuhi kantin, saat mangkok  yang Liska bawa terjatuh ke atas lantai.


Salah satu di antara mereka terjatuh di atas lantai dengan bagian depan baju terkena kuah soto panas milik Liska.


Banyak pasang mata menatap ke arah mereka dan menatap dengan penuh minat.


Liska masih diam, karena pergelangan tangannya yang terkilir karena kejadian tadi.

__ADS_1


"Isshh!" desis gadis tadi sambil mengibaskan seragam depannya. Dadanya terasa panas karena kuah soto milik Liska.


"Lu punya masalah sama gue?!" bentak Derana dengan sorot mata tak santai dan mulai bangkit dari jatuhnya.


Liska hanya diam dan menatap gadis di depannya dengan sorot mata santai.


"Mau balas dendam? Bilang!" ucapnya lagi bertambah sewot saat melihat respons Liska.


"Kenapa? Panas?" tanya Liska dengan santai tanpa beban.


"Gak perlu tanya juga lu tahu!" sahut Derana dengan tangan sibuk mengibaskan baju depannya.


"Oh" balas Liska dengan santai, dan tanpa di duga tangan Liska mengambil minuman yang tak jauh dari jangkauannya. Setelah itu menyiramkannya ke arah Derana.


"Masih panas?" tanya Liska dengan santai dan tersenyum sinis.


Sedangkan orang tadi masih berdiam di tempat, dengan raut wajah syok. Muka yang terkena cipratan jus alpukat pun terlihat sangat kocak.


"Lu!" desisnya sambil menujuk ke arah Liska dengan raut wajah merah padam karena emosi.


"Udah ya gue sibuk, gak ada waktu buat ngehadepin human kek elu" balas Liska dengan senyum sinis dan meninggalkan Derana yang sedang menggeram marah di tempatnya.


"Berhenti lu Liska!" teriak Derana yang menggema di sepanjang kantin.


Liska mendengarnya tapi tak peduli, kakinya masih dengan tenang berjalan keluar dari kantin.


"Liska!-" ucap Derana terpotong oleh perkataan seseorang.


"Udah Rana, bersih-bersih dulu. Gak malu di lihatin banyak orang?" tanya Sia dengan lembut.


"Akhh!" jerit Derana dengan kesal dan tanpa menunggu lama kakinya mulai berjalan keluar kantin dengan langkah marah di ikuti oleh Sia di belakangnya.


"Anjay! Sohib gue tuh" ucap Yara dengan bangga saat menyaksikan drama di depannya.

__ADS_1


Kebanyakan siswa di sana juga merasa senang dengan apa yang menimpa Derana. Bagaimana tidak, sebagian besar pengunjung kantin adalah siswa yang terkena bully oleh Derana. Entah itu fisik atau spikis, ingin melawan pun mereka tak bisa. Kepala sekolah di sini paman Derana, sosok yang selalu memanjakan Derana. Sebab itu mereka senang saat ada yang berperilaku tak baik dengan Derana.


__ADS_2