Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 23


__ADS_3

Di sinilah 'Liska' sekarang, di ambang pintu gerbang sekolah.


Di depan pintu gerbang terlihat sosok Liska yang menatap ke sana dan kemari dengan gelisah.


"Ini gimana? Sudah mau malam tapi sopir belum juga jemput, sekolahan juga mulai sepi" gumam Liska dengan raut wajah cemas.


"Batrai ponsel juga habis." ucapnya lagi sambil mengetukkan kaki dengan gelisah.


Tak lama dari arah belakang, terdengar suara deru mesin motor. Dengan refleks Liska menatap ke sumber suara.


"Itu Dika, apa aku coba buat numpang dia?" gumam Liska dengan raut wajah berpikir.


Saat sosok Dika akan melewatinya, tangan Liska terulur mencegat Dika lewat. Dika menghentikan laju motornya dan menatap datar ke arah Liska.


"A-aku boleh n-numpang?" tanya Liska dengan gugup.


"Enggak" balas Dika dengan datar dan menatap tajam Liska.


"T-tapi ini ud-" ucap Liska terpotong oleh perkataan Dika.


"Bukan urusan gue, sekarang menyingkir dari jalan" ucap Dika dengan dingin.


"Dika aku mohon, sekali ini saja bantu aku" ucap Liska dengan raut wajah memohon.


"Pergi" usir Dika dengan nada suara tanpa emosi.


"Enggak! Aku mohon kali ini aja, ini udah mau malam" ucap Liska yang masih bersiskukuh dengan pendiriannya.


Melihat kekeras kepalaan Liska membuat Dika geram, dengan kesal dia menarik gas motornya. Tak memedulikan sosok Liska yang berdiri di depannya.


Liska yang melihat Dika menarik gas motor pun berlari menghindar. Takut jika dirinya tertabrak oleh Dika.


Setelah hambatannya hilang, Dika mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak memedulikan Liska yang dia tinggal sendirian di sana.

__ADS_1


Liska menatap ke arah Dika dengan sorot mata kecewa dan sedih.


Tanpa Liska sadari, dari seberang jalan ada dua orang preman yang mulai mendekat ke arahnya.


"Hai manis" sapa salah satu preman dengan senyum culasnya.


Liska yang mendapat tanda bahaya pun memundurkan langkah, mencoba menjauh dari kedua preman tadi. Tapi naas, tangan kanannya sudah di cekal oleh salah satu di antara mereka.


"Mau ke mana hm?" ucap sang preman dengan senyum penuh arti.


"Jangan ganggu Liska, Liska mau pulang" ucap Liska dengan raut wajah ketakutan.


"Mau pulang? Jangan dulu lah, mending ikut abang. Kita main" ucap salah satu preman tadi dengan senyum manisnya dan mata menatap nakal tubuh Liska.


"Gak mau! Liska mau pulang!" ucap Liska sambil memberontak, mencoba melepaskan cekalan preman tadi di pergelangan tangannya.


"Hahaha, ikut kami dulu setelahnya kami akan melepaskanmu" ucap preman yang mencengkal tangan Liska. Dan tanpa menunggu lama, kedua preman tadi menyeret tubuh Liska ke arah gang sempit yang cukup sepi.


"Diam!" bentak salah satu di antara mereka dan kembali menyeret Liska dengan kasar.


"Tolong! Tolong Liska!" teriak Liska yang masih kukuh meminta tolong kepada siapa pun itu.


"Ck! Berisik!" teriak sang preman dan membengkap mulut Liska dengan tangan kasarnya.


"Emm... em.... em...!" teriak Liska yang tehalang oleh tangan besar itu.


"Sial!" desis 'Liska' yang sedari tadi diam dan memperhatikan kajadian di depannya. Tangannya terkepal kuat dengan sorot mata penuh akan amarah. Ingin membantu pun tak bisa, tubuhnya tembus pandang.


Mereka sampai di ujung lorong. Dengan kasar, kedua preman tadi mendorong sosok Liska hingga membuatnya terjatuh di atas aspal dengan mengenaskan.


"Beruntungnya hari ini, kita bisa menikmati sajian enak" ucap salah satu di antara mereka dengan senyum mesum.


Dengan perlahan mereka mulai berjalan mendekati sosok Liska. Liska yang melihat raut wajah mesum kedua preman tadi pun berangsut mundur, dengan raut wajah ketakutan.

__ADS_1


"Mama.." gumam Liska dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Salah satu preman tadi mulai menjulurkan tangan dan menarik paksa tas punggung Liska, setelahnya membuangnya ke sembarang arah.


Bahaya di depan mata, membuat Liska mencoba melindungi diri dengan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Dan di tatap remeh oleh kedua preman itu.


"Pegangin" ucap salah satu di antara mereka dan di angguki yang lain.


Dengan kasar preman tadi memegang tangan Liska ke belakang.


"Selamat menikmati manis" ucap sang preman dengan senyum penuh arti. Dengan gerakan pelan sang preman menyentuh tubuh Liska, sesekali memberi usapan di wajah, tangan dan paha Liska. Tangan itu bergerak dengan liarnya di tubuh Liska. Liska yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menangis dan mencoba memberontak. Tapi apalah daya, tenanganya begitu kecil jika di bandingkan kedua preman itu. Dalam sekejap tangan besar itu menarik paksa baju seragam Liska, hingga meembuat kancing-kancing itu tercabut dengan paksa dari tempatnya.


"Oh! Memakai kaos hm? Membuatku bertambah bergairah" ucap sang preman dengan senyum culas.


Tangan itu kembali terulur ingin merobek kaos yang di pakai Liksa. Tapi saat akan menyentuh, pergerakan tangannya sudah terhenti karena suara seseorang.


"Hei! Sedang apa kau!" teriak seseorang dengan pakaian kerjanya.


Mereka menatap ke sumber suara dengan raut wajah syok. Sedangkan Liska menatap ke arah orang tadi dengan raut wajah kacaunya.


"Pak tolong.." ucap Liska dengan lirih sambil menatap orang tadi dengan raut wajah pasrah.


"Wah! Gak bener kalian berdua. Tolong! Di sini ada yang mau melecehkan anak sekolah!" ucap bapak tadi dengan keras, sambil melambaikan tangannya. Sedang memanggil teman-teman kerjanya.


Kedua preman tadi panik dan menatap ke sepenjuru gang. Tembok di sana begitu tinggi-tinggi, bahkan tak ada pijakan untuk melewatinya. Jika mereka nekat untuk menerobos ada kemungkinan kecil mereka lolos, dan selebihnya hanya kegagalan.


Dengan tekat bulat mereka saling memberi kode untuk meneroboh ke jalan keluar. Dengan langkah seribu mereka berlari keluar gang dan melewati sosok pria tadi. Tapi belum juga sampai di ujung gang, langkah mereka sudah di hentikan oleh 5 orang pria dewasa.


"Tangkap mereka dan bawa ke kantor polisi, laporkan dengan tuduhan pelecehan anak di bawah umur" ucap sang bapak tadi dengan raut wajah menahan marah. Marah karena membayangkan jika anaknya yang berada di posisi Liska.


"Oke-oke, kami tinggal dulu. Kamu dan Zidan antarkan gadis itu pulang saja" ucap salah satu lelaki dewasa yang ikut adil mengamankan kedua preman tadi.


"Baik" ucap lawan bicara orang tadi dengan senyum puas. Puas karena melihat raut wajah keputusasaan dari kedua preman itu.

__ADS_1


__ADS_2