
Liska mengikuti langkah Aland hingga sampailah mereka di parkiran. Aland masih diam dengan aura yang cukup mencengkeram dengan tangan menyodorkan helm ke arah Liska. Liska menatap ke arah helm tadi dengan sorot mata datar, dan dengan raut wajah tanpa emosi dia mendorong menjauh helm tadi.
"Lu kenapa?" tanya Liska dan menatap ke arah Aland dengan sorot mata rumit.
"Cepat pakai, jangan banyak tanya" ucap Aland dengan nada suara marah.
"Lu kenapa Aland?" tanya Liska lagi dan itu berhasil memancing emosi Aland.
"Liska!" bentak Aland dengan nada suara penuh akan peringatan.
"Lu kenapa Aland? Kenapa lu berubah? Ke mana Aland yang gak suka sama gue? Ke mana Aland yang gak peduli sama gue? Ke mana Aland dulu?" ucap Liska dengan sorot mata rumit, bingung dengan sosok manusia di depannya ini.
"..." Aland masih diam dan menatap Liska dengan sorot mata tajam.
"Stop berpura-pura seperti semuanya baik-baik saja Aland" ucap Liska penuh akan ancaman. Sudah cukup dia tahan selama ini, rasa muak untuk menghadapi sosok Aland selama satu minggu ini.
Mendengar perkataan Liska barusan membuat Aland diam untuk beberapa saat, sebelum mengeluarkan suaranya.
"Lu gak mau pulang sama gue bukan? Pulang gih sama selingkuhan lu!" ucap Aland sebelum meninggalkan sosok Liska di sana sendirian.
Yah, Aland pikir Liska tak ingin pulang dengannya dan ingin pulang bersama Anton, sebab itu Liska menolak helmnya dan berbicara tak jelas.
Dengan amarah yang masih ada, Aland melajukan motornya menuju ke arah Cafe, mungkin saat ini teman-temannya sudah berada di sana. Sebenarnya hari ini teman-temannya mengajak nongkrong bersama di tempat biasa, tapi Aland menolak dan memilih mengajak jalan Liska, tapi apa yang dia dapat?.
Di sisi lain.
__ADS_1
Liska menatap punggung Aland dengan datar, setelahnya menghela nafas pelan.
Aland itu seperti anak kecil bagi Liska. Sikapnya masih labil dan mudah marah dengan hal-hal kecil. Dia juga tak mau ambil pusing dengan amarahnya Aland. Mungkin besok dia sudah kembali normal, karena ini bukan kali pertama Aland marah kepadanya.
"Di tinggal?" tanya seseorang yang sudah cukup lama di belakang Liska.
"Seperti yang lu lihat" balas Liska sambil menatap ke arah orang tadi dengan raut wajah malas.
"Kasihan, ayo gue anter pulang" ucap orang tadi dan menarik tangan Liska ke arah motornya.
"Lu tuh suka nyusahin gue Anton" ucap Liska dengan nafas lelah.
Sebenarnya Anton sudah tahu akan hubungan Liska dan Aland. Dia tahu saat Aland dalam keadaan marah, karena tanpa sadar Aland bilang kepada Anton jika Liska adalah tunangannya. Aland meminta Anton untuk menjauh dari Liska, tapi bukannya menjauh Anton malah semakin gencar merusuh. Sebab itu, ini bukan kali pertama Aland marah, karena hari-hari sebelumnya juga sering terjadi dengan alasan yang sama.
"Siapa bilang? Gue gak mungkin nyusahin elu Liska, yang ada gue selalu ada buat lu. Salah satu contohnya ini" balas Anton dengan tenangnya, dan mulai memakaikan helm di kepala Liska.
"Ck!" decak kesal Liska, tapi tetap menaiki motor Anton.
"Nanti mampir ke Cafe dulu, gue ada janjian sama temen. Cuma sebentar gak akan lama" ucap Anton dan mulai melajukan motornya ke arah Cafe yang dia maksudkan.
Beberapa menit kemudian Anton menghentikan laju motornya di depan sebuah Cafe yang banyak di kunjungi anak remaja.
"Mau ikut masuk?" tanya Anton sambil melepas helmnya.
"Enggak lama 'kan? Gue tunggu di sini aja" balas Liska dengan raut wajah malas.
__ADS_1
"Oke, tunggu bentar" balas Anton dengan senyum cerah, sebelum melangkah memasuki Cafe Anton menyempatkan diri untuk mengacak rambut Liska dengan gemas.
"Anton!" teriak Liska dengan kesal dan menatap Anton dengan garang.
"Hahaha!" tawa Anton yang pecah saat memasuki Cafe membuat banyak pasang mata menatap ke arah mereka.
"Ck!" decak Liska dan menata rambutnya dengan raut wajah kesal.
Di salah satu meja Cafe, ada sepasang mata yang melihat interaksi mereka dengan sorot mata tak suka. Tanpa suara dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu Cafe.
Matanya menatap Liska dengan sorot mata rumit, sesampainya di belakang Liska tanpa mengatakan apa pun dia memeluk Liska dari belakang.
Liska yang mendapat pelukan secara mendadak pun merasa terkejut dan secara refleks tubuhnya menegang. Matanya menatap tangan kekar yang melingkar di pundaknya.
"Maaf" ucap orang itu sambil mengeratkan pelukannya.
Liska mengenali suara dan parfum ini. Dengan helaan nafas lelah dia berkata.
"Lepas" ucap Liska tanpa emosi.
"Maaf" ucapnya lagi, tanpa melepaskan pelukannya tadi.
"Lepas Aland, banyak orang" ucap Liska yang sadar bahwa mereka menjadi bahan tontonan.
"Maafin dulu" ucap Aland dan menaruh kepalanya di pundak Liska.
__ADS_1
"Hm" balas Liska dengan malas, karena malas menghadapi sikap keras kepala Aland.