Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 76


__ADS_3

Sesampainya Aland di rumah Rehan, dia langsung berlari memasuki rumah. Tama dan Rehan langsung mengfokuskan pandangannya ke arah Aland, saat menyadari kehadiran Aland.


"Gimana?" tanya Aland dengan raut wajah serius.


"Mereka udah pindah tempat" ucap Tama sambil melihat ke arah tap-nya.


"Langsung susul" ucap Rehan dan bangkit dari duduknya.


"Pakek mobil gue" balas Aland dan berjalan ke arah garasi rumah Rehan.


Aland duduk di kursi pengemudi, di sampingnya ada sosok Tama yang menunjukkan arah dan Rehan duduk di belakang atas mereka.


Di lain sisi.


Anton dan Rangga sudah sampai di tempat yang di maksud oleh Anton tadi. Di sana sudah ada 2 mobil yang menunggu mereka. Pengawal Daddy Anton sudah menunggu di luar mobil dengan tubuh tegap.


"Itu? Anak buah Ayah lu Ton?" tanya Rangga dengan raut wajah tak percaya.


"Jangan kek orang udik" balas Anton dengan raut wajah malas. Setelahnya turun dari mobil dengan langkah pelan.


"Jangan kek orang udik" ucap Rangga menirukan perkataan Anton dengan raut wajah mencibir. Setelahnya dia juga ikut turun, menyusul langkah Anton.


"Selamat siang tuan muda" ucap salah satu di antara mereka dengan sopan.


"Hm, tahu alasan kalian saya gunakan kali ini?" tanya Anton dengan datar.


"Kami tahu tuan muda" balas orang tadi dengan sopan tapi tersirat ketegasan.

__ADS_1


"Bagus, tak sia-sia Daddy membuang uangnya untuk mengaji kalian" ujar Anton dengan senyum puas.


"Ikuti rencananya, jika belum ada sinyal dari saya jangan keluar" ucap Anton sebelum berjalan menuju ke arah mobilnya.


Di lain sisi.


Saat ini penampilan Liska cukup berantakan. Pipi yang lebam dan sudut bibir yang sedikit sobek, karena tamparan dari Ariana serta rambut yang berantakan.


"Hah! Bagaimana bisa gue terjebak sama makhluk tak waras seperti dia?" batin Liska dengan hembusan nafas lelah. Dengan mata terpejam, Liska menundukkan kepalanya.


Suara pintu terbuka cukup nyaring, tapi Liska masih dengan posisi. Tak lama suara langkah kaki mendekat kerahnya, hingga ada sepasang sepatu berhenti di depannya.


Tanpa permisi sebuah tangan kasar mencengkeram pipi Liska.


"Lihat dia, sungguh kasihan sekali" ucap orang itu sambil menatap ke arah Liska dengan raut wajah mengejek.


"Si bos bilang, kita bisa melakukan apa pun padanya. Gue lihat tubuhnya bagus juga" balas temannya dengan senyum penuh arti.


"Berani sekali kau menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" ucap Liska penuh akan ancaman.


"Hohoho, lihat dia. Benar-benar pembicara besar" ucap orang satu dengan tawa mengejek.


"Kau tahu gadis kecil? Umur mu tak lama lagi," ucap orang satu dengan senyum mengejek.


"Karena kau akan tiada akan ku beri tahu, kau akan di bakar hidup-hidup di dalam rumah ini" ucap orang dua dengan senyum remeh.


"Karena kau akan tiada sebentar lagi, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang membuatmu melayang?" tanya orang satu sambil menjilat bibirnya seksual.

__ADS_1


"Cuih!" Liska meludahi orang di depannya, tepat di wajah itu.


"Tak sudi aku di sentuh oleh manusia hina seperti kalian!" ucap Liska dengan raut wajah mengeras.


Plak!


Suara tamparan menggema keras di dalam ruangan itu. Liska yang terkena tamparan pun hingga menoleh ke samping dengan pipi membiru, dan jangan lupakan sudut bibirnya yang bertambah sobek.


"Beraninya kau meludahiku anak kecil!" murka sang preman satu dengan raut wajah merah padam.


"Kau mencari masalah sebelum waktunya bocah, apa kau ingin mati cepat?" ucap preman dua dengan sorot mata tajam.


"Kalian tahu? Aku tak akan mati dengan mudah, karena apa? Karena kekasihku, dia tak akan mengizinkannya. Jika kalian berani menyentuhku makan habislah kalian di tangannya" ucap Liska dengan raut wajah tenang. Tak tahu saja, di dalam hatinya berharap Anton datang dengan kilatan petir.


"Hahaha! Siapa kekasihmu itu, hingga kau membanggakannya sampai seperti itu bocah?" tanya sang preman satu dengan tawa mengejek.


"Anton Fravash! Tuan muda dari keluarga Fravash!" ucap Liska sedikit membentak.


Mendengar nama keluarga siapa yang di sebutkan oleh Liska membuat kedua orang itu diam membisu. Merasa takut akan nama yang di ucapkan oleh Liska. Tapi tak lama suara tawa kembali menggelegar.


"Hahaha! Kau bermimpi bocah! Mana mungkin tuan muda keluarga Fravash mau denganmu" ucap sang preman dengan tawa menggelegar.


"Lihat saja nanti, kalian akan habis di tangan kekasihku!" ucap Liska dengan mantap.


Tanpa sadar ada seseorang yang mendengar perkataan mereka dan orang itu tersenyum senang.


"Kekasihmu hm? Gadis yang baik, tahu bagaimana cara membuat kekasihnya senang" ucap Anton dengan senyum bahagia dan menyisir rambut depannya ke belakang.

__ADS_1


Rangga yang melihat tingkah Anton sedikit merasa merinding. Apalagi melihat senyum lebar di bibir Anton.


"Ayo selamatkan gadis manisku" ucap Anton dengan senyum lebar dan tanpa menunggu lama dia menendang pintu di depannya.


__ADS_2