
Liska terus melangkah, hingga tarikan di tangan menghentikam langkahnya. Tanpa permisi orang tadi menariknya menjauh dari tempat tujuan. Dia membawa sosok Liska ke arah gedung belakang. Tempat yang sedikit di kunjungi oleh siswa.
Liska menatap sengit ke arah orang di depannya. Hingga sampailah mereka di gedung belakang.
Aland membalikkan badan dan menatap datar ke arah Liska.
"Kenapa tadi malam pergi dengan pria lain?" tanya Aland dengan datar.
"Apa urusanmu?" ucap Liska dengan senyum remeh.
"Jawab Liska, kesabaranku tak banyak" balas Aland menatap Liska dengan geram.
"Hanya mencari pengganti, seseorang ada janji denganku tapi tak kunjung datang setelah aku menunggunya selama 30 menit. Dari pada membuang waktuku, lebih baik mencari yang pasti bukan?" ucap Liska sedikit menyindir Aland dan jangan lupakan senyum sinis di bibirnya.
"Tunggu dia sampai datang, apa susahnya!" ucap Aland dengan raut wajah menahan kesal.
"Waktuku tak serenggang itu, lagi pula aku sangat memedulikan waktu, karena waktu tak bisa di putar kembali Tuan Aland" ucap Liska dengan senyum mengejek.
"Liska!" ucap Aland dengan geram.
"Ada yang penting? Jika tidak aku akan pergi, waktukku begitu mahal" ucap Liska tanpa memedulikan sosok Aland yang sedang menahan kesal dengannya.
__ADS_1
Dengan senyum mengejek Liska menghentakkan tangannya dan berbalik badan. Saat kakinya akan melangkah pergi, tanganya di tarik paksa oleh Aland. Membuatnya berbalik badan dan menubruk dada Aland dengan cukup keras.
"Aishh!" gumam Liska saat merasakan sakit di hidungnya.
Liska mengangkat mukanya dan menatap Aland dengan sorot mata tajam, sedangkan Aland menatap ke arah Liska dengan datar.
"Berhenti bermain denganku Liksa!" ucap Aland penuh akan peringatan.
"Aku sedang tak bermain denganmu Aland!" ucap Liksa dengan sorot mata penuh akan ketidaksukaan.
"..." Aland diam dan menatap ke mata Liska dengan dingin, serta cengkeraman di tanganya yang semakin kasar.
"Sakit bego!" ucap Liska saat merasakan pegangan Aland di pergelangan tangannya semakin kuat.
"Lu gak berhak ngatur gue Aland, lu-" ucap Liska terpotong oleh perkataan Aland.
"Gue berhak, karena gue tunangan elu Liska!" bantah Aland dengan nada suara cukup keras.
Mendengar perkataan Aland barusan membuat Liska tersenyum remeh.
"Tunangan? Lu bilang, lu tunangan gue? Baru sadar?" ucap Liska dengan senyum remeh.
__ADS_1
"..." Aland hanya bisa diam membisu, karena merasa salah mengucapkan perkataan tadi.
"Ke mana aja lu? Ah, iya gue baru inget. Selama ini 'kan lu sibuk ngejar cewek lain ya?" ucap Liska dengan senyum mengejek. Aland yang mendengar perkataan Liska barusan membuatnya mengertakkan gigi dengan geram.
Liska menatap wajah Aland lekat, setelahnya berjinjit dan berbisik di dekat telingan Aland dengan nada suara penuh akan tekanan.
"Dulu gue beri lu kesempatan buat jadi tunangan yang baik, tapi lu buang gitu aja kesempatan itu. Dan sekarang gak ada lagi kata kesempatan buat lu, jadi jangan terlalu ikut campur sama kehidupan gue, karna kita hanya tunangan sebatas kata, tak lebih!" bisik Liska hampir mendesis.
Liska mulai menjauhkan diri dari Aland, yang menatap ke arahnya dengan sorot mata datar.
"Sekarang gue angkat tangan dan ngedukung lu buat ngejar cinta lu itu. Semakin lu mengejar, semakin mudah gue buat cari alasan untuk membatalkan pertunangan ini" ucap Liska dengan senyum manisnya. Senyum manis yang memiliki arti yang berbeda.
Mendengar perkataan Liska barusan membuat hati Aland entah kenapa merasa marah. Dengan sekali hentakan Aland menarik sosok Liska mendekat dan memeluk pinggang Liska dengan erat.
"Hanya dalam mimpi" bisik Aland di dekat telingan Liska.
Liska yang di perlakukan seperti itu merasa tak terima dan memberontak dalam dekapan Aland, tapi apalah daya tenaganya dan Aland sangat jauh berbeda.
"Kau tak akan ku bebaskan semudah itu, baby" bisik Aland dengan senyum sinis di akhir kalimat. Mendengar bisikan Aland barusan membuat sosok Liska merinding dan menangkap tanda bahaya.
Dengan sekuat tenagan Liska menyikut dada Aland dan berhasil. Dia lolos dari pelukan Aland, tanpa membuang banyak waktu Liska berlari menjauh, meninggalkan sosok Aland di sana.
__ADS_1
Aland menatap sosok Liska yang mulai menjauh dengan senyum penuh arti. Setelah sosok itu tak terlihat, Aland mulai bersikap seperti biasa. Dan berjalan ke arah ruang OSIS dengan langkah tenang.