
Pagi harinya, Liska berangkat sekolah dengan raut wajah sedikit malas. Dengan langkah tenang dia menelusuri koridor sekolah. Hingga tarikan di tangan menghentikan langkahnya.
"Apa?" tanya Liska sambil menatap malas ke arah orang di depannya.
"Kenapa tak menunggu?" tanya lawan bicara Liska dengan nada suara datar.
"Lu lama" balas Liska sambil menarik paksa tangannya dari cengkeraman orang tadi.
"Lagi pula, lu juga keberatan bukan? Jangan pura-pura merasa tak suka saat gue pergi ninggalin elu Aland" lanjut Liska sambil menatap malas ke arah Aland.
"Gue hanya melaksanakan tugas" ucap Aland dengan tenang, tak ada guratan emosi sedikit pun.
"Gue tau" balas Liska tanpa minat dan pergi meninggalkan Aland begitu saja.
Mendengar perkataan Liska barusan membuat Aland sedikit merasa kesal.
"Ck!" decak kesal Aland dan berjalan ke arah ruang OSIS, karena masih ada tugas yang harus dia urus.
Di lain sisi.
Liska masih berjalan dengan tenang, hingga rangkulan di bahu membuatnya menghentikan langkah. Dengan datar Liska menatap sang pelaku.
"Apa? Mau ke kelas 'kan? Ya udah bareng" ucap orang tadi yang ternyata Rangga.
"Hm" balas Liska dan kembali melanjutkan langkahnya.
Dalam diam mereka berjalan ke arah kelasnya berada, hingga suara Rangga memecahkan keheningan tadi.
__ADS_1
"Lu ada urusan apa sama si ketua OSIS, Lis?" tanya Rangga dengan raut wajah heran, karena tadi dia melihat Liska dan Aland yang sedang berbicara dengan raut wajah sama-sama datar.
Sebenarnya dia merasa heran dengan sikap Liska kepada Aland tadi, tapi mungkin itu karena ingatannya yang hilang. Lagi pula dia juga merasa senang dengan perubahan sikap Liska untuk Aland.
"Masalah PMR" balas Liska dengan raut wajah tenang.
"Oh" balas Rangga sekenanya dan kembali fokus ke arah depan.
"Oh ya, nanti pulang sekolah gue mau ajak lu ke perpustakaan pusat kota, mau 'kan?" tanya Rangga dengan raut wajah memohon.
"Mau apa?" tanya Liska sambil menatap Rangga tanpa emosi.
"Kemarin penulis favorite gue baru luncurin novel baru, gue mau beli sebelum kehabisan" balas Rangga dengan sorot mata penuh harap.
"Hm" balas Liska dengan tenang dan kembali fokus ke arah depan.
"Entar gue traktir" ucap Rangga dengan raut wajah bahagia. Dia benar-benar merasa bahagia karena akan membeli novel baru incarannya.
Di sinilah Liska sekarang, di koridor lantai dua dengan ponsel di tangannya. Dia sedang sibuk membalas beberapa pesan dari sang Mama. Terkadang ada senyum manis yang terpatri indah di bibirnya.
Tak jauh dari posisi Liska berada, ada seseorang yang memperhatikannya dengan lamat. Orang itu menatap sosok Liska dengan senyum misterius dan sorot mata penuh minat.
Dari arah depan Liska, terlihat ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Orang itu berjalan menunduk, dengan tangan saling meremas. Karena masih fokus dengan ponsel miliknya, membuat Liska bertabrakan dengan orang tadi.
"Akhh!" jerit orang tadi cukup keras.
Liska yang juga terjatuh pun menatapnya dengan malas dan bangkit dari duduknya. Matanya sibuk menatap ke sana dan kemari untuk mencari keberadaan ponselnya. Karena tabrakan tadi membuatnya terkejut dan tanpa sadar melepas gengaman dari ponsel.
__ADS_1
"Ck! Di mana?" gumam Liska yang masih sibuk mencari ponselnya.
"Sakit" gumam orang tadi sambil menatap kedua telapak tangannya yang memerah.
Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hingga Liska melihat ponselnya yang tergeletak di dekat orang tadi.
Dengan langkah tanpa emosi dia berjalan mendekat dan menundukkan badan untuk mengambil ponsel miliknya.
Baru saja dia menunduk, tiba-tiba orang yang tadi bertabrakan dengannya meringsut mundur dengan takut.
"M-maaf kak, maaf" ucap orang tadi dengan raut wajah takut.
"Lu kenapa? Gue makan nasi bukan makan orang" balas Liska dengan sorot mata malas. Dengan kesal dia mengambil ponselnya, setelah itu menyimpannya di kantung seragam.
"B-bukan itu maksud Aisin" ucap lawan bicara Liska yang semakin lirih di akhir kalimat.
"Ayo gue bantu berdiri" ucap Liska dan mengulurkan tangannya, berniat untuk memberi bantuan.
Melihat tangan Liska di depan wajah, bukannya menyambut dengan suka cita, dia malah semakin takut dan meringsut mundur.
"Lah?" bingung Liska dengan raut wajah heran.
Apa dia semenyeramkan itu? Hingga membuat dia sangat takut dengannya? Begitulah isi pemikiran Liska saat itu.
"Oke kalau gak mau di bantu" ucap Liska dan menarik kembali tangannya. Matanya menatap ke arah Aisin beberapa detik dan kakinya mulai berjalan menjauh dari sana.
Sepeninggalan Liska, sosok tadi mulai mengeluarkan tangisnya.
__ADS_1
"Umi, Aisin takut" ucapnya dengan air mata yang mengalir dengan cukup deras. Dengan gontai dia bangkit dan melanjutkan langkahnya dengan air mata yang masih mengalir.
"Ckckck, perempuan yang aneh" ucap orang tadi, yang memperhatikan kejadian tadi dari awal. Setelahnya dia mulai berjalan menjauh dari sana.